Membaca Neuropsikoanalisis Praktis dari “Buku Kredit” -->
close
Pojok Seni
12 February 2026, 2/12/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-02-12T01:00:00Z
teaterUlasan

Membaca Neuropsikoanalisis Praktis dari “Buku Kredit”

Advertisement
Layar yang dijadikan area pertunjukan “Buku Kredit” (Foto: AWE)

 Oleh Arung Wardhana Ellhafifie


Kalimat ‘praktis’ di atas, karena saya tidak mempelajari psikoanalisis secara akademis, melainkan belajar dari “kelas” di “luar kelas,” seperti Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) 2025, LTC bersama dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Kementerian Kebudayaan Indonesia, yang berlangsung pada 8-11 Desember 2025, di Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas). 


Secara teoretis, kita tahu bahwa Mark Solms (Profesor yang dikenal dengan temuannya tentang mekanisme otak dalam bermimpi, metode dan teori psikoanalisis dalam ilmu saraf kontemporer) yang memulai dengan meninjau hubungan antara ilmu saraf dan psikoanalisis (“neuropsikoanalisis”) dengan menempatkan penekanan interdisipliner pada fungsi pikiran, bahwa pikiran tidak terdiri dari modul atau kotak statis yang dihubungkan oleh panah, melainkan terdiri dari proses dinamis dan cair, sebuah cara untuk mengeksplorasi dan memahami sebelum kita dapat memahami otak sebagai sesuatu yang memiliki kehendak bebas.[1] Terlepas dari kritik tentang pragmatis dan permasalahannya, saya merasa istilah ini perlu dipahami sebagai reproduksi pengetahuan. Terutama dalam kelas ‘bongkar muat’, dari karya yang ditulis oleh Panca Lintang Dyah Paramitha, yang kemudian dieksplorasi lebih lanjut oleh Jamaludin Latif, yang biasa disapa Jamal. Sedikit mengulang, kelas ‘bongkar muat’ ini; sebagai cara kita untuk mengaktifkan pemikiran kritis yang mendalam (melalui pertanyaan dan pemahaman pengetahuan yang luas) dari sebuah naskah kanon—atau naskah yang banyak dimainkan/dipresentasikan oleh aktor, sambil ‘mematahkan’ kebiasaan lama. 


Saya memahami bahwa neuropsikoanalisis mungkin tidak dipersiapkan Jamal untuk mengintegrasikan disiplin ilmu seni dan non-seni, tetapi teknologi digital telah menjadi disiplin ilmu lainnya yang sejak awal dipersiapkan pada pertunjukan “buku kredit” memiliki dampak pengetahuan lainnya. Jamal tampaknya cukup menyadari wawasan Rebecca Rouse (dosen senior seni media, Universitas Skovde, Swedia), bagaimana kerja teknologi digital dimasukkannya ke dalam teater naratif dengan muatan dramatik, mesti dilibatkan secara penuh untuk ‘keluar’ dari zona yang sebelumnya banyak digunakan.[2] Saya rasa Jamal sudah coba mengupayakan dari kelas ‘bongkar muat’ ini untuk menjadi aktor solo yang inovatif sesuai dengan konteks zaman, bagaimana dirinya memainkan banyak lintasan—performer, aktor, penulis adaptasi, dramaturg, atau kreator, dan lainnya, yang memungkinkan disiplin ilmu lainnya, dalam hal ini neuropsikoanalisis; sejumlah energi dan distribusinya dalam aparatus mental saya,[3] teraktivasi selama keterlibatan penonton untuk menuliskan dari layar hape-nya masing-masing, kemudian otak saraf saya seperti bekerja dengan cepat pada saat seliweran teks yang dikirim oleh beberapa penonton, membawa saya pada pemikiran psikoanalisis. 


Dapat dikatakan bahwa interpretasi ini berlebihan, mungkin ya, tetapi mungkin juga tidak, jika dihadapkan dengan kemungkinan lain seperti dari layar yang dikelola oleh operator—atau dari ponsel penonton yang sebelumnya memindai scan barcode dari gerobak pikul di ruang pertunjukan. Dixon (Profesor di LASALLE College of the Arts dan seniman interdisipliner) mendorong untuk terus mengembangkan hubungan antara teknologi komputer dan wacana budaya,[4] dalam hal ini terkait dengan pinjaman online (pinjol). Dengan demikian, dari banyak tindakan Jamal membawa saya kepada disiplin ilmu ini untuk memungkinkannya memberikan kontribusi yang memadai pada neuropsikoanalisis dalam mengamati aspek dinamis aktivitas otak dalam perubahan keadaan fungsional.


Entah mengapa, nilai persentase yang diminta oleh Jamal, serta kata-kata atau firman yang tertulis di layar, memungkinkan saya untuk mempelajari dinamika saraf yang terkait dengan peristiwa mental pada tingkat milidetik, dengan peningkatan presisi anatomi. Secara tidak langsung, ini berarti bahwa karya ini menjadi metode riset artistik dengan cara lain, untuk mengidentifikasi konstelasi struktur otak kita yang berinteraksi membentuk sistem fungsional dalam teks yang dikirimkan oleh penonton. Terutama penonton yang saya kenal, misalnya kurator/pengarah mini festival ini, secara tidak langsung memberikan komponen fungsional dasar dari psikologi kepribadian keseluruhan, bagaimana jiwa yang bersangkutan tidak stabil dan ‘terganggu’ oleh keadaan, dan bagaimana fungsi kognitif diri juga ‘terganggu’.


Saya garisbawahi, ini hanyalah spekulasi secara praktis melalui neuropsikoanalisis, pengamatan tidak langsung menunjukkan bahwa hubungan antara teknologi digital dan kinerja dapat dieksplorasi melalui proses neurodinamik yang mengubah keadaan psikologis setiap penonton. Bukan tidak mungkin perubahan tersebut dapat terjadi jika teknologi digital diimplementasikan secara lebih serius, memungkinkan stimulasi permukaan kortikal dalam jaringan saraf individu kita. Sementara itu, saya melewatkan sepenuhnya posisi Jamal sebagai performer,  bahwa garis antara akting dan bukan akting sangatlah tipis dilakukannya—bukanlah sesuatu yang menonjol sebagai pengetahuan, karena fokusnya, yaitu melibatkan penonton dalam membahas utang ke dalam digital, yang bisa pada pertunjukan selanjutnya; menggunakan metode neurosains dengan memungkinkan kita untuk mempelajari sifat dinamis pikiran dan mengidentifikasi organisasi saraf dari substruktur bawah sadar kita masing-masing.


Layar kolom firman kramagung yang dibacakan oleh penonton (Foto: AWE)

Yang dapat dieksplorasi lebih lanjut dalam hal ini adalah bagaimana transmisi penonton ke layar dapat memetakan dasar neurologis dari apa yang telah kita pelajari dalam psikoanalisis tentang struktur dan fungsi pikiran, dan bagaimana ilmu saraf digital, atau bahkan berbasis aplikasi, dapat digunakan. Namun, saya tidak memandang keliru tentang pertunjukan itu sendiri, karena pertunjukan tersebut tidak dipersiapkan untuk itu. Jika ini berlanjut—itu pun jika tertarik pada interdisipliner yang lebih luas, bagaimana aplikasi yang tersedia ini dapat mengkorelasikan model psikoanalitik kita tentang pikiran penonton dengan apa yang kita ketahui tentang struktur dan fungsi otak, kita segera dihadapkan pada pertanyaan filosofis tentang bagaimana pikiran dan otak berhubungan—yaitu, dengan “masalah pikiran-tubuh” melalui aplikasi digital. 


Pertanyaan lainnya yang bisa dieksplorasi; Bagaimana aplikasi ini dapat mereduksi pikiran kita menjadi otak melalui layar di dalam ruang pertunjukan? Dan kemudian, yang muncul adalah apakah aplikasi “Buku Kredit”—sebutlah demikian, dapat menjelaskan pikiran? Atau apakah kita hanya mengkorelasikan pikiran dan otak—yang tentu saja dapat menjadi upaya kolaboratif antara pengembang Information Technology (IT) aplikasi, ahli saraf dan psikoanalis, atau pembaca teori kontemporer seperti neuropsikoanalisis?


Mari kita beralih lagi ke wacana digital sembari keluar masuk pada uraian neuropsikoanalisis, untuk membangun perangkat lunak (sistem dan tampilan), menulis teks untuk sistem, dan melakukan uji coba, kemudian menerbitkannya, sebagai upaya untuk mengaburkan, membatalkan, dan mengeluarkan dari teater naratif. Bagi saya, meletakkan digital sebagai medan kerja, dapat menjauh dari hal-hal merumitkan seperti klaim diri, dan memungkinkan pengambilan terbuka, menjauhkan diri dari dikotomi. Dalam hal ini, “wilayah perbatasan digital,” sedang direbut oleh Jamal, sebagaimana digunakan oleh Johan Fornäs (profesor di Universitas Soderton, Swedia), yang sering dikonseptualisasikan dalam biner yang berbeda, atau dalam kaitannya dengan apa yang disebut Peter Lunenfeld (profesor dan Wakil Ketua Departemen Seni Desain Media di UCLA, California, Amerika Serikat) sebagai dialektika digital [5]


Saya membacanya Jamal memiliki kesadaran tentang perbatasan dalam teori digital, yang tidak hanya terkait dengan garis pembagian dan demarkasi—cenderung dipraktikkan selama ini, tetapi juga dengan bentuk-bentuk ruang dan wilayah baru seperti peggunaan aplikasi sangat mungkin kita bisa mempelajari epifenomena tentang otak dan psikoanalisisnya. Solms juga menjelaskan tentang konseptualisasi seseorang mengenai hubungan antara pikiran dan otak, yang dirujuk dari Freud [6], dimulai dari pikiran adalah tidak sadar; tentang keberadaan subjektif kita, lalu dengan sendirinya kita kadang melihat ke dalam diri, justru bukanlah pikiran itu sendiri, melainkan dibentuk oleh kesadaran fenomenal kita melalui layar di depan, yang memberikan representasi tidak langsung.[7] Nah, ini terjadi selama saya duduk di tepi dinding ruang, teks-teks ini memberikan gangguan aparatus mental dan bekerja dalam persepsi kesadaaran.


Seolah-olah kiriman teks itu sedang memberikan persepsi sadar tentang dirinya masing-masing—terutama impresi kurator festival ini seakan memberitahu bahwa situasinya sedang tertekan (sekalipun saya nantinya dibilang sok tahu), sebab dengan permainan firman kramagung dan memberikan nilai tersebut, saya dapat menyimpulkan sifat si pengirim pesan ke layar dari pengamatan sadar ini dan dengan demikian “mendorong kembali” batas-batas kesadaran, yang merupakan tujuan dari metode psikoanalisis.[8] Pikiran ini pun juga tidak sepenuhnya diketahui, melainkan layar di depan semacam model psikologi kognitif dan ilmu saraf yang lebih sederhana, kalau lebih jauh memproyeksikan aplikasinya. Di mana aplikasi ini akan membongkar batasan-batasan demarkasi yang dimaksud di atas untuk mendapatkan hasil permainan otak yang lebih aktif; selaras dengan pemahaman  Kant adalah bahwa segala sesuatu di dunia seperti yang kita ketahui, termasuk isi kesadaran eksternal kita, hanyalah representasi tidak langsung dari realitas[9]


Gabriella Giannachi (profesor, Universitas Exeter, Inggris) berpendapat bahwa aplikasi yang lebih sistematis memberikan pemahaman kita sebagai penonton yang menggunakan peralatan penginderaan/pengaktifan komputer atau teknik telematika; dan kerka performatif melalui digitalisasi.[10] Dixon juga berpendapat bahwa aktivitas yang diakses melalui layar komputer, termasuk pertunjukan teater siber, MUD, MOO, dan dunia virtual, permainan komputer, CD-ROM, dan karya seni jaringan performatif, mengembangkan penglihatan yang lebih baik—misalnya, penglihatan binokular, lensa fokus yang dapat disesuaikan[11], mendorong segala macam ilusi visual, serta membangkitkan halusinasi dan mimpi psikotik. Kadangkala dalam pertunjukan itu, otak saya seketika ‘bermain-main’ dengan persepsi tentang keadaan batin, dan kemudian saya membuat kesimpulan tentang sifat teman-teman yang suka ‘bermain-main’ pinjol; dapat menentukan persepsi apa pun selama pertunjukan tersebut.


Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam layar “Buku Kredit” (Foto: AWE)

Gambar dari pertanyaan diatas, pada konteks neuropsikoanalisis; membuat saya bertanya terhadap situasi dan kondisi saat ini, seketika perasaan sedih, lapar, sakit akibat hutang, bahagia setelah mendapatkan utangan, telah membawa pada sebuah kesadaran. Ruang itu sekaligus membentuk konsepsi adanya persepsi penonton, yang bisa dilihat dari permukaannya. Sementara Jamal, terus memainkan bolak balik di antara pengalamannya sendiri—antara akting dan bukan akting, sedang membentuk model realitas berbeda melalui pertunjukan, semacam sedang memengaruhi perjumpaan dramatic dan postdramatic,[12] dengan gayanya sendiri. 

Pikiran itu sedang memainkan perannya sendiri,  tak peduli lagi dengan tokoh yang direpresentasikan Jamal, sudah terpisah dari persepsi otak saya. Saya hanya menunggu respons penonton melalui hape-nya sendiri, bagaimana mereka sedang memainkan “aparatus mental,” masing-masing—yang bisa dimanfaatkan  sepenuhnya untuk mempersepsikan diri. Aplikasi ini sangat memungkinkan dalam jaringan yang lebih canggih; kita bisa melihat otak: basah menggelikan, seperti agar-agar licin tapi mempesona, berlobus menggelikan, dan tertanam di dalam jaringan tubuh lainnya. 

Jika saya mengamatinya dengan permukaan persepsi dari layar hasil aplikasi tersebut yang diarahkan ke dalam diri saya, secara introspektif, saya mulai mengamati keadaan mental para partisipan; yang kadang menjengkelkan dan menyebalkan. Sudah sering kali saya sebutkan pengarah mini festival ini, dalam keterlibatannya pada “Buku Kredit”—kemungkinan besar saya bisa menebak teks-teks yang muncul dari dalam dirinya, dan secara alami ingin menggunakan subjektif perspektif, dengan menggunakan studi psikonalisis, baik yang dipersepsikan secara eksternal maupun internal. Pertanyaan yang muncul; Mengapa kita cenderung ‘bermain-main’ dalam partisipasinya, atau kebingungan atas apa yang hendak dituliskan.

Dari subjektivitas inilah, secara tidak sadar kita sedang mengenali tentang sifat aparatus mental yang tidak pernah dapat dilihat dengan leluasa, seberapa hebat kemampuan dan keterampilan kita selama ini. Seberapa banyak kejaran dan capaian yang sudah ditorehkan, dari yang terungkap di layar itu sebagiannya merepresentasi bagian mendasar dari pikiran, dan dapat memberikan informasi kepada saya, tentang keruwetan dan kebingungan yang mendalam. Sekali lagi,  ini merupakan kerja-kerja praktis sekaligus tak mempedulikan perasaan dirinya; paling tidak hanya menyudutkan saya sebagai orang yang sok tahu—saya hanya tersenyum kecil menanggapinya.

Terkait respons semacam ini, saya tidak langsung mudah menuliskan dan mengirimkannya ke aplikasi, karena sedari awal saya menyadari ini sehubungan dengan indra internal, dengan mempelajari aparatus mental dalam perwujudan fisik (otak)—tentu saja tidak kalah pentingnya. Saya hanya terdiam sejenak mempertimbangkannya, atas posisi digital yang ditempatkan sebagai medan pertunjukan, sekaligus difungsikan sebagai sumber data yang berharga bagi setiap individu.[13] Selain itu, saya harus mengingatkan diri sendiri bahwa sumber data itu, muncul dari ketidaksadaran—hanya hasrat untuk berpartisipasi ke dalam pertunjukan, yang mungkin ini terkait dengan hak otonom penonton dalam pertunjukan partisipatoris.

Hasrat terdiam di tengah banyaknya penonton yang sibuk mengetik di hape, aplikasi ini pun dapat lihat pula hampir serupa dengan banyak penggunakan virtual lainnya sebagai permainan, yang sifatnya satu persepsi atau pemahaman bahwa virtual tidak hanya meminjam dari yang nyata, tetapi juga mengkanibalkan, sehingga virtual menggantikan, atau bahkan menggantikan dirinya sendiri untuk, yang asli. Sama halnya dengan apa yang saya lakukan saat ini; saya coba memainkan bahasa, saling – potong –tempel dari banyak datanya Giannachi dalam ingatan saya yang terus berseliweran. Sehingga teks-teks ini terkolektivitas dalam satu kerumitan bahasa. berhubungan dengan banyak karakteristik lingkungan virtual. Pertama, ia menawarkan kemungkinan dari pengalaman yang imersif. Kedua, bermain dengan persepsi begitu bahwa, seperti yang ditunjukkan oleh satu karya, di mana penonton tidak yakin tentang derajatnya tanggap lingkungan, sehingga menciptakan beberapa zona fluiditas antara yang nyata dan virtual. Ketiga, potongan itu teatrikal yang terutama mewakili 'tempat untuk menonton', membuat sifat-sifat otak fisik yang lebih stabil lebih sesuai dengan persyaratan metode ilmiah. Meskipun demikian, kami menegaskan kembali bahwa jika seseorang mengkorelasikan pengalaman subjektif dengan“perangkat lunak” neurobiologi, kita berada dalam posisi yang jauh lebih kuat untuk mengembangkan model yang akurat dari aparatus mental itu sendiri. 

“Buku Kredit” dalam konteks psikoanalisis—bagaimana nantinya dari tumpukan pinjol itu, kita akan mendapat pengetahuan yang mengalir dari korelasi neuropsikoanalitik, secara praktik saya santai saja dengan metode dan teori ilmu saraf kognitif yang tersedia, beda dengan ahli saraf yang memang ahli saraf. Bukan berarti saya hendak sembarangan ke sana, tetapi sangat memungkinkan ke depannya kita bisa berdampingan. Sayangnya masyarakat teater sering keslutian berakrab ria dengan IT, maupun para ahli psikoanalisis maupun neurorasains, apalagi pembaca neruropskioanalsiis, tetapi ini perlu di coba, karena bagi Solms, otak juga merupakan makhluk hidup, mampu mengalami dirinya sendiri, dengan perasaan emosional, kehendak yang disengaja,dan rasa agensi yang spontan.[14] 

Solms dan Turnbull berpendapat bahwa “mekanisme” otak ini didorong dan dimotivasi secara endogen, bahwa mekanisme tersebut muncul dari sifat yang terwujud dari subjek, yang secara substansial memengaruhi cara kerja alat tersebut.[15] Mungkin, dalam lima tahun terakhir mempelajari hal ini, aplikasi tersebut telah sedikit menunjukkan bagaimana otak bekerja; meskipun ini tidak selalu terjadi. Dari layar di atas, order untuk menulis rupiah, yang kemudian sebagian penonton mengubah rupiah menjadi kalimat lainnya, secara tidak langsung, dari pemahaman saya, aspek kehidupan mental dipertaruhkan. 

Bermain dengan otak, dalam beberapa hal, merupakan tantangan yang lebih kompleks. Mengembangkan individu kita sendiri menghadapi kesulitan serupa (dalam hal sarana, motif, dan peluang) di luar kurangnya neuropsikologi secara dinamis yang berkembang dengan baik. Bagi saya, pembacaan praktis ini lebih provokatif, mendorong kita untuk memeriksa banyak hal; pada saat yang sama, hal ini mencegah stagnasi dalam penggunaan aplikasi di masa depan. Ya, tema-temanya tetap kontekstual dan konseptual, tetapi itu tidak berarti penggunaannya akan menjadi monoton. 

Oleh karena itu, membaca neuropsikoanalisis, tentu saja, melibatkan dua disiplin ilmu lain, di luar teknologi dan teater, tetapi juga dalam domain neuropsikoanalisis, inti dari hal ini yaitu dorongan naluriah. Dalam konteks ini, diperlukan studi ilmiah yang lebih luas, meskipun saya tidak yakin apakah hal itu layak dilakukan, karena disiplin ilmu ini cukup kompleks untuk diakses. Lebih lanjut, ini juga membahas kehidupan mental subjektif pasien (neurologis) dengan cara yang sama persis seperti psikoanalisis secara tradisional mengumpulkan data pada pasien psikiatri (atau “normal”)—semakin membuat riset ini memperluas spektrumnya. 


Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam layar “Buku Kredit” (Foto: AWE)


Ada kemungkinan juga bahwa, selama setahun terakhir, interaksi saya dengan sepuluh klien dengan skizofrenia, seperti yang akan saya sebut, mungkin telah menghasilkan pengamatan langsung tentang korelasi saraf dari konsep metapsikologis, yang dapat mencerminkan banyak karya Jamal. Sekali lagi, saya ingin menekankan bahwa “Buku Kredit” bukanlah sepenuhnya neuropsikoanalisis, karena saya percaya pertunjukan ini tidak melibatkan konsep dan teori metapsikologis kita tentang struktur dan fungsi pikiran sebagaimana dioperasionalkan dalam pengaturan psikoanalisis klinis. Pertunjukan ini didasarkan pada premis bahwa pinjol cukup rumit, bukan cara ideal untuk menyelesaikan masalah. 

Saya tidak mengada-ada, dan tidak apa-apa jika Anda ingin mengatakan demikian, tetapi begitulah yang saya rasakan—pengamatan langsung terhadap kehidupan subjektif otak dalam pengaturan yang cukup naturalistik. Mungkin reaksi berlebihan ini juga terkait dengan kecemasan saya tentang kehidupan yang biasa-biasa saja, sehingga kecemasan dalam “Buku Kredit” telah membentuk lingkungan dan penonton, antara virtual dan nyata, antara dunia sebagaimana adanya dan dunia sebagaimana seharusnya. Berbagai pengalaman muncul, seperti seorang teman dekat yang dikejar langsung oleh debt collector, mengejar dan “kucing-kucingan” di Gelanggang Remaja Jakarta Timur lima tahun lalu. 

Kepanikan muncul karena debt collector menghadapi saya dengan intimidasi, karena nomor tambahan yang digunakan teman adalah milik saya, menjadikan kerja digital Jamal terpantul ke dalam otak. Rouse dan Barba menekankan bahwa pemahaman tentang media digital telah menggeser makna istilah media ke arah medium artistik, yang mengacu pada materi seorang seniman melalui seluruh indra.[16] Sementara Benford dan Giannachi menyatakan bahwa seniman interdisiplin yang menggunakan internet sebagai basis utamanya; telah bekerja di ranah digital, dengan sendirinya telah terlibat dengan kemungkinan metakalimat dan metateks, sementara yang lain telah melihat potensi untuk bereksperimen dengan antarmuka itu sendiri,[17] dan hal yang wajar kalau merujuk pernyataan di atas sebagian dari karya digital dapat mengamati pola fenomena psikologis yang sama sekali tidak bersifat modular dan sama sekali tidak dapat didefinisikan secara akurat.

Kemungkinan dalam ketidakakuratan yang dimaksud, hanya bertujuan untuk “mengganggu” antarmuka dalam kerja interdisipliner dan dengan demikian menantang Jama tidak hanya hubungan antara penonton dan karya seni tetapi juga asumsi seputar situs seni internet dengan aplikasi tertentu. Realitas yang terjadi, salah satu komunitas teater juga pernah menggunakan aplikasi sebagai basis—hanya untuk mengikuti tren yang ada, sehingga pengembangannya dilakukan secara sembarangan, membuat hubungan antara teater dan digital menghilang tanpa penjelasan lebih lanjut. Berbeda dengan hasrat yang lebih mendalam dalam memperluas interdisipliner berbasis digital, seperti yang dicontohkan Giannachi, melalui karya Jeffrey Shaw, “The Legible City (1988–91),”[18] sebuah instalasi interaktif di mana penonton, mengendarai sepeda tetap, dapat bergerak melalui kota-kota virtual New York, Amsterdam, dan Karlsruhe. 

Giannachi menyebutkan melalui karya tersebut, arsitektur kota-kota tersebut muncul sebagai huruf dan teks, dan melalui gerakan bersepeda yang nyata, di mana ‘teks kota’ ditembus lebih jauh lagi, jika kita melihatnya dari disiplin arsitektur, yang sedang coba dipahami dan risetnya, yang merasa baru-baru ini tertarik pada bidang ini. Sebagaimana saya, yang telah bekerja dengan sepuluh pasien skizofrenia selama setahun ini, saya cukup antusias untuk terlibat dalam pekerjaan yang merangsang otak, merefleksikan anatomi otak dan apa yang kita ketahui tentang organisasi fungsionalnya—termasuk bagaimana rasanya meriset otak di tengah kepanikan ketika data nomor telepon kita bocor, dikejar oleh nomor greater/ancaman yang lebih besar setiap saat, membuat kita paranoid dan cemas tentang situasi tertentu, bagian dari pekerjaan digital. Pada dasarnya, lingkungan interaktif seperti “Buku Kredit” menawarkan potensi untuk memahami meta-arsitektur dan labirin, karena kekuatan interaksi utama jelas berputar di sekitar keadaan emosional.

Pada kesempatan lain, saya sebenarnya ingin memaparkan tipe otak yang saya miliki, mengapa saya tidak pintar, tidak seperti orang lain yang langsung mengerti dengan mudah, dengan segala macam pertanyaan yang diajukan, tetapi mengapa saya lambat merespons. Menurut saya, kesadaran ini merupakan bagian dari proses kognitif yang terlibat dalam menjadi tidak sadar, dengan intervensi psikoanalisis untuk membalikkan proses dinamis yang dimaksud dan membawa kognisi yang ditekan kembali ke kesadaran. Hal ini pun menjadi pengamatan psikoanalisis dalam serangkaian kecil, yang kemudian di bagian selanjutnya, lebih banyak tentang mengutip bagaimana landasan teoretis neuropsikoanalisis, yang terkait dengan teknologi digital pada ”Buku Kredit”—yang sekali lagi dapat keluar-masuk/muncul dan menghilang, bolak-balik seperti bagian di atas.

Landasan Teoretis Neuropsikoanalisis dalam Teknologi Digital “Buku Kredit”


Salah satu ekspresi Jamal yang paling memikat di antara lainnya (Foto: AWE)

Landasan teoretis yang dirujuk di sini, sebenarnya, juga merujuk pada tulisan Solms di bagian sebelumnya, tetapi di sini lebih merupakan penjelasan lain pada Turnbull—yang kita ketahui lebih banyak menulis bersama Somls, dan praktis bagi saya sendiri melihat “Buku Kredit.” Dalam konteks performance studies, yang disebut saya “angkutan akar rumput” ini juga menyangkut bagaimana psikologi individu saya, saat menonton pertunjukan Jamal, terhubung dengan otak saya, mengingat semua jenis ingatan yang terkait dengan pinjol. Setelah memasuki ruang pertunjukan, yang langsung terlintas dalam pikiran adalah layar, gerobak pikul, dan jamban—seolah-olah berada di sebuah kampung saya, yang terpisah dari rumah.

Firman Kramagung dimulai dengan Jamal di sela-sela akting, dan bukan akting yang saya sebutkan di atas. Elemen psikologis dasar neurosis yang terlitas pertama kali adalah bagaimana, selama pertunjukan, saya mencoba mengatasi aparatus mental panik yang diminta oleh layak untuk dilakukan oleh setiap penonton. Saya, mungkin di luar penjelasan sebelumnya, kurang percaya diri dan harga diri yang lebih sehat untuk secara aktif berpartisipasi dalam menilai atau menuliskan rupiah dalam eksplorasi utang yang sedang dibahas. 

Otak saya tampaknya dengan sendiri melihat dunia metaverse; Dasarnya adalah hubungan digital dengan pertunjukan seperti cyborg, 3D, hologram, robot, VR (realitas virtual), avatar, dan praktik kerja alien, atau juga memanfaatkan artefak digital—yang dibayangkan dalam permainan dengan utang. Saya juga teringat pada praktiknya holografis Martnius Miroto (1959-2021)[19], dengan membayangkannya cara utang diperdagangkan di metaverse, seperti halnya dalam budaya siber secara umum, telah disamakan dengan pasien kecanduan utang yang memiliki gangguan proses kognitif, memungkinkan representasi diri yang akurat dan tepat. Dalam kondisi semacam ini, berpeluang memunculkannya neuropsikoanalisis; di mana sistem pengaturan emosi yang dimediasi oleh konveksitas hemisfer kanan yang bermasalah, sehingga mengganggu kemampuan mereka untuk menoleransi pengaruh negatif yang intens [20]

Temuan dari gangguan yang dialami otak—tentu saja tidak semua mengalaminya (mungkin juga saya satu-satunya), dapat dilihat sebagai konfirmasi hubungan antara representasi spasial realistis (batas diri/objek) dan pematangan hubungan tubuh, layar, dan teknologi digital. Sekalipun saya yang mengalaminya (sebutlah demikian), tetapi saya rasa semua penonton yang terlibat juga menunjukkan korelasi saraf mereka masing-masing, dengan apa yang disebut psikoanalisis sebagai representasi “objek utuh”, yang menurut Turnbull dalam tulisan yang sama, sebagai fondasi metapsikologis dari perasaan terhadap objek yang sesungguhny—di mana saya kira digitalisasi dari aplikasi ini yang mesti ditongkatkan. Pembacaan ini akibat hubungan “Buku Kredit” dengan neurologi perilaku dalam memperoleh ‘gangguan’, yang nantinya ke depan dapat memperluas ide/gagasan yang dihasilkan dalam neuropsikoanalisis di luar cakupan kita sendiri, atau secara lebih serius menindaklanjuti pengamatan ini. 

Sebagai reaksi dari pertunjukan “Buku Kredit” ini, perspektif neuropsikoanalisis cara memasukkan pengetahuan teoretis ke dalam konseptualisasi, melalui pemikiran Solms dan Turnbull, bagaimana mennguraikan pengaruh partisipasi penonton secara psikoanalisis terhadap ilmu saraf—yang sedang dipelajari saya untuk ditingkatkan. Dalam hati kecil saya: “Oh, bisa juga ya, pertunjukan membawa pada pengamatan psikoanalisis tentang bagaimana pikiran diubah oleh ganggan pada berbagai bagian otak saya, dan rasanya bisa lebih dalam untuk terus mempelajari tentang bagaimana aparatus mental melalui ingatan pinjol.” Sebagaimana Turnbull et al. memahami bahwa dalam psikoanalisis, segenap pengetahuannya dimanifestasikan dalam anatomi dan fisiologi, untuk memberikan apa yang dapat disebut sebagai perspektif “fisik” baru dalam metapsikologi [21].

Dalam hal ini, kalau secara tidak langsung, sebagai pembaca merupakan psikoanalisis secara praktis, terlepas dari kata semena-mena, dari sekumpulan kiriman data penonton ke hadapan layar, apa yang sekiranya berlangsung keadaan “neuropsikoanalisis” satu persatu, khususnya pengarah festival ini—yang terlihat antusias menyaksikannya. Secara tidak sadar, saya hanya melihat kepala penonton satu persatu, dengan membayangkan variabel neurologis (cedera otak, pemeriksaan farmakologis, stimulasi otak dalam, sumsum tulang belakang, dll.); dengan di antaranya mengingat ulang hasil gambar otak saya dari medis kala itu—kini hendak memeriksa sumsum tulang belakang saya yang mengalami cedera kurang lebih setahun, yang mana kali ini melalui pertunjukan aplikasi dalam bahasan pinjol, saya pastikan hanya bergantung pada imajinasi spekulatif, transposisi, dan bualan belaka. Kesadaran bualan ini, hanya bisa muncul dari seorang yang bermimpi jadi psikoanalis untuk membaca tentang perkembangan terbaru dalam ilmu saraf—yang mana sebelumnya pernah berteman dekat dengan seseorang yang menempuh akademis tersebut.

Menurut Solms dan Turnbull, neuropsikoanalisis jauh lebih baik dikonseptualisasikan sebagai jembatan antara seluruh psikoanalisis dan ilmu saraf. Atau, dapat digambarkan sebagai upaya untuk mengintegrasikan psikoanalisis ke dalam ilmu saraf, sebagai bagian terintegrasinya dengan ilmu saraf—yang mempelajari aparatus mental dari perspektif subjektif.[22] Perspektif subjektif ini ditentukan oleh masing-masing individunya, jadi saya cukup beralasan, saat “Buku Kredit” dipresentasikan berbasis aplikasi daring—bisa langsung menunjuk pinjol, yang pada dasarnya merupakan pendahulu platform pertunjukan dengan menyertakan seluruh identitas sebelum transferan masuk, telah memungkinkan kita untuk melihat hal ini lebih dekat sejak awal kemunculannya. Kalau mau lebih jauh praktik “Buku Kredit” justru bisa digunakan dengan ‘mengacak-acak’ aplikasi yang mapan dengan membuat aplikasi tandingan yang lebih canggih lagi, yang sudah disinggung di atas, dengan dilengkapi layar yang dipasang di kepala (HMD) yang transparan secara optik, masing-masing dilengkapi dengan perangkat sensor bertenaga baterai sendiri masing-masing penonton—membuat neuropsikonalisis dipraktikkan lebih jauh.

Solms dan Turnbull juga menjelaskan: Neuropsikoanalisis (atau ilmu saraf secara umum) bukanlah jalur terakhir untuk psikoanalisis, dengan melihat ilmuwan saraf saat ini melihat psikoanalisis untuk pengamatan atas teori-teori yang terus berkembang,[23] dan teater juga bisa lebih menjangkau hal demikian. Bagaimana sekiranya “Buku Kredit” itu, merupakan hasil eksplorasi neuropsikoanalisis yang tidak hanya berbasis literatur semata, laboratorium, maupun rak perpustakaan intelektual, tetapi lebih kepada praktik empiris—yang bisa merujuk pada sejumlah individu yang terkena pinjol, yang mengalami gangguan terhadap sarafnya. Misalnya cedera tulang belakang, gangguan saraf tepi, penyakit saraf, dan lainnya, yang makin bersemangat bagaimana sekiranya saraf tulang belakang saya ini hendak diperiksa, ke dalam pertunjukan, sebagai interdisipliner di mana perolehan pengetahuan bersifat beragam arah.

Otak saya yang terganggu—dalam membayangkan “Buku Kredit” memiliki perangkat sensor, yang dapat langsung menavigasi narasi dan berinteraksi dengan gambar yang ditampilkan pada HMD lebih luas, dilengkapi dengan semua berbagai perangkatnya, seperti kabel HMD yang menghubungkan perangkat-perangkat ini di dunia virtual. Sifat kompleks teknologi digital ini diproduksi untuk tujuan mencapai citra digital reflektif dalam bahasan pinjol, berpotensi menjadi layar panorama multi-level untuk mengelilingi penonton dengan pengaturan CGI animasi untuk mensimulasikan perasaan melayang bagi mata penonton tentang tragisnya pinjol. Ragam arah ini teater semacam fasilitator untuk lintas disiplin, teknologi digital respons penyelidikan antara dunia digital dan pertunjukan ibarat masuk ke SecondLife atau avatar, psikoanalisis memberi informasi berharga kepada ilmu saraf, dan sebaliknya, dan yang mempertahankan rasa hormat yang mendalam terhadap perspektif subjektif yang menjadi ciri psikoanalisis, sehingga hal ini bukanlah sebuah aliran—begitu juga dengan neuropsikoanalsisis, juga bukan aliran, dan “Buku Kredit” ini pun memberikan peluang yang luas atas hubungan beraneka ragam yang saling berkontribusi di bidangnya; bukan lagi kita sebagai kreator teater hanya membicarakan tentang “kegilaan”, kejeniusan, penderitaan, dan segala yang rahasia di baliknya, sepertinya hanya ‘omong kosong,’ bahwa Solms dan Turnbull jauh lebih seniman daripada Jamal, kurator mini festival ini, apalagi saya, yang hanya individu dengan setumpuk cedera otak dan saraf.

Catatan Kaki
  1. Solms, Mark. 2015. The Feeling Brain Selected Papers on Neuropsychoanalysis. London and New York: Routledge.
  2. Rouse, Rebecca. 2013. A new dramaturgy for digital technology in Narrative Theater. A dissertation presented to the academic faculty. Georgia: Georgia Institute of Technology.
  3. Solms, Mark, and  Turnbull, Oliver H.  2011. “What Is Neuropsychoanalysis?” The International Neuropsychoanalysis Society, http://www.neuropsa.org.
  4. Dixon, Steve. 2007. Digital Performance A History of New Media in Theater, Dance, Performance Art, and Installation. London: The MIT Press.
  5. Hafifi, Hoirul. 2021. “Ekosistem Teater, Dramaturgi Digital, dan Kolektivitas.” Makalah.
  6. Freud, Sigmund. (1950 [1895]). “Project for a scientific psychology.” Standard Edition, 1: 175.
  7. Solms, Mark. 1997b. The Neuropsychology of Dreams. Mawah, NJ: Lawrence Erlbaum.
  8. Solms, Mark. 1997a. “What is consciousness? Journal of the American Psychoanalytic Association,” 45: 681–703.
  9. Solms, Mark. 2000. “Dreaming and REM sleep are controlled by different brain mechanisms.” Behavioral and Brain Sciences, 23: 843–850
  10. Giannachi, Gabriella. 2004. Virtual Theatres an Introduction. Diterjemahkan dari bahasa Prancis oleh Mary Caroline Richards. London dan New York: Routledge Francis and Group.
  11. Natalia, Wulan Destian, dan Hafifi, Hoirul. 2022. “Dunia Metaverse seperti “Dunia Parodi” dalam Hubungan Pelaku Teknologi Digital dengan Platform-platform Pertunjukan.” Makalah.
  12. https://www.pojokseni.com/2026/01/kala-tiada-teater-asa-dalam-menatap.html diakses terakhir kali pada tanggal 31 Januari 2026.
  13. Solms, Mark, and Turnbull, Oliver H. 2002. The Brain and the Inner World: An Introduction to the Neuroscience of Subjective Experience. New York: Other Press
  14. Solms, Mark. 1998. “Before and after Freud’s “Project.” In: Neuroscienceof the Mind on the Centennial of Freud’s Project for a Scientific Psychology.” Ed. R. Bilder & F. LeFever. New York: The New York Academy of Sciences. (Annals of the New York Academy of Sciences, 843: 1–10.)
  15. Turnbull, Oliver H., and Solms, Mark. 2007. “Awareness, desire, and false beliefs: Freud in the light of modern neuropsychology.” Cortex, 43: 1083–1090.
  16. Rouse, Rebecca, and Barba, Evan. 2017. “Design for emerging media: how MR designers think about storytelling, process, and defining the field.” International Conference on Interactive Digital Storytelling, p. 245-258.
  17. Benford, Steve, and Giannachi, Gabriella. 2011. “Performing mixed reality.” MIT press.
  18. https://www.youtube.com/watch?v=RFNRLIfbSNI, diakses terakhir kali pada tanggal 31 Januari 2026.
  19. https://www.youtube.com/watch?v=6cv04lQqP3E, Teleholographic Reality Dance Performance "Body in Between" by Martinus Miroto (2014), diakses terakhir kali 31 Januari 2026.
  20. Turnbull, Oliver H. 2001. “The neuropsychology that would have interested Freud most. Neuropsychoanalysis,” 3 (1): 33–38.
  21. Turnbull, Olver H., Jones, Karen, & Reed-Screen, Judith. 2002. “Implicit awareness of deficit in anosognosia: An emotion-based account of denial of deficit.” Neuropsychoanalysis, 4 (1): 69–86.
  22. Solms, Mark, and Turnbull, Oliver H. 2002. The Brain and the Inner World: An Introduction to the Neuroscience of Subjective Experience. New York: Other Press.
  23. Ibid., Solms, Mark, and Turnbull. 2011.