‘Robekan’ Seksualitas pada “Egol Ngger!” sebagai Gerakan Intelektual -->
close
Pojok Seni
30 January 2026, 1/30/2026 02:09:00 AM WIB
Terbaru 2026-01-29T19:09:49Z
ArtikelUlasan

‘Robekan’ Seksualitas pada “Egol Ngger!” sebagai Gerakan Intelektual

Advertisement
Cara ‘bermain-main’ lainnya dalam “Egol Ngger!” (Foto: AWE)

 

(ARTIKEL INI ADALAH LANJUTAN DARI “Egol Ngger!”: ‘Merobek’ Seksualitas dalam Lapisan Kekerasan Simbolik)


Dalam konteks performance studies, yang kemudian saya pahami sebagai “angkutan akar rumput,” karya ini mampu memberikan pengetahuan yang berbeda dari banyak pertunjukan sebelumnya—yang bertolak dari lengger lanang, di mana seksualitas tampak tak tergoyahkan. “Ego Ngger!”, saya terpantik pada memori kolektif, literasi, dan studi teori kritis lainnya, yang semuanya saling terkait. Semuanya dimulai dengan pemahaman Foucault bahwa setiap masyarakat menginginkan, membutuhkan, dan menggunakan standar untuk hidup, menulis, berpikir, dan bertindak berdasarkan ‘kekuasaan’ tubuhnya.[19]


Negara itu sendiri mengatur secara lebih luas, dengan tujuan kondisi sosial dan historis masa lalu, yang juga tidak benar-benar memberikan makna digunakan, dilindungi, dan dibebaskan, tetapi lebih tampak dikendalikan dan ditindas. Saya juga memahami bahwa dalam hal ini, istilah kebebasan dan penindasan bersifat relatif, tetapi ‘robekan’ seksualitas yang dihasilkan membawa isu-isu ini ke permukaan melalui perilaku Wawan dalam memahami lengger lanang. ‘Kekuasaan’ militer menjadi menonjol dalam impresi saya, bersamaan dengan banyaknya literatur yang ‘diterima’ dapat mengungkapkan, mempertanyakan, dan membayangkan narasi sejarah masa lalu tentang sistem kerja ‘kebuasan’ militer. 


Terutama selama era Orde Baru, yang secara terbuka bersifat subversif, sementara Pasca Orde Baru, seperti yang disebutkan, ‘kekuasaan’ militer sepuluh tahun terakhir ini cukup ‘senyap’, namun ‘mematikan’ dan ‘menakutkan’. Saya langsung membayangkan ‘robekan’ seksualitas ini, di mana seni memainkan peran intelektual dalam praktik artistik militan Wawan dan lainnya. Gerakan intelektual yang dimaksud, seolah-olah menyediakan instrumen analitis, mencerminkan beragam literatur dan narasi sejarah militerisme yang bekerja di negara ini; Lengger lanang sangat mungkin menjadi salah satu dari banyak ‘korban’ seni, akibat dari kebrutalan militerisme, di masa lalu, memungkinkan kita untuk mengidentifikasi kelemahan, kekuatan, dan posisi di mana pengetahuan kita berada.


‘Robekan’ seksualitas dalam lengger lanang juga telah disentuh oleh salah seorang koreografer dari Banyumas, yang telah mengeksplorasi proses indang, mencoba untuk memeriksanya secara sains—saya percaya ini selaras dengan semangat gerakan intelektual, seperti halnya mengoordinasikan aktivitas agen politik keseharian. Ini adalah sistem hubungan yang sangat kompleks yang pada akhirnya membuat kita bertanya-tanya bagaimana, mengingat tidak ada yang dapat sepenuhnya membayangkannya, sistem ini dapat begitu ‘senyap’ dalam distribusinya, mekanismenya, kontrol timbal baliknya, dan penyesuaiannya; di balik semangat perlawanan narasi soreng yang dimasukkan ke dalam lengger lanang; dalam konteks saat ini, karena penari soreng yang juga petani dapat duduk bersama, yang selama ini cenderung dibedakan dan tidak memiliki posisi setara.


Namun, dalam “Egol Ngger!”, penyisipan soreng ke dalam legger lanang tidak memiliki jembatan penghubung ke konteks gerakan intelektual, sehingga pemahaman bahwa seluruh pertunjukan merupakan bagian dari legger lanang muncul jika penonton tidak familiar dengan tari soreng. Jika jembatan ini ingin dihubungkan sebagai gerakan intelektual, maka perlu berakar kuat pada tradisi humanis yang mengelilingi masyarakat lengger lanang dan dunia pertaniannya. Mungkin menggabungkannya dengan studi ekologi, hal itu dapat mengungkapkan bagaimana masyarakat pertanian sangat terhubung dan menjadi bagian dari dunia nyata antara lengger lanang dan soreng.


Dunia yang lebih dekat, realitas yang dihadapi oleh masyarakat pertanian, bukan lagi imajiner, melainkan cerminan dari seni tradisional yang berkembang di sebagian besar masyarakat Jawa Tengah. Investigasi melalui metode spekulatif, dengan merefleksikan lengger lanang ke dalam lanskap pertanian, juga dapat lebih  ‘merobek’ seksualitas—yang juga memiliki sejarah yang kuat dengan militerisme. Kelonggaran “angkutan akar rumput” (diinterpretasi dari performance studies) dapat mengungkapkan kemungkinan luas dari apa yang terabaikan atau tidak diketahui dalam sesuatu yang dilakukan, dianggap ‘ngawur,’ tetapi bisa jadi sesuatu yang berharga dalam menafsirkan timbal balik dengan alam secara kreatif, sehingga membuka kemungkinan kreatifnya dan memperluas aksesibilitas bersama.


Beban “Egol Ngger!” hendak dipahami sebagai pertunjukan memang terlalu jelas, sehingga sedikit mencegah keberanian untuk menjelaskan perjumpaan (lengger lanang-soreng) secara eksplisit, yang mungkin terlalu ekstrem dalam pemahaman ini. Saya cukup memahaminya, sebagai gerakan intelektual—ini hanyalah impresi saya tentang memosisikan karya ini sebagai agen penghubung untuk mengungkap ‘kekuasaan’ militeristik, dalam menggali lapisan kekerasan simbolik. Intinya adalah, ke depannya, gerakan intelektual ini memainkan peran mendasar sebagai penyebut komunal, dalam menarasikan ‘rebokan’ seksualitas yang lebih bias di beragam literasi seperti psikoanalisis, populisme sayap kiri, dan lainnya di luar studi queer (yang sudah disinggung pada awal uraian).


Mengarungi Politik Keseharian dalam Lapisan Kekerasan Simbolik


Cara- cara lainnya dalam ‘bermain-main’ di “Egol Ngger!” (Foto: AWE)



Di bagian ini, saya berulang kali menjelaskan karya ini sebagai “angkutan akar rumput,” seperti mikrolet/mikrotransportasi, yang menyampaikan sejumlah pengetahuan; untuk mengarungi politik keseharian dengan sentuhan pengalaman praktis; sejauh mana keinginan untuk menentukan objek sehari-hari ini juga memiliki konflik ‘kekuasaan’ yang melintasinya. Objek yang presentasikan oleh Wawan cukup untuk membangun instrumen yang dapat kita gunakan untuk menavigasi politik keseharian; objek tersebut menunjukkan bagaimana militer dan administrasi sebenarnya mengukir diri mereka sendiri baik dalam medan material maupun dalam bentuk wacana. Saya juga menganalisis pendekatan dan analisis di balik lengger lanang, meriset lapisan kekerasan yang dialami oleh para penari dalam berbagai aspek kehidupan. 


Sebelumnya, saya sama sekali tidak secara langsung memasukkan pemikiran Bourdieu—tetapi ‘kekuasaan’ militer sering disoroti sebagai bentuk dominasi yang begitu ‘senyap’ dan meresap dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dominasi disalahartikan sebagai norma yang tak terbantahkan, daripada tindakan penindasan yang terang-terangan. Lengger lanang bukan hanya seorang penari laki-laki yang berpakaian seperti perempuan, menari dengan gaya feminin, tetapi bagaimana video yang diputar oleh Wawan, dan objek lainnya, ‘kekuasaan’ militer telah bekerja sejak lama; yang tampaknya juga belum dipelajari lebih dalam, tetapi pembacaan ini sebenarnya dapat menjadi arena produksi dalam memvalidasi dan memperkuat dinamika belenggu ‘kekuasaan’ militer. Berbagai peristiwa dari video-video tersebut, juga merupakan ‘jaringan simbolik’, representasi militerisme dalam masyarakat, seperti halnya politik keseharian di bawah rezim baru rasa rezim sebelumnya; memfasilitasi saya untuk mengeksplorasi pengetahuan ini. 


Setidaknya pengetahuan ini sebagai subjek, bagaimana lengger lanang melalui “Egol Ngger!” dapat menunjukkan agensi dalam situasi tertentu, ‘kekuasaan’ yang dilakukannya tidak hanya memaksa saya berpetualang menjelajahi sejumlah literatur, tetapi juga secara simbolis menunjukkan bahwa ‘kekuasaan’ dan kontrol adalah nilai-nilai utama yang diinternalisasi.


Video pembatalan pertunjukan lengger lanang di masa lalu yang dikombinasikan dengan tindakan Wawan dan dua performer lainnya, namun “Egol Ngger!” tetap berlangsung dengan menggelitik dan menerima berbagai tanggapan dan komentar positif dari penonton; hal ini dapat dipahami sebagai reaksi emosional sederhana terhadap ‘kekuasaan’ militer yang terjadi sebelumnya, dan pertunjukan ini merupakan semacam pemberontakan lengger lanang dalam bentuk membebaskan diri dari narasi kekerasan yang telah mengakar dari rezim ke rezim dengan segala metodenya. “Egol Ngger!” meskipun tidak disiapkan sebagai tindakan pemberontakan, melainkan sebagai studi performatif, karya ini juga menunjukkan sejauh mana karakteristik ‘kekuasaan’ Wawan, Kiki, Priyo, dan Setya, serta A. Zulfar Kaloka, yang bertindak sebagai audio & visual art,  memperkuat konsep ego dalam berinteraksi dengan dunia yang lebih luas. Dalam jangka panjang, semacam upaya untuk menghentikan kekuatan militeristik ini; yang terus menavigasi politik keseharian, dapat ditelusuri lebih jauh melampaui beban pertunjukan; kita semua hidup dalam paradigma yang ternoda oleh ilusi kebebasan, yang juga tidak memahami bagaimana memahami kebebasan itu sendiri, di tengah teror yang terus berlanjut, di sisi lain, memainkan aparatur negara banyak hitam dan putih, dan kita semua seperti terdorong tajam ke dalam lapisan kehidupan sosial yang membentuk jaring paradoks dalam kehidupan yang ‘chaos’. 


Pada akhir uraian ngalur ngidul ini, saya didorong untuk mengungkapkan kesadaran individu. Yang akan mengarah pada pembentukan kesadaran kolektif yang besar sebagai arena peristiwa. Kesadaran saya akan pertunjukan ini, meskipun saya juga menyadari bahwa segala sesuatu yang dipresentasikan oleh Wawan menggunakan berbagai metafora, dapat sangat berbeda dengan apa yang dipahami saya; ini sekali lagi merupakan “angkutan akar rumput” yang kemudian saya anggap regresif dan bias ke segala arah.


Sejarah ‘kekuasaan’ yang chaos dari militerisme di lengger lanang, sebenarnya merupakan peluang untuk evolusi, kesinambungan kehidupan, dan perkembangan organic diri kita sendiri. Khususnya dalam memperoleh kemajuan kesadaran atau proyek eksistensial, jika terus mengeksplorasi domain ini berarti menyoroti proses sejarah—tentu saja—‘kekuasaan’. Saya juga menyadari karena tidak memiliki pengaruh besar, hanyalah proletar keparat; ini hanya menjadi tatanan ‘kekuasaan’ melalui ngalur ngidul ini, untuk terus berintegrasi dengan catatan individu lainnya memperluas ‘kekuasaan’ itu sendiri.

Catatan Kaki

[19] Foucault, Michel. 2002. Power/Knowledge: Wacana Kuasa/Pengetahuan. Terjemahan Yudi Santoso. Jakarta: Penerbit Qalam;