Advertisement
![]() |
| Pertunjukan Burried Child |
Oleh: Ivi Latfiani
“Hingga kini masih ada suara yang membuatku tidak nyaman bahkan setelah pertunjukan berakhir: suara gergaji mesin yang menggema, beriringan dengan tawa yang melengking di kegelapan. Bradley berjalan pincang dengan gergajinya.”
Hari itu, Sabtu, 22 November 2025 pukul 19.30 di Gedung Sunan Ambu ISBI Bandung, sebuah pertunjukan teater berjudul “Rumah yang dikuburkan” (The Buried Child) karya Sam Shepard digelar. Pertunjukan ini mengisahkan sebuah keluarga disfungsional yakni Dodge sang ayah, Halie sang ibu, Tilden putra tertua, Bradley putra termuda, serta Vince putra Tilden dan Shelly pacarnya. Sejak awal, saya merasa pertunjukan ini ingin memberikan nuansa yang berbeda dari pertunjukan teater lain yang juga ditampilkan sebagai tugas akhir jurusan Teater gelombang 2. Sepanjang pertunjukan, banyak momen yang membuat saya gelisah. Bahkan ada perasaan seperti ingin pulang saja.
Pertunjukan dibuka dengan suara hentakan keras dari pisau Halie yang menghantam semangka.
”Tak…tak…TAK!”
Tanpa perlu melihat dengan jelas, penonton sudah dapat merasakan emosi dari setiap hentakan pisau Halie. Suara yang keras, berulang dan emosional. Bersamaan dengan itu, suara statis televisi yang ditonton Dodge berdengung tanpa henti, jelas tidak memberikan kesempatan untuk penonton merasa nyaman.
Ketika Tilden masuk membawa seember jagung Dodge seketika meneriakinya dengan kata “PENCURI!” karena ia menganggap ladang jagungnya sudah lama mati. Namun, Tilden bersikukuh bahwa ia tidak mencuri. Ia bersikap seperti anak anak dalam tubuh orang dewasa yang polos dan rapuh memeluk ember penuh jangungnya itu.
Adegan dilanjutkan kebagian yang akan membuat kalian gigit jari. Saat suara gergaji mesin menggema berkejaran dengan tawa Bradley yang dengan kaki pincang mengayun ayunkan gergaji mesinnya seolah-olah bagian dari tubuhnya sendiri. Ada rasa takjub dan juga ngeri menyaksikan acting dari Bradley yang sudah seperti orang gila. Setiap dia muncul rasanya seperti ingin menutup mata ketika menonton film horror.
Selanjutnya banyak adegan adegan simbolis yang jika hanya menonton sekali akan sulit untuk mengetahui makna nya seperti saat Tilden menggali kubur anak anak jaddah, Halie yang melempar “makanan” untuk digerogoti keluarganya dan adegan Bradley berbincang dengan tilden. Kehadiran Vince yang merupakan anak Tilden justru menambah rasa bingung dan gelisah, karena ia membawa pacarnya Sherly yang seperti penggambaran penonton yang tidak tahu apa apa. Kisah ditutup dengan adegan simbolis Ketika Dodge dan Halie menikah, serta pembacaan surat waris oleh Dodge untuk anak anaknya sembari memperlihatkan “anak anak muda” yang berandal.
Menurut saya disfungsional adalah kata yang terlalu ramah untuk menjelaskan situasi keluarga ini, melihat sisi sosiologis dari keluarga Dodge, masing-masing anggota keluarga memiliki masalah mereka sendiri ditambah dengan pola interaksi yang tidak sehat seperti komunikasi yang buruk, terciptanya peran yang toxic dikarenakan anak yang tak lagi hidup, dan pengabaian emosional. Menjadikan keluarga ini gagal memenuhi fungsi utamanya sebagai “tempat aman”.
Ketika menonton saya beberapa kali menutup telinga karna banyaknya suara yang membuat tidak nyaman terutama gergaji mesin. Namun, setelah keluar dari ruang pertunjukan muncul kagum. Pertunjukan ini memberi kesan pada saya bukan rasa terharu, senang atau sedih namun rasa: Gelisah yang belum saya temukan pada pertunjukan pertunjukan lainnya. Saya juga merasa ini bukanlah pertunjukan yang bisa dipahami hanya dengan menyaksikan namun banyak kisah yang bisa kita sebagai penonton cari bahkan setelah pertunjukan selesai. Sebagai kesimpulan akhir saya menyukai pertunjukan ini, bukan karna cerita yang ada di dalamnya tapi bagaimana seluruh bangian dari pertunjukan ini baik dari latar, musik, dan aktor dapat memberikan sensasi mengerikan, namun berbeda dengan film horror yang dapat memasukan jumpscare penonton dapat berteriak hanya dengan sebuah gergaji mesin.
*Ivi Latfiani adalah seorang mahasiswi ISBI Bandung jurusan teater yang memiliki mimpi untuk dapat me- C6R5 Kaedehara Kazuha. Dalam teater Ivi memiliki ketertarikan dalam bidang penulisan lakon dan artistik. Ketertarikannya dalam teater bermula dari Sekolah menengah atas di ekstrakulikuler Teater Bahtera SMAN 8 Kabupaten Tangerang di sana ia aktif memimpin sebagai ketua umum selama 1 tahun.





