Buka Dapur Mini Festival: Akumulasi Pengetahuan dari 'Kelas' di Luar 'Kelas' dalam Konteks Performance Studies -->
close
Pojok Seni
04 January 2026, 1/04/2026 07:00:00 PM WIB
Terbaru 2026-01-04T14:51:59Z
eventUlasan

Buka Dapur Mini Festival: Akumulasi Pengetahuan dari 'Kelas' di Luar 'Kelas' dalam Konteks Performance Studies

Advertisement
Buka Dapur Mini Festival 2025 di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta (Foto: AWE)

Oleh Arung Wardhana Ellhafifie


Distribusi Pengetahuan Praktik Penciptaan Lab Teater Ciputat (LTC) melalui Buka Dapur


Dalam pengamatan ini, saya mau memulai dari pengantar kuratorial festival, Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) 2025, Lab Teater Ciputat (LTC) bersama Manajemen Talenta Nasional (MTN) Kementerian Kebudayaan RI, yang dituliskan oleh Bambang Prihadi, disebut juga pengarah festival, yang berlangsung pada tanggal 8-11 Desember 2025, di Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas), menjadi titik tolak saya selama mengikuti serangkaian festival, dimulai dari pembukaan, pertunjukan teater (kolaborasi Indonesia-Korea Selatan dan Antarfestival), forum direktur festival, dialog pertunjukan, peluncuran & bedah buku instrumen penciptaan karya (meniru istilahnya direktur BUDAmFEST, Wulan Pusposari), hingga tur museum yang tidak tertulis dalam buku program (tetap sudah direncanakan dan diagendakan, terkait beragam hal). Kalimat pembukanya; sejak dua puluh tahun lalu pada partisipasi, adaptasi, LTC menjadikan "dapur" dan "laboratorium" sebagai semangat kerja: uji coba,  kolaborasi, dan pertumbuhan bersama. 


Hal ini, selama proses mengamati yang dilibatkan sebagai tim produksi, sebutlah observer; secara terbatas dan 'sekadar' pengetahuan saya, yang mungkin berbeda dari kebiasaan para observer sebuah festival pada umumnya, dengan garis atau skema yang terstruktur, justru sebaliknya sepanjang beberapa bagian ini, jangan diharapkan dan dibayangkan hasil pengamatan yang komprehensif dan holistik, yang kemungkinan ngalur-ngidul kemana-mana, tidak karuan, tetapi mungkin bisa dilihat dari perspektif yang sangat terbuka; langsung terpantul pada pemahaman tentang performance studies, khas LTC; jika merujuk pada pemikirannya Richard Schechner, profesor emeritus Universitas New York dan pendiri departemen performance studies


Pemahaman ini, barangkali dilihat dari serangkaian performa, sebutlah kinerja yang ditampilkan, terpantul pada performa dari the performance group, Alisa Knowles, Mabou Mines, the Manhattan Project, the Ontologis-Historical Theatre, Stuart Sherman, dan lainnya (yang bisa dengan mudah ditemukan melalui channel YouTube), bagaimana mereka memiliki kecenderungan mendekonstruksi realitas, mendekati secara multifaset atau multigenre, berupaya mengartikulasikan, mendefinisikan proses instrumen penciptaan karya melalui 'kelas-kelas', dan memiliki lensa untuk menilai dari praktiknya sendiri, serta mendokumentasikan praktiknya secara berkesinambungan. 


Secara global saya menemukan pengetahuan dari sejumlah performa tersebut, dengan apa yang ditampilkan selama empat hari, khususnya melalui pertunjukan "Dream", "Egol Ngger!", "Buku Kredit", "Liar Lear", forum direktur festival, dialog pertunjukan, dan peluncuran & bedah buku LTC, tur museum, di samping beberapa performa lainnya. Dari pengetahuan sebelumnya dan literatur dari Schechner melalui sejumlah bukunya, terutama performance studies, saya mendapatkan tentang bagaimana orang-orang yang terlibat sedang mengeksplorasi dunia yang dipahami, tanpa harus dibebani oleh hasrat, untuk melampaui dari dalam dirinya; untuk lebih meyakini pertemuan tersebut dalam dirinya sudah menjadi bagian dari budaya, atas pengalaman sehari-hari di sebuah festival. 


Realitas sehari-hari dalam BUDAmFEST, sejak awal saya datang menyaksikan, hingga berakhirnya festival dengan pembongkaran set; bagaimana tindakan, interaksi sosial, praktik kerja pengadaan dan perlengkapan melalui mondar-mandirnya pick-up atau truk setiap waktu, praktik set builder dan dekorasi, saling bertemu dengan praktik artistik, riset, tukang kopi sepeda, nongkrong di pinggir jalan depan Muskitnas, pelataran depan perumahan tentara, memulung puntung rokok, ketersediaan konsumsi, memungut sampah yang tertinggal, sebagai bagian tim produksi seperti; Permana, Rombongan Sirkus, Haekal Julianto, Muhammad Ghaly dkk., Erika Elda Siregar dkk., dapat dipahami oleh saya sebagai spektrum yang luas dan kontinum pada konteks performance studies. 


Justru dari sini saya melihat "dapur" dan "laboratorium" sebagai pekerja festival, untuk terus hidup, atas sejarah diri mereka sendiri, menemukan psikoanalis dalam setiap individu, menemukan semiotika, untuk saling mensintesiskan beragam pendekatan. Secara sadar, kalau kita tengok ulang, keterlibatan mereka dalam pekerjaannya masing-masing, bagi saya juga perlu disorot, ditindaklanjuti, dipresentasikan, dibingkai, dan ditampilkan, sebagai tumbuh kembangnya jaringan antarlini; tanpa kelas, untuk saling mengubah posisinya masing-masing dalam sebuah performa. 


Pasti sejauh ini, anda berusaha untuk mencerna atas pengetahuan ini, sebab kita sering kali menuntut hal yang tidak bias. Padahal, kalau merujuk pada performance studies, tidak ada yang tidak bias dalam sebuah performa. Segalanya bisa saling bias dari satu ke yang lainnya; jika memeriksa sambutan dari Irini Dewi Wanti, selaku Direktur Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan, MTN, tentang pengembangan, pemberdayaan bakat-bakat unggul di segala bidang; termasuk bidang yang disebutkan di atas selain dokumentasi;  Diograph, manajer panggung; Bangkit Sanjaya dan Sarah Tija, penata audio dan teknisi audio; Inu Sentanu dan Mochammad Masrur UJ,  hingga lainnya, bagian dari ekspresi mereka, dalam membangun sumber daya, dengan kecerdasan emosional, skill dan ability mereka, mini festival ini berlangsung; menghibur, reproduksi pengetahuan, memadai sebagai ontologis dan metodologis dari 'kelas' di luar 'kelas', untuk saling bersama-sama mengubah identitas mereka melalui aktor/kreator yang terlibat. 


Dalam konteks pemahaman saya tentang performance studies, segala bentuk apa pun seperti perdukunan, kampanye politik, olahraga, Musyawarah Kesenian Jakarta (MKJ), medsos, tari, musik, pembedahan, bencana, demonstrasi, dan lainnya dipandang sebagai performa, maka realitas sehari-hari dalam festival melalui aktivitas gotong menggotong ridging, mengangkut puluhan plastik sampah konsumsi, penerimaan daftar tamu, mengisinya daftar hadir museum dengan membayar lima ribu setiap berkunjung ke Muskitnas, menjadi hal yang cenderung diabaikan dalam pengamatan festival, justru menjadi posisi kunci untuk memasuki instrumen penciptaan karya. Sebab sebagian dari pekerja ini, menjadi ritual atau ibadah seni, juga ada yang menganggap 'bermain-main', untuk saling berintegrasi satu sama lainnya. Meskipun juga ditemukan beberapa individu atau aktor/kreator, direktur festival, atau pekerja, yang dibentuk oleh kebiasaan arogan, cuek, dan merasa 'keren' atas pengalaman dan pengetahuannya, juga bagian dari performance studies, ala LTC. 


Seolah-olah sikap semacam ini sedang mengintervensi yang minoritas, begitu sebaliknya, bisa sangat mungkin terjadinya saling merebut intervensi; sebab juga tidak sepenuhnya yang minoritas itu juga terisolasi. Saya kira performance studies ini, kalau menunjuk pada kultur kita, bisa ditemukan istilah lainnya yang lebih organik dan dekat, di luar istilah studi performa atau studi pertunjukan. Istilah performance studies, secara umum diciptakan oleh teoretikus pertunjukan seperti Schechner di ruang akademik (atas perjalanan dirinya ke beberapa belahan dunia), atas praktik yang terjadi di luar, di mana kali ini saya mendapatkan teori dari luar akademik, perwujudan, tindakan, perilaku, agensi, lintas budaya, lintas latar belakang, lintas pendidikan, dan lainnya, di mana saya juga meyakini tidak ada teori performa yang universal; membuat praktik ini sebagai teori yang berbeda dalam relativitas yang berbeda pula, yang dipungut atau didistribusikan; oleh saya misalnya di ruang akademik atas akumulasi pengetahuan dari 'kelas' di luar 'kelas'.


Juktaposisi ini juga sebagai pengetahuan dalam performance studies (Foto: AWE)


Gambar di atas merupakan jepretan kamera hape butut saya pertama kali setiba di area muskitnas, memantulkan studi wilayah dalam konteks performance studies. Dari sini kita melihat kelas borjuis atas kapitalis, lingkungan sosial, dan sejarah saling bertemu dalam satu citra (yang juga ditangkap oleh Ari Pahala Hutabarat, sutradara Komunitas Berkat Yakin (Kober) Lampung, selaku pemantik forum direktur festival dan dialog pertunjukan, dari bagian dalam area Muskitnas dengan pembacaan yang kurang lebih sama), di mana ketiganya mengandung hiperteks; kata, gambar, suara, dan berbagai singkatan bisa diungkapkan melalui jepretan ini. Bagi saya studi wilayah ini, di antara Muskitnas di antara kompleks perumahan tentara, perkampungan padat, rumah sakit, rumah susun, hotel, halte busway Kwitang, stasiun Pasar Senen, Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, sekolah-sekolah, dan lainnya, juga seturut dengan pernyataan Wulan; tentang perayaan kelas penciptaan yang terdapat di dapur LTC, dari performativitas mereka bisa saling bertemu satu dengan lainnya. Kata Schechner performativitas tidak bukan; tindakan dari setiap personal sebagai akibat dari sikap yang mesti diselesaikan atau melakukan sesuatu pada waktu yang berlangsung. 


Setiap individu dalam kelompok masyarakat, tidak disanksikan memiliki performativitas; cara menyelesaikan sebuah pernyataan dan ujaran melalui tindakan dalam interaksi sosialnya. Cara ini menyebabkan hal auntentik, khas, dan mudah diingat, dikarenakan menancap langsung dalam perasaan, sebagiannya dari studi wilayah untuk merespons juktaposisi tersebut. Pengetahuan dari 'kelas' di luar 'kelas', uang didistribusikan oleh LTC; bongkar muat, napak tilas, jalin karya, dan silang teks menjadi performativitas mereka bertahun-tahun, untuk terus diujikan, dikolaborasikan, dan dikembangkan secara bersama-sama. 


Juktaposisi ini menjadi kata kunci yang berharga, dalam menatap studi wilayah pada konteks performance studies; untuk melakukan suatu pembacaan kritis, dari situasi masyarakat tempat berlangsungnya festival, dan terus mendorong pertemuan seni nonseni, dalam menghadapi uji coba dan proses yang matang. Demi menghasilkan talenta yang bisa berguna pada struktur sosial; khususnya dari tempat berlangsungnya festival atau pertunjukan. Jikalau sungguh-sungguh berniat untuk meruntuhkan batas peran aktor/kreator bersama masyarakat, komunitas, dan pengelola ruang, serta para pengunjung yang konsisten di Muskitnas, untuk saling belajar bersama, berpengetahuan luas, dan bertukar pengalaman, berbagi cerita, maupun melakukan suatu kerja kolektif. 


Juktaposisi ini juga memantulkan pada pemikiran Gregory Bateson, pada tahun 1955 tentang meta komunikasi; tengah berlangsungnya komunikasi sosial yang erat di antara beragam kelas untuk menghasilkan kinerja yang kompleks untuk perubahan paradigma masyarakatnya. Begitu juga dengan Erving Goffman, pada tahun 1959; mengungkapkan karya teater hadir bersama masyarakatnya di dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk segala peristiwa sebagian besar yang terlibat dalam mini festival ini; memilih jalan kaki dari tempat penginapan yang terletak di perkampungan Kwitang, juga sebagiannya untuk menyusuri juktaposisi dari tiga citra yang terlihat dari gambar tersebut. 


Bagaimana saya melihat tiga citra ini dalam konteks performance studies ala LTC; entah apa istilahnya, yang hingga kini masih terus dianalisis dari luar 'kelas', dengan istilah yang lebih dengan kukturnya mereka. Namun yang bisa dipastikan, minimal festival ini merupakan sebuah sikap untuk bergerak dan bertindak, untuk melihat fenomena yang dialami, diserap, dan dikaji ala LTC, yang mungkin "srandal srundul" pada keadaan tertentu untuk saling berkomunikasi, tentang kecenderungan sosialnya sebagai sebuah estetika yang hadir dalam masa kini. Estetika tentu menyesuaikan dari realitas sosial yang terjadi; dengan perangkat digital, sejumlah aplikasi, dimulai dari kencan, utang piutang, hingga judi online begitu lincah dan bertebaran, sebagai kebenaran dalam konteks, bukan terletak pada kebenaran absolut.


Ini bukti performativitas yang riil, dapat dengan mudah ditemui melalui internet; tinggal kita memilih untuk patuh atau melawan, menghadapi hal-hal semacamnya demikian. Ketersediaan segala informasi, termasuk adanya mini festival ini melalui email, ponsel, blog, WiFi, pesan singkat, dan lainnya, membawa kita untuk melihat paradigma yang lain; untuk mengubah arti melek sekitarnya, di luar lingkungan seni, pada konteks budaya secara luas. Dalam hal ini pada konteks performance studies; BUDAmFEST juga memeriksa dan monitoring tentang hal-hal fundamentalis, hal yang subversif, hal yang 'nakal' dilakukan oleh negara, anggota dewan maupun sejumlah kepala daerah yang korup, juga terkait dengan studi pascakolonial melalui 'kelas' dari instrumen penciptaan yang dimaksud.


Bagian dalam BUDAmFEST di area Muskitnas (Foto: AWE)

Dari gambar di atas pun, saya ambil juktaposisi dari dalam area Muskitnas pada saat hari pertama berlangsungnya festival, di mana pada hari berikutnya; tatanan ini diubah oleh set builder dan dekorasi, juga bagian dari performance studies ala LTC. Buka Dapur dalam penataan ruang juga berlangsung, termasuk juga kita bisa menyaksikan teknisi cahaya; Ricky Surya Yudha Pangestu dan Prio Herminto, bekerja dari ruang satu ke ruang lainnya; aula Stovia, aula kebangkitan, dan aula pamer temporer, pada setiap pergantian performa. Begitu juga dengan penata multimedia: Abdul Sahri Wiji Asmoko, dan teknisi multimedia; Fajar Mulia, juga wara-wiri pada setiap pergantian performa di setiap hari terjadinya performa, di mana kita diberikan keleluasaan, untuk memperoleh pengetahuan hubungan antara dari dalam ke luar, dari luar ke dalam, di mana penonton diberikan kesempatan bertukar pengetahuan; sekalipun juga tidak banyak yang merespons pengetahuan tersebut. 


Saya kira di sinilah 'kelas' dari instrumen penciptaan sebagai pengetahuan terdistribusi dimulai dari sebelum; untuk menjadi situs utama dalam merobek pendekatan dan kekuasaan tertentu. Juga menginformasikan dengan jangkauan banyak operasi yang bisa ditemukan. Sebab ini bersifat konektif dari inkubasi, produksi, dan distribusi, dengan konsep menolak atau menentang global kapitalis. 


Citra yang paling menjulang tentu saja hendak 'ditentang', melalui ingatan kolektif, sejarah dibangunnya STOVIA oleh Hindia-Belanda, sekolah kedokteran pada tahun 1851 (yang bisa dilacak melalui google), membawa cerita tentang beralihnya sekolah kedokteran ini pada tahun 1926, menjadi MULO, setingkat SD, SMP, SMA, yang terhubung dengan Taman Siswa Yogyakarta yang dipelopori Ki Hadjar Dewantara, juga terhubung dengan pergerakan Boedi Oetomo. Konektivitas ini, dalam konteks performance studies, dari STOVIA yang kini Muskitnas, seakan menjawab pandangan modernitas; apa yang "dalam" dan "tersembunyi" yang dianggap lebih nyata daripada yang ada di permukaan seakan sudah 'mati'. Gantinya melalui mini festival ini, semacam pandangan yang bersifat lebih cair, adaptif, dan terbuka pada setiap banyak hal, sekalipun pandangan pascamodern, juga tidak sepenuhnya menganut pemikiran postmodernisme (yang bakal disinggung secara ulang-alik dalam pengamatan ini). 


Alasannya tidak lain; bertolak dari saya membaca pemikiran pengarah festival ini, juga bukan ansih secara eksplisit pengikut Lyotard; yang mencetuskan istilah postmodernisme pada tahun 1960/70-an, yang kemudian diikuti oleh Giles Deleuze, Michel Foucault, Jean Baudrillard, Guy Debord, Jacques Derrida, Felix Guattari, Pierre Bourdieu, dan lainnya, yang mengajak cara-cara berpikir radikal dalam melihat bahasa, sejarah, hasrat, dan sosial, dengan cara deteritorialisasi; keluar dari batas yang lebih radikal pada teritori yang mapan. Melainkan pandangan postmodern, sebagai capaian dalam karya yang berkualitas; pada teritorinya, selayaknya dilihat sebagai pertunjukan, yang bermuara dari ruang-ruang spesifik, intim, kondusif, dan intensif, serta kecerdasan bernegosiasi dengan zamannya yang dialaminya, tanpa kehilangan landasan moral maupun intelektual. Pemikiran adaptasi dari pengarah festival ini, menautkan saya pada pemikiran Schechner tentang performance studies; sekalipun Schechner menolak sebagai pemikir postmodernisme,  atas hasrat dirinya yang masih berada pada teritori selayaknya pertunjukan, tetapi sangat bias kemanapun, dengan memandang realitas sehari-hari sebagai teater, juga secara tidak langsung menunjuk pada pemikiran nonmainstrem. 


'Kelas' instrumen penciptaan LTC; membawa saya terus berpikir deteritorialisasi, tetapi di sisi lain, banyak pemikiran pengarah festival ini, bertolak belakang atas pemahaman secara bentuknya masih teritori sebagaimana saya mesti menonton pertunjukan pada umumnya, karena saya secara terbuka sebagai pembaca  postmodernisme, yang tidak nyaman dengan 'teritori' itu yang tidak juga berguna bagi kehidupan sosial saya. Dalam pemikiran berbeda ini pula, saya memahami mini festival ini sebagai performance studies, dengan menilik apa yang dilakukan oleh Habermas, Adorno, Walter Benjamin, ataupun Max Horkheimer melalui mahzab Frankfurt, dan lainnya, yang bekerja di antara modernisme dan postmodernisme (sebatas pemahaman saya). Saya rasa mini festival ini melalui 'kelas di luar kelas', sebagai aktivitas pengetahuan, ritus sosial, produksi terhadap teori/praktik untuk melihat masa depan, juga bekerja di antara kalau dibaca dari pemikiran pengarah festival ini.


Sejumlah penonton BUDAmFEST (Foto: AWE)

Performance studies ala LTC, jika belum ditemukan istilahnya sesuai kultural mereka; barangkali saya mau mengadopsi istilah 'sekolah liar' yang pernah dituding oleh Hindia-Belanda, dengan sebutan ordonansi 'sekolah liar' pada tahun 1932 atas ketidakmampuan menghadapi gerakan pengetahuan Ki Hadjar Dewantara melalui Taman Siswa (yang terhubung dengan sejarah dari Muskitnas tersebut). Bukan berarti saya ingin menyamakan pengarah festival ini dengan Ki Hadjar (yang sudah pasti jauh), tetapi semangat 'sekolah liar' hampir serupa dengan semangat dari distribusi pengetahuan setiap 'kelas' instrumen LTC. Mudahnya, performance studies dan teori akademis Schechner ini, kurang lebih memiliki pendekatan yang sama; bagaimana keinginan Ki Hadjar dalam dunia pendidikan memiliki hak setara, di mana pribumi dan pendatang juga memiliki kesetaraan yang sama; tanpa ada diskriminasi dalam sistem pendidikan. 


Muatan-muatan dari 'sekolah liar' ini tanpa membedakan agama, usia, ras, disabilitas, jenis kelamin, dan ekonomi apa pun, juga bagian dari cara berpikir performance studies. Performance studies ini pun, membebaskan label apa pun dalam perspektif studies, yang mana semangat pelepasan label 'sekolah unggulan' dan 'sekolah terbelakang', hendak diruntuhkan sedemikian rupa. Taman Siswa yang didirikan Ki Hadjar pada tahun 1922 ini memiliki pengaruh besar dengan mencakup ke beberapa daerah seperti Makassar, Jakarta, Kudus, Kebumen  Mojokerto, Blitar hingga Nusa Tenggara Timur, ibarat 'sekolah liar' yang tumbuh di mana-mana; sebagai gerak bebas. 


Dari sejarah Muskitnas ini pun, yang dulunya STOVIA hingga MULO, memunculkan seniman kreatif dan inovatif di zamannya (dengan multifaset) seperti Ateng dan Benyamin Sueb, yang mungkin kurang lebih setiap 'kelas' ini dengan harapan yang serba bisa. 


Kalau dari 'sekolah liar' ini saya belajar tentang wadah untuk menjadi berdayaguna dalam konteks apa pun, begitu juga dengan performance studies; untuk 'menggugurkan' segala macam tembok penyekat segala label bentuk, sementara dalam mini festival ini saya belajar jaringan antarsistem yang terberi dari 'akar rumput'. Jadi poinnya dalam pemahaman saya tentang BUDAmFEST yang dipahami sebagai performance studies; memberikan peluang tentang relativitas tanpa vektor apa pun; tanpa harus mengetahui apa yang semestinya yang saling bersinggungan, tetapi sekiranya kita mengerti konteks budayanya, sejenis apa pengalaman yang dirasakan oleh masa kini; dan apa yang sebenarnya tengah terjadi. Mini festival ini sebagai medan komunikasi antarindividu lintas disiplin, sejatinya lintas seni nonseni, dengan kesadaran masing-masing latar belakang pendidikan dan sosial budaya, sehingga kita bisa menjadi individu yang global, khususnya dalam konteks aktor/kreator menjadi kekuatan penyeimbang terhadap kekuatan industri, kapitalisme, militer, dan pendidikan yang lebih berguna, dalam menghadapi zaman yang penuh semakin ketidakpastian ini. 


'Kelas' bongkar muat yang biasa dipraktikkan oleh LTC dalam mendistribusikan pengetahuannya; saya belajar untuk mengaktifkan nalar kritis secara mendalam (dengan pertanyaan dan perasaan untuk mengetahui hal yang luas), sekaligus membongkar kebiasaan yang lama; untuk keluar dari cara lainnya layaknya aktor solo yang inovatif, dengan berperan banyak, baik sebagai penulis adaptasi, dramaturg, hingga kreator/sutradara, dalam memunculkan konvensi yang berbeda. Sekaligus mengembangkan kreativitas, menumbuhkan skill aktor saya, untuk lebih inovatif, tanpa bertumpu pada orang lain untuk disutradarai; tetapi lebih berupaya menjelajahi daya inovasi apa yang sekiranya tumbuh terhadap naskah kanon. Naskah kanon ini, menjadi tumpuan utama saya membongkar sesuai dengan konteks; sesuai dengan kekinian, sebagai suatu pembaruan terhadap tokoh-tokoh dalam suatu naskah yang teruji kualitasnya. 


Naskah kanon; yang sudah diakui, atau dimainkan oleh orang banyak orang seperti "King Lear" karya William Shakespeare", "Sotoba Komachi" karya Yukio Mishima, "Purgatory" karya WB. Yeats, "Kapai-kapai" karya Arifin C. Noer, "Goyang Penasaran" karya Intan Paramadhita dan Naomi Srikandi, "Rossum's Universal Robots(RUR)" karya Karel Capek, dan lainnya (jika mengacu dari 98 peserta latihan teater "menjadi aktor partisipatif" pada tahun 2024), dalam mengembangkan ide dan gagasan yang relevan. Pada mini festival kali ini, "Liar Lear" dari "King Lear", oleh Iskandar GB (Lampung), "Malam Tanpa Akhir" dari "Sotoba Komachi", oleh Dyah Ayu Setyorini (Surabaya), lalu diambil dari program Unloading LTC, Riky Arief Rachman (Bandung), "Distrik Terakhir " dari "Endgame" karya Samuel Beckett, dan "Buku Kredit" karya Panca Lintang Dyah Paramitha, dibawakan oleh Jamaludin Latif (Yogyakarta), salah satu pendamping Dapur LTC 2024; secara keseluruhan membawa saya pada pelacakan tentang performa, pertunjukan dan proses budaya, maupun pertunjukan, representasi, dan ilmu pengetahuan. Selain itu, dari 'kelas' bongkar muat; dipilih dari salah satu karya Festival Seni Lanjong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dalam konteks performance studies, 'memaksa' saya untuk memantulkan pada realitas pertunjukan, kinerja, dan praktik etnografi, maupun pertunjukan dan hermeneutika.


Sementara 'kelas' napak tilas; dalam konteks performance studies, saya mendapatkan pengetahuan dari 'kelas' ini tentang menggali, mengembangkan kreativitas aktor/kreator, dan mengeksplorasi budaya lokal. Dari 'kelas' ini, kerja-kerja uji coba atau eksperimen, dalam menggunakan pikiran juga sebagai praktik sekaligus, untuk menemukan hal-hal yang tidak terduga sebelumnya. 'Kelas' ini semacam praktik-pikiran-bermain, dalam menjelajahi kearifan lokal; tradisi, hal yang primitif, untuk diangkut ke dalam fakta-fakta yang dianggap relevansi dengan situasi masa kini.


'Kelas' ini pun bagi saya seperti melacak sejarah untuk dikonfigurasi sebagai data yang lebih terang dalam melihat masa depan; melalui kearifan lokal seperti dipulihkan dengan studi waktu dan gerak, dalam memperlakukan instrumen penciptaan; sebagai kepentingan dari berbagai perjumpaannya dengan lintas disiplin. Jika mengacu pada praktik Buka Dapur 2024 lalu sebagai data referensi bisa dilihat dari beberapa aktor/kreator; Chendy Arswan Latif "Sara Sora" yang menghidupkan kembali nilai luhur Sara Pataanguna sebagai fondasi harmoni kehidupan; Dexara Hachika "Tedak Puan" merespons tato tertua pada suku dayak, Rifqi Haekal Amanullah "Install Ulang: Surawana Lewat Jalan Memutar", sebagai upaya cara alternatif dalam melihat ulang Candi Surawana di Kediri yang hanya dianggap sekumpulan batu jatuh dari langit,  dan aktor/kreator lainnya, di mana kini yang terpilih; Alfian Darmawan "Egol Ngger!", sebagai upaya berkesinambungan dalam melihat lengger lanang yang dipopulerkan Mbok Dariah untuk lebih bermain-main cara menginvestugasi konstruksi identitas, dan tubuh (daripada sebelumnya, yang lebih berfokus pada pelacakan Mbok Dariah); Fajar Eka Putra "Malin Kundang Lirih", yang terjalin dengan 'kelas' bongkar muat; disebabkan naskah ini sudah dituliskan sebelumnya oleh Pandu Birowo, dapat dipahami oleh saya; untuk melihat ulang posisi keberadaan, melakukan, dan menunjukkan melakukan, menjelaskan menunjukkan melakukan, dengan bidang lainnya dalam menelusuri kearifan lokal. Dari 'kelas' ini pula saya bisa jadi melek siklus fisika, kuantum, biologi, hidroponik, genetika, kloning, peningkatan eugenetika, spesies manusia, avatar diagram, pencegahan hama, penyembuhan, penyakit dan peningkatan hasil panen, serta beragam imajinasi pengetahuan; untuk terus memodifikasi manusia. 


Kemudian ada 'kelas' jalin karya, di mana pada  buka dapur 2024; saling mempertemukan ide dan gagasan yang memungkinkan satu dengan lainnya bisa terjalin seperti; Mutmainnah (Gowa), Teguh Hartomi (Pandeglang), Moh. Rofayat (Sumenep), Maria Natalia Yusti (Flores Timur), Chiko Agesto (Bekasi), dan lainnya dalam "Maternal Disaster", untuk melihat konsep body dan alam, di mana peradaban juga mengubah tubuh kita; namun pada kali ini, semangatnya dari 'kelas' ini terhubung dengan 'kelas' silang teks; kolaborasi seniman Indonesia dan Korea, dengan disutradarai oleh Hyoung Taek-Limb (Seoul Factory for the Performing Art) dan Rangga Riantiarno (Teater Koma), menurut saya bagaimana kolaborasi antarnegara ini, melihat "A Midsummer Night's Dream" karya William Shakespeare menjadi "Dream", juga terjalin dengan semangat dari 'kelas' bongkar muat, dapat dipahami bagi saya, seperti melihat penggambaran Schechner tentang roti dan sirkus. Dua objek ini,  memiliki muatan; datang, melihat, untuk menang terhadap pengetahuannya masing-masing.


Juga bisa dapat dilihat, sebagai mimpi yang lebih luas; dalam melihat perpaduan seni visual sebagai pertunjukan yang kompleks, komoditas, apa yang hendak dilakukan, menikmati, dalam segala macam sistem yang berlangsung, seni yang fundamentalis, di tengah tegangan kapitalis, sosialis, komunis, dan ragam aspek lainnya, maka tak berlebihan, mini festival ini sedang membawa lari jauh tentang semangat 'sekolah liar' dengan segala macam prinsip yang konsisten tanpa intervensi oleh kepentingan manapun; saya rasa pun, menjadi solusi yang konkret atas kesetaraan pengetahuan; tanpa pandang bulu, ibarat "angkutan akar rumput" tanpa harus dianugerahi modal kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual memadai, atas keyakinan bahwa keduanya bisa dilatih dengan cara atau metodenya yang efisien, layaknya Taman Siswa kala itu, dengan sebutan sebuah pertaruhan dalam tulisan Syahruljud Maulana, pada halimun salaka.


Performance Studies-'Sekolah Liar' sebagai Angkutan Akar Rumput


Perbincangan pada saat pembukaan BUDAmFEST (Foto: AWE)


Pada bagian ini, saya ingin menghubungkan dua semangat dari performance studies-'sekolah liar' dalam memahami mini festival ini. Kalau Schechner menyinggung "mirror stage" pada tahun 1949 yang dicetuskan oleh Jacques Lacan, tentang studi psikoanalitik dengan mengusulkan bayi berusia enam bulan memahami diri dan merasakan diri melalui cermin sebagai "orang lain", dengan sendirinya terhubung pada teori performativitas yang dikemukakan J. L. Austin pada tahun 1962, membawa saya pada pemahaman festival ini mengandung keduanya dalam melihat ilusi permainan dan teater dalam jangka panjang. Hal ini semua pun, sebagian besarnya setiap individu yang hadir tengah melakukan sesuatu; beraktivitas melalui skill dan ability, sekaligus ditunjukkan dan dijelaskan secara bersama-sama untuk saling memperluas pemahaman; memodifikasi sebuah pergerakan yang lebih konstan ke depannya dalam melihat hal-hal di luar diri kita tentang fisika kuantum, biologi, dan evolusi; sementara Seno Gumira Ajidarma dalam melihat 'sekolah liar' dari Ki Hadjar, dari 1922 hingga 1930-an, pada KUD (Kesenian Unit Desa) yang dilakukan Moelyono, secara berkesinambungan dari 1980-an hingga 1990-an dan kini, tentang keberdayaan, petani, dan aktivasi dari masyarakat pinggir, bagian dari upaya membongkar wacana yang dominan; tentu memiliki "mirror stage" dan perfornativitasnya melalui tikar, daun pisang, dan ranting, di mana dalam hal ini saya sedang melihat kerja-kerja 'pengangkutan' dari akar rumput, sebagai gerakan intelektual berbasis dari luar 'kelas'. 


Sebutlah 'angkutan akar rumput' melalui mini festival ini; kalau boleh saya memberi nama yang lebih dekat dengan kultur LTC, dengan mempertemukan lintas generasi maupun individu-individu yang tengah progress, individu yang mapan atau diakui di bidangnya, dengan individu yang baru saja mau menengok untuk terus berkembang. Ibarat akumulasi pengetahuan yang sedang didistribusikan tanpa kurasi yang sangat ketat, sehingga bisa dari manapun dengan segala keberagaman skill dan ability akar rumput. Namun dari sini melalui gairahnya masing-masing individu juga, tetap juga bakal menyasar keuntungan ekonomi dari keberadaannya, dalam penyegaran, pembaruan nilai-nilai zaman, dan konsolidasi untuk merebut kesetaraan pengetahuan. 


Di era zaman digital yang disinggung Schechner dalam performance studies, direpresentasi atas keterlibatan sosial media; Ardylara Mayang Purnama dkk, desain grafis dan logo; Nur Ali Hafzhaniyah dan Argha Frans Valiant Mare, yang terhubung pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM); dikoordinasikan oleh Lucky Pasha Herzena, hingga kepenontonan oleh Rusydi Jamil Fikri dan Ahmad Rifqi Fakhruzzaman, yang pada agenda lainnya, sebagiannya juga aktor/kreator, bersama-sama mengaktualisasikan riwayat sejarah diri untuk menciptakan masa depan. Manusia menciptakan masa lalu, bukan masa lalu menciptakan masa depan. Justru masa depan menciptakan masa lalu, atas kini untuk belajar memahami tentang dunia yang lebih luas. 


Seperti halnya dilakukan oleh Ari Sumitro, manajer program dari LTC, begitu juga asisten manajer program; Syafullah Almahdi, maupun asisten manajer panggung; Ale Usman, Teguh Hartomi dan lainnya, dengan segala macam pekerjaan dimulai dari aktor/kreator hingga penulis, peneliti, dan dramaturg pada agenda lainnya, juga saling bertukar posisi; untuk restorasi perilaku, atau sedang menyusun beragam jenis perilaku sebelumnya. Saya dapat menyebutnya bahwa mereka sedang menyusunnya dari potongan ragam pekerjaan untuk merasakan dan menemukan keberadaan mereka dalam jejaring kehidupan yang luar biasa luasnya. Dari sinilah saya belajar banyak hal tentang begitu kompleksnya teater melalui mini festival sebagai 'angkutan akar rumput'; dari kita sebagai manusia hingga robot yang diproses maupun AI (Artificial Intelligence) untuk membidik nonrasis, nonsupremasi, nonkolonial, dan nonseksis, agar kita ke depan tidak mengalami regresif atau kemunduran dalam banyak hal.


Sejumlah penonton pada BUDAmFEST (Foto: AWE)

Kalau pada dua bagian lebih banyak menginput nama-nama tim produksi yang terlibat seperti yang disebutkan  di atas dalam mini festival sebagai 'angkutan akar rumput', sebab dari mereka fondasi festival ini dipulihkan dari ruang dapur. Buka dapur melulu pada kerja artistiknya, yang menurut saya mereka yang disebutkan selain sekretaris dari mini festival ini; Asri Widadi dan Laras P.  Nurhandayani mapun bendahara; Emeralda, sebab dari mereka saya mendapatkan kaos, arsip buku program, dan lainnya, juga menciptakan artistiknya yang tidak terpisahkan satu sama lainnya. Sama halnya hubungan yang saling tidak terpisahkan antara hewan, tumbuhan, dan mineral, serta manusia, dengan rasa hormat yang dibutuhkan oleh kita. 


Kita terkadang dalam medan perjumpaan seperti mini festival; terlalu angkuh dan tunduk pada kuasa pengetahuan, jejaring, apa yang sudah dilakukan, berteman dengan siapa saja, dengan menutup mata atas apa yang sedang berlangsung dari ketidakpahaman tentang luasnya pergaulan. Kita terlalu sibuk atas dirinya sendiri, sibuk hanya memperhatikan aktor/kreator dengan gagasannya; padahal jauh di baliknya mereka juga bagian dari aktor/kreator yang punya makanan favorit seperti jerapah yang suka pada pohon akasia, dan kita sedang melakukan pertunjukan lewat kamera ponselnya masing-masing. Kita juga lupa bahwa ada panopticon (pengawasan) dari perspektif personal; atau sebagai kamera tersembunyi, yang diam-diam mengarah pada kita, di area Muskitnas tersebut; juga sebagai tindakan, realitas yang tidak hanya bersifat teaterikal, yang kadangkala kita sedang tidak menyadari diri sendiri; performa ditentukan pada titik mana ditempatkan; performa bersifat sadar/tidak sadar untuk memahami kinerja kita selama ini. 


Saya kira dari mini festival ini; lebih banyak dipenuhi dari lapisan 'gorong-gorong' atau akar rumput, yang hendak mencari pengetahuannya; untuk memenuhi standar pengetahuan yang terbuka tentang bagian-bagian invasif dan destruktif dari pengetahuan sejarah kita; untuk mengejar ketertinggalan sebagai warga negara atas sejumlah krisis yang berlangsung. Secara global krisis iklim yang berlangsung ratusan tahun lamanya, hanya saja kita cukup terlambat akan hal itu. Dari mini festival ini; sebagai 'angkutan akar rumput' saya juga melihat benturan keadaan performatif melalui sejumlah rangkaian agenda. 


Lebih luas dalam konteks performance studies-'sekolah liar', sebagai 'angkutan akar rumput', saya melihat upaya untuk kuat 'melawan' gabungan politis, oligarki, korporasi, otoritarianisme, kompleks industri universal, dan kekacauan global, untuk mendapatkan sumber energi atas partikel subatomik, neutrino, dan lainnya. Dari serangkaian agenda mini festival ini pun, saya jadi menelisik ulang tentang konsep revolusi industri, 8 jam kerja, 8 jam gagasan, 8 jam istirahat, tidak lagi berlaku sebagaimana mestinya; semacam memulihkan nilai-nilai 'sekolah liar' dari Taman Siswa yang dibangun Ki Hadjar. Semangatnya adalah melepaskan diri atau pembangkangan dari ketidaksetaraan, kemerosotan sistem yang dibilang terlihat baik-baik saja (namun penuh dengan masalah pada setiap rezim), juga penuh dengan enigmanya sendiri; dengan kembali menyelidiki ing ngarso sung tuluda; bagaimana kita coba bersama-sama memberi teladan, ing madya mangun karsa; bagaimana kita bersama-sama membangun kemauan dan inisiatif, dan tut wuri handayani; kita sesama 'akar rumput' saling memberikan dorongan tentang keberadaan kita melalui BUDAmFEST ini.


Saya kira kita semua aktor/kreator; bahkan akomodasi dan transportasi; Ramadhan Judo Putra Pratama, begitu sibuk mengurusi kepergian dan kepulangan undangan dari Korea dan beberapa kota; Magelang, Pekanbaru, Makassar, Serang, Surabaya, Surakarta, Lampung, Trenggalek, dan lainnya, juga sibuknya mengurusi antar-jemput mereka dari Muskitnas ke hotel; juga merupakan aktor/kreator yang dilihat oleh saya. Mereka semua katalisator pengetahuan atas nama kemajuan peradaban, untuk mengecek agar kita tidak bersikap diskriminatif terhadap apa pun, yang saling mengilhami setiap pikiran. 


Sebagaimana Sekolah Boedi Oetomo pada tahun 1929 di Jakarta, yang terilhami Taman Siswa, yang mungkin dari BUDAmFEST ini mengilhami inisiator untuk mengangkut sejumlah 'akar rumput' lainnya; untuk membuat sistem distribusi pengetahuan yang lebih efektif dari luar 'kelas', untuk terus melakukan, mewacanakan dalil 'akar rumput', untuk meremukkan wacana dominan, melalui sejumlah pengetahuan lainnya yang korelatif, empirisme, dan realitas, dalam beberapa tulisan berikutnya; bagaimana saya memahami "Dream", " Egol Ngger! ",  "Buku Kredit ",  "Liar Lear", forum direktur festival, lalu saya menggabungkan pemahaman dialog pertunjukan dan peluncuran & bedah buku LTC, tur museum (dari STOVIA), dan terakhir, saya coba berupaya memahami  "Malam Tanpa Akhir", "Distrik Terakhir", " Made in China ", " Malin Kundang Lirih ", dan audio performatif (yang diputar pada saat hari pertama saja, yang selanjutnya ditakeoff tanpa tahu sebabnya (mungkin dianggap tidak indah dan memekikkan telinga atau monoton) menjadi satu pembacaan analisis ngalur ngidul saya, ala belajar dari luar 'kelas' untuk berasosiasi dengan subjek-objek manapun;  jadi mari kita rajut multiplisitas pada batas atau ambang kekosongan kita masing-masing.