Advertisement
![]() |
| Nagara Koboi: Teater Komedi yang Mengkritik |
Oleh: Imelsa Putri Yunika*
"Nagara Koboi” merupakan karya seni pertunjukan teater tari yang dipentaskan oleh mahasiswa Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Karya ini diangkat dari naskah Nagara Koboi karya Kang Ibing Kusmayatna, yang dikenal sebagai naskah satir dengan kritik sosial dan politik yang tajam. Cerita Nagara Koboi menggambarkan sebuah negeri rekaan yang dipimpin oleh penguasa dan elite yang bersikap seperti “koboi”, yaitu sewenang-wenang, arogan, dan kehilangan pijakan nilai budaya.
Istilah “koboi” tidak dimaknai secara harfiah, melainkan sebagai simbol kekuasaan liar yang meniru budaya luar tanpa pemahaman terhadap nilai lokal. Dalam pertunjukan ini, cerita tidak disampaikan melalui dialog panjang, tetapi seperti iringan musik, gerakan aktor serta struktur dramatik yang bersifat simbolik. Sebagai bentuk longser yang dimodifikasi, karya ini tetap mempertahankan unsur tradisi, seperti karakterisasi tokoh dan kualitas gerak, namun dikembangkan dengan pendekatan kontemporer agar relevan dengan konteks pertunjukan.
Saat pertama kali masuk ke ruang pertunjukan Nagara Koboi pukul 19.30 pada 16 Desember 2025, suasananya langsung terasa berbeda dari pertunjukan biasanya. Lampu belum sepenuhnya terang, panggung terasa “diam tapi hidup”, dan ada bunyi-bunyi awal yang membuat saya pelan-pelan fokus ke depan. Saya duduk sambil menebak-nebak, ini pertunjukan mau dibawa ke arah mana. Begitu para pemain mulai muncul dengan gerak yang aneh, tidak rapi, dan terkesan santai tapi mengganggu, saya langsung merasa seperti diajak masuk ke dunia yang absurd. Rasanya bukan seperti menonton cerita biasa, tapi seperti sedang mengalami suasana, sedikit lucu, sedikit janggal, dan membuat saya sadar sejak awal bahwa Nagara Koboi bukan teater yang ingin sekadar “menyenangkan”, tapi mengajak penontonnya ikut merasakan dan menafsirkan pesan di balik gerak dan adegannya.
Saya merasakan bahwa Nagara Koboi mampu menghadirkan pengalaman estetik, Sejak awal pertunjukan. Pertunjukan teater Nagara Koboi karya Kang Ibing Kusmayatna membuat saya merasa seperti sedang diajak masuk ke sebuah dunia yang aneh, lucu, tapi juga menyebalkan. Sejak awal pertunjukan, saya sadar bahwa teater ini tidak berniat menjelaskan ceritanya secara gamblang. Dialog terasa singkat dan kadang absurd, sementara tubuh para aktor justru menjadi alat utama untuk bercerita. Saya harus memperhatikan cara mereka berdiri, berjalan, mengulang gerak, bahkan diam. Di situ saya merasa teater bekerja bukan sebagai cerita yang dituturkan, tetapi sebagai pengalaman yang harus dirasakan. Panggung menjadi ruang penuh simbol, dan saya sebagai penonton harus bersedia menafsirkan sendiri apa yang sedang terjadi.
Yang paling melekat bagi saya adalah bagaimana teater ini memperlakukan kekuasaan sebagai sesuatu yang konyol sekaligus menakutkan. Tokoh penguasa dalam Nagara Koboi tampil dengan gestur berlebihan, sok gagah, dan sering kali seperti tidak sadar bahwa dirinya sedang dipertontonkan. Saya beberapa kali tertawa, tetapi tawa itu terasa pahit, karena saya menyadari bahwa kelucuan tersebut lahir dari kenyataan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Teater ini tidak marah-marah, tidak berkhotbah, tetapi terus mengulang situasi absurd sampai saya sendiri merasa lelah dan jengkel sebagai penonton. Justru dari pengulangan itu, kritik terasa lebih tajam. Saya merasa teater ini sengaja membuat penontonnya tidak nyaman agar pesan tentang kekuasaan yang ngawur benar-benar masuk.
Ketika pertunjukan berakhir, saya tidak mendapatkan rasa lega seperti selesai menonton cerita dengan akhir yang jelas. Yang saya rasakan justru diam dan berpikir. Teater Nagara Koboi tidak memberi jawaban, tidak menawarkan solusi, dan tidak menghadirkan pahlawan. Saya dibiarkan pulang membawa kegelisahan dan pertanyaan. Bagi saya, inilah kekuatan teater Kang Ibing, pertunjukan yang tidak selesai di atas panggung, tetapi berlanjut di kepala penontonnya. Saya merasa diajak bercermin, bukan hanya melihat penguasa di atas panggung, tetapi juga melihat bagaimana saya sendiri, sebagai bagian dari masyarakat, sering kali ikut diam, tertawa, atau patuh pada situasi yang sebenarnya absurd.
Dalam kajian apresiasi seni pertunjukan, sebuah karya dapat dilihat melalui beberapa dimensi, yaitu estetik, konseptual, dan kontekstual. Dimensi estetik dalam Nagara Koboi tampak pada pengolahan gerak tari, dialog, iringan musik, serta tata artistik yang mendukung suasana dramatik. Unsur-unsur tersebut disusun secara harmonis sehingga membentuk kesatuan pertunjukan yang utuh.
Dimensi konseptual terlihat dari gagasan kritik sosial yang menjadi dasar penciptaan karya. Menurut Soedarsono (1999), seni pertunjukan tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan yang mengandung nilai dan pesan. Nagara Koboi menjalankan fungsi tersebut dengan menyampaikan kritik terhadap kekuasaan yang kehilangan kebijaksanaan dan jati diri budaya.
Sementara itu, dimensi kontekstual berkaitan dengan posisi karya ini dalam lingkungan akademik. Pertunjukan ini menjadi media evaluasi pembelajaran yang menilai kemampuan teknik, pemahaman konsep, kerja kolektif, serta sikap profesional mahasiswa dalam berkesenian. Kehadiran langsung Kang Ibing Kusmayatna dan kerja sama dengan Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS) juga menunjukkan pentingnya etika akademik dan penghargaan terhadap hak cipta.
Berdasarkan proses apresiasi yang dilakukan, Modified Longser “Nagara Koboi” dapat dinilai sebagai karya seni pertunjukan yang berhasil menggabungkan tradisi dan kreativitas mahasiswa secara seimbang. Karya ini tidak hanya berfungsi sebagai tugas akademik, tetapi juga sebagai media refleksi sosial dan budaya.
Sebagai mahasiswa, saya memandang pertunjukan ini mampu memperluas pemahaman tentang fungsi seni pertunjukan, yaitu tidak sekadar hiburan, melainkan juga sarana penyampaian gagasan, kritik, dan nilai-nilai kehidupan. Nagara Koboi menunjukkan bahwa seni tradisi seperti Modified Longser dapat terus hidup dan berkembang melalui interpretasi kreatif yang relevan dengan zamannya.
*Imelsa Putri Yunika adalah mahasiswi jurusan Teater di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yang tertarik pada dunia teater sejak SMA karena kekuatannya menghidupkan cerita dan emosi di atas panggung.





