Advertisement
![]() | ||
| Salah satu kolaborator, A. M. Eti Purnama Sari | (Foto: Sri Indriyani) |
Oleh Arung Wardhana Ellhafifie*
Cara Baca Saya dalam Memahami Language-Game Wittgenstein
Tulisan ini difungsikan sebagai lanjutan dari "Catatan Samping Deteritorialisasi ala Deleuze & Guattari Melalui Platform Kecil-kecilan", untuk memperluas pengetahuan saya pribadi, sekaligus juga merespons istilah language-game dari Ludwig Wittgenstein. Istilah ini diingatkan ulang oleh Mahendra, sutradara Language Theatre, Sumenep, yang selama ini sering kali berbagi pengetahuan yang luas terhadap beberapa tindakan dan tulisan saya; seperti dramaturgi biografi/autobiografi atau estetika chaos, jurnal 'kegagalan' dan lain sebagainya. Selain itu, ini untuk menjawab pertanyaan salah seorang kolaborator, Fachry Matlawa, yang biasa disapa Ayik tentang tujuan dan untuk siapa dari platform kecil-kecilan "Nasi Liwet Rasa Keju (Ruang Perjumpaan Seni dan Nonseni)" #2, yang direncanakan pada Desember 2026, dengan tema berbeda dan cara kerja berbeda, perkembangan dari pencarian latar belakang atau halaman nol, juga pernyataan bahwa dirinya tidak makan nasi liwet; saya pun dalam keseharian tidak makan nasi liwet, tetapi melihat realitas sosial itu di beberapa titik sepanjang Solo Raya.
Pertama, saya ingin terlebih dulu, menguraikan permainan bahasa yang dinterpretasi dari language-game Wittgenstein, ketimbang menjawab pertanyaan atau pernyataan Ayik, yang sebetulnya sudah disinggung dalam tulisan sebelumnya (juga bisa cukup memenuhi pertanyaannya); bahwa postmodernisme tentu saja bertolak belakang dengan arah modernisme. Munculnya pemikiran postmodernisme ada dikarenakan sebagai kritik terhadap modernisme. Begitu juga seterusnya, kritik anti-postmodernisme, kritik terhadap relativisme, postmodernisme skeptis, postmodernisme dekonstruktif, rasionalisme kritis, dan lainnya, atas kehadiran postmodernisme yang dinyatakan "omong kosong".
Pembicaraan terlihat stagnan di saat Ayik mempertanyakan dan menyatakan alih-alih tetap mempertahankan pemikiran modernisme dengan segala macam bentuk, tujuan, empiris (pengalaman diri), capaian, dan kejaran, yang sudah jelas 'ditentang' oleh pemikiran postmodernisme, dengan segala argumennya kalau mau memeriksa sejumlah daftar bacaan baik buku dan jurnal. Ayik belum mau keluar dari pemahaman sebelumnya yang sudah 'ditentang', misalnya dengan menyinggung sejumlah kritik terhadap postmodernisme. Sementara dirinya sendiri belum terlalu banyak membaca pemikiran modernisme atau perkembangan modernisme dari segala macam bidang, terutama filsafat, sosiologi, antotopologi, sastra, hingga seni, khususnya pertunjukan, membuat saya langsung memintanya untuk mengecek apa yang terjadi pada perkembangan modernisme, siapa yang memengaruhi pemikiran postmodernisme, siapa pula yang terang-terangan mengakui postmodernisme; atau siapa pula yang mengkritik postmodernisme, yang dijelaskan oleh saya pada bagian selanjutnya; tentang sebutan bualan, absurd, dan hal lainnya dari postmodernisme.
Permainan bahasa yang digunakan dalam platform kecil-kecilan ini, terkait dengan tubuh sebagai bahasa, teks sebagai bahasa, peristiwa sebagai bahasa, realitas sebagai bahasa, dan bahasa itu sendiri yang digunakan dalam platform kecil-kecilan ini. Saya sengaja mengIndonesiakan, untuk menghindari language-game dari Wittgenstein, yang tidak langsung ditunjuk ke sana (sebab saya sadar atas kebingungan dari hakikat bahasa Inggris ini dengan pemahaman yang kompleks, dengan harapan Ayik mampu menguraikan pemikiran Martin Suryajaya tentang Wittgenstein, yang juga belum membacanya), tetapi saya sudah mempersiapkan pemahaman ini untuk dituliskan sebagai interpretasi pemikiran. Alasannya sederhana sekitar lima tahun lalu, saat saat mengemukakan pertanyaan pada Afrizal Malna, di sebuah pameran di Sidoarjo; kalau saya memiliki kecenderungan untuk mendekati filsafatnya siapa ya mas di antara beberapa filsuf?
Tentu saja jawabannya, filsafat matematika yang identik dengan Wittgenstein (tentu saja tidak bisa melampaui pemikiran Martin, saya bertolak dari skill and ability saya) , dengan language-game tersebut; yang sebelumnya saya membaca perlahan-lahan tentang Wittgenstein. Diam-diam pun saya semakin getol membaca sejumlah pemikirannya, buku, dan jurnal yang tidak bisa dengan mudah langsung dipahami, yang cukup abot tenan (bahasa Jawa). Sehingga belum berani secara ilmiah atau pun non-ilmiah, atau semacam esai menginterpretasi dari pemikiran Wittgenstein, yang sejatinya tidak mengakui dirinya postmodernisme, melainkan lebih senang disebut filsafat analitik.
Namun pada perkembangannya, pilihan watak kerja deteritorialisasi; dengan konsep rizoma, tubuh tanpa organ, deteritorialisasi, skizoanalisis, dan assemblage, yang sudah diuraikan pada tulisan sebelumnya, dengan dibuntuti cara kerja atau mengurai makna berbeda, dekonstruksi ala Derrida, maupun cara memperlakukan banyak hal; seiring membalikkan tujuan, dengan menggeser latar belakang pendidikan seni saya bukanlah tujuan, tetapi metode atau cara kerja, terkait dengan medan pascaseni, langsung memantulkan ada permainan bahasa, atau permainan yang sedang dibuat oleh diri sendiri. Ada aturan yang sedang ditunjuk, juga mengacu pada eksistensi, dalam mencari gagasan diri sebagai manusia yang disinggung oleh Marx oleh Fromm, juga ikut memengaruhi pemikiran postmodernisme. Dengan sendirinya daftar bacaan deteritorialisasi, yang ditulis Deleuze & Guattari, yang lebih mengakui seorang pemikir postmodernisme, ketimbang Wittgenstein, hingga ikut kelas deteritorialisasi yang diampu oleh Haryatmoko; juga anjuran dari Afrizal dan Mahendra, semakin meyakinkan saya untuk keluar dari teritori yang ada.
Sederhananya begini; kalau saya membuat pertunjukan, tidak ingin lagi dipahami pada teritori yang tunggal; sangat mungkin dalam pertunjukan saya dibuntuti dengan diskusi, investigasi, reality show, happening, atau sejumlah sebutan lainnya, bahkan menimbulkan pertanyaan apa bedanya dengan realitas; kenapa tidak membuat seminar saja kalau tujuannya memproduksi wacana, ini juga disinggung oleh Ayik, yang tetap mempertahankan pemahaman lama, yang cenderung dipertahankannya. Seperti langsung mempertahankan kebenaran pemahaman yang absolut, yang ditentang oleh pemikir postmodenisme. Saya dalam pemahamannya juga mungkin mau lari dari hal itu, teritori yang dimaksud bagi saya secara holistik, bahkan pada teritori bentuk pun, saya permainkan sebagai bahasa, untuk keluar dari teritori sebelumnya.
Kalau saya menyatakan aktivisme yang dilihat melaui media sosial; bagian dari seni advokasi, kenapa tidak, dalam pemikiran postmodenisme, atau khususnya watak dari deteritorislisasi. Pemikir modernisme, akan bilang; enak juga semudah begitu ngomong, saya jawab karena seni dipakai sebagai alat atau cara bekerja seseorang. Pertanyaan lanjutan pemikir modernisme, apakah mereka sadar yang dilakukan itu dipahami sebagai seni, lantas pemikir postmodenisme bilang; seni hendak dipakai sebagai apa di era kini yang sudah tumpang tindih dengan segala macam pengetahuannya, sementara masih banyak nasib seniman yang morat marit, atau memang ditakdirkan semacam demikian, di mana orang tua hingga kini masih banyak melarang anaknya masuk kampus seni, yang mungkin dibubarkan saja semua kampus seni untuk merger antara kampus seni dan nonseni, menyatu dengan beragam bidang atau nonseni, artinya mata kuliah seni wajib masuk di beragam bidang seperti matematika, fisika, kimia, geomatika, nuklir dan lainnya, dan ini semua bagian dari permainan bahasa yang diinterpretasi saya dari Wittgenstein.
Dalam konteks permainan bahasa yang diatur oleh saya, kalau saya ingin bilang seni matematika, seni kimia, seni nuklir, seni fisika, seni agribisnis, dan seni bidang lainnya, atau seni nonseni, sebagai interpretasi dari Wittgenstein, atas sebutan filsafat matematika, atas kontribusinya bidang filsafat terhadap matematika. Sekilas ini sudah menjawabkah Ayik, dari tujuan yang dipertanyakan, kenapa saya mencari nonseni, bukan mencari anda, karena sejatinya anda pengetahuan saya, di mana anda digunakan sebagai metode saya untuk berbagi pengetahuan performa atau menentangnya. Sekaligus ketika saya mengajak anda, dan mau berkolaborasi dengan aturan saya sendiri, saya tanpa bertanya tujuan anda menerima ajakan, dan dibebaskan untuk mundur dari ajakan, sayangnya anda tidak tidak membatalkan niat berkolaborasi dengan permainan atau arah aturan sudah ditentukan. Apakah ada relasi kuasa di dalamnya, sudah jelas dari awal saya yang membuat permainan bahasa, Ayik dibebaskan untuk menentukan bahasanya sendiri, jadi cukup rumit lagi menyatakan relasi kuasa yang sudah diatur oleh bahasanya masing-masing, yang lebih luas jika malam itu mengangkut pikiran-pikiran kritik postmodenisme seperti Noam Chomsky, Fedric Jameson, Alan Sokal, Richard Caputo, Bruce Thyer, Tim Keller, dan lainnya, seperti Slavoj Žižek, termasuk Habermas sendiri, sekalipun saya membacanya memiliki kerja di antara modernisme dan postmodenisme.
Mengacu pada interpretasi permainan bahasa saya melalui platform kecil-kecilan ini, dari pemikiran Wittgenstein, akhirnya teritori dari sebuah platform, kemudian jadi ambigu dengan pemahaman sebuah produksi karya pertunjukan; "Nasi Liwet Rasa Keju" dipahami sebagai judul dari sebuah karya, sehingga mempertanyakan tentang diskusi. Deteritorialisasi sudah diterapkan sejak awal, bagaimana platform yang sekiranya bisa dikatakan tidak berguna bagi orang lain, tetapi berguna bagi diri sendiri untuk membaca ulang keterhubungan perkembangan dan pemikiran modernisme itu sendiri dari Descartes, Nicolas Copernicus, Bacon, Mary Wigman, Kurt Joss, Stanislavski, Marta Graham, Shakespeare, Sartre, Chekhov, Thomas More, Leonardo da Vinci, Alvin Ailey dan lainnya, terhadap pemikir postmodenisme; Lyotard, Rorty, Baudrillard, dan lainnya, atas tur#5 Diskusi Performatif: Minum Kopi Sembari Tengok ke Belakang (Dramaturgi ke Dramaturg)" sudah tunggang langgang satu sama lainnya.
Teritori platform dalam "Nasi Liwet Rasa Keju (Ruang Perjumpaan Seni dan Nonseni)" seperti 'dicabut' dari teritorinya seakan murni sebagai judul karya dengan hadirnya kolaborator; Muhammad Nurazhariansyah sekaligus produser, Muhammad Ikbal, A. M. Eti Purnama Sari, dan Ayik sendiri, serta sahabat Bedjono, maupun sahabat Koreografi Inkuiri Institut Seni Indonesia Surakarta yang lebih banyak melihat di depan mereka teritori yang sama dengan pemahaman yang diperolehnya selama ini; karena tidak dimunculkan disclaimer tentang 'kegagalan', 'kekandasan', 'kesembarangan', dan 'kesemertamertaan', padahal dibangun belum juga tentu dari sana. Deteritorialisasi ini dilakukan untuk melihat peluang-peluang lainnya, yang bisa dikerjakan, atau sebutlah seminar dalam karya, yang sudah ditarik dari teritorinya. Sayangnya Ayik tetap 'memaksa' saya untuk masuk pada teritori, seminar ya seminar, pertunjukan ya pertunjukan, platform ya platform, atau plaform itu apa, sementara semangat deteritorialisasi, itu keinginan untuk berbeda untuk saling dipertemukan satu sama lainnya, tidak hierarkis, tidak tunggal, tidak memiliki organisme yang jelas, sekalipun Agil Pramudya, seorang koreografer, dari EkosDance Company, membacanya memiliki tangga organisme pada malam itu, tetapi secara langsung permainan bahasa dikendalikan oleh pertentangan, sebutlah dramaturgi versus, sebagai produksi pengetahuan saya; sekiranya mereka pada malam itu, Minggu, 21 Desember 2025, di Kedai Bedjono, membaca sejumlah bacaan untuk diberi kepada saya, sehingga bisa terjadi saling memberi dan menerima, bukan bergerak pada persoalan ketidaksepahaman bentuk yang sudah jelas deteritorialisasi.
![]() |
| Tukang parkir di Kedai Bedjono, Surakarta (Foto: Siti Indriyani) |
Dramaturgi versus ini dicoba oleh saya pertama kali pada tahun 2019, Festival Seni Multatuli, di Lebak, Banten, "Apa yang Ada di Kepala Saya VS Apa yang Ada di Kepala Mereka" bersama sutradara dan produser teater, koreografer, mahasiswa Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada (UGM), dan partisipan yang hadir dalam festival tersebut dari lintas bidang. Versus tidak lagi dipertanyakan pada hasilnya, untuk siapa, untuk apa, layaknya mereka yang hadir pada malam itu, di Bedjono tetapi lebih kepada pertarungan gagasan yang mana tidak diketahui oleh tiga kolaborator lainnya; saling keterkejutan dan saling menganalisis beragam kemungkinan. Sementara tiga kolaborator saling tahu atas rancangan yang hendak dipresentasikan; bagaimana pemikiran Max Havelaar kala itu bertarung pemahamannya di lintas generasi, sekiranya apa yang sedang berlangsung, selain menemukan kebebasan dan kekuatan batin untuk meresapi segala peristiwa Havelaar yang berseberangan dengan rekan-rekannya atas kebutuhan dan motifnya tersendiri, dalam memaknai pilihannya sendiri; suara hati yang lebih berpihak pada pribumi, keberanian menjadi diri sendiri, dan kemampuan diri sendiri untuk saling meresapi dalam sebuah pertarungan gagasan yang tidak diketahui sebelumnya. Versus dalam hal ini tidak berkutat untuk menunjukkan saling adu kuat kecerdasan emosional maupun kecerdasan intelektual (karena saya sadar tidak memiliki itu), tetapi sengaja ditarik untuk melihat suatu keberanian bersikap untuk lebih matang, terutama dalam mempersiapkan kebebasan untuk disangkal, termasuk dengan cara semacam ini.
Versus sejatinya untuk mencari akar dari bahasa kita sendiri, untuk memperbanyak apa yang dilihat, munculnya suatu kesadaran bahwa kita belum terlalu luas melihat cakrawala pengetahuan. Versus tentu saja atau ketidaktahuan antara saya dengan tiga kolaborator, bukan berarti saling bertarung layaknya pertandingan; tetapi ketidaktahuan dan ketidakpahaman ini tidak bisa menetukan akhir, kerena kesadaran tentang pengalaman tubuh dan perasaan sendiri, untuk meningkatkan pergulatan, untuk menjadi diri sendiri lebih luas dalam bernegosiasi, proses mengalami, proses melihat cerita yang lebih luas, atas nama kematangan, ketika permainan bahasa coba diterapkan. Versus suatu kesadaran yang tidak ditentukan oleh waktu, yang kemudian itu dibaca oleh salah satu pelaku seni di Serang, yang kemudian menyasar pada tujuan integrasi yang disebutkan itu; bukan lahir dan muncul dari saya, tetapi muncul dari pemahaman mereka, membawa pada suatu percakapan tentang amarah, kreatif, inovatif, Adam dan Promotheus, sebab yang hadir kala itu beragam dari lintas kota dan negara, dengan sumber kekuatan dan kelemahan masing-masing yang dijelaskan secara terbuka; sebab pada dasarnya kedatangan mereka bukan untuk mempertahankan pemahaman (tidak mengunci pengetahuannya sendiri untuk diselidiki secara serius), melainkan membuka saya pada pemikiran Nietzsche, Heidegger, Hegel, Derrida, dan Rorty.
Hal yang berbeda, dalam versus kali ini; antarkolaborator tidak saling mengetahui satu sama lain, tetapi ada kolaborator yang mengintip, khususnya Eti, ataupun Nurazhariansyah atau Pakcik, yang menampung segala macam data yang hendak dipresentasikan; ataupun Ikbal sebagai pemilik laptop dalam presentasi saya. Versus dipermainkan sebagai bahasa melalui hubungan tubuh mereka dan Solo Raya, untuk melintasi jalan yang lebih besar, untuk melihat ketimpangan pengetahuan yang beredar untuk saling serap satu sama lainnya. Permainan bahasa dipertentangkan dari tubuh mereka secara bersamaan untuk melihat kerja sebagai ekspresli diri manusia, ekspresi dari kekuatan fisik dan mental individualitasnya, untuk mengembangkan diri;yang penuh arti dari energi saya sendiri, untuk menjadi manusia yang utuh secara universal, dibebaskan dari utang piutang, atas jaringan makna yang dibuat melalui platform kecil-kecilan dengan menyasar pada bidang lainnya; beralienasi pada kerja produktif dan bebas ke depannya.
Sebab saya melihat kebersesuaian bahasa yang dimaksud Wittgenstein, bisa melalui kalimat sederhana lewat nama platform kecil-kecilan ini, cukup alamiah saja tanpa harus mencari makna, dalam konteks postmodenisme. Di mana, makna bisa ditemukan setelah berjumpa, karena di sana menyimpan suatu hipotesis, suatu ujian, selayaknya saya diuji ulang oleh Ayik dan teman-temannya yang sepemahaman, dalam membuat rangkuman sebagaimana baiknya pertunjukan. Saya justru melahirkan teka-teki, anekdot, dengan gaya sehari-hari, dipertentangkan, yang sekiranya berlainan, itu bagian dari keseharian saya untuk menyampaikan gagasan perjumpaan.
Apakah di dalamnya, mengandung logika matematika; jika merujuk pada Wittgenstein, sangat mungkin karena bahasa bukan sekadar subjek, predikat, objek, melainkan semua itu sebagai fungsi untuk saling digeser satu sama lain. Sekalipun saya kesulitan dalam praktiknya, bagaimana keseharian dan kebiasaan saya diwujudkan dalam platform kecil-kecilan. Kata dari nasi liwet dan rasa keju pada penggunaan proposisi Wittgenstein, sarana penyampaian bahasa pikiran yang menyimpang, melalui tempat nongkrong saya di Bedjono bersama Pakcik.
Sederhananya dengan cara permainan kata itu, bukan lagi sedang mencari maknanya, yang ditemukan belakangan pada saat presentasi berlangsung. Cara semacam ini yang kurang diindahkan, tidak dianggap sama sekali, tidak dianggap sebagai pengetahuan, dianggap kesia-siaan, seiring dengan kritik terhadap postmoderinisme, atau sama sekali tidak dihargai. Makna yang berlangsung, platform kecil-kecilan ini semacam omong kosong yang tidak bisa menembus batas diri bahasanya masing-masing; untuk menguraikan hubungan bahasa melalui tubuh, kalimat sehari-hari, atas diri dan Solo Raya, apa yang semestinya dilakukan agar bahasa ini bisa saling terkait dengan dunianya.
Platform kecil-kecilan ini sedang menunjukkan realitas proposisi kontingen (empiris), dari persoalan kebenaran dan benar teritori yang sudah dilarikan kemana-mana. Dari platform ini, saya sekilas menjadi produktif untuk perjalanan intelektual atau berevolusi dari representasi realitas tindakan sosial saya, yang sejatinya sering menyendiri, seketika hendak mencerminkan struktur realitas yang terencana. Kalau pemikiran Wittgenstein yang kurang dihargai padahal kala itu, apalagi saya, selagi saya katakan permainan bahasa ini untuk pendekatan logis-simbolik, untuk menolak bahasa, untuk menolak teritori yang memiliki esensi tinggi.
Sebab masih banyak buku yang hendak saya tamatkan, sembari membuat platform ini untuk mendapatkan pengetahuan luas tentang radikal pemikiran; ternyata....oalah, makna yang terjadi mereka pada malam itu sedang memiliki permainan bahasa dengan aturan modernisme mereka, yang juga tidak membocorkan pemikiran Descartes, Bacon, Kurt Joss dan lainnya, atau memberi kritik dari Mazhab Frankfurt lewat Habermas, Adorno, . Mereka tidak lagi melihat kenapa diperlukan revolusi tentang cara kita memandang bahasa lewat sejumlah tindakan yang ada di Bedjono, juga tidak mempertanyakan alasan kenapa mesti mengalihkan empiris dan non empiris, mereka juga tidak melihat topik pembicaraan yang tidak tetap dalam permainan bahasa tersebut. Oleh karennya, pemahaman oleh intelektual tentang fokus, pada multidimensiinalitas yang menjadi titik utama dari Wittgenstein; sebagai murid Bertand Russel, juga tidak bergerak pada pemikiran neo-positivisne, teologi, dan lainnya yang disasar dari filsafat matematika, language-game Wittgenstein, juga tidak memberikan kritik Mazhab Frankfurt; Max Horkheimer, Adorno, Habermas, terhadap postmodernisne, yang bisa saya melalui platform tersebut.
"Nasi Liwet Rasa Keju (Ruang Perjumpaan Seni dan Nonseni)" dalam Potensi Produksi Wacana Kritik terhadap Postmodernisne
![]() |
| Presentasi video kerusakan lingkungan (Foto: Siti Indriyani) |
Plaform kecil-kecilan ini kalau dipayungi oleh dramaturgi versus; turunannya dramaturgi Inkuiri (menyelidiki, menelusuri, dan investigasi) sejak awal sudah saya lakukan terhadap tukang parkir, mahasiswa nonseni yang lagi sendiri, hingga mahasiswa seni, lulusan seni, hingga pekerja seni yang tengah berkembang di platform besar-besar, yang hanya bertumpu pada akhiran, awalan, selesai atau tidak selesai. Hal-hal ini yang dipertanyakan oleh postmodernisme, di mana istilah ini mesti terus sering mempergunakan, secara terus menerus, kalau dilihat dari bukunya Bambang Sugiharto. Saya membayangkan mereka memberikan pemahaman para kritikus postmodernisme seperti yang disebutkan di atas seperti Richards Dawkins, Perry Anderson, Dick Hebdige, Christopher Hitchens, dan lainnya.
Sangkalan ini dalam konteks postmodernisme, bukanlah kebenaran mutlak dan sangat mungkin semacam bualan kosong. Kalau misalnya teman-teman yang hadir pada malam itu berbalas tulisan lanjutan terhadap kritik postmodernisme terkait hilangnya nilai-nilai modernitas, radionalitas, kebebasan, demokrasi, neo-konservatisme, munculnya industri budaya, konsumerisme, hedonisme, toleransi represif kebebasan dan rasionalitas, silakan saja untuk merenungkan ulang, sebagai orang yang hendak menunjuk pada postmodernisme, atau bentuknya pada medan pascaseni. Kalau misalnya mau menyoroti dari bentuk ketidakjujuran intelektual, silakan saja, yang sangat mungkin dari tulisan ini membawa saya untuk menjadi sukarelawan di Aceh dan Sumatra, tentu sangat bersyukur untuk melihat lebih dekat pengalaman realitas mereka, yang saban hari dilihat dari media sosial.
Kalau platform saya dalam konteks postmodernisme, dianggap tidak memiliki definisi makna yang stabil; karena hakikatnya makna yang terus bergerak. Pada realitasnya, banyak orang yang mengenali saya kurang lebih dua puluh tahun; menginpresikan bahwa tindakan yang dilakukan tanpa pikiran, pada prosesnya saya dibentuk makna yang bergerak belakangan; makna terus berevolusi dari setiap tindakan yang dilakukan, sekalipun saya tahu berhadapan dengan orang-orang yang tidak menganut postmodernisme. Makna bisa sangat mungkin dinegosiasikan atas tindakan yang sudah berlangsung, dengan 'mengistirahatkan' pemahaman yang lama; pada kenyataannya dipenuhi orang-orang yang mengunci dirinya dalam melihat peluang, seperti yakin atas pemahaman dirinya lebih luas daripada orang yang dihadapi.
Sebutlah Ayik dengan tulisan sebelumnya semestinya sudah cukup bahwa hal yang berbeda bukan berhenti pada bentuk dan empiris saja, tetapi nampaknya butuh makna yang stabil, sementara untuk memiliki kestabilan, dirinya belum cukup memadai memperbincangkan makna terhadap saya; memperbincangkan sejumlah semiotika di hadapan saya, dari Saussure, Barthes, hingga Derrida, belum cukup daftar bacaan yang mesti disangkal kepada saya, sehingga saya semacam orang bodoh, memang bodoh juga sejatinya, tapi sok pintar, karena ketidakpercayaan pada kestabilan, yang bisa ditandai posisi Ayik yang agung terhadap modernisme; mau berkolaborasi dengan saya, di tengah presentasi, juga berbelok arah, terpengaruh pada teman-teman yang mempelajari modernisme. Modernisme yang tidak betul-betul dipelajari dari sejumlah pemikir modern, misalnya dari Mazhab Frankfurt. Hal lainnya, hal yang stabil itu perlu praksis dan logikanya yang kuat, habitus, arena produksinya, sebagai kepemilikan bahasa.
Kalau mau dipahami postmodernisme sebagai aliran yang tidak berguna, atau pemikiran yang tidak ada gunanya, mendukung obskuratisme, menggunakan relativitas budaya, moralitas, pengetahuan yang terlalu berlebih; platforn ini sejatinya mengarah pada struktur sosial dan kekuasaan yang ada dalam masyarakat di Solo Raya, yang bisa dibagi, dan saya juga ragu melihat kenyataan yang seragam, orang-orang yang berkumpul pada malam itu, sekaligus potret kecil tentang orang-orang yang percaya pada kebenaran absolut. Ajaran yang dibawa pengajarnya tentang fokus, ketika melihat hal yang tidak fokus langsung buru-buru mempertanyakan; di sinilah sudah berlangsung "habitus" keseragaman dalam institusi seni, yang belum digerakkan untuk mengembangkan bagaimana individu menginternalisasi dirinya agar mendapatkan pengetahuan lebih. Sehingga bisa menjadi perdebatan produktif dan bagaimana hal ini memengaruhi perilaku personal lainnya, semacam kebenaran absolut, berlomba-lomba untuk memberikan satu penilaian, tentang buruknya sebuah performa; yang saya mesti tuliskan review pengetahuan permainan bahasa atas interpretasi language-game Wittgenstein; sementara di sisi lain yang hanya sendirian, pelaku seni yang memilih tidak berkumpul di dalam ruang Bedjono, sebutlah Reni Wirtanaya, penari gandrung Banyuwangi, lebih memilih berada di depan halaman luar agar jangkauan bisa melihat beragam di antara peristiwa yang terjadi di luar dan dalam Bedjono, sebagian besar berpusat di dalam ruang.
Relativitas budaya yang ditunjuk dalam platform kecil-kecilan ini, untuk melepaskan diri dari meta-narasi dan struktur besar, yang dibawa dari dunia entah berantah; dibawa dari Asia maupun Eropa dari para maestro di Solo Raya kalau mau betul-betul diselidiki. Saya hanya ingin melihat dengan pengetahuan yang kecil ini melalui "nasi liwet", yang tidak mungkin rasa keju, kecuali dicampur keju, bagaimana saya yang bodoh ini hendak melihat bagaimana individu berbagi cerita sosial untuk membangun realitas mereka sendiri. Bukanlah sebuah kesimpulan dari Solo kota budaya, kota seni, kota yang indah, yang kemudian Reni justru berbagi cerita tentang pengalaman sebagai pengendara motor yang menurutnya tidak ramah akibat ditemukannya pengendara motor lainnya yang mengganggu.
Artinya ketudakberartian yang dituding pemikir kritik postmodernisme, juga sedikit terbatalkan, jika realitas relativitas budaya dalam konteks tertentu diperlukan, untuk menggugat pengetahuan moral lebih berlanjut. Melalui platform ini, yang terkucilkan atau yang terpinggirkan, justru dengan relativisme budaya; bisa menganalisis lebih luas, bahwa moralitas kita dalam ruang itu juga palsu, karena atas keseragaman yang kemudian jadi terdominasi.
Bagi saya melalui pintu masuk personal layaknya postmodernisme kebanyakan; melalui "Diskusi Performatif: Minum Kopi Sembari Tengok ke Belakang (Dramaturgi ke Dramaturg) ", struktur sosial bisa dilihat secara rumit dan menyebalkan atas kekakuan, keseragaman, dan kenyamanan pada teritori, di bangku duduknya masing-masing. Keseragaman ini seolah-olah ingin menyatakan tentang Solo Raya yang indah, bentuk yang indah menjadi berharga, sekaligus menjawab kritik pada penyimpangan terhadap keindahan dan bertele-tele, maupun penyimpangan struktur, tetapi kenyataan Solo Raya yang dibentuk oleh pemahaman modern, juga tidak terlalu memahami apa yang dibawa oleh pemikir modernisme. Realitas yang berlangsung institusi seni seperti mengunci fokus bidang lain, sekalipun dibawa dalamnya juga didorong pada lintas disiplin, tetapi dari dalam seni sendiri juga tidak terlalu banyak diketahui dan dipahami, menjadi bumerang dari kritik terhadap postmodernisne itu sendiri.
Kalau pemikir kritik postmodernisme, berpikir kecenderungan postmodernisme pada tema-tema yang gelap; kalau saya mengacu pada interpretasi language-game Wittgenstein, dari nasi liwet ataupun rasa keju, apakah tema gelap yang disasar dalam permainan bahasa; jika ditelisik ulang yang dibawa oleh Ayik sendiri tidak menyasar pada pembacaan tentang resistensi, yang saya tabrakan dengan tema yang dibawa oleh Ikbal; dengan ketidakberdayaan atas seni yang diperoleh dari sarjana hingga pascasarjana, Ikbal lebih memilih jadi proletar kedai kopi. Saya lebih memilih jadi budak-budak platform besar, kalau mau dipantulkan pada Solo Raya, melalui berita dan jurnal, realitas sosial yang berlangsung bertebaranlah tema gelap tentang Solo Raya, jadi pilihan, padahal mereka menganut modernisme; yang mana belakangan ini berita-berita tentang Joko Widodo (Jokowi) dan keluarganya, begitu diolok-olok dan julit dari para netizen, memperbincangkan, apakah itu juga bukan realitas Solo Raya, termasuk jangan lupa Jokowi dari Solo Raya lho.
![]() |
| Fachry Matlawa dengan segala macam pertanyaan (Foto: Siti Indriyani) |
Hal lainnya, yang dikritik oleh pemikir pada postmodernisme; memiliki pengaruh buruk atas tidak bertambahnya pengetahuan apa pun; atau juga dikatakan absurditas; mengarah pada kesia-siaan, atas sejumlah pertanyaan riset yang mapan, maupun mempertanyakan tentang pencerahan; kemudian dianggap gagal menyediakan metode yang layak dan dapat dianggap sebagai pengetahuan; atau dibilang sebagai jalan buntu epistemologi, juga mengacu pada fasisme, yang tidak terungkap dalam platform tersebut melalui produksi wacananya; yang bisa memperluas pemahaman tentang kaum pencerah dari modernisme. Realitas yang berlangsung kalau bercermin pada platform kecil-kecilan itu, para pengikut pemikir modernisme melalui institusi seni, sebab malam itu di kedai Bedjono, mahasiswa nonseni datang pada akhir-akhir presentasi berlangsung, menunjukkan stagnannya definisi tentang seni. Sebab mahasiswa seni dan lulusan seni maupun intelektual seni, mahasiswa magister seni atau lulusannya belum bisa keluar dari definisi sebelumnya, tanpa mengurai kemapanan metode riset artistik yang dianggap cerah.
Definisi tidak meluas pada kekuasaan dari ras, jenis kelamin, dan orientasi seksual, yang juga dianggap tidak ada gunanya, tetapi mereka sendiri atas metode riset artistiknya kegagalan dalam platform tidak berguna tersebut; realitas yang berlangsung di institusi seni ikut menyumbang bekunya pengetahuan modernisme, yang dikritik oleh pemikir postmodenisme sejak lama. Mereka tidak menyinggung metode riset artistik yang tidak mapan dibawa saya dalam platform itu, dengan mencari latar belakang, atau halaman nol, sebagian besar mereka tidak bisa menguraikan pengalaman metode riset artistiknya yang mapan. Kalau saya balik mempertanyakan; kalau juga tidak mampunyai/ menerangkan atau berbagi cerita tentang metode riset artistik, maka kenapa saya harus terpaku pada pemikiran modernisme yang diajarkan oleh Institusi seni, di Surakarta, juga tidak menghasilkan apa pun, kecuali kebekuan, meskipun belum sepenuhnya ini kebenaran yang mutlak, ini hanya segelintir yang hadir atau cermin kecil dari lingkungan saya yang cukup ngasal pada malam itu.
Kalau saya mengacu pada permainan bahasa yang diintepretasi dari pemikiran Wittgensten, menyikapi pandangan tentang "neo-konservatif" terhadap postmodernisme, apakah tidak jauh lebih bermunculan pemikir modernisme menggunakan teori-teori postmodernisme untuk kepentingan eksistensi; untuk kepentingan proyeksi di antara modernisme dan postmodenisme, misalnya memunculkan teori-teori queer, atau pun teori kritis lainnya, yang sebetulnya juga tidak terlalu dipahami. Kalau misalnya mengacu pada pemikiran modernisme yang menentang postmodernisme, kenapa tidak diajukan secara gamblang bagaimana pemikiran Habermas, Adorno, Hockeimer, atau Žižek, ataupun Jameson, kalau misalnya dikatakan platform saya berpotensi memasuki "logika budaya kapitalisme", dan saya dituding mendukung kapitalisme global (misalnya). Hal ini lebih berarti, ketika pada "Buka Dapur Mini Festival" saat Bambang Prihadi, kurator program, mempertanyakan tentang posisi saya pro kapitalisme atau kontra kapitalisme global, sebagai pembaca postmodenisme. Ini lebih berguna dan berharga ketimbang tudingan kekuasaan; atau menyoroti kekuasaan bukan satu-satunya yang ada, dalam kritik postmodernisme (misalnya), sehingga obrolan malam itu lebih ketat, kekuasaan apa yang sedang dibawa pada teori queer, atau dibawa teori kritis lainnya yang memuat atau mengandung postmodernisme.
Kalau menunjuk pada nasi liwet, dikatakan sebagai ilusi yang dibawa postmodernisne atau "nonsens" dengan bahasa yang tidak komunikatif, tidak jelas dan tidak ilmiah, maka yang akan berlangsung saya akan meminta untuk lokakarya secara ilmiah atau bahasa komunikatif dalam modernisme, yang lagi-lagi juga tidak mampu melayani bualan saya.
Malam itu pun tidak ada satu pun yang memperbincangkan sikap skeptis saya terhadap yang buntu, atau menolak bahwa nasi liwet rasa keju, bukanlah gerakan intelektual; sebab tidak terlalu memadai ilmiah mereka, untuk menghadapi saya, sehingga satu-satunya jalan diminta berpikir sebelum bertindak. Anjuran ini saya sering mendapatkan di Institusi seni, sehingga tidak heran, segelintir mahasiswa seni dan pekerja seni belum mampu mengungkapkan kebenarannya; yang menurut postmodernisme sangat relatif.
Hal itu ditandai banyaknye oretan kata "membingungkan", "kepada siapa", "untuk apa", tangga kuasa, kesimpulan tentang Bedjono, atas ketidakkomunikatifan saya mengurai; sementara Reni yang di luar ruang Bedjono, hendak memperbincangkan sistem pemerintahan berakibat ke sistem kota berakibat ke sistem sosial, berakibat ke sistem keluarga. Artinya dari sekian yang hadir menganut pada modernisme, menandakan kebenaran yang relatif; dengan ditandai Reni yang menyimpang.
Lasch bilang dalam bukunya untuk mengkritik postmodernisme hanya sebagai "budaya narsisme"; konteks saya dalam platform kecil-kecilan ini, apakah kengototan yang hadir malam itu pada bentuk, selepas diuraikan melalui tulisan pun bukan memperkuat budaya narsisme itu, sekaligus juga kurang lebih sama sedang mempromosikan individualisme dan hedonisme; lewat permainan bahasa rasa keju yang didorong pada tradisional. Seakan-akan saya tengah memaksakan diri kosumerisme, tanpa didukung kajian ilmiah. Sementara yang hadir tidak bisa menguraikan secara ilmiah, mengingat ada proyeksi bagaimana sains sangat berdampingan erat dengan seni; di lain sisi mereka sebagian belum melek filsafat, apalagi fisika, astronomi, apalagi kimia, itu yang hendak dituju saya menatap sains dari nonseni yang lain.
![]() |
| Tulisan salah satu partisipan yang lebih terbuka (Foto: Siti Indriyani) |
Begitulah Ayik, Anda terlalu cerdas dengan seni yang modern itu; yang juga belum mengajukan pemikiran Žižek ke dalam otak saya. Seakan-akan berpikir kritis anda itu sudah ilmiah, dan saya yang mengacu pada postmodernisme dituding tidak ilmiah karena nihil, yang sering berkutat pada pertanyaan struktur dan makna postmodernisme; sudah dijawab pada realitas platform kecil-kecilan sebagai bahan :olokan', dengan mendorong istilah lokakarya dadakan; padahal saya ingin bilang, "pragmatisme" yang dilakukan oleh postmodernisme, sederhananya, juga diadopsi oleh pekerja seni yang berkiblat pada modernisme yang setengah-setengah; tanpa memiliki desain dalam diri dan menunjuk bahwa kita ada lewat ini. Ayik pun sudah membatalkan konsep 'ada' itu dari platform kecil-kecilan yang tidak jelas ini, saya memiliki semestanya sendiri sekalipun "Tuhan" tidak selalu berpihak pada saya; saya hendak mendapatkan pengetahuan dari sepanjang bercerita, tetapi yang hadir dalam hitungan semenit pun hanya pendek-pendek berbahasa. Bagaimana sistem kebekuan semacam ini yang saling memengaruhi dari potret kecil melalui Bedjono, terus menerus berlangsung ke depannya.
Saya mau mengembangkan "diferensi" dan "becoming" dari language-game Wittgenstein, agar kehendak deteritorialisasi, tertanam dalam diri kita; dari nasi liwet ini saya tidak mau jadi Oedipus, melalui benang bol dan gambar itu, saya menemukan makna realitas; saya juga ragu tentang ke-Madura-an saya, yang tidak diakui, yang dilarang melanjutkan diskusi performatif tentang blater, sekiranya saya sedang mengurai makna yang terus bergerak; berulang dan berulang hingga lelah, hingga menemukan titik absurditasnya sendiri; begitulah kira-kira Ayik, dibayangkan ada tulisan tanggapan Anda, seperti kebiasaan saling mengkritik melalui tulisan satu dengan lainnya atas peluangnya reproduksi pengetahuan. Salam olahraga!









