Advertisement
![]() |
| Salah satu adegan bagian awal dalam pertunjukan ““Egol Ngger!” (Foto: AWE) |
Oleh Arung Wardhana Ellhafifie
Jika saya sedikit mengulang uraian “kelas” napak tilas ini, Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) 2025, LTC bersama dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Kementerian Kebudayaan Indonesia, yang berlangsung pada 8-11 Desember 2025, di Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas);[1] bagaimana sejarah ditelusuri, dieksplorasi, dan diselidiki sebagai reproduksi pengetahuan dengan pemahaman yang lebih luas tentang melihat masa depan; di mana Alfian Darmawan, yang sering disapa Wawan, melalui kearifan lokal lengger lanang, tidak hanya berhenti pada sejarah eksplorasi Mbok Dariah (1928-2018) yang dikenal sebagai penari lengger lanang terakhir. Dalam pertunjukan sebelumnya, pada tahun 2024, saya langsung menghubungkannya dengan apa yang dilakukan Otniel Tasman “Nosheheroit” terkait dengan perkembangan Dariah selama masa kanak-kanak dan komponen yang sangat terasa sebagai gender - gaya berjalan, sikap, gerak tubuh, perilaku, nada dan intonasi vokal, kostum, aksesoris, gaya rambut - menunjukkan sifat performatif dari konstruksi yang dimilikinya sehingga dengan sendirinya, atas penelusuran Otniel untuk mempelajari dan mengenali secara detail tentang Dariah,[2] di mana Wawan lebih memperdalam sejarah perjalanan Dariah—juga beririsan dengan rancangan budaya yang ia bangun bersama Otniel.[3] Hal yang dapat diapresiasi dari Wawan dan para kolaboratornya seperti Kiki Maudri, Gepeng Nugroho, Priyo Nugroho, dan Setya Aji—dengan fokus peranannya masing-masing, bukan lagi menargetkan gender; sehingga kecenderungan memiliki impresi pada seksualitas.
Berdasarkan pengamatan saya yang terbatas, seksualitas beberapa koreografer/performer yang menggunakan lengger lanang cenderung menjadi kekuatan pendorong utama; pada akhirnya, tubuh mereka bukanlah sekadar metafora, tetapi realitas objektif yang beroperasi dalam fantasi setiap anggota penonton. Jika kita ingin memahami “angkutan akar rumput” dalam konteks performance studies, operasi ini tidak dapat menciptakan koneksi lintas berbagai perspektif. Jadi, untungnya, ketika Wawan ingin melihat—ibarat desktop komputernya dengan banyak jendela terbuka, saya melihat perilakunya sebagai objek studi yang berharga.
Sebelumnya, seakan hanya berpusat pada Dariah yang bernama aslinya Sadam terlahir sebagai laki-laki, berasal dari Desa Somakaton, Kecamatan Somagede, juga dibentuk oleh budaya sejak kecil, suka menari seperti lengger dan juga suka menyanyikan lagu-lagu Jawa, sampai merasa seperti dirasuki indang lengger; yang diekspresikan melalui tubuhnya dalam cara bergerak, berbicara, dan berpakaian seperti perempuan—yang kemudian Wawan coba ‘robek’ seksualitas itu, untuk menjelajahi materialitas ‘kekuasaan’ yang beroperasi pada tubuh setiap individu. Hal ini melibatkan dua penari, Priyo dan Setya, untuk meriset dampak dari ‘kekuasaan’ ini, apakah tubuh dapat terus melawan ‘kekuasaan,’ apakah hal itu bertentangan dengan norma moral seksualitas, dan isu-isu lainnya. Wawan tampaknya ingin meriset secara terus menerus ‘kekuasaan’ tubuh, yang berlapis dalam eksplorasinya terhadap lengger lanang.
Hasrat dan kesadaran akan “Egol Ngger!” bukanlah akhir, seperti yang dinyatakan dalam konsep pertunjukan sebagai studi performatif; karya ini begitu longgar sehingga memungkinkan kritik yang ‘luas’, ironi, komentar pribadi, dan partisipasi yang bersimpati. Dengan cara ini, saya merasa bahwa Wawan dan Kiki yang bertindak dalam hal ini sebagai penulis/rekan kreator, sangat memahami dasar riset yang sungguh-sungguh (bukan sekadar bualan belaka), menjadikan ‘kekuasaan’ sebagai penggunaan dalam lapisan kekerasan simbolik yang telah lama ada. Secara tidak langsung, karya ini adalah semacam sistem kontrol seksualitas atas lengger lanang; yang mungkin memiliki potensi untuk studi lebih lanjut dalam teori queer.
Ini juga terkait erat dengan performativitas gender, yang dinyatakan oleh Judith Butler (filsuf dan ahli teori gender Amerika) tentang isu-isu gender: “seks anatomis” dan “performa gender.” Gender ditentukan oleh biologi dan kemudian dibuat mudah dikenali melalui serangkaian kode yang dipelajari di masa kanak-kanak, yang semuanya dirancang oleh budaya tempat seseorang dibesarkan.[4] Wawan juga menulis dalam karya ini, sebagai upaya eksistensi individunya untuk menanggapi performativitas gender; kekhasan seksualitas telah ‘dipermainkan’ atau ‘diolok-olok’ yang mengarah pada pemahaman performance-studies, melalui proses risetnya yang berkelanjutan.
Objek-objek yang dapat saya tunjuk sebagai cara Wawan ‘bermain-main’ atau ‘mengolok-olok’ hal ini untuk memperoleh modalitas yang memainkan peran penting dalam pengetahuan dirinya: manekin, kerucut lalu lintas, garis polisi—yang berfungsi sebagai penanda, batasan, pengalih perhatian, konstruksi, dan berbagai hal lainnya, yang menurut saya tidak selalu memiliki makna yang dimaksudkan. Saya pikir justru dari makna yang dimaksudkan inilah makna lebih lanjut diciptakan, atau perilaku dalam pertunjukan, yang membedakannya dari beberapa performer yang bertolak pada lengger lanang. Objek ini pun mengandung banyak perpaduan yang sementara dan terus bergerak, di samping kehadiran, kehidupan, agensi, perwujudan, dan peristiwa, serta membahas isu seksualitas yang ‘terobek’, ‘ketidakpedulian’ terhadap dikotomi maskulinitas-feminitas, dengan menargetkan ‘kekuatan’ yang lebih luas di luar tubuhnya, yaitu kekerasan simbolik,[5] (yang saya pinjam untuk menuju hal lain) secara umum dan beroperasi dengan cara yang tampaknya halus dalam kehidupan sehari-hari.
![]() |
| Cara performer mempermainkan kostum lengger lanang pada “Egol Ngger!” (Foto: AWE) |
Jika sebagian penonton menunggu egol-nya, sepanjang pertunjukan, egol geyal geyol sebagaimana umumnya yang sering dijumpai pada lengger, justru sebaliknya saya sudah memprediksi kemungkinan besar tidak akan terjadi. Karena ketika egol-nya akan ditampilkan, Wawan lebih memilih untuk ‘membatalkannya’ pada goyangan ketiga; secara tidak langsung hal itu menunjuk pada ‘robekan’ seksualitas, yang cenderung dieksplorasi secara berlebihan. Dalam konteks performativitas gender, egol digunakan untuk mempertanyakan batasan antara modalitas seksualitas dan upaya untuk mengaburkannya dengan objek yang dipilih tanpa membebaninya dengan makna yang jelas.
Apa yang diasumsikan sejak awal memiliki makna dalam setiap objek yang disematkan, seperti tubuh manekin yang dibungkus garis polisi, kemungkinan besar bukanlah keputusan akhir. Makna metaforis yang dimaksudkan dalam studi performatif semacam ini tidak pernah sepenuhnya terkunci, tetapi memberikan ruang yang lebih luas untuk apa yang dapat dianggap sebagai praktik makna lainnya. Realitas yang berlangsung hingga akhir pertunjukan, egol yang diharapkan, selalu ‘dibatalkan’ kira-kira tiga kali secara satire, dengan pembatalan yang sepenuhnya ‘merobek’ seksualitas, yang didominasi oleh lapisan kekerasan simbolik; misalnya, dalam kasus ini, secara bersamaan video demonstrasi atau kekuatan militer yang menindak segala macam bentuk pertunjukan tersebut secara berlebihan.
Dalam konteks performance-studies, yang saya sebut “angkutan akar rumput,” saya memahami kesadaran karya ini sebagai cara menganalisis performa sambil menekankan bahwa pengetahuan budaya tidak akan pernah lengkap jika hanya bergantung pada stigma sosial, yang harus dieksplorasi lebih dalam. Jika studi performatif ini dipahami sebagai seni, maka ia menjadi cara deteritorialisasi—kalau mengadopsi istilah Deleuze & Guattari[6] , cara melepaskan diri dari teritori secara umum.[7] Saya melihatnya dengan tegas, studi performatif yang sadar bersimpati dengan deteritorialisasi; yang berbeda, yang tidak biasa, yang ‘menyimpang’, dan memiliki potensi untuk meriset teori queer[8], orang-orang dengan pengetahuan terbatas, orang-orang dengan keinginan dan kemauan yang kuat untuk mengeksplorasi secara berkala.
‘Robekan’ seksualitas sudah menunjukkan tindakan perlawanan atau penentangan terhadap hierarki ide/gagasan, organisasi, dan sistem yang mapan; di antaranya kekuasaan militer atas tindakan subversif dan represif. Oleh karena itu, sulit untuk membayangkan bahwa dari makna awal yang telah ditetapkan, ketika dipresentasikan melalui perilaku, melalui ‘pembatalan’ egol dengan permainan anak-anak (impresi/imajinasi saya), makna yang telah ditetapkan menghasilkan makna yang tidak dapat diubah. Literasi ganda dan hiperteks terlintas dalam pikiran; semacam irisan antara performativitas gender dan teori queer, untuk membawa ke memori kolektif bahwa semua lapisan kekerasan simbolik, melalui kekuasaan militer, telah lama terbentuk, dari rezim Orde Lama [9], Orde Baru [10], hingga Pasca Orde Baru.[11]
Suatu perilaku seksualitas yang berakar pada lengger lanang, sangat mungkin menurut pemahaman saya, “angkutan akar rumput”; hampir sepenuhnya kehilangan maknanya lagi, yang tidak lagi berbicara tentang hubungan antara tari dan gender penari, yang juga tidak menentukan gender penari, demikian pula gender tarian tidak menentukan apakah penari harus secara biologis laki-laki atau perempuan. Hal ini terpisah dari unsur-unsur produksi gender lengger yang dekat dengan transgender secara historis.[12] Pemberontakan tubuh seksual adalah efek kebalikan dari kebiasaan pada umumnya; saya menemukan cara baru untuk berinvestasi yang bukan lagi kontrol melalui represi ‘kekuasaan’ tubuh, tetapi kontrol melalui stimulasi pembatalan, untuk setiap upaya ‘merebok’ impresi seksualitas satu ke seksualitas lainnya.
![]() |
| Lampu yang menjadi bagian dari cara ‘mempermainkan’ seksualitas (Foto: AWE) |
‘Robekan’ seksualitas, di samping pembatalan setiap egol, turut dimasukkannya unsur-unsur tari soreng (gerak tari yang sebagian besar gerakannya merujuk kepada prajurit (khususnya pada generasi sebelum Taryono dan Slamet, yaitu Martomo, di era 1940-an)[13], sebuah tarian yang berkembang di beberapa daerah di Magelang, juga beririsan dengan pengetahuan saya tentang soreng di Bandungrejo, di mana salah satu penarinya sering singgah di daerah yang sama.[14] Peleburan ini juga dapat dikatakan sebagai upaya untuk ‘memulihkan’ politik tubuh itu sendiri, yang telah banyak dimainkan oleh ‘kekuasaan’ negara. Dalam ‘robekan’ ini, pertanyaan yang dapat diajukan untuk analisis diri melalui karya tersebut adalah: Bagaimana hubungan tubuh antara ‘perlawanan’ dan aparatur negara telah berlangsung—khususnya militer?
Pertama, saya ingin merespons peleburan soreng ke dalam lengger lanang dalam pemahaman politik tubuh; Sejarah masa lalu di antara bayang-bayang narasi Kadipaten Jipang Panolan dengan Aryo Penangsang, Patih Ronggo Metahum dan para prajurit termasuk Soreng Rono, Soreng Rungkut, dan Soreng Pati—yang kerap kali bersinggungan dengan ‘kekuasaan’ dan perlawanan, bagi anak angkat Sultan Hadiwijaya, Danang Sutawijaya—sebagai aparatur negara kala itu.[15] Ini berarti bahwa dalam pergeseran ini, tidak dapat disangkal bahwa para pencetus tarian tersebut pertama kali masih melihat narasi sejarah masa lalu dengan perang, sebagaimana dibentuk oleh ekosistem ‘dongeng’ atau tradisi lisan. Cara tubuh menginvestasikan ‘perang’ atas ‘kekuasaan’ itu sendiri dibentuk melalui generasi, dan setiap rezim memiliki disiplin spasialnya sendiri; seperti sekolah, barak, rumah sakit, pabrik, kota, hotel, dan keluarga, seperti pada rezim kali ini melalui sekolah rakyat dan sekolah dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan berbagai kasus dan analisis.[16]
Kedua, ‘robekan’ seksualitas telah mengambil bentuk yang berbeda. Ini membutuhkan studi yang cermat tentang jenis tubuh yang dibutuhkan oleh masyarakat kontemporer, dalam memahami ‘kekuasaan’ aparatur negara, dan pentingnya menyadari setiap efek ‘kekuasaan’ pada tubuh dalam rangkaian peristiwa untuk pemulihan segera. Sebagaimana yang saya pahami, melihat politik tubuh soreng melalui tubuh Bandungrejo berfungsi sebagai kerangka kerja yang menghubungkan narasi sejarah soreng dengan masa lalu dan ekologi, untuk diserap oleh pengetahuan masyarakatnya tentang pemahaman yang bijaksana tentang alam.
Ketiga, dari “Egol Ngger!” saya membaca tentang gagasan penindasan, dengan pembatalan terang-terangan pertunjukan lengger lanang oleh militer pada saat itu, yang sangat mungkin terjadi di masa depan. Dalam pengertian ini, perkembangan pengetahuan tentang tubuh secara ketat telah dimungkinkan melalui serangkaian disiplin dan pendidikan militer. Pengetahuan saya tentang fisiologi dan tubuh organik Wawan dan dua performer lainnya, yang cenderung dianggap sebagai ‘olokan’ atas ketidakberdayaannya menjangkau hal besar; dimungkinkan oleh lapisan kekerasan simbolik yang telah terjadi; seperti yang dikemukakan Foucault, kenyataan bahwa ‘kekuasaan’ begitu mengakar dan kesulitan untuk melepaskan diri dari cengkeramannya adalah konsekuensi dari semua hubungan ini.[17]
Ketiga hal di atas, membawa saya sebagai “angkutan akar rumput”, bagaimana saya harus segera peka terhadap residu seksualitas yang sudah ‘terobek’, di mana lapisan kekerasan simbolik; cukup berbahaya bagi kelangsungan hidup. Studi performatif yang ditulis oleh Wawan maupun Kiki, juga berkaitan dengan pertanyaan Foucault, Bukankah kita mengabaikan aparatur negara di sini? Terutama kekuatan militer yang sedang berlangsung, seolah-olah diangkut dalam “Egol Ngger!” telah menarik perhatian tidak langsung pada aparatur negara sebagai taruhan dalam perjuangan kita bersama, yang dapat dijelaskan dalam dua poin berikut.[18]







