Advertisement
![]() |
| Ilustrasi wayang |
Oleh: Adhyra Irianto
UNESCO telah menetapkan wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2003. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah kita memahami wayang hanya sebagai warisan budaya, atau sebagai sistem pengetahuan yang masih hidup?
Artikel ini akan mengulas secara rinci perkembangan seni pertunjukan khas Nusantara ini sekaligus melihat perkembangannya.
Kehidupan masyarakat Nusantara, utamanya di Jawa, selalu dikaitkan dengan kehidupan mistik. Perwujudannya ialah dengan upacara tertentu yang terkait dengan pemujaan roh nenek moyang. Ketika Hindu dan Budha masuk ke Indonesia dari abad ke-1 Masehi, terjadi sintesis antara budaya India dengan budaya asli Indonesia (Anggoro, 2018).
Dari titik ini, sebenarnya teori tentang masuknya Wayang ke Indonesia sudah terpecah menjadi dua. Sebagian percaya bahwa Wayang sudah ada di Indonesia sejak 1500 tahun yang lalu. Sebagian peneliti meyakini bahwa wayang sudah ada di Indonesia dalam konteks ritual era animisme-dinamisme. Pertunjukan yang memanfaatkan cahaya dan siluet kemungkinan besar menjadi medium komunikasi simbolik antara dunia manusia dengan dunia arwah para leluhur. Dalam teori ini, wayang berasal dari kata "weweyangan" yang berarti "bayangan" (Poerwadarminta, 1939).
Sejumlah peneliti terkenal meyakini teori ini seperti Hazeu (1897) dalam bukunya berjudul "Bijdrage tot de kennis van het Javaansche tooneel". Hazeu meyakini bahwa wayang merupakan bentuk ritual pemujaan pada arwah leluhur, dan termasuk seni sakral (bukan hiburan) pada awalnya. Selain Hazeu, peneliti lain seperti J. Kats (1923), James R Brandon (1970) hingga Koentjaraningrat (1984) secara umum meyakini bahwa sistem kepercayaan Jawa kuno berakar pada animisme dan dinamisme. Hal ini memungkinkan pertunjukan bayangan dipahami dalam konteks relasi dengan dunia roh.
Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua akademisi sepakat dengan teori "pribumi" tersebut. Sebagian lain percaya bahwa wayang dibawa oleh pedagang dan pendeta Hindu dan Buddha dari India di abad pertama Masehi. Sebab, catatan sejarah mencatat bahwa seni teater bayangan ini pertama kali muncul di India Selatan (Coedes, 1968). Kemudian, para pendeta dan pedagang India yang berkunjung ke Asia Tenggara mulai memperkenalkan pengaruh budaya mereka lewat agama, sastra dan seni pertunjukan.
Saat itu, diperkenalkan sejumlah epik India. Lewat epik semacam Ramayana dan Mahabhrata, dihadirkan cerita yang membawa struktur pemikiran kosmis (raja sebagai penjaga dharma). Cerita yang muncul rata-rata menggambarkan perang antara keteraturan dan kekacauan atau dharma dan adharma (Zoetmulder, 1983). Sheldon Pollock (2006) dalam The Language of the Gods in the World of Men menyebutkan bagaimana budaya Sanskerta berpengaruh signifikan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) lewat epos India tersebut. Hanya saja, Nusantara tidak menyalin seni Wayang yang dibawa India. Di sini terjadi sintesis, dimana tradisi yang sudah ada sejak lama bertemu dengan budaya Hindu-Buddha dalam seni Wayang (Geertz, 1960). Teks-teks dan simbol Jawa masuk dalam cerita-cerita epos Mahabhrata dan Ramayana secara signifikan, sehingga wayang menjadi sangat relate dengan publik di Jawa saat itu (Anderson, 1990).
Perbedaan yang paling kentara adalah di penokohan, hingga struktur dramatik. Ada karakterisasi yang sangat berbeda seperti pada tokoh Srikandi, Gatotkaca, dan sebagainya (Brandon, 1970). Dengan kata lain, Wayang adalah seni pertunjukan asal India yang mengalami "jawanisasi" (Mulyono, 1978). Wayang kulit India digunakan untuk mengisahkan kisah-kisah epik dan mitologis serta berisi ajaran-ajaran moral dan spiritual. Namun, setelah dibawa ke Indonesia, seni wayang kemudian mengalami perkembangan dan modifikasi sesuai dengan budaya, agama, dan kebiasaan masyarakat di Indonesia. Wayang di Indonesia kemudian diperkaya dengan kisah-kisah lokal, mitologi Indonesia, serta nilai-nilai budaya dan keagamaan yang khas.
Mari lihat contoh perbandingan di bawah ini:
![]() |
| Srikandi dalam pementasan Wayang Orang di Jawa (sebelah kiri) dan Shrikandi dalam pementasan teater di India (sebelah kanan) |
Bisa dilihat dari gambar di atas, tergambar bahwa dalam gambaran budaya Jawa, Srikandi adalah ksatria yang tetap tergambar sebagai perempuan, terkesan terkendali, harmoni, cantik dan mewakili keseimbangan. Tentu gambaran itu menggambarkan budaya Jawa secara umum. Sedangkan versi India (sebelah kanan) kesan "transformasi gender" dan "androgini" benar-benar sangat kuat terasa. Lebih ekspresif, kesan mitologis, misterius, dan kuat lebih terasa. Dari tokoh Srikandi, bisa kita lihat bagaimana budaya Jawa mengubah tampilan dan fisiologis satu tokoh.
Tapi, kesan yang paling jauh terasa itu terlihat dari Gatot Kaca (Ghatotkaca). Lihat perbandingan Gatot Kaca versi Indonesia (sebelah kiri) dengan versi India (sebelah kanan) di bawah ini:
![]() |
| Gatot kaca versi Indonesia (kiri) dan versi India (kanan) |
Gatotkaca versi India, digambarkan botak (utkacha) seperti panci (Ghatam). Jadi, ketika digabungkan jadinya Ghatutkacha. Selain itu, Ghatotkacha versi India juga adalah seorang raksasa besar (rakshasa), dan tinggi. Tidak seperti para ksatria, Ghatotkacha tidak mengenakan pakaian yang tertutup, bahkan sering digambarkan tidak menggunakan baju. Kesan kuat namun primitif lebih tampak pada Ghatotkhaca versi "asli".
Sedangkan versi Indonesia, Gatot Kaca lagi-lagi didesain dalam "etika", "harmoni", dan keseimbangan. Digambarkan sebagai seorang lelaki dengan tubuh yang gagah perkasa, serta mengenakan pakaian yang juga menyimbolkan kegagahan. Wajahnya tegas, dan lebih terkesan sebagai ksatria atau malah dewa, ketimbang raksasa.
Dari dua tokoh di atas (Srikandi dan Gatotkaca) bisa kita simpulkan bahwa tokoh-tokoh dalam epos Mahabhrata ketika "di-Indonesia-kan" mereka menjadi lebih harmoni, beretika, dan mewakili keseimbangan.
Pojokseni sempat membahas tentang polemik asal-asul Wayang lewat artikel berjudul Menilik Kembali Asal-usul Wayang yang Hingga Kini Masih Dipersoalkan.
Perkembangan Seni Wayang di Indonesia
Dalam perkembangannya, seni wayang di Indonesia kemudian terbagi menjadi berbagai macam jenis, seperti wayang kulit, wayang golek, wayang klitik, dan lain-lain. Namun, meskipun terbagi menjadi banyak jenis, semuanya masih memiliki akar yang sama yaitu sebagai seni teater tradisional yang memadukan cerita, musik, dan tarian dalam satu pertunjukan. Bentuk wayang modern (seperti yang kita kenal sekarang) muncul pada abad ke-9 Masehi (Coedes, 1968).
Pada abad ke-16, dengan penyebaran Islam di Indonesia, cerita-cerita dalam wayang mulai diubah untuk menggambarkan ajaran Islam. Sunan Kalijaga memasukkan tokoh Punakawan (Semar, Nala Gareng, Petruk dan Bagong) untuk menyisipkan dakwah Islam pada ceritanya.
Dalam buku berjudul Sunan Kalijaga yang ditulis oleh Umar Hasyim (1974), disebutkan juga bahwa nama-nama Punakawan bukan berasal dari bahasa Sanskrit, tapi bahasa Arab, yakni Ismarun berarti paku/pasak (Semar), Naala Qariin berarti mendapatkan teman (Nala Gareng), Fatruk berarti meninggalkan (Petruk), dan Baghaa berarti berontak (Bagong). Semuanya adalah pesan tersirat dari Sunan Kalijaga untuk menyisipkan pesan Islam lewat Wayang. Islam digambarkan oleh Sunan Kalijaga sebagai paku yang kokoh, membuat pemeluknya memiliki banyak teman yang mengajak pada kebaikan. Maka, tinggalkan ajaran lama dan memberontak pada kedzaliman dan kemungkaran.
Salah satu lakon yang paling terkenal adalah lakon Petruk Dadi Ratu, dimana orang biasa (Petruk) bisa menjadi raja karena kuat dan tak terkalahkan, lantara memegang senjata bernama Kalimasada. Ini memberikan maksud tersirat bahwa siapapun yang memegang Kalimat Syahadat (disimbolkan dengan pusaka Kalimasada) akan bisa menjadi pemimpin (Khalifah) di dunia.
Mari kita uraikan lagi perlahan perjalanan Seni Wayang ini.
Pertama, era keemasan Kerajaan Majapahit. Saat ini, wayang didokumentasikan dengan lebih sistematis. Itu bisa dilihat dari relief yang ada di candi-candi, menggambarkan adegan dari Ramayana dan Mahabhrata. Ini adalah era di mana Wayang berpindah dari seni sakral (ritual) menjadi alat legitimasi politik kerajaan (Pollock, 2006).
Raja diposisikan sebagai titisan dewa, atau setidaknya sebagai penjaga dharma. Dengan demikian, pertunjukan wayang berfungsi sebagai penguat tatanan sosial. Masyarakat diajak menerima hierarki sebagai bagian dari hukum kosmik (Wolters, 1982).
Selanjutnya ke era Islam, yakni era Kerajaan Mataram Islam. Fungsi politis wayang tetap dipertahankan, namun narasinya sudah diubah menjadi lebih islami, seperti penyisipan tokoh Punakawan dan beberapa judul seperti Petruk Dadi Ratu (Ricklefs, 2006, & Woodward, 1989)
Bisa disimpulkan bahwa sejumlah peneliti (seperti Coedès dan Zoetmulder) menyebutkan bahwa epik Ramayana dan Mahabharata telah terintegrasi dalam kosmologi politik kerajaan-kerajaan Jawa Timur, termasuk Majapahit. Relief naratif di candi dan kakawin istana memperlihatkan bahwa kisah tersebut bukan sekadar sastra, melainkan perangkat simbolik legitimasi kekuasaan. Dalam kerangka devaraja, raja diposisikan sebagai penjaga dharma. Sedangkan, pada masa Mataram Islam, (sebagaimana dicatat Ricklefs dan Woodward) struktur simbolik tersebut tidak dihapus, melainkan disintesiskan dalam kosmologi Islam Jawa.
Perkembangan Ragam Wayang di Indonesia
Secara umum, kita bisa bagi ragam Wayang di Indonesia menjadi tiga jenis; wayang kulit, wayang golek, dan wayang wong (Orang).
Wayang Kulit
![]() |
| Wayang Kulit |
Jenis yang paling dikenal. Terbuat dari kulit kerbau yang dipahat halus, dimainkan di balik kelir dengan cahaya sebagai sumber bayangan. Dalang menjadi pusat kosmos pertunjukan: narator, sutradara, sekaligus filsuf.
Baca Menilik Kembali Asal-usul Wayang yang Hingga Kini Masih Dipersoalkan untuk pembahasan lebih detail tentang Wayang Kulit.
Wayang Golek
![]() |
| Wayang Golek |
Berkembang di tanah Sunda. Berbentuk boneka kayu tiga dimensi. Lebih ekspresif secara visual, dengan gerak tubuh yang dinamis.
Baca artikel Sedikit Tentang Wayang Golek Sunda yang Harus Anda Ketahui dan Wayang Golek Asep Sunandar: Mengenal Budaya Sunda yang Menakjubkan untuk pembahasan lebih lengkap tentang Wayang Golek.
Wayang Orang (Wayang Wong)
![]() |
| Wayang Orang |
Dalam bentuk ini, manusia menjadi wayang. Tubuh aktor menggantikan boneka. Pertunjukan menjadi teater tari dengan koreografi dan tata panggung yang kompleks.
Baca artikel berjudul: Rediscovering the Magic: Indonesian Traditional Theater Plays that Stand the Test of Time untuk pembahasan lebih rinci tentang Wayang Orang.
Masa Kolonial: Komersialisasi dan Resistensi
![]() |
| Pertunjukan wayang era kolonial |
Pada masa Hindia Belanda, wayang tidak dilarang secara sistematis. Ia tetap hidup di desa-desa. Namun, perubahan sosial-ekonomi memengaruhi bentuk pertunjukan. Wayang mulai dipentaskan dalam konteks komersial. Rekaman audio muncul. Struktur pertunjukan disesuaikan dengan selera penonton kota.
Di sisi lain, dalang sering menyisipkan kritik terhadap kolonialisme secara simbolik. Dalam lakon-lakon tertentu, tiran digambarkan melalui metafora raksasa atau penguasa lalim. Wayang menjadi bahasa terselubung perlawanan.
Wayang Kontemporer: Tradisi yang Bernegosiasi dengan Modernitas
![]() |
| Wayang era kontemporer |
(baca juga Janger dan Wayang Ala Generasi Muda, Manifesto Daya Hidup Seni Pertunjukan)
Memasuki abad ke-20 dan 21, wayang menghadapi tantangan baru: televisi, film, internet. Sebagian orang menyebut wayang sebagai seni yang menua. Namun, di berbagai kota, muncul eksperimen:
- Wayang dengan tata cahaya modern.
- Lakon yang mengangkat isu korupsi atau krisis lingkungan.
- Adaptasi ke medium digital dan animasi.
Wayang terus berubah dan beradaptasi sesuai perkembangan zaman.
Wayang sebagai Sistem Pengetahuan
Jika kita melihatnya secara akademik, wayang dapat dibaca dalam beberapa lapisan:
Lapisan Kosmologis
Gunungan melambangkan alam semesta. Pertunjukan adalah simulasi kosmos. (baca juga Jenis dan Fungsi "Gunungan" di Wayang)
Lapisan Etis
Konflik antar tokoh sudah masuk kategori pergulatan moral, bukan sekadar perang fisik.
Lapisan Sosial-Politik
Struktur kerajaan dalam wayang mencerminkan struktur masyarakat.
Lapisan Epistemologis
Cara cerita disampaikan menunjukkan bahwa pengetahuan tidak selalu hadir dalam bentuk proposisi rasional. Ia hadir sebagai rasa. Di sinilah relevansi wayang hari ini. Dalam dunia yang serba cepat dan serba eksplisit, wayang mengajarkan bahwa kebenaran kadang bersembunyi dalam bayangan.
Masa Depan di Balik Kelir
Sejarah wayang di Indonesia bukan garis lurus. Ia adalah jaringan transformasi: dari ritual leluhur, epos India, legitimasi kerajaan, dakwah Islam, kolonialisme, hingga eksperimen modern. Apa yang membuat Wayang bertahan? Karena wayang sangat lentur.
Pertanyaan kita hari ini bukan lagi “apakah wayang masih relevan?”
Pertanyaannya adalah: apakah kita masih memiliki kesabaran untuk duduk di balik kelir, menunggu bayangan bergerak, dan mendengarkan cerita tentang perang, cinta, dan takdir?
Daftar Pustaka:
- Anderson, B. R. O’G. (1990). Language and power: Exploring political cultures in Indonesia. Cornell University Press.
- Anggoro, B. (2018). Wayang dan Seni Pertunjukan: Kajian Sejarah Perkembangan Seni Wayang di Tanah Jawa sebagai Seni Pertunjukan dan Dakwah. JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam), 2(2), 122–133. https://doi.org/10.30829/j.v2i2.1679
- Brandon, J. R. (1970). On thrones of gold: Three Javanese shadow plays. Harvard University Press.
- Coedès, G. (1968). The Indianized states of Southeast Asia (S. B. Cowing, Trans.). University of Hawaii Press.
- Geertz, C. (1960). The religion of Java. The Free Press.
- Hazeu, G. A. J. (1897). Bijdrage tot de kennis van het Javaansche tooneel. E.J. Brill.
- Kats, J. (1923). Het Javaansche tooneel. Weltevreden.
- Kasim, U. (1974). Sunan Kalijaga. Yogyakarta: LKiS.
- Koentjaraningrat. (1984). Kebudayaan Jawa. Balai Pustaka.
- Mulyono, S. (1978). Wayang: Asal-usul, filsafat dan masa depannya. Gunung Agung.
- Pollock, S. (2006). The language of the gods in the world of men: Sanskrit, culture, and power in premodern India. University of California Press.
- Poerwadarminta, W. J. S. (1939). Baoesastra Djawa. J.B. Wolters.
- Ricklefs, M. C. (2006). Mystic synthesis in Java: A history of Islamization from the fourteenth to the early nineteenth centuries. EastBridge.
- Woodward, M. R. (1989). Islam in Java: Normative piety and mysticism in the Sultanate of Yogyakarta. University of Arizona Press.
- Wolters, O. W. (1982). History, culture, and region in Southeast Asian perspectives. Institute of Southeast Asian Studies.
- Zoetmulder, P. J. (1983). Kalangwan: Sastra Jawa Kuno selayang pandang. Djambatan.












