"Kala Tiada" Teater Asa dalam Menatap Perjumpaan Dramatik dan Postdramatik -->
close
Pojok Seni
02 January 2026, 1/02/2026 11:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-01-02T04:16:22Z
ArtikelUlasan

"Kala Tiada" Teater Asa dalam Menatap Perjumpaan Dramatik dan Postdramatik

Advertisement
Kala, seorang guru sekaligus seniman yang meninggal (Foto: Fero TA)

Oleh: Arung Wardhana Ellhafifie


Pernyataan "Teater Imersif dan Augusto Boal" pada Sesi Artis Talk


Bagian ini, saya lebih menyoroti pernyataan pembuka oleh Reza Ghazali (biasa disapa Remon) pada sesi artist talk, sebagai moderator, melontarkan hal di atas. Tanpa menjelaskan secara rinci, atau mengantar sejenak saja atas pernyataannya dengan "Kala Tiada", setelah pertunjukan Teater Asa Jakarta, karya & sutradara Simon Karsimin, pada Sabtu, 20 Desember 2025, di Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Cikini, yang kemudian berpindah pada kantin depan gedung tersebut. Pertunjukan berlangsung dari indoor hanya sekitar sepuluh menit; berada di dalam, yang kemudian selebihnya hampir sekitar satu jam setengah, dipresentasikan di outdoor; ruang terbuka yang menjumpai beragam  teks berlangsung. 


Remon langsung saja melemparkan pada penonton untuk berkomentar, merespons, dan menganalisis dari "Kala Tiada", yang menjadi bagian dari program Kanal, pentas alternatif teater Jakarta 2025, diselenggarakan oleh Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dalam menjaga atau merawat keberlangsungan ekosistem seni pertunjukan. Dari beberapa penonton yang merespons, tidak secara langsung memperbincangkan impresi Remon, terkait istilah teater imersif dan Boal. Termasuk saya sendiri, justru lebih menyoroti respons; bahwa sistem pendidikan, bukan menjadi masalah krusial atas terjadinya sumber daya; guru, siswa, petugas, hingga pekerja dari institusi pendidikan, yang justru dipermasalahkan; sumber daya yang rendah, atas berlangsungnya kasus pembunuhan guru oleh siswa, begitu sebaliknya, yang selalu berlangsung bertahun-tahun. 


Bagi saya, Sumber Daya Manusia (SDM) juga ditentukan oleh sistem pendidikan yang berlangsung; sistem ikut menentukan kualitas sumber daya, dengan pergantian kurikulum pada setiap rezim; juga ikut mempengaruhi kualitas sumber daya. Tidak bisa dipungkiri, hubungan ini saling terkait satu sama yang lain; dengan sejumlah kasus yang mengarah pada tidak tersedianya lapangan pekerjaan secara besar buat lulusan-lulusan sekolah maupun kampus, ditambah peliknya suatu kesadaran moral dalam dunia pendidikan. Simon melalui "Kala Tiada" sedang memperbincangkan ulang, peristiwa yang diangkat dari realitas atau fakta, kasus terbunuhnya guru sekaligus seniman, Ahmad Budi Cahyono, di Sampang, Madura, melalui naskah yang ditulisnya terinspirasi dari realitas tersebut. Selain sejumlah kasus pembunuhan guru oleh siswa, di Banyumas, Jawa Tengah, Bantul, DIY, Bandung, Jawa Barat, Yahukimo, Papua Pegunungan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dan Manado, Sulawesi Utara, yang berlangsung di antara 2015-2025, maupun pembunuhan siswa oleh guru, seperti yang terjadi di Sukabumi, Jawa Barat, dan Banyuasin, Sumatra Selatan, atau sejumlah kasus mati bunuh  diri siswa/mahasiswa di sejumlah institusi pendidikan dalam suatu dekade ini (lihat sejumlah berita pembunuhan di institusi seni melalui internet) dengan sistem pemerintahan yang berbeda; tetapi memiliki peluang beririsan, sebab sang penguasa pada saat ini bagian dari kementerian dari sistem pemerintahan sebelumnya. 


Respons ini menurut saya bisa lebih berkembang, jika ditarik pada pernyataan Remon. Sekalipun Bambang Prihadi selaku ketua DKJ kurang terlalu sepakat (yang selalu bertolak belakang dengan saya) atas respons ini; silang sengkarut dan sirkle yang romantis antara sistem pendidikan dan sumber daya, yang dianggap kurang berguna, yang bisa sangat berguna ketika memperbincangkan kemarin sebuah estetika atau semangat riset artistik dari Teater Asa (pada saat nongkrong di pinggir Jalan Raya Cikini) bersama beberapa rekan dari lintas pulau. Di mana, bagi saya sudah cukup empat orang direpresentasi penonton lainnya (selain saya kurang terlalu cakap memperbincangkan secara langsung mengingat telmi dan kekurangan tanggap saya), yang menanggapi dari pertunjukan tersebut menunjuk langsung pada estetika dan praktik kerja maupun dramaturginya, sebutlah respons dari Hendra Setiawan, performer dan dramaturg, yang biasa bekerja sama dengan Remon, maupun Kris Aditya, selaku ketua komite teater DKJ, yang kurang lebih tanggapannya berhubungan dengan apa yang diuraikan selanjutnya, tentu ulang-alik dengan sistem pendidikan yang diperbincangkan oleh Teater Asa. 


Selaku guru atau kepala sekolah, saya kira Simon cukup memahami perbincangan ini secara komprehensif dan holistik, sekalipun tidak disetujui premis dari Simon yang cenderung "gelap" atau tidak memiliki posisi yang seimbang atas dunia pendidikan dengan kurikulum yang terbaru; deep learning, yang dianggap menjadi tawaran berharga buat sumber daya kita semua dalam institusi pendidikan. Saya kira premis itu pilihan yang dimiliki dengan konsekuensi, tentu atas konsensus bersama setiap pemainnya seperti; Ihsan Abidyana, Majeed, Abigail Sekar, Riri Aisyah, Kiki Dina, Janu Ronggo, Adiwangsa, Esa Mahdini, Dian Yuliana, dan Ketut Saputra, maupun semua tim produksi yang terlibat. Sistem pendidikan dengan kurikulum yang terus berubah menjadi mode utama, salah satu bagian alasan perpindahan ruang, yang ditunjuk dari realitas, menurut saya mengalami problem ketidakbersesuaian: antara pemikiran, ide, gagasan, dan perwujudannya, dalam sebuah karya, terlebih lagi jika dihubungkan dengan pernyataan Remon; teater imersif dan Boal, tetapi respons saya untuk menyanggah atas silang sengkarutnya sistem, yang menciptakan ketidakberdayaan, terpinggirkan, keterpencilan, ketidakberhargaan, krisis, sikap anti-partikuler, keterkucilan, dan lainnya dibentuk oleh sistem tertentu yang diciptakan oleh rezim, juga berhubungan dengan sistem pendidikan sejak usia dini ataupun sistem masyarakat dan tradisi yang berlangsung.


Remon memegang kepala pada sesi artis talk (Foto : Fero TA)

Saya memercayai pernyataan teater imersif dan Boal dari Remon, sebagai bagian dari impresi selama menyaksikan pertunjukan berlangsung dari teater Wahyu Sihombing hingga kantin depan gedung teater tersebut. Bisa mungkin membaca kemungkinan peluangnya kalau membaca buku Boal, mengenai estetika kaum tertindas (yang secara sadar tidak melampirkan referensi, dituliskan berdasarkan pemamahan saya yang juga terbatas), di mana Simon sadar akan permasalahan tentang sistem pendidikan yang seakan-akan tidak mendapatkan ujungnya, maka diperlukan proses transformasi bersama. Kesadaran bahwa teater dan sains sangat dibutuhkan untuk mengintervensi 'ketidakberesan', 'kegelapan' atas peristiwa pembunuhan ataupun kematian di institusi pendidikan yang berlangsung terus menerus; dibutuhkan suatu proyeksi sistem pendidikan yang seadil-adilnya buat siswa atau mahasiswa, yang dirasa oleh sebagian besar oleh segenap anggota Teater Asa belum cukup memadai. 


Kalau misalnya semangat yang ditunjuk adalah artistik dan estetika yang ditawarkan dalam pertunjukan tersebut oleh sebagian penonton seni; kalau dianggap belum memberikan novelty, mapun tawaran estetis yang berbeda, saya kira dengan upaya purifikasi Simon dan para pemainnya, sedang menggerakkan tindakan; dengan cara membocorkan nasib atau potret dunia pendidikan yang kalang kabut; berupaya untuk melihat premis yang "gelap", sebutlah matinya dunia pendidikan; mengurai letak kesalahan melalui cerita dari pertentangan antara hubungan anak dan orang tuanya yang disharmoni, di tengah kematian Guru Kala: ataupun catastrope, dengan premis tersebut semacam peringatan bersama, di sela-sela ketimpangan pengetahuan, kebekuan pemahaman, sistem lingkungan yang saling merasa pada kebenaran absolut; sehingga yang tampak realitas sosial yang saling intimidatif satu sama lainnya. Tanpa disadari perlahan-lahan, habituasi semacam ini tercipta dalam realitas sosial tertentu, sebutlah di ekosistem seni pertunjukan di Jakarta. 


Saya kira purifikasi yang disinggung oleh Boal, perlu ditinjau ulang oleh Simon, pemain, dan tim produksi, untuk menunjuk pada masyarakat yang sedang dibela atau diberi akses berdaya. Sekaligus mempertegas bahwa "Kala Tiada" memiliki tedensi politik, atau semacam aktivitas politik melalui sistem pendidikan dengan premisnya yang diusung. Atau memberikan peluang teks yang kritis atas pergerakan tindakan tersebut, dengan mengaktivasi lebih terbuka pada kelas pekerja seni, para kaum terpelajar yang terlibat, yang sebagian besar pernah menjadi muridnya Simon, untuk diberikan akses subjek-objek yang modar-mandir dalam latihannya. 


Kalau saya membaca impresi Remon; adanya peluang partisipasi dari pemainnya yang merasa 'terpinggir', merasa tidak memiliki 'kemampuan' besar, dan beragam perasaan lainnya, untuk diperkuat aksesnya, sehingga teater forum, lebih hadir secara alami dari dalam diri Teater Asa. Mereka kemungkinan lebih siap menghadapi teks-teks yang beragam dan seliweran di luar adegan yang dipersiapkan, kalau teater forum atau sistem latihan sebagai yang tidak memadai lebih terlatih secara sungguh-sungguh dalam prosesnya. Bagaimana sekiranya mendiskusikan hubungan dampak dari sistem pendidikan, menciptakan arogansi dan kekakuan setiap pergantian rezim.


Jika yang digugat adalah melalui premis atas matinya dunia pendidikan kita; melalui Teater Asa yang sebagian besar adalah kaum terpelajar, bagaimana dampaknya terhadap psikologis mereka; melalui tubuhnya, melalui sistem ketubuhan mereka atas  premisnya tersebut; apakah kaum terpelajar tersebut merasakan kebingungan, kestresan, kesulitan menangkap sesuatu, apa yang sekiranya dirasakan tubuh dengan diagnostik dan indikatif terhadap premis ini. Bagaimana kesadaran tubuhnya dieksplorasi, dengan silang sengkarut pergantian kurikulum yang terus menerus, apakah pikiran dan kedirian kaum terpelajar ini tidak mampu memberikan suatu wacana teoretis secara konsisten atau kehilangan minat terhadap sesuatu, kecuali memendam rasa kesukaan terhadap sistem. Jika semacam ini Boal langsung mendudukkan teaternya sebagai literasi politik sejak dini melalui anak-anak muridnya Simon, membuat tubuh yang terlatih sangat lebih mudah merespons teks-teks yang berada di luar kendali tubuh. 


Menurut Hendra, teks yang beragam di outdor di luar naskah hafalan yang dipersiapkan sebelumnya untuk berjumpa, antara teks yang sudah dihafal dengan teks yang terjadi pada saat pertunjukan berlangsung. Saya kira keterbatasan pemikiran yang sudah berlangsung terus menerus akibat sistem, diperlukan alat untuk ditawarkan untuk mengatasi keterbatasan pemikiran itu, melalui program Kanal ini. Begitu juga alat yang beragam dari Simon, bukanlah suatu hal tunggal untuk setiap para pemainnya dalam menghadapi beragam sintesis yang saling berjumpa.


Salah satu teks yang dihafalkan dari "Kala Tiada" (Foto: Fero TA)

Teater forum yang dimaksud Boal; melalui kesadaran atas tubuhnya yang terkena dampak dari premis sistem pendidikan yang diajukan; bagaimana akhirnya "Kala Tiada" bukan hanya sekadar menjadi inspirasi dari sejumlah realitas sosial atas sejumlah kasus pembunuhan atau kematian bunuh diri di institusi pendidikan, melainkan eksplorasi dampak terhadap tubuh dan pikiran sebagai kaum terpelajar. Dalam teater forum yang dimulai dari Teater Asa melalui sistem latihan yang ketat, bisa saling memberi dan menerima argumen atas pengaruh dari perubahan kurikulum yang terkesan serta-merta setiap rezim. Jelas interaksionisme personalnya tampak menancapkan akarnya pada eksploitasi sumber daya akibat kekuasaan yang selalu dipahami kekuatan dalam setiap rezim bersama golongannya. 


Namun pertanyaan mendasar dari Prihadi, apakah Simon cukup paham dengan perjumpaan demikian antara teks hafalan berjumpa dengan teks di luar hafalan? Kalau tidak siap dengan perjumpaan; lantas kenapa perpindahan ruang indoor dan outdoor berlangsung, jika tidak memiliki kejaran yang berarti atas sumbangsihnya estetika seni pertunjukan? (Lanjutan dari obrolan di pinggir jalan; alamak kau, Abangku, terlalu usang tuntutannya) Lantas kenapa bisa dengan mudah komentar penonton lainnya; yang menyatakan bahwa penyutradaraannya gagal, yang menurut saya saja juga keterkaitan dari sistem pendidikan yang berlangsung, membentuk sistem masyarakat, juga lingkungan, ruang, dan terhambat atau terlambatnya pengetahuan hadir; munculnya ketergesaan menilai, padahal kegagalan dalam penyutradaraan pun juga sangat berarti bagi saya, kalau perlu gagal saja terus menerus untuk mengetahui apa yang dituju nantinya. 


Impresi Remon; tentang teater imersif dan Boal, juga kemungkinan menurut saya tidak sepenuhnya Simon menuju ke arah tersebut, sebagai cara memberdayakan pikiran secara setara dari eksplorasi tubuh. Jika akses dayanya dari dalam Teater Asa, sudah kuat untuk melihat waktu dan dunia pendidikan yang mengecewakan, yang "mati" agar bisa saling paham antara subjek dan objek secara bergantian, atau peran sutradara maupun pemain sudah dibiasakan kabur dari awal, kemungkinan teater forum ala Boal; bisa sangat dengan mudah mengubah posisi yang menonton menjadi partisipan aktif; perjumpaan teks yang dihafalkan atau teks di luar hafalan. Istilah ini nantinya akan menunjuk pada dramatik dan postdramatik (saya menggunakan bahasa lisan dalam hal ini tanpa saya alihkan ke dalam bahasa Inggris). 


Hal lainnya, Adit (dalam obrolan di pinggir jalan raya) banyak mempertanyakan realitas dari prosesi penguburan jenazah yang terjadi di TIM, mengingat dirinya banyak mengurusi kematian seniman yang meninggal di sana yang biasanya didiamkan terlebih dahulu di ruang #SAVETIM, yang kini sudah tidak ada lagi, yang juga sudah jadi pertimbangan oleh Simon; terasa banyak hal ganjil, yang menurut saya, ini teks di luar hafalan. Adit banyak memperbincangkan prosesi dimulai bubur ayam yang dipresentasikan dalam pertunjukan, cukup berbeda dengan kebiasaan yang dihadapinya, yaitu nasi goreng, saat menunggu jenazah dikebumikan. Saya bilang dengan serta merta, itu kebiasaan yang ditemui di Solo Raya, termasuk bendera merah, pada pertunjukan, yang biasanya di Jakarta, lebih banyak dengan bendera kuning;  ini juga bagian dari teks di luar hafalan, termasuk pernyataan Hendra, menuntut jenazahnya untuk dipertanyakan; dia pemeluk Kristiani atau bukan? 


Barangkali teks-teks terbuka semacam ini menjadi teater imersif dan Boal, dengan sejumlah sistem latihan yang diakses. Kalau misalnya Boal menerapkan latihan gerak binatang dan telegram south beach, sehubungan dengan kesenjangan ekonomi, ras, sosial-politik yang berlangsung di Rio de Janeiro, sejak lama, pada abad ke-18, yang direspons oleh Boal sebagai tedensi politiknya; sekiranya apa yang dilihat Simon sebagai narasi kritis yang bisa mengacam stabilitas negara (atau memang tidak terlalu jauh ke sana, atau paling tidak mendekati) sebagai gangguan, atas isu-isu diktator. Layaknya Boal menunjuk langsung pada kediktatoran Brazil kala itu, pada tahun 1986, yang semula dipikirkan oleh Boal di São Paulo, sebelum diterapkan di Lapa, Rio. Apakah sekiranya "Kala Tiada" ini menciptakan ruang aman, bagi kaum terpelajar yang terdampak dari sistem ini, atas gangguan psikisnya, sehingga pertunjukan ini menjadi semangat aktivisme yang kuat bagi mereka. 


Karya ini pun mungkin memiliki tawaran yang lebih tajam pada realitasnya sosial dan budaya, lebih memahami ketidakberdayaan yang dialami, diperlukan revolusi besar atas penindasan ini; atas kecarumarutan sistem pendidikan yang berlangsung. Tawaran yang lebih langsung menunjuk realitas militer memasukinya ruang-ruang pendidikan di beberapa daerah, juga bagian teks di luar hafalan. Tidak juga mudah mempertemukan teks yang disiapkan sebagai presentasi dan teks dari ruang pertunjukan; mungkin dengan adanya kantin yang menjadi wara-wiri dari beragam kelas di sana; dari setingkat wakil menteri kebudayaan, yang menjumpai mereka saat latihan, Simon bersalaman, hingga beragam kelas terpinggirkan; orang-orang kulit berwarna, transgender, LGBTQ+, anak-anak, pekerja TIM, termasuk petugas yang sering kali bentrok dengan Simon pada setiap latihan, juga bagian teks yang terjadi di luar hafalan. 


Di luar impresi Remon tentang teater impresif dan Boal; atas perasaan benar-benar terpinggirkan dari premis  "gelap" yang dimaksud, karena itu pilihan subjektif, atas ketidakpercayaan saya pada objektivitas; segalanya menjadi relatif. Sangat mungkin juga Remon juga yang mengetahui teater imersif dan Boal, hanya sekadar melempar saja tanpa menghubungkannya, yang juga sedang "menindas", dari ketidakmengertian dan ketidaktahuan atas sistem pendidikan yang dibilang Simon sudah mati; yang tersisa adalah sekumpulan para Boalian dengan pemahamannya. 


Atau teks-teks lainnya, saat saya menyoroti tentang penonton yang membaca Alquran, di saat prosesi berduka umat Kristiani (sekalipun itu semua naskah yang dituliskan), justru menjadi pertanyaan Prihadi; apa pentingnya saya menyoroti hal tersebut, yang menjadi realitas sosial dan budaya, ditemukan dari keterpinggiran maupun keterkucilan. Ini justru jadi teks lain, yang kemudian Remon ikut memotret ataupun saya, dan beberapa penonton lainnya. Ini hadir sebagai teks lain yang diperbincangkan Hendra, juga secara tidak sadar ditemukan sehari-hari yang dominan masih rasis pada yang terdominasi, kita juga masih melihat homofobia, juga femisida, dan sejumlah pembunuhan itu juga bukti kekerasan simbolik, yang terus terpelihara dan terjaga; dalam hal ini tentu saja saya berbeda dengan Prihadi, Adit, ataupun penonton lainnya, yang juga mungkin berbeda dengan Simon. 


Sementara yang terdampak, yang tidak berdaya, adalah kaum terpelajar atas kerancuan; krisis negosiasi antara siswa dengan guru atau sebaliknya. Subjek dan objek selalu dan melulu jadi dikotomi, bukanlah sebuah cara untuk mengubah kejujuran dari kekacauan sistem tersebut. Kalau Teater forum diaktifkan dari salam Teater Asa, sebagai modalnya sosial dan budaya, untuk menjadi alegori dari premis yang dimaksud, saya kira teks-teks di luar hafalan, bisa dengan mudah untuk masuk, ke luar dan balik ke dalam; jikalau sedari awal sudah dipersiapkan atau dipahami untuk demikian, dengan banyak memperbincangkan Marxisme ataupun pemikiran Paolo Freire dalam setiap waktunya selama sistem latihan berlangsung.


Salah satu teks hafalan lainnya dalam "Kala Tiada" (Foto: Fero TA)

Saya cukup memahami, fungsi sederhana berpindahnya ruang, untuk mendekati realitas kurikulum yang berubah-ubah; dengan gimmick, seorang Simon sedang berkomunikasi dengan Prihadi, secara detail kalau hendak dipahami realitas; hape yang dipegang Simon tidak tampak sedang berkomunikasi melalui sambungan hape, ditambah lagi, akting Simon masih terlihat; kalau mau didudukkan sebagai joker, dalam konteks teater imersif dan Boal pada impresi Remon. Sekalipun ada penonton yang memercayai bahwa pertunjukan telah dibatalkan, dan minta refund atas open donasi mengingat pembatalan tersebut. Sejatinya, Simon sudah menjadi joker atas "Kala Tiada" sebagai alat pembebasan terhadap perubahan sistem pendidikan, yang dibuat untuk pengembangan ilmu pengetahuan masyarakat; agar terbebas dari penderitaan, juga sebagai alat politik, sekalipun dalam ruang lingkup yang kecil, menjadi hal yang perlu dipertimbangkan. 


Ruang bukanlah sekadar indoor dan outdoor, bukan sekedar proscenium dan arena, sekalipun Teater Wahyu Sihombing bisa dilihat dari beragam arah; melainkan keberfungsian untuk melihat ruang yang spesifik seperti kantin depan gedung teater yang dimaksud. Kalau kantin hanya mau dipahami sebagai representasi dari #SAVETIM, di luar beragam ruang lainnya, juga menyisakan entitas set yang belum juga menyentuh unsur-unsur politisnya. Jika tidak menunjuk pada tedensi politis, layaknya Boal; keberpindahan kenapa diarahkan langsung pada perubahan kurikulum yang morat-marit; berarti sangat memungkinkan transformasi ruang menjadi chaos dengan sekian banyaknya pergerakan pemain atau memunculkan partisipan lebih aktif dalam keterlibatan, untuk melepaskan diri antara subjek dan objek. 


Sekali lagi, saya tidak ingin terlalu jauh untuk membaca atas impresi Remon; karena sedari awal belum tentu dipersiapkan pada teater imersif ala Boal sebagai senjata dengan sistem latihan yang dilakukan atas kesadaran tubuhnya yang terluka, tersiksa, dan depresi sebagai kaum terpelajar akibat sistem pendidikan tersebut. Saya kira Simon dan teman-temannya, juga lebih memahami teater imersif ala Boal, sehingga tidak dipersiapkan sistem latihan terhadap tubuh untuk merespons teks-teks yang terjadi di luar teks. Namun, saya tetap melihat peluang; bagaimana beban dramatik pada dramaturgi konvensional, sangat bisa leluasa, berjumpa dengan dramaturgi baru: ala Boal, dengan tetap mempertahankan Simon sebagai joker, berjumpa dengan post-dramatik. Teks yang dihafalkan berjumpa dengan teks yang di luar hafalan, yang bisa sangat mungkin teks tidak perlu lagi dihafal, bisa dibacakannya melalui hape; digital, atau cara lainnya, jika beban dramatik bukanlah sesuatu yang besar. 


Hal lain lagi; Simon pada dasarnya memiliki keinginan untuk berkeinginan yang berbeda, sebutlah deteritorialisasi; kalau merujuk pada pemikiran Gilles Deleuze & Felix Guattari dengan beberapa konsepnya. Hanya saja pemahaman belum terlalu memadai ke sana, diakibatkan sistem lingkungan, masyarakat, dan kota, atau iklim kompetitif tanpa diskursus yang masif; lebih dibutuhkan pada ruang ekspresi layaknya Kanal ini, sebagai alternatif. Ini akibat sistem yang dikelola oleh rezim, dengan menyisakan manusia-manusia arogan, cepat puas, cenderung sinis, skeptis terhadap banyak hal yang bertentangan. 


Saya kira "Kala Tiada" lagi-lagi memiliki peluang untuk menstimulasi permainan intelektual, permainan estetika yang lebih radikal, atau sekalian transformasi ruang berpindah-pindah layaknya dirasakan oleh saya "tanpa tujuan terarah" sebagai keniscayaan. Oleh karena itu, saat saya menonton latihannya sekitar sekali, kalau perpindahan ruang diimpresikan pada ketidakjelasan kurikulum, saya justru berpikir bagaimana Simon layaknya joker; bagaimana x harus dilakukan, kecuali dengan berpindah-pindah secara bebas pada saat gimmick berlangsung, ditentukan oleh partisipan dengan dikemudikan oleh joker. Layaknya Simon sedang membuat teater happening, dalam menolak reifikasi dan pengutamaan estetika yang mapan, dilepaskan dari segala tuntutan tadi, oleh Prihadi, Adit, dan lainnya, yang mengobjektifikasi realitas sosial, yang menurut saya berasal dari kenaifan epistemologis dan cara berpikir konvensional; Simon saya kira memiliki peluang deteritorialisasi untuk keniscayaan.


Peluang Teater Imersif Gaya Teater Asa


Kemungkinan besar penonton jadi penonton aktif (Foto: Fero TA)


Secara umum; pertunjukan di kita, belum banyak yang sepenuhnya bertolak secara langsung dari pemikiran Boal, yang kemudian disesuaikan dengan kultur di sini. Namun, para pembaca Boal seperti Yudiaryani, Gladhys Elliona, Dian Puspita Sari, Syarif Maulana, dan lainnya, setidaknya bisa membantu kita untuk coba memahaminya bersama-sama tentang pemikiran Boal secara komprehensif dan holistik. Dalam konteks program Kanal, saya kira reproduksi pengetahuan lebih berharga, daripada 'kekakuan' kejaran dan capaian dalam sebuah pertunjukan, sekaligus menempatkan teater sebagai advokasi, resistensi, akses daya, pengalaman kritis, berpikir radikal, pergeseran paradigma alternatif, atau sebagainya yang lebih tegas dan jelas sebagai corong kebudayaan. 


Pada konteks Teater Asa melalui premis yang "gelap", dengan tidak disepakati oleh salah satu penonton. Hampir serupa dengan saya pada saat pertunjukan " Rong Dhelem" memperbincangkan ruang pesantren dengan sejumlah kasus pemerkosaan atas santriwati/santri di Jawa Timur maupun di wilayah lainnya, pada tiga tahun lalu di Yogyakarta, di mana ruang pesantren ini dipenuhi oleh oknum (ujung-ujungnya dikatakan demikian) dalam satu dekade, juga tidak dipotret pada kondisi yang seimbang, terkait dengan institusi pendidikan yang kurang lebih memilih premis "gelap". Tentu saja, itu dikarenakan pada pemikiran Simon secara tidak langsung mengarah pada ketidakpercayan atas hal yang objektif, seakan lebih memercayai pada sesuatu yang sifatnya relatif. 


Realitas sosial melalui perubahan kurikulum yang terus menerus dirasakan oleh Simon sebagai guru, dengan memindahkan ruang sebagai semangat menggambarkan semangat chaos, atau luka, prihatin, dan "kematian" atas sistem pendidikan. Hanya saja beban pemahaman dramatik, melalui naskah yang ditulis, dihafal, dan direpresentasikan sebagai tubuh kedua, bekerja di luar bangunan eksplorasi kesadaran tubuhnya, yang selayaknya chaos itu menginstitusikan melalui pikiran Simon dan teman-temannya. Saya rasa kalau semangat chaos, dengan menggerakkan seluruh ruang yang ada di TIM, berpindah-pindah, balik ke tempat semula, atau pun menyimpang ke ruang lainnya, sebagai tindakan kultural, yang diadopsi dari realitas sosial untuk melacak garis yang menghasilkan ruang pertunjukan terpadu pada "kematian" sistem pendidikan dan "Kala Tiada.'


Kalau Pribadi lebih lanjut memperbincangkan semangat spritualitas pada pertunjukan yang di Teater Wahyu Sihombing pada beberapa waktu sebelumnya (bertolak pada pertunjukan debus Banten lewat "Dalak" Festival Teater Banten), seperti menunjuk bahwa Teater Asa tidak sedang menunjuk pada semangat apa pun, dengan mempertahankan dramatik tetap berlangsung di ruang yang berseliweran teks. Padahal semangat lepas dari teritori ataupun merobek visi tatanan simbolis melalui perpindahan ruang yang lebih tidak teratur, tanpa dipersiapkan titik lampu atau sumber suara yang jelas, sangat memungkinkan kecarutmarutan sistem pendidikan, cukup dimiliki hasrat untuk demikian. Di samping, atas ketidakserdiaannya sistem latihan yang spesifik untuk mengungkap premis lebih radikal; hubungan antara kita, alam, dan kebudayaan juga cenderung kontradiktif dengan mengaburkan segala macam fungsi kehadiran tubuh. 


Barangkali Simon hendak menunjuk teater imersif ala Teater Asa,  bukan juga ala Boal dengan tuntutan tedensi politis. Dengan merujuk pada sejumlah praktik teater imersif di Barat seperti; Third Rail, the Living Theater melalui Judith Malina dan Julian Beck, Punchdrunk Theater, the Great Gothan Challenge, Rats Theater, Jhon Brown di NMAH (the Nation Museum of America History) dan lainnya yang dituliskan dalam buku teater imersif oleh Adam Alston maupun Gareth White. 


Sementara di kita, belum terlalu banyak komunitas teater yang menerapkan konsep teater imersif, bahkan yang menuliskan secara komprehensif dan holistik, layaknya tentang estetika kaum tertindas, selain nama-nama yang disebutkan di atas (juga terdapat kumpulan tulisan yang diedit oleh Ari Pahala Hutabarat), menunjukkan cukup banyak yang menuliskan pemikiran Boal ketimbang teater imersif yang dipelopori oleh Paul Sills pada tahun 1965. Teater Asa memiliki peluang untuk fokus ke bentuk semacam demikian, khususnya Simon, yang lebih sering kali mempresentasikan karya sebagai suatu kekaburan batas. Bukan tanpa alasan dorongan ini dikemukakan, berdasar keinginan Simon untuk berbeda daripada lainnya, di mana semangat deteritorialisasi cukup dimiliki olehnya selain sumber daya di kelompoknya maupun keakraban orang-orang di dalam dengan teknologi terbaru seperti VR dan AR, melalui escape room (misalnya). 


Saya kira dalam obrolan beberapa kesempatan, Simon yang memiliki anggota; mempelajari arsitektur dan desain, sebagai modal besar dalam menatap teater imersif ala Teater Asa. Terlepas dari itu ataupun tendensi politis melalui "Kala Tiada", hendak melepaskan diri dari konvensional teater atau secara tradisional dengan konsep dinding keempatnya, dengan semangat keterlibatan penonton secara aktif. Saya kira pertunjukan ini memiliki peluang yang kabur untuk merobek tradisi strukturalis, fiksional dan realitas, ataupun semangat untuk menciptakan evolusi yang terus hidup.


Tindakan salah satu penonton dalam "Kala Tiada" (Foto: Fero TA)


Sebab secara dasar, Simon cukup mengetahui banyak perkembangan teater imersif yang dirujuk dari Tableaux Vivant, pertunjukan Yunani Kuno, Commedia dell'Arte di era Renaisans, juga pemahaman tentang teater Noh, dan kesadaran tentang interaktivitas, improvisasi, dan transformasi pikat yang tidak terduga. Saya kira kalau poin-poin ini dijadikan metode dan sistem latihan selama prosesnya, juga sangat mudah untuk keluar dari teks hafalan untuk menangkap teks-teks di luar naskah. Perjumpaan dramatik dan post-dramatik, sangat memungkinkan berlangsung sejak informasi pembatalan pertunjukan; arah penonton untuk mendatangi kantin depan teater Wahyu Sihombing juga terpecah-belah dengan jalur yang berbeda. 


Termasuk saya mengikuti jalur Remon yang dikomandoi oleh anggota kelompoknya; hingga dihadapkan pada prosesi menunggu jenazah tiba di rumah duka. Kalau mau dianggap kantin sebagai representasi rumah duka guru sekaligus seniman, yaitu Kala, sangat memberi peluang adanya respons yang memasuki ruang batin. Terlebih lagi pada saat saya dan lainnya, sebagai penonton, dilibatkan untuk menata kursi layaknya disediakan untuk para pelayat; agar mendapatkan "writerly teks", yang nampaknya tidak dipersiapkan ke sana, di mana penonton bisa mengonstruksi perasaannya. 


Kalau Simon menempatkan diri sebagai pemandu dalam teater imersif ala Teater Asa, justru dirinya sedang membuatmu teks di luar teks pada para pelayat, untuk mengalami secara sensorik, untuk memandu hubungan personal-kolektif, atas ruang dadakan ini. Sebutlah kantin, disebut ruang ngasal untuk rumah duka bagi Kala, Simon bisa mungkin memunculkan narasi polikronik melalui cerita-cerita Adit yang diperbincangkan dia depan saya tentang kematian banyak seniman; bisa juga mengangkut cerita-cerita Prihadi, bagaimana menghubungkan narasi personal-kolektif, untuk saling berinteraksi, sembari para pemain menjalani teks-teks dramatiknya. Namun ada post-dramatik, yang diangkut melalui pengalaman, psikologis, historiografis, dan lainnya, untuk menggoyah ekspektasi dan melihatmu ketidakpastian tentang arah permainan. 


"Writerly teks" bisakah dibentuk oleh partisipan dalam teater imersif ala Teater Asa. Hal yang pasti menjadi pertanyaan, keterkejutan pemain atas teks yang dihafalkan, atas dranatik yang direpresentasikan. Tetapi jika Simon yang lebih mengetahui kemampuan dan keterampilan teman-temannya, bisa tetap dengan leluasa memandu jalannya perjumpaan dramatik dan post-dramatik. 


Cara berpikir radikal dalam post-dramatik cukup ditentukan; kalau Simon tidak memberi tahu sebelumnya atas tindakan perjumpaan tersebut terhadap teman-temannya, dengan membiarkan teks dramatik berjalan sebagaimana mestinya. Tinggal keluar masuk, ulang-alik antara teks dramatik dengan teks post-dramatik saling berjumpa pada saat yang tepat. Sebagai individu di luar dirinya bertindak penulis dan sutradara, Simon memiliki hak atau kebebasan untuk memandu dan mengubah arah permainan, jikalau sedari awal titik permainan tidak ditentukan; tidak juga menentukan pada Eggy Iskandar selaku penata cahaya ataupun sumber suara, yang ditata oleh Sentanu, pada titik yang pasti. 


Prihadi, Adit, Remon, Hendra, dan penonton lainnya juga memiliki hak atas ruangnya yang direbut oleh Simon sebagai rumah duka sementara bagi Kala; maka kepastian kurikulum pendidikan kita yang tidak pernah terjadi, begitu juga kepastian permainan ini tetap berlangsung. Selama menunggu ambulance datang yang mengantarkan jenazah, peluang menjauhkan dari stukturalisme, Simon layaknya memandu perilaku partisipan yang terlibat secara aktif untuk membangkitkan keberagaman pemikiran partisipan yang hadir. Ini juga bagian dari gerakan politis dan intelektual melalui karya dalam menjawab premis "kematian" sistem pendidikan; berfungsi pula pengalaman riset, kerja lapangan langsung dalam karya sebagai suatu momen kehidupan yang lebih transformatif. 


Titik jumpa antara dramatik dan post-dramatik melalui teater imersif ini, juga menuju pada otoritas setiap individu atas terintegarisinya epistemologis, yang dihasilkan dari situasi perjumpaan reflektif ini. Juga memecah kekerasan kepala kita bersama yang dibentuk oleh sistem lingkungan dan masyarakat, lembaga maupun organisasi turut andil dalam situasi ini, untuk meleburkan pola-pola usang, kepada siapa, untuk siapa, untuk apa yang biasa ditemukan dalam dramatik. Dalam perjumpaan ini, kalau mau dikatakan kantin sebagai situs spesifik: atas sejarah masing-masing personal, menciptakan hubungan aktif antara aktor dan partisipan. 


Bukan partisipasi yang hanya sekadarnya, melainkan tindakan itu sebagai suara personal-kolektif, untuk 'menjauhi' fenomena sosial, personalisasi pengakuan yang hanya dituntut dengan kejaran dan capaian, aspek sosial, dengan menjangkau halblebih terbuka. Simon memiliki alat untuk itu, pada saat ambulance datang diperlukan kehadiran suara partisipan bukan sekadar mengangkat peti jenazah; melainkan melakukan pendekatan multisensorik (rasa, sentuh, bau, mengaktivasi penglihatan dan pendengaran) lewat  investigasi maupun instalasi premis "kematian" sistem pendidikan. Simon bisa melihat momen teater yang berlangsung, kapan memasuki dramatik, kapan melek pada post-dramatik; seolah-olah "Kala Tiada" sedang diceritakan, untuk merangsang lima indrawi kita, yang mengubah kantin sebagai rumah duka interaktif antarteks, menjadi seni bercerita dan diceritakan, hingga kita mengalami pribadi yang lain, atas instalasi ini; bukanlah sekadar kerumunan yang berkumpul di kantin, bukanlah sekadar penonton yang berkumpul dengan suka dan tidak suka pada estetika tertentu, melainkan bagian dari interaksi sosial untuk menghidupkan ulang "kematian" sistem pendidikan lewat teater imersif ini, kalau mau dibuat ala Teater Asa.


Teks dramatik lainnya yang berlangsung (Foto: Fero TA)

Peluang teater imersif ala Teater Asa tetaplah ada, jika mengingat kerja-kerja Simon yang sudah dilakukan semacam demikian sejak tahun tujuh tahun lalu; memungkinkan untuk menciptakan makna berbeda dari eksperisionisme teater imersif ataupun abstraksi teater imersif sebagai gerak waktu dan menelusuri pengalaman indrawi individu. Jika balik pada pengalaman Paul pada tahun 1965, yang mengikuti teknik improvisasi ibunya, dalam meletakkan agensi untuk mengubah narasi tertentu, sebagai suatu pertimbangan dalam sistem latihan. Khususnya terkait dengan sistem pendidikan, melalui seni ditempatkan pada narasi polikronik; diberikan tindakan atas kehadiran seluruh partisipan untuk berbagi momen atas kematian Kala. 


Saya juga tak memungkiri selang tujuh tahun berlalu, beragam pengetahuan, respons, dan komentar terhadap Simon tentang peluangnya teater imersif ini secara utuh, yang mungkin diabaikan; masuk kuping kanan, keluar kuping kiri, yang menjadi habitus dari beberapa sutradara teater di Jakarta dalam dua dekade ini, yang ditentang oleh Prihadi dalam mengeneralisasikan; realitasnya banyak ditemukan; kalau tidak keras kepala, arogan, sinis, cenderung intimidatif, dan perilaku yang bertegangan lainnya, juga terkait dengan sistem lingkungan, sistem masyarakat, dan ekosistem seni yang tengah berlangsung. Perasaan ini, juga bagian teks yang dialami selama menelusuri pengetahuan, menjadikan jurnal pengalaman atas setiap teks yang berlangsung. 


Tanpa mengabaikan teks-teks yang sudah dihafal oleh para pemain, di mana cukup mengetahui dari pengetahuan teman-temannya, sekaligus mengetahui jenis lingkungan dari situs spesifik dari lingkungan; mesti menelusuri ulang ommelanden, dari sejarah Jakarta terkait masalah pekerja kasar, sejumlah tukang bajaj, masyarakat pinggiran rel kereta dan kolong jembatan, anak-anak jalanan, pengangguran, tunawisma, para kaum abangan TIM, juga bagian dari teks yang tidak bisa dipungkiri terkait sistem yang berlaku di beragam institusi.


Pengetahuan Simon saya rasa cukup yang berpindah-pindah tempat di Jakarta; baik dari Jakarta Timur ke Jakarta Barat, sebagai jurnal pengalaman hidup dalam melihat yang "gelap" pada "Kala Tiada". Simon bisa mengubah seketika sebagai pemandu dengan menciptakan teater forum pada saat itu, tanpa membatalkan representasi dari setiap tokoh yang dimainkan. Cara mengubah pertunjukan, juga ibarat mengubah dunia politik yang dibuat Boal melalui teater atas rezim yang diktator; bertindak yang dikehendaki oleh habitus; keinginan berbeda, deteritorialisasi, yang dibarengi dengan keputusan rasional untuk keluar masuk antara dramatik dan post-dramatik. 


Pembagian bubur ayam ke partisipan maupun menempatkan pemain dia sudut belakang pojok, tepat berhadapan dengan Hendra dan Remon ngerumpi di saat pertunjukan, saya kira Simon bisa memandu jalannya partisipasi aktif; untuk meleburkan batas subjek dan objek. Subjek bisa diletakkan sebagai objek, begitu sebaliknya, objek bisa diletakkan sebagai subjek, tanpa berpikir pada permainan tersebut. Sebab teater imersif memberi peluang sebagai teater permainan posisi secara sadar, untuk menilai terhadap ketidakpercayaan terhadap arti penting dan relevansinya untuk ini, untuk itu, adalah keniscayaan.


Posisi salah satu pemain yang berada di sudut belakang (Foto: Fero TA)

Posisi ini membuka kemungkinan "writerly text", jika merujuk pada tulisan Alston dan White, bagaimana teks ditentukan oleh partisipan secara kolektif, tanpa membatalkan niat awal. Teater imersif di kita, praktik kerja yang belum terlalu banyak, terlepas apa yang dilakukan Teater Pandora ataupun yang ditulis A. Andree, selebihnya merupakan sejumlah tulisan yang berasal di luar kita. Ini juga bisa jadi modal pengetahuan untuk saling berjumpa dengan hal lainnya; terlepas saya memahami arah Simon tidak mutlak ke arah kemungkinan yang diuraikan ini. 


Saya hanya menjawab segala macam pandangan, komentar, dan respons kurang lebih sama dengan menunjuk langsung pada post-dramatik. Sementara saya dalam perjumpaan antara dramatik dengan postdramatik ini, sejenis menjumpai naskah yang ditulis Simon dan sejumlah kasus pembunuhan atau kematian bunuhlah diri dalam institusi pendidikan. 


Kalau mau merujuk pada pemikiran Kai Tuchmann melalui bukunya, di mana belakangan ini beberapa lembaga maupun pelaku teater sering banyak melibatkannya dalam pengetahuan post-dramatik, sebagai proses penelusuran dari tubuh kita masing-masing sebagai arsip hidup. Simon yang memiliki pengalaman sebagai guru, bukan tanpa sebab bersama teman-temannya yang mayoritas kaum terpelajar; untuk menjadikan ruang pertemuan antara memori personal, pengalaman sosial, habitus, melalui gagasan artistik pada "Kala Tiada". Simon dalam konteks pemandu, atas pembacaan peluang ini, untuk menemui dokumen yang hadir di antara dramatik yang tengah dimainkan. 


Simon juga bisa memandu pada saat tokoh ayah yang hendak memaksa anaknya pulang, atau pada saat sejumlah tetangga atau tokoh lain yang mempertanyakan terkait perbincangan ini, juga bisa dilemparkan kepada partisipan lainnya; untuk mengajukan argumen atau pertanyaan, dalam menghimpun suara publik. Di sini memiliki peluang mempertanyakan politik pendidikan kita dalam konteks perjumpaan berkabung. Saya melihat banyak rongga perjumpaan antara dramatik dan postdramatik; tentang "kematian" sistem pendidikan yang dibuat tanpa rasa malu oleh rezim yang berkuasa. 


Kai juga melihat apa yang sudah disinggung sebelumnya; terletak pada siapa yang berbicara, untuk siapa perbincangan itu, kepada siapa perbincangan itu, mungkin juga terhubung dengan munculnya sebutan sasaran penonton. Post-dramatik saya kira bukan sepenuhnya untuk itu, melainkan bagaimana kita mengartikulasikan ide, mengambil posisi yang berlawanan, dan memproses realitas. Cara Simon memproses realitas kurikulum yang berubah-ubah; itu juga merupakan cara berpikir, sebagiannya dari post-dramatik, untuk mereduksi dominasi mimesis dalam model dramatik; pada konteks ini, ditawarkannya untuk berjumpa sebagai proses mengalami penciptaan teater. 


Post-dramatik bukan terminologi dan teknis dalam penciptaan teater, melainkan cara berpikir untuk melihat ranah faktual, untuk menyadari skema tubuh kita, arena sosial, untuk menentukan kualitas disposisi yang dapat diubah. Pada teks dramatik kesaksian tentang Kala, Simon bisa tetap memfungsikan dirinya sebagai pemandu perjumpaan dramatik dan post-dramatik, untuk melihat praksis diproduksi oleh interaksi antara habitus dramatik Simon dengan disposisinya 


Sekali lagi, apa yang dibayangkan ini sebagiannya menjadi pengantar untuk memasuki perjumpaan dramatik dan post-dramatik, untuk menyesuaikan habitus dan praksis individu; melalui sejumlah teks dramatik "Kala Tiada". Habitus dari dominasi narasi fiksi yang dimiliki Simon, bukanlah pemahaman yang beku, melainkan habitus yang bisa dikontrol, disadari, ditelusuri, dari kesadaran untuk deteritorialisasi, dan sosioanalisis dari sejumlah kasus kematian guru atau sebaliknya. Semuanya tergantung, pada situasi yang berubah, dan tidak jelas bagaimana perubahan tersebut menjadi sesuatu; juga relatif atas jurnal pengalaman dirinya sebagai guru, untuk memahami, bagaimana, dalam memengaruhi sejarah dirinya secara substansial. Premis ini kalau ditilik dalam semangat postmodenisme, bagaimana praktik dan teori, bekerja bersamaan untuk memikirkan bagaimana caranya menggeser paradigma yang lebih luas, mungkin juga dapat diuraikan pada perjumpaan dramatik dan post-dramatik berikutnya; merujuk pada pemikiran pendahulunya Kai, yaitu Lehmann, dipantulkan dari Péter Szondi, Peter Handke, Richard Schechner, maupun Andrzej Wirth yang memantik pikiran Lehmann.