Advertisement
![]() |
| Pementasan Nabi Kembar (foto oleh M. Fajar Nugraha) |
Oleh: Muhammad Fajar Nugraha*
Pada hari Sabtu tanggal 1 November 2025 pukul 19.30, setelah melaksanakan ibadah Shalat Isya, saya menonton Pertunjukan Teater Tugas Akhir Gelombang 2. Pertunjukan ini membawakan lakon karya Slawomir Mrozeck yang berjudul "Nabi Kembar". Ini adalah pertunjukan terakhir selama perkuliahan dari 3 orang mahasiswa semester akhir, 2 orang dengan minat p emeranan yang dibimbing oleh Irwan Jamal S.Sn,. M.Sn. yaitu M Malik Fajar sebagai Juru Sita juga dengan Mikhail Zidane sebagai Ketua Wali Negara dan 1 orang dengan minat penataan artistik yang dibimbing oleh Yadi Mulyadi S.Sn., M.Sn. yaitu M Gilbarni Kurniawan. Pertunjukan berlangsung di kampus Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, tepatnya di Gedung Kesenian Sunan Ambu yang selalu menjadi ikon atau tempatnya sebuah karya seni digelar. Pertunjukan Tugas Akhir ini juga dibantu oleh beberapa orang yang memerankan tokoh lain, yaitu Balthazar diperankan oleh Aris Sugiharto DW, Melchior diperankan oleh Lifi Chaefy Febrian, Gaspar diperankan oleh Heryana Benu, Primadona diperankan Dhilla Handayani dan Nabi Kembar diperankan oleh Prabu Muhammad Kustanto bersama Hikarif Rafif Maulana. Tim belakang layar yang menjadi bagian penting dari suksesnya pertunjukan ini, diisi oleh mahasiswa aktif ISBI dari berbagai program studi alias bukan hanya dari program studi teater atau bahkan beberapa alumni juga turut membantu. Dan ini adalah tradisi dari kampus seni untuk saling membantu, karena suatu saat nanti ketika kita akan melaksanakan tugas akhir atau tugas lainnya pasti membutuhkan juga bantuan dari orang-orang sekitar.
Lakon teater ini bersifat absurd, di mana setiap elemen-elemen yang ada dalam pertunjukan ini bisa dibilang tidak masuk logika. Dan ini terbukti saat saya melihat posternya yang mengatakan bahwa ini adalah "sebuah komedi hitam", dikuatkan dengan saya menonton pertunjukannya. Selain absurd, pertunjukan ini memiliki satir atau sindiran yang bisa sedikit dipahami oleh saya sendiri, di mana pertunjukan ini menunjukkan bagaimana sebuah sistem pemerintahan. Situasinya diwakilkan ketika Ketua Wali Negara mengumumkan kepada khalayak bahwa akan datang seorang nabi, namun tak disangka yang datang 2 orang nabi. Situasi ini membuat kebingungan Ketua Wali Negara untuk mengumumkan kepada khalayak, karena merasa takut dan khawatir atas keselamatan dirinya. Jadi, pemerintah melakukan berbagai cara agar bisa menutupi kebenaran yang asli dengan cara apa pun.
Untuk lebih jelas mengenai plot atau alur dari pertunjukan ini, yaitu dimulai dengan suasana yang penuh ketegangan dan antisipasi dalam sebuah wilayah yang dipimpin oleh Ketua Wali Negara. Masyarakat di wilayah ini sedang merasakan kondisi yang krisis dan sangat menantikan kedatangan seorang nabi yang dipercaya bisa membawa keselamatan. Ketua Wali Negara, Juru Sita, dan 3 orang bijaksana (Balthazar, Melchior, dan Gaspar) tengah bersiap untuk menyambut kedatangan sosok yang dianggap suci ini untuk demi menjaga kestabilan kekuasaan mereka. Namun, logika dibuat goncang oleh kejadian datangnya nabi, tetapi berjumlah 2. Keduanya memiliki fisik dan memakai pakaian yang sama, juga dua-duanya mengucapkan kalimat yang sama persis. Jika harus dikaitkan dengan logika kekuasaan dan agama, kebenaran itu seharusnya tunggal. Hadirnya 2 nabi sama persis sekaligus, membuat kelebihan yang membingungkan.
Hal ini menimbulkan perdebatan absurd yang sangat lama dan panjang. Ketua Wali Negara sangat bingung bagaimana cara membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Jika keduanya asli, mengapa harus ada dua? Sedangkan rakyat sudah menunggu kehadiran nabi dan harus segera diumumkan. Kejadian ini juga membuat 3 orang bijaksana menggunakan teori-teori filsafat dan logika untuk menemukan perbedaan dari 2 nabi tersebut. Tetapi, semakin dalam dan jauh mereka mencari-cari perbedaan, mereka hanya semakin menemukan bahwa 2 nabi tersebut adalah kesamaan yang mutlak. Muncul kekhawatiran jika rakyat melihat ada 2 nabi, ini bisa mengancam kekuasaan Ketua Wali Negara. Maka, Ketua Wali Negara mempunyai rencana untuk menghilangkan salah satu nabi tersebut dengan mengorbankan Juru Sita yang selalu diperintah-perintah olehnya. Ketua Wali Negara memerintahkan Juru Sita untuk bisa menghasut kedua nabi tersebut saling menuduh dan bisa maju 1 nabi. Tetapi itu gagal, akhirnya memerintahkan Juru Sita untuk menghabisi salah satunya.
Saat menjalankan rencana satu per satu, rakyat dihibur oleh Primadona dan ada pertunjukan Gladiator dari Juru Sita. Juru Sita semakin kesini semakin sadar bahwa dirinya selalu dikorbankan hanya untuk kesejahteraan Ketua Wali Negara. Saat diperintahkan untuk membunuh salah satu nabi, Juru Sita membawa 2 kepala nabi, yang artinya Juru Sita membunuh kedua nabi tersebut. Keadaan makin hancur dan tidak terkondisikan, amarah Juru Sita akhirnya membuat kepala Ketua Wali Negara dan 3 orang bijaksana dipenggal juga olehnya. Jadi, pertunjukan ini berakhir dengan tragisnya dari Ketua Wali Negara dan 3 orang bijaksana, tetapi ini memang balasan yang pantas atas niat rencana mereka yang selalu mengorbankan orang lain.
![]() |
| Pementasan Nabi Kembar |
Pengalaman saat menonton cukup membuat saya merasakan tegang dan merinding. Posisi saya menonton pertunjukan berada di atas, jadi tidak seperti dalam sudut pandang penonton lain di bawah, yang mengatakan bahwa pertunjukan ini sangat menakjubkan. Ini adalah jenis pertunjukan yang sangat saya sukai, begitu juga dengan konsepnya. Dan jujur, sedikit mengejutkan saat banyak kepala dipenggal lalu dijajarkan. Tetapi ada hal lucu, yaitu saat Juru Sita menjadi kekanak-kanakan, juga dari intonasi suara yang diperankan. Jadi, secara keseluruhan ini adalah pertunjukan yang paling membuat saya terkesan, karena semua emosional bisa saya rasakan dalam pertunjukan ini. Jika harus diurutkan dengan keseluruhan Pertunjukan Tugas Akhir Gelombang 2 ini, maka pertunjukan Nabi Kembar adalah nomor 1 bagi saya pribadi.
Dimensi karya ini bisa dihubungkan dengan perspektif ilmu lain, contohnya dalam perspektif ilmu sosial-politik. Bahwa seseorang yang masuk dalam dunia politik sangat membutuhkan satu kebenaran untuk mempertahankan dan menjaga kestabilan. Namun, dengan munculnya 2 nabi, justru membuat negara kebingungan. Dan pada saat seperti inilah, para penguasa selalu melakukan segala cara agar bisa selalu mempertahankan kepercayaan rakyat kepada mereka. Dan ini salah, seharusnya apa pun keadaan negara maka rakyat harus mengetahuinya juga sebagai bentuk keterbukaan pemerintah. Selain ini, ada juga perspektif dari ilmu psikologi. Ini terlihat saat Ketua Wali Negara dan 3 orang bijaksana yang merasakan tertekan dan cemas ketika melihat kenyataan bahwa nabi yang muncul ada 2. Juga bisa dilihat dari sisi Juru Sita, yang sudah muak terhadap para pemimpin yang selalu menjerumuskan dirinya untuk dijadikan korban demi kesejahteraan mereka. Saat mentalnya diujung letih, Juru Sita melakukan apa yang ingin hati nuraninya lakukan, yaitu membuat para pemimpin.
Pertunjukan ini dapat saya simpulkan bahwa kita harus memilih kejujuran nurani dan saya paham bahwa kebenaran tidak bisa di monopoli. Pertunjukan ini bukan hanya absurd yang menghibur, melainkan sebuah refleksi realitas kemanusiaan dan kekuasaan. Pertunjukan ini berhasil menyajikan suasana yang mencekam dan penuh emosional. Kolaborasi antara pembimbing dan peserta ujian telah berhasil menyajikan pertunjukan ini.
*Muhammad Fajar Nugraha, lahir di Garut pada tanggal 4 Juni 2007. Ia adalah seorang aktor, sutradara, dan mahasiswa aktif semester 1 di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Program Studi Seni Teater Fakultas Seni Pertunjukan.






