Lukisan SBY "Kuda Api" Terjual Rp6,5 Miliar, Apakah Layak? -->
close
Pojok Seni
28 February 2026, 2/28/2026 10:10:00 PM WIB
Terbaru 2026-02-28T15:10:40Z
BeritaSeniUlasan

Lukisan SBY "Kuda Api" Terjual Rp6,5 Miliar, Apakah Layak?

Advertisement
Lukisan SBY "Kuda Api" Terjual Rp6,5 Miliar, Apakah Layak?
Lukisan SBY "Kuda Api" Terjual Rp6,5 Miliar, Apakah Layak?

Pojok Seni - Hari Rabu tanggal 18 Februari 2026 lalu, sebuah lukisan berukuran 130 x 80 cm berjudul Kuda Api karya mantan presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terjual seharga Rp6,5 miliar. Itu berarti, secara ekonomis, lukisan karya SBY bahkan mengalahkan mahakarya seniman legendaris Indonesia seperti "Berburu Celeng" karya Djoko Pekik yang "hanya" terjual Rp1 Miliar. Hasil dari penjualan lukisan Kuda Api ini akan digunakan menjadi dana kemanusiaan bagi masyarakat di bawah garis kemiskinan.


Lukisan Berburu Celeng karya Djoko Pekik

Terlepas dari "kemana dana lelangnya", tentu dalam kacamata estetika, pertanyaan mendasarnya adalah, apakah harga tersebut layak untuk lukisan SBY? Jawaban sejujurnya adalah, secara teknis lukisan tentu tidak. Tapi, secara simbolik (dan pasar), maka jawabannya adalah ya.


Harga Rp6,5 miliar itu di pasar global, Anda bisa membeli karya seniman modernis internasional kelas museum. Bila Anda menggunakan penilaian secara teknik murni, maka Anda akan menilai anatomi, kompleksitas komposisi, kedalaman eksplorasi warna, inovasi visual, dan sebagainya. Dengan "kolom penilaian" yang konvensional semacam itu, maka harga yang cocok dibanderol pada lukisan tersebut adalah belasan hingga puluhan juta saja.


Mari kita lihat karya tersebut secara teknis. Kelebihan lukisan tersebut adalah menggunakan warna yang kontras ekstrim yakni biru dan oranye dengan berani. Gestur dari sapuan kuasnya juga berani dan tidak ragu-ragu. Selain itu, bila melihat gerakan kuda dan apinya, setidaknya "energi gerak" itu telah berhasil digambarkan.


Tapi, perlu juga dicatat minusnya. Perhatikan anatomi kuda, terutama di struktur kaki, otot, dan tubuhnya, tidak terlihat "matang". Api juga digambarkan dalam bentuk yang repetitif. Latar juga tidak begitu digambarkan secara dalam. Sedangkan transisi warna juga kurang subtil, masih terlihat sangat "langsung".


Seni Tidak Hanya Dinilai Secara Teknis


Kesimpulan dari pernyataan di atas adalah, lukisan tersebut secara teknik memang tidak cukup untuk dihargai miliaran. Harga yang tepat untuk lukisan tersebut secara teknis berkisar di angka belasan hingga puluhan juta saja.


Tapi, di sini letak masalahnya. Karya seni itu tidak pernah dinilai melulu soal teknik saja. Siapa pembuatnya, posisi sosial dan simbolik, narasi di belakang karya, hingga momentum politik sangat menentukan harga dari sebuah karya seni. Selain faktor di atas, juga ada kelangkaan dan nilai historis dari karya seni.


Pelukisnya adalah SBY, seorang figur publik yang besar, mantan pemimpin negara selama dua periode, juga menjadi sosok simbolik yang sangat kuat. Karena itu, membeli lukisan tersebut berarti bukan membeli cat, kanvas, dan teknik. Tapi, Anda membeli sebuah karya yang dikapitalisasi secara simbolik. Lukisan ini berubah menjadi sebuah artefak sejarah.


Pasar Seni adalah Pasar Makna, Bukan Pasar Teknik


Sebenarnya, kita selalu mempercayai bahwa nilai sebuah karya seni itu sebanding lurus dengan keterampilan teknis. Karena itu yang didesain sejak usia dini. Seni dibesarkan dalam sebuah kompetisi, sehingga kemampuan teknis menjadi penentu segalanya.


Sayangnya, pasar seni adalah pasar makna, bukan pasar teknik. Karena itu, seniman yang dibesarkan lewat akademik dan kompetisi akan terkejut dengan harga yang fantastis itu. Harga lukisan tersebut Rp6,5 miliar, karena memang itu bukan harga dari kanvas, cat, dan teknik. Itu adalah harga narasi.


Walter Benjamin membahas tentang "aura" yang menaikkan nilai sebuah karya seni. Karya itu tidak dinilai dari kualitas formalnya, tapi dilihat dari singularitas kehadirannya. Siapa yang memegang kuasnya, itu lebih penting daripada tekniknya. Kanvas menjadi simbol kepemimpinan dan kapital simbolik.


Diskursus ini mengantarkan kita juga pada pemikiran Jean Baudrilard tentang trans-estetika. Bahwa nilai estetik itu selalu kalah dengan nilai simbolik. Lihat video di bawah ini untuk lebih lengkap membahas trans-estetika.




Kata Piere Bourdieu, reputasi dari seseorang bisa dikonversi menjadi nilai ekonomi. Inilah yang disebutnya sebagai kapital simbolik. Bukan kualitas visual yang dijual, tapi struktur kekuasaan. Coba bayangkan kalau lukisan yang sama dijual oleh seorang seniman yang tak dikenal. Apakah karya tersebut akan dilelang? Tidak! Malahan karya tersebut akan ditawar.


Ini justru menunjukkan pada kita bahwa pasar seni itu tidak transparan dan penuh dengan relasi kuasa. Karya seni lebih sering menjadi instrumen untuk legitimasi sosial, serta sangat bergantung pada jaringan kolektor. Pertanyaannya, apakah semua ini adalah "konspirasi"?


Bisa kita katakan "iya", tapi bisa juga "tidak" karena polanya sudah sangat terbaca. Mekanisme kapital simbolik kerap terbaca dengan pola yang sama. Kata Hans van Margareen, kita akan cenderung membeli goresan dungu karya pelukis terkenal, ketimbang lukisan indah karya pelukis anonim.


Kenapa Dato Low, seorang pengusaha besar Indonesia, membeli lukisan Kuda Api itu seharga Rp6,5 Miliar? Yah, mereka butuh positioning politik, kedekatan dengan figur pelukisnya (mantan presiden) dan status sosial. Harga itu sangat tepat untuk apa yang didapatkan. Itu juga alasan kenapa Pangeran Arab saudi, Bader bin Abdullah bin Mohammed bin Farhan Al Saud membeli lukisan "Yesus Kristus penyelamat dunia" bertajuk Salvator Mundi karya Leonardo da Vinci seharga Rp7,5 triliun ($450,3 juta) di tahun 2017 lalu.


Jadi, kembali ke pertanyaan di awal, apakah harga Rp6,5 miliar adalah harga yang layak untuk lukisan karya SBY? Secara teknik tentunya tidak. Tapi, secara nilai simbolik, harga itu sangat layak. Bagaimana pendapat Anda?