Advertisement

Salah satu adegan dalam pertunjukan kolaborasi “Dream” (Foto: AWE)
Oleh: Arung Wardhana Ellhafifie
Jika saya sebelumnya menyebutkan “angkutan akar rumput” sebagai pemahaman dalam sebuah mini festival 1, Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) 2025, LTC bersama dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Kementerian Kebudayaan Indonesia, yang ditulis oleh Bambang Prihadi, yang juga disebut direktur festival, yang berlangsung pada 8-11 Desember 2025, di Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas), secara mendasar itu untuk memudahkan saya membaca setiap pertunjukan yang tampak sangat dekat dengan pemahaman ini. Sejak awal, saya menginformasikan bahwa cara membaca saya, sebut saja ngalur ngidul, tanpa terbebani oleh setiap makna yang ditampilkan dalam pertunjukan, baik dari kostum, properti, musik, atau dari setiap tindakan atau apa yang telah terjadi. Namun, saya tidak dapat menelusuri detail dari adegan ke adegan untuk memperdalamnya, tetapi apa yang saya jalin dengan impresi saya, dengan apa yang tertulis dalam buku program, melalui pengantar kuratorial dan dari konsep pertunjukan kolaborasi; antara Hyoung Taek-Limb dan Rangga Riantiarno, serta dari naskah asli “A Midsummer Night’s Dream” karya William Shakespeare, yang ditulis pada tahun 1590-an; yang secara bebas ditafsirkan sebagai “Dream” menurut kurator melalui kolaborasi antara sutradara, aktor, dan tim produksi yang terlibat.
Dalam konteks performance studies yang diuraikan oleh Schechner 2, pertanyaan tentang cinta sejati dan makna takdir, seolah-olah kita semua memainkan peran dalam alam semesta kita sendiri, masing-masing dengan keadaan sosial dan pribadi mereka sendiri. Sama seperti Demetrius yang berusaha mengejar Hermia, dan Helena yang tergila-gila padanya, begitu pula lainnya yang memiliki dampak pada pertengkaran dan berbagai perasaan. Saya sedang diangkut melalui karya ini, yang disebut sebagai “angkutan akar rumput” pengetahuan ke masa depan.
Kehidupan publik dalam hubungan antarnegara selama setahun terakhir—kadang tenang, kadang bergejolak; kadang terang-terangan, kadang terselubung—tiba-tiba meledak menjadi demonstrasi besar-besaran 3, penangkapan presiden oleh presiden yang tak terduga 4, dan hubungan bilateral yang tampaknya damai antara Korea Selatan dan Indonesia 5, di tengah gejolak lainnya 6, juga dapat dipahami sebagai pertunjukan kolektif. Schechner menggambarkan sejumlah aktivitas ini mulai dari politik konsensual hingga demonstrasi jalanan dan bentuk protes lainnya, hingga revolusi. Para pelaku tindakan ini bermaksud untuk mengubah situasi, mempertahankan status quo, atau, yang paling umum, untuk menemukan atau menciptakan titik temu; dan revolusi atau perang saudara terjadi ketika para aktor semesta bersikeras dan tidak ada titik temu7.
Titik temu ini juga merupakan rintangan berharga dari Demetrius, Hermia, Helena, dan lainnya, jika merujuk pada catatan Hyoung tentang pentingnya komunikasi, yang tampaknya tidak berjalan dengan baik sehingga semua aktivitas kehidupan manusia tampak buntu. Kebuntuan kompleksitas semesta ini tercermin dalam pertunjukan kolaborasi, di mana kebuntuan juga dapat dipelajari “sebagai” pertunjukan. Setiap tindakan dalam menempatkan komunikasi, dari yang terkecil hingga yang terluas, terdiri dari perilaku yang dilakukan berulang kali; antargenerasi, antarkelas, antargender, antarspesies, bagaimana membangun komunikasi antara realitas dan imajinasi, di mana realitas yang terjadi setahun yang lalu, dihadapkan dengan imajinasi melalui “Dream,” dengan beberapa pilihan tindakan oleh aktor atau performer yang menunjukkan kehidupan sehari-hari terletak tepat pada keakrabannya, karena dibangun dari bagian perilaku yang familiar, yang diatur ulang dan dibentuk agar sesuai dengan keadaan tertentu.
Saya pikir ini membuat pemahaman karya tersebut sebagai “angkutan akar rumput” menuju masa depan; sejumlah peristiwa yang semakin diprediksi akan menjadi perilaku tegang dan tak terkendali akan berulang chaos. Seolah-olah di luar konteks, penerimaan, dan berbagai cara berperilaku dapat diorganisir, dilakukan, dan ditampilkan. Hal ini dilakukan untuk menyusun semua peristiwa yang akan ‘dicabut’ semerta-merta oleh yang ‘berkuasa’, semacam hubungan alami yang terpisah dari kita; meskipun Rangga telah mengingatkan kita melalui catatannya, bahwa alam memiliki pikirannya sendiri; sehingga komunikasi logis diperlukan antara alam dan kita; yang mungkin berasal dari gejolak geopolitik dunia, perang saudara, dll., menjadi ‘pintu’ yang kompleks dalam memasuki “Dream” integrasi antara puisi, kidung, Jeango Korea, Pansori Korea, tari topeng, ansambel gamelan, dll.
Bagaimana Saya Merenungkan Cinta, Ilusi, dan ‘Kekuasaan’ dalam Semesta Ini?

Ifqi Acim, salah satu kolaborator dalam “Dream” (Foto: AWE)
Poin yang saya ‘terima’ dari pertunjukan kolaborasi ini mengarah pada pemahaman untuk sedikit menggarisbawahi, menyoroti, atau meningkatkan kesadaran akan perilaku yang telah dilakukan, merujuk pada pertanyaan di atas. Melalui karya ini, sebagai seseorang dari “akar rumput”, perlu untuk memperhatikan dengan saksama bagaimana komunikasi melalui bahasa dipersiapkan dengan baik, menengok kembali langkah-langkah kecil perjalanan cinta, ilusi, dan ‘kekuasaan’ setelah berjalan lama. Dengan memperhatikan pertanyaan sederhana yang dilakukan sekarang adalah mengembangkan kesadaran diri dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, terhadap alam sebagai bentuk penghormatan yang akan dimulai; menghormati hal-hal ini dapat berarti memperhatikan bagaimana ritual kehidupan sehari-hari seperti makan dan minum, membeli pakaian, mengepel, mengendarai sepeda motor/mobil, dan sebagainya; di situlah kepribadian kita terletak untuk dilatih menghubungkan cinta, ilusi, dan ‘kekuasaan’ dengan alam sebagaimana mestinya.
Integrasi gerak tubuh aktor Korea Selatan dan Indonesia (yang juga mencakup beragam budaya, mengingat para aktor berasal dari berbagai daerah) memberikan semacam replikasi pengalaman persepsi masing-masing aktor. “Kelas” silang teks dalam hal ini terjalin dengan jalin karya, serta bongkar muat, sehingga saya memperoleh wawasan tentang bagaimana saya merepresentasikan naskah melalui presentasi pengetahuan diri yang terhubung dengan cara Shakespeare dalam menuliskan Demetrius, Hermia, Helena, dan lainnya, melalui integrasi yang disebutkan di atas. Di sinilah pikiran setiap aktor secara alami bekerja di alam bawah sadar mereka sendiri, untuk membangun hubungan dengan kepribadian ganda mereka masing-masing, dan akting mudah diinterpretasikan melalui negosiasi pengalaman dan persepsi ini.
Jika kita melihat sejumlah aktor yang terlibat (terutama dari Indonesia); Andhini Puteri, Atien Kisam, Bangkit Sanjaya, Dian Bokir, Holifah Wira, Ifqi Acim, Ramadhaninov, Romo Donny S. Ranoewidjodjo, Sri Qadariatin, dan Sir Ilham Jambak—yang tentu saya tahu melalui sejumlah artikel berita/medsos atau mengenali secara pribadi, selain aktor Korea Selatan; Choi Minhyeok8, Hong Eunjung, Pak Hyungnam, dan Rukoyah Chan9, yang juga tidak mudah dilacak dari internet, tentu tidak sulit bagi mereka untuk berbagi pemahaman berdasarkan pengalaman dan sumber sejarah serta mitologi yang diketahui tentang cinta, ilusi, dan ‘kekuasaan’. Peran sutradara, dalam mewujudkan karya ini; semacam sintesis, kombinasi interpretasi, kompilasi, atau penyuntingan tindakan yang telah dipraktikkan sebelumnya. Pertunjukan kolaborasi dalam “Dream” ini; kalau saya pantulkan pada pemahaman Freud, saya langsung mengekspresikan keinginan tersembunyi melalui sejumlah simbol, yang diproses melalui otak untuk memahami alam bawah sadar, semacam abstraksi yang terwujud; kemudian tiba-tiba menjadi kesadaran logis;10 Pemulihan mencakup berbagai macam tindakan.
Sepanjang pertunjukan ini, semua indra kita dibawa dalam perjalanan melalui cara ketiga aktor Korea Selatan ini bermain dengan kata-kata, ritme, dan bahasa Korea, yang menurut saya adalah tentang semua perilaku yang dipulihkan melalui senyuman kecil, kepahitan, dan tawa yang tiba-tiba muncul di tengah gejolak peristiwa cinta, ilusi, dan ‘kekuasaan’; seperti realitas sehari-hari dengan absurditas mereka yang ‘berkuasa’—yang belum dapat diorganisir menjadi bagian-bagian perbaikan. Karena mereka yang ‘berkuasa’ belum menyadari tindakan mereka. Sementara itu, “akar rumput” menjalani hidup mereka melalui pertunjukan kolaborasi ini, perilaku yang ditandai, dibingkai, atau ditingkatkan yang terpisah dari sekadar “menjalani hidup” di bidang yang digeluti—perilaku yang ‘dipulihkan’ dari realitas tersebut.
Namun, jawaban atas pertanyaan di atas bukan hal yang konkret. Cukup bagi saya dari karya ini, untuk mendeteksi perilaku yang beririsan dengan cinta, ilusi, dan ‘kekuasaan’ untuk dipulihkan sebagai perilaku yang ditandai, dibingkai, atau ditingkatkan. Perilaku yang dipulihkan bisa berupa saya berada di waktu atau keadaan psikologis yang berbeda—misalnya, memotivasi sikap skeptis terhadap ketiganya, hingga mempercayai dunia luar tentang keberadaan tubuh sendiri atas ketiganya yang saling terkait. Perilaku yang dipulihkan juga dapat mencakup semua kepercayaan dan folklor seputar tubuh kita, yang ditandai dengan, misalnya, menjadikan konvensi estetika relevan dengan pemahaman bersama.
Dikotomi Otoritas dan Ketertiban serta Kekuatan Alam & Seksualitas
![]() |
| Sri Qadariatin (tidur), Ramadhaninov, Atien Kisam, dan dalam “Dream” (Foto: AWE) |
Poin di atas, saya ‘terima’ untuk ‘yang mencintai’ dan ‘yang dicintai’, ‘yang mengejar’ dan ‘yang melarikan diri’ dalam pertunjukan kolaborasi ini; menjadi bagian dari tindakan ekspresi yang menghadirkan senyum kecil; pahit karena ironi cinta itu sendiri, yang cenderung buta, atau gelap, atau irasional, tetapi rasional, terjadi dengan semua perasaan biasanya; kesedihan, kekecewaan, kebahagiaan, kesan, kemarahan, dan berbagai bentuk emosi—hal-hal yang saya rasa masih merupakan komunikasi berkelanjutan untuk membahas dari mana cinta, ilusi, dan ‘kekuasaan’ berasal dan bagaimana ketiganya berinteraksi atau saling menolak. Sayangnya dalam realitas sehari-hari, di dunia yang lebih global; ‘kekuasaan’ yang berbeda dan sering kali menunjukkan persaingan yang kuat antara pemegang ‘kekuasaan’ dunia; sehingga “aturan main,” “etiket,” atau “protokol” diplomatik - setiap individu yang mengatur tindakan kehidupan tak terhitung jumlahnya dan telah diketahui sebelumnya.
Dalam konteks “angkutan akar rumput” yang diinterpretasikan dari performance studies—“sekolah liar,” Hyoung dan Rangga memiliki “aturan main,” “etiket,” atau “protokol” yang lebih lunak daripada para sutradara dunia global atau semesta kita terdekat, yang menurut saya sangat seragam dalam menghubungkan satu budaya dengan budaya lain. Karena pada dasarnya ‘pemaksaan’ yang sedang berlangsung tidak dimaksudkan untuk dipulihkan secara serius, sehingga muncul pembacaan otoriter yang lunak; yang diadudomba adalah sesama akar rumput, bukan ‘kekuasaan’ vertikal, yang sekarang lebih tajam secara horizontal. Pemulihan cinta, ilusi, dan ‘kekuasaan’ Demetrius, Hermia, Helena, dan lainnya, tidak ‘dilebih-lebihkan’, melainkan tarik-ulur untuk membuat kita sedikit tersenyum, tanpa tertawa terbahak-bahak; sebagai tanda bahwa naskah ini didasarkan pada naskah komedi.
Tafsir bebas yang dimaksudkan oleh kurator festival ini juga terkait dengan pemulihan yang dapat dikerjakan, disimpan dan diingat, dimainkan, dibuat menjadi sesuatu yang lain, ditransmisikan, dan diubah dalam pemahaman saya tentang bagaimana mereka bekerja secara kolaboratif. Jika saya pernah mengatakan bahwa serangkaian tindakan di BUDAmFEST, dimulai dari teknisi yang membawa peralatan, dan kehidupan artistik para aktor/kreator sebagian besar terdiri dari rutinitas, kebiasaan, dan ritual. Demikian pula, dalam karya ini, integrasi puisi, kidung, Jeango Korea, Pansori Korea, tari topeng, ansambel gamelan, dll. adalah rekombinasi perilaku yang ada, bukan sesuatu yang dilihat sebagai “baru,” “orisinil,” dan “mengejutkan,” tetapi lebih merupakan kombinasi berbeda dari perilaku yang familiar atau transfer perilaku dari konteks atau kesempatan yang familiar ke konteks atau kesempatan yang tidak terduga—yang memantulkan pada pemahaman realitas sehari-hari.
Serangkaian pertanyaan tentang cinta, ilusi, dan ‘kekuasaan’ melalui “Dream” ini; juga bagaimana berbicara tentang keniscayaan kekuatan alam & seksualitas, yang masih relatif normatif seperti kebanyakan pertunjukan, yang bersifat esoteris, hanya diketahui oleh mereka yang telah diinisiasi. Tepatnya dalam konteks “Dream” jika merujuk pada pernyataan Freud, ekspresi seksual dikodekan agar tidak menyinggung superego; saya ‘menerima’ konsep permainan seksualitas, antara realitas dan ilusi, oleh para aktor dengan menempatkan superego yang memegang peran rasionalitas dan norma. Di mana dari tindakan yang ditampilkan, telah terjadinya pemahaman tentang kepuasan yang diperoleh dari bagian tubuh lain, yang disebut zona erogen; stimulasi dari representasi semacam ini langsung memunculkan senyum kecil di wajah saya yang meredakan kebosanan11.
Kekuatan & dan seksualitas saling terkait, meningkatkan “sensasi keindahan dan bahaya.” Kedua elemen ini digambarkan dalam interaksi yang menyenangkan antara ilusi dan realitas, dengan semua kecemasan setiap tokoh. Yang penting bagi mereka adalah pertanyaan konstan tentang makna takdir atau pilihan hidup di ambang batas; Setelah terbebas, mereka menikmati pengalaman spiritual sebagai diri mereka sendiri dalam setiap permainan yang sedang berlangsung.
Seperti realitas yang sedang berlangsung, ketegangan geopolitik, moralitas yang sedang berlangsung antara sistem; dengan munculnya otoritas yang tidak seimbang; kita tidak punya pilihan selain, sebagai “akar rumput,” untuk memiliki ‘kekuasaan’ atas diri sendiri. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa banyak “akar rumput” acuh tak acuh terhadap otoritas ‘kekuasaan’ yang memperlakukan mereka, hal terpenting adalah memiliki otoritas untuk mendukung diri mereka sendiri. Ini termasuk bagaimana “Dream” menciptakan dan memainkan permainan “cahaya” dan kegelapan, di tengah alam yang ‘hancur’.
Karya ini dalam poin di atas sedang mengusulkan pengetahuan “kelas” silang teks, memosisikan para aktor sebagai “topeng permainan”—sebuah permainan yang menyembunyikan tujuannya, bahkan kehadirannya di dalam ruang itu. Selain itu, pihak otoritas sangat memungkinkan juga mengawasi mereka, sehingga “angkutan akar rumput” menjadi pilihan yang lebih logis dalam membuka paradigma yang berbeda. Jadi bagi saya, ini adalah masa depan yang terjalin melalui naluri seksual, untuk mereduksinya dari setiap gerakan aktor; sama seperti mereka yang “berkuasa” mereduksi seksualitas terhadap yang ‘dikuasai’ melalui perkawinan negara dan “akar rumput” yang berbeda kelas; tanpa komunikasi yang jelas, sehingga para menteri pun sangat buruk dalam mengartikulasikan teks sejak awal perpanjangan rezim ini12.
“Dream” sebagai Cara untuk Memahami Masalah Emosional
Masa depan yang ditunjuk oleh “angkutan akar rumput” ini; “Dream” dapat diasosiasikan pada pemahaman Cartwright et al. tentang kekhawatiran emosional yang terus-menerus dalam diri saya—dengan menonton pertunjukan kolaboratif itu, saya sedikit “tertidur” untuk mengalami emosi dan menanamkan citra permainan itu ke dalam jaringan memori terkait.14 Mungkin setiap aktor telah memberikan pemrosesan informasi emosional yang cukup efektif seolah-olah juga sedang menanggapi ilusi masa depan. Kekhawatiran emosional ini juga terkait tentang alam di tengah kehancuran, dan keniscayaan kesetaraan perilaku yang tidak kunjung terpulihkan; sesuatu yang juga dikhawatirkan Pandji Pragiwaksono dalam “Mens Rea.”15
Saya percaya “Dream” ini memiliki bias yang sangat terbuka; bahkan, ia membawa reproduksi pengetahuan dalam konteks “angkutan akar rumput”; untuk ‘menerima’ data lain tentang banyak pihak ‘penguasa’ yang memainkan ‘permainan gelap’—yang beredar dari kumpulan data artikel di internet. Masalah emosional ini kembali terkoyak, meskipun saya sangat menyadari bahwa karya ini tidak secara langsung menunjuk ke sana, tetapi lebih cenderung menjadi “Dream” bagi setiap penonton. Saya pikir, setiap orang yang menontonnya mengambil identitas baru atau alternatif, bahkan sementara, menyamar, menyembunyikan diri, termasuk saya sendiri, yang mempertaruhkan diri untuk menguji keberuntungan saya melalui tulisan ngalur ngidul ini, untuk membuktikan nilai saya, untuk mewujudkan takdir istimewa dalam setiap permainan yang ditampilkan setiap aktor.
“Dream” Bukan sebagai Cara Menjelaskan, sebab ‘Saya Bukan Keledai’
Poin terakhir ini berkaitan dengan poin sebelumnya; masalah emosional ini juga merupakan pilihan Pandji untuk memainkan permainan berisiko seperti menyeberang jalan dengan kain tertutup, menguji “ingatan” kita—yang menghasilkan sejumlah laporan menyebalkan16, yang kemungkinan besar diadudomba di kalangan “akar rumput.” Dalam pilihan di tepi jurang, seseorang meninggalkan hal-hal duniawi atau hubungannya dengan Pandji demi cinta, ilusi, dan ‘kekuasaan’ sepenuhnya atas generasi masa depan, mendengarnya berteriak dan memohon, dan hanyut menuju “persekutuan dengan yang lain,” yang mungkin tidak dilakukan oleh “Dream” dalam pertunjukan kolaborasi ini; Namun, karena suatu alasan, menurut keyakinan saya (mengutip kata-kata Pandji), kepuasan dan sensasi permainan gelap tidak terlibat dalam tafsir bebas ini tentang mengambil risiko yang berbeda dan menciptakan diri berbeda pula untuk melibatkan diri pada batin seseorang untuk berkomunikasi dengan ‘yang lain.’
Kalimat: Karena saya bukan keledai, bukan berarti saya tidak ingin menghormati hewan, melainkan menghindari pemahaman normal tentang sifat keledai; tetapi “Dream” ini sangat membebaskan bagi saya dalam hal ‘membaca’, yang tidak mengarah pada akhir yang jelas. Seperti pertanyaan di layar pada pertunjukan: Apakah kamu benar-benar akan pergi? Sebelumnya, permainan ini penuh dengan ‘cahaya’ yang menggelitik di balik ‘kegelapan’, terutama saya dalam kecenderungan untuk membawa hal-hal yang ‘gelap’.
Pada kenyataannya; sifat dari kehidupan yang sedang berlangsung memang seperti itu, jadi “Dream” ini tidak diciptakan untuk mengomunikasikan sesuatu secara jelas; namun, setiap permainan memiliki konsekuensi dan risiko, termasuk saya dalam membawanya ke arah yang lebih ngalur ngidul dan gak karuan; itu bisa dengan cepat lepas kendali. Saya sekali lagi memantulkan kisah “Dreams” dengan tulisan Cartwright et al.; Saya tidak tahu bagaimana menempatkan diri di tengah gejolak geopolitik global, perang saudara, kehidupan kacau yang tampaknya ‘berjalan baik’ (seolah tidak terjadi apa pun, karena “akar rumput” memiliki jiwa petarung), dan juga dalam “tidur” sesaat saya pada pertunjukan, sedang mempertanyakan firasat tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Masa depan yang ‘menakutkan’ (karena hingga kini masih menjadi proletar keparat tanpa alat produksi yang bebas layaknya petani), tentu saja, tetapi sebagai “angkutan akar rumput”; itu membuat saya terus menonton situasi komedi di antara para ‘penguasa’, dalam ‘lelucon’ sehari-hari mereka, yang kembali terbangun ketika aktor Korea Selatan itu mengatakan bahwa Demetrius akan mencintaimu lagi; lalu akankah saya pernah bertemu seseorang yang benar-benar ‘mencintai’ bangsa ini?17
“Dream” terasa seperti pertunjukan yang tenang dan menggelitik, bermain-main di wilayah emosional; ia menyoroti realitas frustrasi—dan terkadang akhir komunikasi pertunjukan lebih tentang meninggalkan sejumlah tantangan. Tantangan saya menghadapi masa depan, tentang permainan secara retrospektif ketika perlu diceritakan kembali secara detail. Saya bahkan tidak dapat menceritakannya, kecuali untuk bertanya apa yang perlu diubah; apa yang mungkin kita anggap serius dalam memandang cinta, ilusi, dan ‘kekuasaan’ dari empat poin, yang dipayungi pada satu titik poin utama; yaitu, totalnya lima poin, yang menjadi sangat berharga dalam penceritaan kembali.
Bagian akhir dari catatan inii merujuk pada performance studies Schechner, yang menganggap permainan “sebagai” pertunjukan, dan permainan “adalah” pertunjukan. Ketika keledai dinyatakan tidak ‘terikat’ pada saya, itu tidak berarti saya tidak menghormatinya. Bahkan, ingatan akan naskah asli tentang hutan membawa saya pada kesetaraan kita; bahwa kita juga merupakan keledai, monyet, serigala, gorila, makhluk aneh, dan sebagainya. Jadi, sangat mungkin bahwa kesempatan untuk memainkan permainan “gelap” di “Dream” lebih merupakan pesan metakomunikatif yang mengatakan, “Kami sedang memainkan permainan gelap, apa yang Anda inginkan?“
Catatan Kaki
- https://www.pojokseni.com/2026/01/buka-dapur-mini-festival-akumulasi.html, diakses terakhir kali pada tanggal 11 Januari 2026.
- Schechner, Richard. 2006. Performance Studies: An Intoduction, Second Edition. New York dan London: Routledge.
- https://news.detik.com/internasional/d-8155461/rentetan-demo-gen-z-di-peru-hingga-presiden-dimakzulkan; https://www.cnnindonesia.com/internasional/20250914021814-113-1273433/apa-faktor-penyebab-demo-besar-besaran-di-nepal; diakses terakhir kali pada tanggal 11 Januari 2026.
- https://www.kompas.id/artikel/penangkapan-nicholas-maduro-dan-kegilaan-donald-trump, diakses pada tanggal 11 Januari 2026.
- https://nasional.kompas.com/read/2025/11/01/14231421/prabowo-ke-presiden-korsel-anak-muda-indonesia-tergila-gila-dengan-k-pop; https://ipdefenseforum.com/id/2025/04/indonesia-dan-korea-selatan-memperkuat-ikatan-industri-pertahanan-dengan-berfokus-pada-pengembangan-kedirgantaraan/; https://brin.go.id/press-release/125596/forum-kerja-sama-indonesia-korea-selatan-perkuat-ekonomi-kreatif-dan-diplomasi-budaya; diakses terakhir kali pada tanggal 11 Januari 2026.
- https://www.kompas.id/artikel/india-pakistan-di-tubir-perang-terbuka; https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8158930/kronologi-perang-dagang-as-dan-china-sejak-awal-2025
- https://www.antaranews.com/berita/5212817/kronologi-perang-saudara-sudan-hingga-kondisi-terkini-oktober-2025; https://news.detik.com/internasional/d-8280736/junta-myanmar-gelar-pemilu-usai-lima-tahun-perang-saudara; diakses terakhir kali pada tanggal 11 Januari 2026.
- https://nyuskirball.org/digital-program-medea-media/
- https://www.kompas.id/artikel/en-lakon-aduh-bukan-tentang-absurditas, diakses terakhir kali pada tanggal 11 Januari 2026.
- Freud, Sigmund. 1920. Dream psychology. Diterjemahkan oleh M.D. Eder. New York: The James A. McCann Company.
- Hall, Calvin S. 2000. Libido Kekuasaan Sigmund Freud. Yogyakarta: Tarawang Press
- https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5yxdwv440wo; https://www.kompas.id/artikel/blunder-komunikasi-politik-bayangi-satu-tahun-pemerintahan-prabowo-gibran; https://www.tempo.co/politik/blunder-komunikasi-pemerintahan-prabowo-1230625; diakses pada tanggal 11 Januari 2026.
- Cartwright, Rosalind. 1979. “The nature and function of repetitive dreams: a survey and speculation.” Psychiatry 42, 131– 137.
- Cartwright, R., Baehr, E., Kirkby, J., Pandi-Permual, S., Kabat, J. 2003. “REM sleep reduction mood regulation and remission inuntreated depression.” Psychiatry Research 12, 159– 167.
- https://mureks.co.id/mens-rea-pandji-pragiwaksono-ketika-hiphop-jadi-mimbar-kritik-tajam-politik-transaksional-indonesia, diakses pada tanggal 11 Januari 2026.
- https://www.tempo.co/politik/kata-pandji-pragiwaksono-setelah-dilaporkan-ke-polisi-2105776, diakses terakhir kali pada tanggal 11 Januari 2026.
- Cartwright, R., Baehr, E., Kirkby, J., Pandi-Permual, S., Kabat, J. 2006. “Relation of dreams to waking concerns.” Psychiatry Research, 261– 270.







