Teriakan Sakit Jiwa “Liar Lear”, Bermain di Masa Kini diciptakan oleh Masa Lalu -->
close
Pojok Seni
04 March 2026, 3/04/2026 11:35:00 PM WIB
Terbaru 2026-03-04T16:35:24Z
ArtikelUlasan

Teriakan Sakit Jiwa “Liar Lear”, Bermain di Masa Kini diciptakan oleh Masa Lalu

Advertisement
Liar Lear BUDAMFest
Salah satu adegan “Liar Lear” oleh Iskandar GB, di BUDAmFEST (Foto: AWE)

Oleh: Arung Wardhana Ellhafifie


Mengenai tiga artikel terpisah yang menguraikan secara ngalur ngidul tentang “Dream, [1]” “Egol Ngger!” [2], dan “Buku Kredit,[3] di samping artikel global yang membahas BUDAmFEST, [4] pada 18-11 Desember 2026, diproduksi oleh Lab Teater Ciputat (LTC) bersama dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Kementerian Kebudayaan Indonesia,yang kemudian saya pahami sebagai “angkutan akar rumput,” berdasarkan perspektif subjektif, yang menurut saya cukup merepresentasi mini festival ini. Selanjutnya, saya menggabungkan setiap agenda yang sedang berlangsung menjadi satu artikel—yang tampaknya saling terkait dengan impresi saya tentang pemahaman Nietzsche; kita memang tidak tersistematik bahwa kita mengalami sakit jiwa. [5]  Ini termasuk pertunjukan kelas ‘bongkar muat’ dari naskah kanon “King Lear” karya William Shakespeare, yang dipresentasikan oleh Iskandar, juga dikenal sebagai Alexander GB, yang biasa disapa GB, dengan beberapa agenda lainnya. 


GB mengeksplorasi dunia Lear dengan caranya sendiri, untuk memasuki ranah Raja dan badut, dengan karakter ambiguitas yang berujung pada tragedi; menggabungkan isu-isu playing victim, [6] pelaku, dan sejumlah hasil yang dibayangkan, dengan premis bahwa banyak raja bertindak seperti badut, [7] dengan Lear dikaitkan dengan badut. Hal ini pun dibahas dalam dialog pertunjukan sehubungan dengan “Liar Lear”, penanggap Wily Fwiandri dan penanggap khusus Putu Fajar Arcana, di mana keduanya kurang lebih sama menyoroti kerja kelas ‘bongkar muat’ ini; mengenai dialog intertekstual; bagaimana kita bisa menjelajahi kemungkinan-kemungkinan berbeda, dengan menempatkan teks sebagai mitra diskusi, membayangkan tentang kemunculan teks-teks lainnya dari pengembangan naskah kanon yang dipilih, membangkitkan saya pada situasi yang sakit pun, kita mesti menelisik dan menyelidiki dalam diri, sekalipun dalam keadaan yangpudar, untuk melihat ulang keberadaan kita sebagai individu. [8]


Hal lainnya tekait kelas ini—yang disebut saya ibarat ‘sekolah liar’, bagaimana setiap aktor/kreator seperti GB memiliki beban yang tidak kecil; atas daya jelajah yang mesti terus terbuka dan luas, ditambah lagi bagaimana kita mesti melakukan kompresi waktu; bagaimana membaca masa lalu, masa kini, dan kontekstualisasi, yang kemudian digarisbawahi dalam hal ini bagaimana aktor/kreator lebih memiliki akses untuk berdaya terhadap segala hal; dengan mengungkap hal-hal yang tersembunyi dari balik naskah kanon tersebut, dan kemudian bagaimana kontekstualisasi isu-isu ini dilakukan ‘sedekat’ mungkin. Jika saya diberi sinopsis “Liar Lear,” saya tentu akan menganggapnya sebagai sesuatu yang akan membantu saya memahami sesuatu yang jelas tidak mudah dipahami secara langsung. Sembari menyaksikan, saya membacanya; dinyatakan Raja Lear ingin menjadi pahlawan demokrasi, yang berakhir pada kudeta—dengan melihat dirinya sebagai badai, nestapa, ketelanjangan, penderitaan, saya sebenarnya ingin mencapai titik yang lebih jauh, ke pemahaman tentang demokrasi yang diperiksa; saya merasakannya di ruang itu, Lear sebagai pasien dengan kekuatan/pengetahuannya, dari sini benar-benar mengawasi kekacauan yang terjadi di negaranya, [9] melalui badut yang mengantisipasi bahaya kejahatan, dan ingin menghukum setiap penyimpangan yang terjadi; layaknya Nietzsche yang menolak bentuk sistem atas interpretasinya sebagai penjara dan kita mesti mandiri, termasuk di dalamnya kemandirian pada sakitnya jiwa. [10]


Dari ruang sakit jiwa, Lear mengamati nasib negaranya, semacam keinginan yang hanya dirinya sendiri yang dapat memahaminya secara detail dan dalam mekanisme kekuasaan yang kompleks, di mana badut menjadikan dirinya instrumen utama, istimewa, modal, dan hampir unik dari kekuasaan satu kelas atas kelas lainnya. Ruang itu juga, sebagai sistem dominasi dan eksploitasi sirkuit, tentu berinteraksi, beririsan, dan saling mendukung antara Raja atau pemimpin negara dan badut, tetapi keduanya tidak bertepatan. Demokrasi yang diinginkan Lear bagi saya sedang dibangun oleh institusinya sendiri, melalui pengobatan setumpuk pil sebagai pasien, kekuasaan telah berpindah dari seorang Raja ke seorang badut.


Hal lainnya, pikiran saya mengembara ke tempat lain, menunjukkan bagaimana Lear memiliki pengetahuan psikiatri yang membutuhkan dan menuntut batasan tertutup rumah sakit jiwa. Bagaimana pengetahuan disiplin ilmu yang dimilikinya mengandung model penjara, bagaimana antara otak dan pil, ekonomi politik sedang dibangun dari imajinasinya, yang mengandung bentuk pabrik. Pabrik Raja, pabrik badut, dan pabrik demokrasi, atau pabrik kekuasaan, dan pabrik baja, [11] ataupun pabrik tekstil, [12] seperti tahanan kurang gizi—yang berbanding terbalik dengan tahanan koruptor, [13] seperti Lear dalam pengalamannya, adalah entitas yang sudah ada sebelumnya yang didominasi oleh pelaksanaan kekuasaan.


Individu, dengan identitas dan karakteristiknya, seperti Lear, adalah produk dari relasi kekuasaan yang dijalankan atas tubuh, keragaman, gerakan, hasrat, dan kekuatan. Kumpulan pil tersebut mewakili instrumen kekuasaan dan pengetahuan dari era di mana ia berkuasa, selama pengasingannya, atau selama masa pengasingannya. Pil-pil tersebut juga merepresentasi sejarah tubuhnya, sebuah cara untuk mengisolasi dirinya sendiri. 


Melalui efek interseksional langsung dari badut tersebut, bentuk-bentuk penyelidikan dan pengawasan berinteraksi dengan kekuasaan yang diterikkan dengan lantang dari rumah sakit jiwa. Yang dibutuhkan kekuasaan bukanlah sains, tetapi sejumlah besar informasi yang dapat dieksploitasi oleh posisi strategisnya—Lear memberikan banyak ilustrasi tentang pemahaman ini. Mahkota pil ini memberi saya pemahaman yang lebih rapuh tentang Lear, yang kekuasaannya juga berada di dalam dirinya; bagaimana kita mengembangkan diri dalam keterasingan sekalipun, melalui pemikiran Nietszche tentang kemajuan, kesejahteraan umum, kebudayaan dan sebagainya. 


Liar Lear” dan Alienasi dalam Dialog Pertunjukan

BUDAmFEST 2026
Salah satu agenda dialog pertunjukan dalam BUDAmFEST (Foto: AWE)


Kalau salah satu penonton dalam dialog pertunjukan pada bagian pertama—saat memperbincangkan “Malam Tanpa Akhir” dan “Liar Lear”, menghubungkan pertunjukan GB dengan konsep Brechtian, untuk menghindari terbawa oleh situasi yang terungkap dalam pertunjukan, penonton didorong untuk lebih kritis, mengamati dan menilai kembali peristiwa yang terjadi di Aula Pamer Temporer, saya pun terhanyut keseluruhan dialog pertunjukan itu sedang “Liar Lear” (termasuk pada bagian kedua, saat memperbincangkan “Malin Kundang Lirih” dan “Egol Ngger!”). Bahkan, ingatan pil-pil dalam “Liar Lear” yang dapat menekan informasi dari kekuatan kolonial, ahli strategi, pedagang, dan industrialis—terus merasuki pikiran sembari mendengarkan penanggap dan penonton pertunjukan berdialog. Di saat Wily mempertanyakan isu feminisme dalam pertunjukan “Malam Tanpa Akhir” (yang akan disinggung pada bagian penutup pengamatan ini), sekelebat pil-pil tersebut dapat dilihat sebagai semacam laporan berkode yang dibawa oleh GB tentang situasi militer negara saat ini dalam potensi terjadi perang dunia ke-3, sumber daya ekonomi mereka, pasar, kekayaan, dan potensi hubungan diplomatik—dengan blok yang terjadi dengan sendirinya seperti Rusia, Tiongkok, dan Iran, [15] sementara Amerika dan sekutunya; belum bisa move-on, apalagi diperkuat dengan perbincangan Brecht. 

Saat saya didorong untuk berargumentasi dalam dialog pertunjukan tersebut oleh Ari Pahala Hutabarat (selaku dramaturg dan penanggap dialog pertunjukan bagian kedua pada hari berbeda)—yang mana saya berseloroh bahwa kehadiran dalam BUDAmFEST ini hanya sebagai pengamat bukanlah penanggap, sesaat saya merasa sebagai badut yang bermain di “Liar Lear” dengan mengabaikan premis dari “Malam Tanpa Akhir” bahwa “Komachi” yang penuh ironi tanpa membeberkan definisi apa pun, mengingatkan saya tentang realitas yang dihadapi kini. Mulai dari keterasingan yang dipikirkan Karl Marx, pengambilan keputusan melalui argumentasi, membangkitkan kapasitas kita untuk bertindak atas kondisi politik, sosial, dan ekonomi yang sedang berlangsung, dan merangsang pikiran penonton untuk berpikir rasional tentang perkembangan masyarakat yang terjadi kini akibat masa lalu yang berantakan. [16] Kalau saya melihat keterasingan “Liar Lear” adalah keberhargaan; dari dalam ruang dialog pertunjukan itu pun, pada saat Wily menanggapi “Malin Kundang Lirih” sebagai perintah untuk merantau, sampai hari ini menjadi legenda, semacam gugatan terhadap ibunya—yang disoroti oleh Ari, tentang relevansi, signifikansi, dan proposisi, saya justru semakin mendapatkan keterasingan yang mendalam; bagaimana meletakkan status eksistensinya, di mana tubuh sebagai jalan pulang, keadaan atau pengalaman terisolasi dari kelompok atau aktivitas yang seharusnya menjadi bagian atau partisipasi seseorang—untuk melepaskan kebiasaan bersandar pada absolutisme. [17]

Sepanjang dua kali dialog pertunjukan berlangsung, saya merenungkan “Dialog Messingkauf”, [18] di mana Brecht menyatakan: “Ini adalah reproduksi realitas, bagaimana kita berpikir tentang sebab dan akibat.” [19] Saya tetap tidak terpengaruh ketika didorong untuk mengartikulasikan pemahaman, tetapi juga untuk memperatanyakan dalam hati pilihan setiap aktor/kreator dalam mempresentasikan karya mereka dalam kaitannya dengan perubahan sosial dan upaya mereka di bidang ini. Jika, misalnya, “Liar Lear” menggunakan elemen-elemen keterasingan untuk membangkitkan situasi kacau saat ini, bukankah “Egol Ngger!” juga menggunakan efek yang sama?

Jika, dalam dialog pertunjukan, aktor/kreator dan tim produksi yang terlibat dalam “Egol Ngger!” memperbincangkan seks anatomis, sebagai pertunjukan gender melalui gerak tubuh, perilaku, vokalisasi, indang; proses perwujudan, dan sebagainya—yang cenderung ‘dibatalkan’, ini juga terkait erat dengan keterasingan. Bagaimana hal itu mengasingkan saya dan memaksa mereka untuk mempertanyakan realitas sosial dari situasi yang dipresentasikan dalam situasi masyarakat saat ini, dengan berulang kali menggambarkan bentuk-bentuk pembatalan. Keterasingan juga dapat dirasakan dari “Malin Kundang Lirih”, ketika dipresentasikan untuk mencerminkan realitas hari ini, tetapi kita cenderung memaksakannya, sekalipun kehidupan manusia terbatas dalam waktu, di mana karya dan pengetahuan yang kita ciptakan memiliki kesinambungan yang panjang dan mendalam, sementara kita sementara hanya sesaat yang cenderung berada pada antroposen, [20] padahal semuanya itu teralienasikan dari dari kemanusiaan itu sendiri.

Misalnya, dalam “Liar Lear”, yang dipresentasikan oleh GB, alienasi diselesaikan melalui teknologi baru, dengan mengadopsi suara dan lagu dari digital. Dalam dialog pertunjukan ini, seolah-olah kita sedang menyelesaikan semua masalahnya. Bagi saya, ini memiliki unsur didaktik yang tak terlihat; atau lebih tepatnya, saya, sebagai penonton, dipaksa untuk berpartisipasi aktif, tetapi saya lebih memilih untuk terus mendengarkan, sambil dipandu oleh penonton lainnya, di mana saya memilih tetap pasif dan tenggelam dalam diri sendiri. 

Ini juga merupakan bagian dari pertunjukan, karena kurangnya pemahaman saya tentang apa yang harus dikatakan atau apa yang harus dilakukan, selain sekadar tersenyum, terkadang menempatkan diri saya sebagai orang yang ‘sakit.’ Dalam hal lain, saya sangat menyadari bahwa pemahaman Nietzsche cukup bertolak belakang  dengan konsep Brecht yang merujuk dari Marx, khususnya antara Nietzsche dan Marx, yang, menurutnya, tidak perlu mencari absolutisme. Kita, dalam ruang dialog pertunjukan, juga diberi kesempatan untuk menjadi diri kita sendiri, mandiri, bebas, terlepas dari tujuan tertentu.

Namun, ketika saya didorong untuk terus terlibat aktif, saya merasa tidak memiliki kebebasan yang dimiliki “Liar Lear” dalam pengasingannya, seperti yang dimilikinya kini, yang ingin mandiri, yang mungkin perlu dipertimbangkan untuk membebaskan “Malin Kundang Lirih” dari beban kutukan antara ibu dan anak atau sebaliknya. Demikian juga dari beban feminisme “Malam Tanpa Akhir”—sekalipun tidak langsung mendorong ke sana, yang kemudian membawanya untuk berani melepaskan diri dari cara-cara yang telah lama dilakukan, seolah kita mengatakan: Kita mesti terus hidup dalam gangguan jiwa sekalipun, untuk mendapatkan kekuatan jiwanya, mengembara sendirian, meskipun terlihat tumpang tindih satu sama lain untuk dicari pemahaman lain nantinya.

“Liar Lear” dan Alienasi dalam Forum Direktur Festival


LTC Budamfest 2025
Direktur Lanjong Art Festival mempresentasikan kinerjanya di BUDAMFEST (Foto: AWE)



Beberapa orang mungkin keberatan ketika saya menyatakan hal di atas: dihadiri oleh direktur festival yang dapat diakses melalui BUDAmFEST, dalam konteks saya, “angkutan akar rumput,” melibatkan Dede A. Madjid (Festival Teater Banten), Ening Nurjanah (Helateater Salihara), Fedli Aziz (Ajang Teater Sumatra), Kris Aditya (Djakarta International Theatre Platform), Mimi Nuryanti (Lanjong Art Festival), Wulan Pusposari (BUDAmFEST), Dwi Lestari Johan (Festival Monolog Kala), Zulfa Nasrullah (Festival Terap), Adhitia Armitrianto (Festival Teater Semarang), dan Alim Sudio (Festival Musikal Indonesia), dimoderatori oleh Rosida Erowati. Pernyataan di atas lebih ditujukan kepada diri saya sendiri, yang satu-satunya di antara mereka, yang hanya bermimpi menjadi direktur festival, tetapi selalu “kandas” di tengah jalan. “Kandas”, tidak pernah terlaksana, yang kemudian memilih sebagai proletar yang berkeliaran tanpa tujuan, capaian, dan kejaran yang jelas selain meningkatkan kesadaran atas sumber daya yang dimiliki.

Pertanyaan Rosida membuka agenda ini: bagaimana jaringan festival terhubung? Apa yang dapat mereka lakukan bagi penonton? Jika kita dapat mencapai dari landasan yang dijalankan itu, tantangan apa yang dihadapi oleh para direktur festival?

Dari sekian banyak direktur yang saya dengarkan selama dua hari, atau dua sesi—selain pertanyaan-pertanyaan lain—pertimbangan apa saja yang ada mengenai kaitan dengan stakeholder, penonton mana yang ditargetkan, dan strategi apa yang digunakan untuk menjangkau penonton berbeda dari sebelumnya? Saya pikir sebagian besar dari mereka mengadopsi pemikiran Ari—bahwa sebuah festival bergantung pada karakteristiknya, memungkinkan mereka untuk terhubung satu sama lain, dan jika selaras, karakter tersebut juga dapat bergerak dinamis dan memahami satu sama lain melalui karakteristik yang serupa. Bagi saya, itu bukan pertanyaan apakah festival itu nyaman atau tidak nyaman untuk dihadiri, yang, menurut pengarah mini festival ini, karakteristik ini masih bisa diperdebatkan, karena baginya karakteristik bukanlah masalah utama. 

Menurutnya, hal yang lebih mendesak, katanya, adalah apakah festival itu pro-kapitalisme atau anti-kapitalisme [21] saya pikir itu termasuk dalam karakteristik yang dipertanyakan. Sebab karakteristik ini tetap menjadi bagian integral dari kehidupan festival karena kemampuannya untuk beradaptasi dan memberikan makna dalam konteks sosial, budaya, dan politik yang terus berubah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, saya terus membagi ini berdasarkan pernyataan Ari: di antaranya karakteristik seperti intrinsik, penjualan/perdagangan, pasar, ekosistem, pemetaan, atau lainnya, untuk menciptakan lingkungan festival yang berkelanjutan dan humanistik. 

Dari karakteristik ini, kenyamanan atau kapitalisme dan kontra-kapitalisme dapat ditelusuri dengan manfaat yang luas dan adil untuk mewujudkan “dunia yang lebih baik”. Seperti yang dimaksudkan oleh Society 5.0 tidak dapat dipisahkan dari dinamika industri dan kapitalisme global yang telah berjalan secara sentralistik dan otoriter. [22] Dalam forum direktur festival ini pun, setiap direktur bersama masyarakatnya tetap memiliki kekuasaannya dengan refleksivitas yang fundamental—bagaimana kita memiliki kekuatan untuk memerintah diri tanpa harus “memohon-mohon” pada pihak yang ‘mapan.’
Tindakan semacam ini juga seperti sebuah alat, dilakukan secara alami, bukan secara meniru; tindakan ini menggerakkan ‘penerima’ secara emosional dan menumbuhkan keterikatan emosional pada orang yang ‘dimohonkan.’ Realitas ini juga tidak dapat dijelaskan, karena seorang aktor, yang berubah menjadi direktur festival dalam mempromosikan festivalnya, memiliki kemampuan ini. Saya percaya permohonan ini juga merupakan bagian dari hubungan manusia kolektif, sebuah narasi yang saat ini sedang saya bangun dalam pikiran saya—dan juga terkait dengan neuropsikoanalisis, sebagaimana saya menafsirkan pertunjukan “Buku Kredit.”

Tindakan ini juga merupakan bagian dari interaksi kekuatan sosial yang didorong oleh orang-orang di sekitar mereka, di mana mereka saling terhubung dan saling bergantung. Bahkan festival yang dipresentasikan adalah karakteristik dari direktur itu sendiri, mungkin jauh lebih epik daripada Brecht, atau bahkan lebih epik daripada “Liar Lear”, tetapi ini adalah ruang yang nyaman, seperti yang disebutkan oleh direktur mini-festival ini. Jika saya tiba dengan perasaan “tidak nyaman” sedari awal, tetapi tetap memaksakan diri untuk melanjutkan di mini festival, karena saya melihat karakteristiknya mirip dengan pemahaman bahwa sebuah festival tidak lain adalah “gerakan sosial” yang bertolak dari “akar rumput.” 

Anggap saja sebagian ini, sebar-serbi pengamatan dari “Liar Lear” dalam forum direktur festival, lebih mengutamakan tindakan yang membuat penonton memahami sesuatu yang spesifik tentang kondisi sosial yang dirasakan dalam karakteristik yang sama. Saya merasa memiliki karakter “akar rumput” yang sama, sebut saja ekosistem terbatas, yang masih membingungkan oleh pengarah mini festival ini—dengan mencecar pemahaman saya, meskipun saya telah menjelaskan tentang pemahaman ekosistem ini. Saya merasa bahwa keterasingan dapat dijelaskan sebagai hubungan sosial, atau ketidakseimbangan kekuasaan dalam struktur sosial juga ikut menentukan karakteristik yang dimaksud untuk menentukan laju sebuah festival ke depannya.

Karakteristik merupakan hasrat yang dipupuk dalam diri setiap individu, dalam hal ini direktur festival, untuk membebaskan diri dari belenggu psikologis yang melekat dalam masyarakat mereka; saat mereka mencari harga diri yang selaras dengan karakteristik mereka, atau melepaskan dari hal yang kontradiktif atau bertentangan. Bagi saya, karakteristik sebuah festival tidak dapat dipisahkan dari ekosistemnya. Jika, misalnya, sebuah ekosistem dipisahkan menjadi bagian dari berbagai jenis karakteristik, itu akan lebih merujuk pada basis terbatas dengan semua fasilitas dan infrastrukturnya. 

Sebuah ekosistem, sebagai ruang untuk secara sadar mengamati dan bertindak untuk mengelola hubungan sosial dan seni, tanpa memaksakan diri, juga memprioritaskan tidak hanya estetika, tetapi kesadaran akan keterbatasan ini juga mengarah pada kritik terhadap kekuasaan dan penyampaian komentar sosial yang tajam dan bermakna. Karakteristik yang dimaksud ini, berdasarkan ekosistem yang saya sebutkan, kemungkinan akan berkontribusi pada restrukturisasi radikal imajinasi sosial masyarakat, memungkinkannya untuk bergerak maju tanpa dibatasi oleh pertanyaan tentang pengejaran, pencapaian, kepada siapa, untuk apa, karena kesadaran itu juga secara tidak langsung menjawab semuanya. Karakteristik sebuah festival berupaya menghilangkan hal yang antropesen dalam seni—kalau dipahaminya secara serius, sebab karakteristik bukan lagi berbicara aktivitas imajinasi, yang menurut saya juga omong kosong. 

Sebab masih banyak yang mesti dipecahkan dalam sebuah festival. Bukan hanya sekadar pesta keramaian, juga bukan pengagungan berlebihan terhadap seniman, yang tidak akan menghasilkan festival dengan karakteristik yang telah ditentukan sebelumnya—jikalau kita sibuk dengan hal-hal demikian. Saya sepakat kalau misalnya; bagaimana kita akan melihat kapitalisme ini berjalan dan direspons dalam sebuah festival dengan karakteristiknya masing-masing, akan dijelaskan di bagian selanjutnya dari setiap karakter yang tumpang tindih dengan pembahasan bedah buku kumpulan naskah pertunjukan LTC, “Yang berlalu (2005-2019)”, maupun sekilas uraian tur STOVIA.

“Reproduksi Pengetahuan” pada Bedah Buku Kumpulan Naskah LTC

LTC Budamfest 2025
Putu Fajar Arcana (kiri) dalam Peluncuran Buku Kumpulan Naskah LTC (Foto: AWE)


Saya membuat tajuk di atas—sebagai poin dari Putu Fajar Arcana, bersama dengan Madin Tysawan dengan dimoderatori Eko Yuds, ketika membedah naskah LTC sebagai narasumber “Yang Berlalu (2005-2019),” bersama dengan beberapa poin lainnya. Di antara poin-poin tersebut adalah fenomena yang dianggap sebagai logika terbalik, yang dimulai dengan logika teks, menciptakan peristiwa terlebih dahulu, dan kemudian teks menyusul. Beberapa orang yang terlibat, bahkan pergi ke pulau terlebih dahulu untuk menyelesaikan teks—padahal peristiwa sudah berlangsung lama, terutama sebagai periset. Di sisi lain, kerja-kerja LTC pada periode itu sedang dalam proses mengembangkan karya-karya yang berkaitan dengan kesadaran ekologis, akses berdaya di masyarakat, dan gerakan lingkungan—yang mana saya pernah menonton proses latihannya di sebuah kawasan Hutan Sangga Buana Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus.

Mungkin inilah yang saya yakini sebagai karakteristik LTC; ekosistem terbatas (dengan segala macam kesadaran sebagai metode, dramaturgi, dan estetika—menjadi literatur organik potensial bagi beberapa komunitas teater yang berada dalam ekosistem terbatas), sehingga orang datang ke komunitas ini bukan untuk kenyamanan atau ketidaknyamanan; kenyamanan didorong oleh karakteristiknya yang khas. Misalnya, Sala Hatedu (Hari Teater Dunia), Festival Teater Semarang, Ajang Teater Sumatra, dan Lanjong Art Festival, serta Pekan Nan Tumpah dan Festival Bantargebang (yang belum dijangkau, tetapi saya sedikit menyinggungnya dikarenakan terlibat sebagai pengamat dalam festival tersebut) kurang lebih menyoroti atau memiliki karakteristik yang serupa, atas pentingnya peran berkelanjutan seni dalam kehidupan masyarakat. 

Jika, misalnya, pengarah mini festival mini ini menyerah untuk melepaskan komunitas atau LTC, kurang lebih sekitar enam tahun lalu, maka Wulan dan Ari Sumitro hadir—saya tidak merujuk pada kenyamanan, karena mereka memiliki karakteristik serupa dalam memahami ekosistem. Ekosistem yang terbatas ini, dipahami selaras dengan keadaannya, membutuhkan upaya yang lebih besar di tengah kekacauan dan ketidakpastian, tanpa terburu-buru untuk menunjukkan hasil, tetapi lebih untuk menjalankan proses yang dimaksudkan hingga potensi penuhnya. Ekosistem, dalam hal ini, memprioritaskan pekerjaan yang lebih definitif, bagaimana pengalaman tubuh dijalani, dengan aktor/performer yang terlibat sebagai peristiwa melalui residensi, bagaimana semuanya diwujudkan dalam pengalaman tersebut. 

Peran kolektif diperlukan untuk terus mereproduksi pengetahuan dan memberdayakan lingkungannya—sebagai bagian dari poin lainnya. Saya membaca bahwa presentasi Putu secara tidak langsung menunjuk pada ekosistem—dalam hal ini terbatas di luar ekosistem lainnya, sebagai karakteristik, atas perjalanan kita saat kita menavigasi masa depan yang penuh tantangan. Demikian pula, apa yang dilakukan Turah Hananto, direktur Sala Hatedu, yang dipresentasikan Adit pada saat itu, mengingat keberhalangan Turah untuk hadir; di mana karakteristik ini memprioritaskan percakapan yang berkelanjutan dan lahirnya swadaya dari setiap individu/komunitas yang terlibat, dengan sedikit ‘mengabaikan’ kualitas karya, bukan berarti karya tersebut tidak berharga, karena kurangnya sistem kuratorial yang ketat seperti festival dengan karakter intrinsik.

Karakteristik intrinsik ini bisa dirujuk dari apa yang dilakukan Yayasan Kelola melalui Helateater—yang dipresentasikan dalam hal ini oleh Enin—dengan menghasilkan produk ideal (sebab ekosistemnya sudah terbentuk, sebutlah ekosistem yang mapan); Bagaimana mengkurasi penonton, bagaimana memilih karya, bagaimana bernegosiasi antara berbagai komponen yang terlibat, dan juga bagaimana mengidentifikasi jaringan yang lebih mapan ke depannya. Hal ini juga terlihat di Festival Musikal Indonesia, di mana menurut Alim; industri ini terus berkembang dan komersialisasinya mesti terus dipertahankan dan dilindungi, tentu saja, dengan sistem kerja yang lebih ketat. Mungkin karakteristik ini serupa di kedua festival tersebut, yang saat ini sedang dilakukan oleh Djakarta International Theater Platform—yang dipresentasikan oleh Adit, dengan sistem kurasi yang ketat dan agenda yang ketat dengan menunjuk pada karya-karya ‘mapan.’ 

Mereka juga terlibat menonton/melihat proses berlangsungnya proposal festival yang diadakan di luar negeri secara terbuka di hadapan para produser kaliber dunia—yang mungkin tidak selaras dengan karakteristik ekosistem—(terutama kesadaran akan keterbatasan); dan mengabaikan semua isu terkini dalam geopolitik global, seperti blok Amerika vs Rusia-China-Iran, yang juga tidak secara langsung mengatakan bahwa mereka adalah sekutu, melainkan “musuhku adalah temanku.” Ekosistem terbatas ini perlahan-lahan diimplementasikan oleh LTC, yang karakteristiknya kemudian terus berkembang—menjadi ekosistem yang mapan (sebagai metode, dramaturgi, dan estetika), dengan menggabungkan karakteristik kesadaran terbatasnya sendiri sebagai fondasi, dan kemudian bisa berkelindan dengan karakteristik lain yang dapat dikelindankan; di antaranya adalah karakteristik pemetaan, kewargaan, dan eksplorasi pasar. 

Ekosistem (kesadaran tentang terbatas itu) saya kira menjadi keunggulan LTC sejak lama, mulai dari teater kampus, yang diprakarsai oleh pengarah mini festival ini, memenangkan Festival Teater Jakarta, tiga kali secara berturut-turut, hingga disebut senior, itu juga merupakan karakteristik yang bertolak dari ekosistem (terbatas). Karena sejauh yang saya ketahui, selama pengamatan saya saat itu, kesadaran akan lingkungan pinggir, atau “akar rumput” ditekan, dan memperoleh legitimasi atas kelemahannya, sehingga karakteristik lemah ini dikelola menjadi metode, dramaturgi, dan estetika melalui teks-teks kanon. Ekosistem yang secara sadar rasional (terbatas), dapat digunakan sebagai gerakan untuk menolak kekuasaan diktator, sosialisme karena didasarkan pada sentimen kaum lemah melawan kaum kaya, teori hukum alam, pencerahan, liberalisme dan kapitalisme—yang sisi-sisinya telah lama jelas di antara ini.

Apakah karakteristik ini secara langsung mengarah pada produk yang ideal? Setelah menonton sejumlah pertunjukannya yang berasal dari “akar rumput,” sejak dua puluh tahun lalu; yang kemudian dikumpulkan menjadi naskah, banyak hal yang telah dieksplorasi oleh LTC, mengingat karakteristiknya yang jelas. Terus terang, saya merasa ‘nyaman’ menulis ini (sekalipun ngalur-ngidul) di balik ‘ketidaknyamanan,’ semangat “akar rumput” dari ekosistem ini kemudian melintasi karakteristik mapping; yang dilakukan oleh Festival Literasi Tangsel, kewargaan; Festival Teater Banten, dan pasar; Festival Terap atau Kala Monolog, di mana festival-festival ini kemungkinan ke depannya bisa saling terkait—selama berada pada karakteristik yang dipegang. Saya kira dari ekosistem ini, LTC mampu bangkit dan menentukan kehidupannya sendiri (menunjuk ekosistem yang mapan), berupaya menjaga keseimbangan apa pun (di tengah internal/eksternal yang juga tidak baik-baik saja), yang menggagalkan sikap kepentingan individualitas dan memenangkan hati masyarakat/keterlibatan orang-orang di dalamnya dalam ekosistem yang terbatas itu—menuju ‘mapan’ atau hal yang ideal, yang bisa disambung pada bagian berikutnya, untuk terus menyinggung bagaimana kita bersikap terhadap kapitalisme atas serangkaian festival yang dilakukan untuk menyatakan kekuataan kita sendiri.

“Angkutan Akar Rumput” dalam Membaca Masa Lalu STOVIA 


LTC Budamfest 2026
Salah satu agenda tur STOVIA dengan dijelaskan murid-murid kala itu (Foto: AWE)


Tentu saja, saya tidak bisa menjelaskan semuanya selama tur STOVIA yang dipimpin oleh Gen Alpha, yang magang di MUSKITNAS dan berasal dari Medan, yang fisiologinya hampir identik dengan Gen Z, sebagian besar berpartisipasi, seperti yang dapat ditelusuri dari berbagai sumber atau melalui kunjungan langsung. [23] Sesuatu yang dapat saya ulangi dalam konteks performance studies—“sekolah liar,” yang kemudian saya pahami justru dari tur inilah saya paling realistis membaca, di mana hari ini diciptakan oleh masa lalu sejumlah siswa STOVIA, atau apa yang terjadi di baliknya. Pertanyaan muncul: mengapa kecenderungan terhadap absolutisme dan nilai-nilai yang terlalu diagungkan ini hingga kini seolah-olah dipertahankan? Saya membaca bahwa masa lalu STOVIA, yang sarat dengan sejarah, juga merupakan potret dari hal-hal ini—di luar dampaknya sebagai cikal bakal sebuah gerakan, sehingga mustahil bagi kita untuk secara merata mendekonstruksi banyak hal melalui konsep deteritorialisasi.

Hingga hari ini, kita masih belum bisa mandiri dan benar-benar otonom atau bebas, karena sepanjang tur STOVIA ini, saya masih melihat pembisuan tokoh-tokoh yang hadir, mencegah mereka untuk melepaskan kedamaian dan harapan dari pemikiran jernih mereka. Termasuk cara berpikir direktur mini-festival ini, yang juga membahas banyak perbedaan dalam memahami tatanan nilai absolut, misalnya, kembali ke karakteristik pasar—yang juga tak terpisahkan dari ekosistem yang ‘mapan.’ Misalnya, bagaimana Zulfa menyentuh tentang cara membangun hubungan satu sama lain dengan melibatkan peran pemerintah—juga terhubung dengan BUDAmFEST, yang juga terkait dengan pemerintah—karena yang dimaksud pada dasarnya adalah dari ekosistem ke pemerintah—saya tidak benar-benar tahu apakah pemerintah benar-benar serius dalam memerangi kapitalisme atau tidak, [24] atau apakah pemerintah benar-benar ada—dalam konteks antara pro-kapitalisme dan anti-kapitalisme. [25]

Dari masa lalu STOVIA, atau saya kembali lagi ke semangat “sekolah liar” yang digaungkan oleh Ki Hadjar, semangat kemerdekaan dan eksistensi sebagai manusia seutuhnya yang tidak bergantung pada apa pun—apa yang dalam bahasa Nietzsche disebut “manusia super” (Ubermensch); memiliki kekuasaannya sendiri. [26] Namun, di era ketidakpastian ini, siapa yang dapat bertanggung jawab di tengah situasi kacau ini, dan siapa yang dapat bertanggung jawab untuk mengatur diri kita sendiri atau siapa yang dapat menentukan nasib sepiring nasi. Bahkan jika para petani, yang disebut sebagai “marhein,” [27] tetap menjadi bagian dari negara, [28] jika, misalnya, para petani memisahkan diri dari negara seperti suku-suku tertentu—juga tidak sepenuhnya di antara mereka berperilaku demikian. [29]

Mungkin potret STOVIA ini menunjukkan bahwa fondasi dari segala sesuatu adalah dinamisme yang tetap berada dalam keadaan “sakit jiwa” untuk terus diteriakkan. Ini berarti bahwa “hasrat untuk berkuasa” sebenarnya berakar pada dinamisme setiap individu yang dibentuk oleh sebuah festival. Semangat dinamisme yang terkandung dalam hasrat untuk berkuasa ini harus dimanfaatkan dan digunakan untuk membongkar wacana kapital yang telah menjadi absolut dan langgeng ke depan. 
Semua gerakan ini membutuhkan dekonstruksi pemikiran dalam hal apa pun, tetapi kita yang menggunakan konsep deteritorialisasi di negara ini mungkin juga tetap stagnan. Rasanya selalu memiliki probleatika antara nasi sepiring, tahu, tempe, dan daging sapi. Negara selalu menjadi fokus proses kreatif dan inovatif kita, karena sektor swasta pun juga berkelindan dengan negara, bisa sangat mungkin yang menopaknya melalui kaum oligarki—tampaknya mustahil untuk benar-benar independen.

Tidak berlebihan untuk menafsirkan mini festival ini sebagai “angkutan akar rumput”; bagaimana saya, yang berupaya melestarikan eksistensi para pemikir kontemporer dan dinamisme pemikiran yang berkembang, diangkut ke keadaan yang lebih realistis dengan segala kesenjangan, ketidaksetaraan, dan teka-tekinya, yang selalu merumitkan. Kita masih belum bisa terpisah dari masa lalu atas sistuasi dari hari ini, karena kondisi masa lalu menciptakan masa kini dan masa depan. Teknologi saja yang bersifat dinamis, tetapi mekanisme internal tidak.

Itu juga yang membuat pada bagian ini pemikiran Nietzsche cenderung menekankan penghancuran nilai-nilai absolut dalam kehidupan—ibarat seorang pasien rumah sakit jiwa. Dengan menghancurkan nilai-nilai absolut, kita akan menjadi eksistensial dan mandiri, dan menjadikan sesuatu di luar diri mereka sebagai tujuan hidup. Semangat anti-kemapanan, anti-absolutisme, dan keagungan digaungkan oleh Nietzsche dapat menjadi semangat untuk menggerakkan ekosistem (terbatas) yang mendasar ini. 
Landasan ekosistem terbatas ini, bagi saya sebagai metode, dramaturgi, dan estetika, ibarat dari “Liar Lear,” yang memprioritaskan keterasingan, sementara saya tidak merasakan realitas dari apa yang terjadi. Juga dapat terjadi dengan menghadirkan teknologi teater; cahaya, musik/bunyi, media sosial, dan lainnya, dipresentasikan langsung kepada penonton, bagian dari keterasingan ini untuk selalu berpikir terhadap realitas yang terjadi. Mungkin badut yang menjadi medan keterasingan ini untuk terus dieksplorasi, yang mana kita selalu berorientasi pada representasi, sehingga di sini keterasingan terletak pada bentuk teater itu sendiri; ia diam-diam hadir dalam setiap tindakan pertunjukan—yang selalu dibawa oleh setiap penonton (seniman) yang selalu mengganggap dirinya paham tentang seni; padahal petani jauh lebih ‘seniman’ daripada mereka, sebab mereka merupakan marhaen, sementara ‘seniman’ hanya proletar keparat yang nunggu panggilan, dan saya belajar banyak dari mini festival ini—rumit ya!

Daftar Pustaka

  1. https://www.pojokseni.com/2026/01/silang-teks-kolaborasi-korea-selatan.html, diakses terakhir kali pada tanggal 4 Maret 2026.
  2. https://www.pojokseni.com/2026/01/egol-ngger-merobek-seksualitas-dalam.html, diakses terakhir kali pada tanggal 4 Maret 2026.
  3. https://www.pojokseni.com/2026/02/membaca-neuropsikoanalisis-praktis-dari.html, diakses terakhir kali pada tanggal 4 Maret 2026.
  4. https://www.pojokseni.com/2026/01/buka-dapur-mini-festival-akumulasi.html, diakses terakhir kali pada tanggal 4 Maret 2026.
  5. Nietzsche, Friedrich, 1990. “Thus Spoke Zarathusta”, in Masterpiece of Philosophy, ed. Frank N. Magill. New York: Hapercollins Publisher.
  6. https://www.psychologytoday.com/us/blog/peaceful-parenting/202211/3-ways-tell-when-someone-is-playing-the-victim; https://rri.co.id/cirebon/kesehatan/1229425/mengungkap-fenomena-playing-victim-apa-itu-dan-bagaimana-mengenalinya; https://anjirmuara.baritokualakab.go.id/inside/playing-victim/; diakses terakhir kali pada tanggal 1 Februari 2026.
  7. https://www.kompasiana.com/denssaputra/5e720e9e2b6a462592564132/badut-desentralisasi-parade-humor-yang-bikin-geleng-geleng?page=3&page_images=1; https://indobisnis.co.id/2025/02/23/badut-istana-dalam-jerat-oligarki-tambang-keterlibatan-gubernur-dan-bupati-maluku-utara-ungkap-m-faisal/; https://www.jurnas.com/artikel/49372/Presiden-Maduro-Sebut-Oposisi-Badut-dan-Boneka-AS/, diakses terakhir kali pada tanggal 1 Februari 2026.
  8. Levine, Peter. 2002. Nietzsche: Krisis Manusia Modern. Terj. Ahmad Sahida. Yogyakarta: IRCiSoD.
  9. https://www.amnesty.id/kabar-terbaru/siaran-pers/setahun-pemerintahan-prabowo-gibran-situasi-ham-mengalami-erosi-terparah/10/2025/, https://nu.or.id/nasional/setahun-prabowo-gibran-deretan-aksi-massa-dan-tuntutan-rakyat-yang-belum-terjawab-Ekga4; https://www.bbc.com/indonesia/articles/cgr2yy8ldy4o, Demo mahasiswa 'Indonesia Gelap' di berbagai daerah bikin 'legitimasi pemerintahan Prabowo oleng'; https://tirto.id/kejanggalan-perusakan-penjarahan-demonstrasi-agustus-2025-hgWG, diakses terakhir kali pada tanggal 1 Februari 2026.
  10. Sunardi, ST. 1999. Nietzsche. Yogyakarta: LkiS
  11. https://nikel.co.id/2026/01/27/diduga-mengemplang-pajak-40-perusahaan-baja-asal-china-akan-didatangi-purbaya/; diakses terakhir kali pada tanggal 1 Februari 2026.
  12. https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/96478/api-bumn-tekstil-baru-musti-berkaca-ke-isn-yang-pernah-bangkrut, diakses terakhir kali pada tanggal 1 Februari 2026.
  13. https://www.tempo.co/hukum/inilah-para-pesakitan-yang-tetap-hidup-mewah-di-penjara-1846525; https://nasional.kompas.com/read/2018/07/22/17562741/ini-5-kasus-fasilitas-mewah-di-dalam-penjara?page=all; https://www.merdeka.com/trending/dipenjara-karena-korupsi-setya-novanto-masih-hidup-enak-ini-kenikmatan-didapatnya.html; https://www.tempo.co/hukum/prabowo-ingin-bangun-penjara-khusus-koruptor-di-tempat-terpencil-agar-napi-tak-bisa-plesir-seperti-gayus--1219194, diakses terakhir kali pada tanggal 1 Februari 2026.
  14. Brecht, Bertolt. 1978. Brecht on Theatre The Development of an Aesthetic. London: Methuen.
  15. https://www.cnbcindonesia.com/news/20260110195941-4-701265/tensi-panas-militer-angkatan-laut-rusia-iran-china-ngumpul-di-sini; https://www.kompasiana.com/bilalnakhwan7507/697d665fed64151891162322/dampak-strategis-aliansi-rusia-tiongkok-iran-terhadap-tatanan-barat; https://www.kompas.id/artikel/rusia-china-perkuat-blok-penantang-dominasi-barat, diakses terakhir kali pada tanggal 1 Februari 2026.
  16. https://www.hukumonline.com/berita/a/menkeu-pemerintah-warisi-utang-masa-lalu-hol22449/; https://infobanknews.com/warisan-utang-8-presiden-ri-dari-soekarno-hingga-prabowo/; https://merdika.id/beban-utang-negara-dari-masa-ke-masa, diakses terakhir kali pada tanggal 1 Februari 2026.
  17. Purwanto, Muhammad Roy. 2005. Filsafat Eksistensial Nietzsche dan Wacana Agama: Studi Filsafat Nietzsche dan Kontribusinya dalam Dekonstruksi Agama. An - Nur: Jurnal Studi Islam. Vol. 1, No. 2.
  18. https://www.youtube.com/watch?v=oZHJ1vaIGh8, Dialog Messingkauf oleh Bertolt Brecht, diakses terakhir kali pada tanggal 1 Februari 2026.
  19. Kumar, Manish. 2019. “Drawing parallelism of Alienation in Brecht’s ‘Epic Theatre’ and Therukoothu.” Theatre Street Journal Vol.3, No.1 27 March 2019 Peer Reviewed ISSN 2456-754X.
  20. https://indoprogress.com/2022/01/asal-usul-antroposen-dan-efeknya-terhadap-hubungan-manusia-dan-alam/; https://www.forestdigest.com/detail/1700/era-antroposen-dan-upaya-menyembuhkan-alam; http://majalah1000guru.net/2016/12/antroposen/, diakses terakhir kali pada tanggal 1 Februari 2026. 
  21. Blakeley, Grace. 2024. Vulture Capitalism: Corporate Crimes, Backdoor Bailouts, and the Death of Freedom. London: Bloomsbury Publishing.
  22. Salgues, Bruno. 2018. Society 5.0 Industry Of The Future, Technologies, Methods, and Tools. New Jersey: Hoboken ISTE.
  23. https://travel.kompas.com/read/2023/05/16/154049027/mengulik-sejarah-stovia-sekolah-dokter-pertama-di-indonesia?page=all; https://intisari.grid.id/read/032792064/stovia-sekolah-yang-melahirkan-tokoh-hari-kebangkitan-nasional; https://minews.id/kisah/stovia-sekolah-kedokteran-yang-banyak-melahirkan-tokoh-sumpah-pemuda, diakses terakhir kali pada tanggal 2 Januari 2026.
  24. https://www.balairungpress.com/2020/01/kapitalisme-dan-ketimpangan-ekologi-di-indonesia/; https://revolusioner.org/sejarah-perkembangan-kapitalisme-indonesia/; https://www.mediasulsel.com/ilusi-pengentasan-kemiskinan-dalam-sistem-kapitalisme/; https://indoprogress.com/2024/05/prabowo-dan-kediktatoran-kapital/; https://nasional.kompas.com/read/2025/06/21/00214751/prabowo-30-tahun-ri-ikut-kapitalis-pasar-bebas-dan-tak-berhasil; https://wartakota.tribunnews.com/news/871134/begini-sikap-prabowo-subianto-soal-kapitalisme-komunisme-dan-sosialisme, diakses terakhir kali pada tanggal 2 Januari 2026.
  25. https://www.neraca.co.id/article/16236/kapitalisme-jerat-kemiskinan; https://www.indonesiana.id/read/191140/fantasi-kapitalisme-negara-ala-prabowo; https://bidikutama.com/sudah-tahukah/tesis-marx-utopia-menyesatkan-tentang-kelas-negara-dan-agama/; https://www.cemerlangmedia.com/opini/kapitalisme-melanggengkan-penjajahan/, diakses terakhir kali pada tanggal 2 Januari 2026.
  26. Copleston, Friedrich. 1975. Friedrich Nietzsche: Philosopher of Culture. London: Search Press.
  27. Saksono, Ign. Gatut. 2008. Marhaenisme Ala Bung Karno: Marxisme ala Indonesia. Yogyakarta: Rumah Belajar Yabinkas.
  28. https://www.berdikarionline.com/bung-karno-dan-defenisi-marhaen/; https://petani.id/marhaen-adalah-petani-sebuah-catatan-ambassador-of-petani-women-leader/; https://bandung.kompas.com/read/2022/08/17/073700178/kisah-soekarno-dan-petani-marhaen-di-bandung; https://saluransebelas.com/marhaen-hari-ini/, diakses terakhir kali pada tanggal 2 Januari 2026.
  29. https://nasional.sindonews.com/berita/1381168/15/suku-suku-pedalaman-indonesia-yang-menolak-modernisasi-siapa-saja-mereka; https://travel.detik.com/cerita-perjalanan/d-5390370/cerita-suku-pedalaman-indonesia-yang-tak-pernah-dijajah; https://www.greenpeace.org/indonesia/petitions/perjuangan-suku-awyu/, diakses terakhir kali pada tanggal 2 Januari 2026.
  30. https://www.umy.ac.id/oligarki-dan-populisme-ibarat-dua-sisi-dari-satu-koin-demokrasi-indonesia/; https://fnn.co.id/post/oligarki-merampas-tanah-dengan-bantuan-para-pengkhianat-negara; https://www.inilah.com/dikepung-oligarki-indonesia-pasti-bangkrut-tanpa-sumbangan-daerah, diakses terakhir kali pada tanggal 2 Januari 2026.