Advertisement
![]() |
| Cara ‘bermain-main’ lainnya dalam “Egol Ngger!” (Foto: AWE) |
(ARTIKEL INI ADALAH LANJUTAN DARI “Egol Ngger!”: ‘Merobek’ Seksualitas dalam Lapisan Kekerasan Simbolik)
Dalam konteks performance studies, yang kemudian saya pahami sebagai “angkutan akar rumput,” karya ini mampu memberikan pengetahuan yang berbeda dari banyak pertunjukan sebelumnya—yang bertolak dari lengger lanang, di mana seksualitas tampak tak tergoyahkan. “Ego Ngger!”, saya terpantik pada memori kolektif, literasi, dan studi teori kritis lainnya, yang semuanya saling terkait. Semuanya dimulai dengan pemahaman Foucault bahwa setiap masyarakat menginginkan, membutuhkan, dan menggunakan standar untuk hidup, menulis, berpikir, dan bertindak berdasarkan ‘kekuasaan’ tubuhnya.[19]
Negara itu sendiri mengatur secara lebih luas, dengan tujuan kondisi sosial dan historis masa lalu, yang juga tidak benar-benar memberikan makna digunakan, dilindungi, dan dibebaskan, tetapi lebih tampak dikendalikan dan ditindas. Saya juga memahami bahwa dalam hal ini, istilah kebebasan dan penindasan bersifat relatif, tetapi ‘robekan’ seksualitas yang dihasilkan membawa isu-isu ini ke permukaan melalui perilaku Wawan dalam memahami lengger lanang. ‘Kekuasaan’ militer menjadi menonjol dalam impresi saya, bersamaan dengan banyaknya literatur yang ‘diterima’ dapat mengungkapkan, mempertanyakan, dan membayangkan narasi sejarah masa lalu tentang sistem kerja ‘kebuasan’ militer.
Terutama selama era Orde Baru, yang secara terbuka bersifat subversif, sementara Pasca Orde Baru, seperti yang disebutkan, ‘kekuasaan’ militer sepuluh tahun terakhir ini cukup ‘senyap’, namun ‘mematikan’ dan ‘menakutkan’. Saya langsung membayangkan ‘robekan’ seksualitas ini, di mana seni memainkan peran intelektual dalam praktik artistik militan Wawan dan lainnya. Gerakan intelektual yang dimaksud, seolah-olah menyediakan instrumen analitis, mencerminkan beragam literatur dan narasi sejarah militerisme yang bekerja di negara ini; Lengger lanang sangat mungkin menjadi salah satu dari banyak ‘korban’ seni, akibat dari kebrutalan militerisme, di masa lalu, memungkinkan kita untuk mengidentifikasi kelemahan, kekuatan, dan posisi di mana pengetahuan kita berada.
‘Robekan’ seksualitas dalam lengger lanang juga telah disentuh oleh salah seorang koreografer dari Banyumas, yang telah mengeksplorasi proses indang, mencoba untuk memeriksanya secara sains—saya percaya ini selaras dengan semangat gerakan intelektual, seperti halnya mengoordinasikan aktivitas agen politik keseharian. Ini adalah sistem hubungan yang sangat kompleks yang pada akhirnya membuat kita bertanya-tanya bagaimana, mengingat tidak ada yang dapat sepenuhnya membayangkannya, sistem ini dapat begitu ‘senyap’ dalam distribusinya, mekanismenya, kontrol timbal baliknya, dan penyesuaiannya; di balik semangat perlawanan narasi soreng yang dimasukkan ke dalam lengger lanang; dalam konteks saat ini, karena penari soreng yang juga petani dapat duduk bersama, yang selama ini cenderung dibedakan dan tidak memiliki posisi setara.
Namun, dalam “Egol Ngger!”, penyisipan soreng ke dalam legger lanang tidak memiliki jembatan penghubung ke konteks gerakan intelektual, sehingga pemahaman bahwa seluruh pertunjukan merupakan bagian dari legger lanang muncul jika penonton tidak familiar dengan tari soreng. Jika jembatan ini ingin dihubungkan sebagai gerakan intelektual, maka perlu berakar kuat pada tradisi humanis yang mengelilingi masyarakat lengger lanang dan dunia pertaniannya. Mungkin menggabungkannya dengan studi ekologi, hal itu dapat mengungkapkan bagaimana masyarakat pertanian sangat terhubung dan menjadi bagian dari dunia nyata antara lengger lanang dan soreng.
Dunia yang lebih dekat, realitas yang dihadapi oleh masyarakat pertanian, bukan lagi imajiner, melainkan cerminan dari seni tradisional yang berkembang di sebagian besar masyarakat Jawa Tengah. Investigasi melalui metode spekulatif, dengan merefleksikan lengger lanang ke dalam lanskap pertanian, juga dapat lebih ‘merobek’ seksualitas—yang juga memiliki sejarah yang kuat dengan militerisme. Kelonggaran “angkutan akar rumput” (diinterpretasi dari performance studies) dapat mengungkapkan kemungkinan luas dari apa yang terabaikan atau tidak diketahui dalam sesuatu yang dilakukan, dianggap ‘ngawur,’ tetapi bisa jadi sesuatu yang berharga dalam menafsirkan timbal balik dengan alam secara kreatif, sehingga membuka kemungkinan kreatifnya dan memperluas aksesibilitas bersama.
Beban “Egol Ngger!” hendak dipahami sebagai pertunjukan memang terlalu jelas, sehingga sedikit mencegah keberanian untuk menjelaskan perjumpaan (lengger lanang-soreng) secara eksplisit, yang mungkin terlalu ekstrem dalam pemahaman ini. Saya cukup memahaminya, sebagai gerakan intelektual—ini hanyalah impresi saya tentang memosisikan karya ini sebagai agen penghubung untuk mengungkap ‘kekuasaan’ militeristik, dalam menggali lapisan kekerasan simbolik. Intinya adalah, ke depannya, gerakan intelektual ini memainkan peran mendasar sebagai penyebut komunal, dalam menarasikan ‘rebokan’ seksualitas yang lebih bias di beragam literasi seperti psikoanalisis, populisme sayap kiri, dan lainnya di luar studi queer (yang sudah disinggung pada awal uraian).
Mengarungi Politik Keseharian dalam Lapisan Kekerasan Simbolik
![]() |
| Cara- cara lainnya dalam ‘bermain-main’ di “Egol Ngger!” (Foto: AWE) |






