Advertisement
![]() |
| Pertunjukan End Game yang disutradarai György Kurtág. |
Oleh: Adipatilawe
(Sutradara Teater Jiwa Jakarta)
Dramaturgi adalah konsep penting dalam teater, sedangkan dramaturg adalah peran yang mengelolanya. Mari kita urai perlahan fungsi dan perannya di teater kontemporer.
Apa Itu Dramaturgi?
Dramaturgi adalah cara kerja atau sistem berpikir yang mengatur bagaimana sebuah peristiwa dramatik disusun, ditafsirkan, dan dipresentasikan kepada penonton. Dalam konteks teater, dramaturgi tidak hanya berbicara tentang alur cerita, tetapi juga tentang struktur makna, relasi antar-adegan, dan bagaimana sebuah pertunjukan membangun pengalaman estetis.
Secara etimologis, kata dramaturgi berasal dari bahasa Yunani: drama (tindakan atau peristiwa) dan ergon (kerja). Dengan demikian, dramaturgi dapat dipahami sebagai “kerja atas tindakan” yakni proses mengolah peristiwa menjadi struktur yang memiliki makna.
Sejarah Singkat Konsep Dramaturgi
Gagasan tentang struktur dramatik sebenarnya sudah dibahas sejak Aristoteles dalam Poetika. Ia menekankan pentingnya plot (mythos) sebagai inti tragedi. Meskipun istilah dramaturgi belum digunakan secara eksplisit, pemikirannya menjadi fondasi bagi cara memahami struktur drama.
Istilah “dramaturg” sebagai profesi mulai dikenal pada abad ke-18 melalui Gotthold Ephraim Lessing di Teater Nasional Hamburg. Lessing berperan sebagai pengamat, penafsir, sekaligus pengkritik pertunjukan. Ia tidak menyutradarai, tetapi memastikan bahwa produksi memiliki dasar konseptual yang kuat.
Memasuki abad ke-20, konsep dramaturgi berkembang pesat. Bertolt Brecht, misalnya, merumuskan dramaturgi epik yang berbeda dari dramaturgi Aristotelian. Ia menolak ilusi panggung yang total dan justru menekankan jarak kritis antara penonton dan pertunjukan.
Sejak saat itu, dramaturgi tidak lagi sekadar soal alur, tetapi juga soal ideologi dan cara pandang terhadap realitas.
Apa Itu Dramaturg?
Di tengah gemerlap lampu sorot dan tepuk tangan penonton, ada satu sosok yang kerap luput disebut dalam credit title: dramaturg. Ia tidak selalu berdiri di panggung, tidak pula selalu duduk di kursi sutradara. Namun tanpa kehadirannya, pertunjukan bisa kehilangan arah, konteks, bahkan daya gugah. Dramaturg adalah otak sunyi yang merawat nalar di balik ledakan emosi panggung.
Dalam lanskap teater Indonesia hari ini yang kian beragam dari teater realis, teater tubuh, hingga pertunjukan lintas disiplin, peran dramaturg menjadi semakin penting. Ia bukan sekadar “pemberi catatan naskah”, melainkan penghubung antara teks, konteks, dan tafsir artistik.
Bertolt Brecht pernah menegaskan, “ Art is not a mirror held up to reality, but a hammer with which to shape it.” Seni bukan cermin yang memantulkan realitas, melainkan palu untuk membentuknya. Dalam semangat itu, dramaturg bekerja memastikan bahwa panggung tidak hanya memantulkan kehidupan, tetapi juga mengajukan sikap terhadapnya.
Dalam praktik modern, tugas dramaturg dapat meliputi:
- Analisis dan interpretasi naskah
- Riset konteks sosial, budaya, dan sejarah
- Diskusi konseptual dengan sutradara
- Menjaga konsistensi struktur pertunjukan
- Membantu penyusunan ulang materi dalam teater non-linear
Dengan kata lain, dramaturg adalah “penjaga struktur makna”.
Baca juga: Sering Tertukar, Apa Beda Seni Modern dan Seni Kontemporer?
Apa Fungsi Dramaturgi dalam Produksi Teater?
Dalam praktik teater, dramaturgi memiliki beberapa fungsi penting.
Pertama, membaca dan menafsir naskah. Dramaturgi membantu menemukan struktur konflik, relasi karakter, dan gagasan utama yang ingin disampaikan.
Kedua, membangun konteks. Sebuah naskah tidak lahir dalam ruang hampa. Dramaturgi membantu mengaitkan teks dengan kondisi sosial, politik, dan budaya yang melingkupinya.
Ketiga, menjadi jembatan konseptual antara penulis, sutradara, dan aktor. Dalam beberapa produksi, dramaturg berperan sebagai “penjaga makna” agar tafsir pertunjukan tetap konsisten.
Keempat, menyusun ulang material. Dalam teater kontemporer, tidak semua pertunjukan berbasis naskah linear. Dramaturgi bisa bekerja pada tubuh, ruang, cahaya, bahkan keheningan.
Dengan kata lain, dramaturgi bukan jabatan administratif, melainkan cara berpikir struktural.
Dramaturgi dalam Teater Kontemporer
Jika dalam teater klasik dramaturgi identik dengan struktur cerita, maka dalam teater kontemporer ia menjadi lebih cair.
Banyak pertunjukan hari ini tidak lagi bertumpu pada narasi linear. Ada yang berbentuk fragmen, kolase, bahkan instalasi performatif. Dalam konteks seperti ini, dramaturgi tetap hadir — tetapi wujudnya berbeda.
Kita mengenal istilah seperti:
- dramaturgi visual
- dramaturgi ruang
- dramaturgi tubuh
- dramaturgi dokumenter
Artinya, yang disusun bukan hanya cerita, tetapi pengalaman.
Di sinilah dramaturgi menjadi penting sebagai alat refleksi. Ia membantu menjawab pertanyaan: mengapa adegan ini muncul setelah adegan itu? Mengapa tubuh bergerak dengan cara tertentu? Mengapa penonton ditempatkan pada jarak tertentu?
Tanpa kesadaran dramaturgis, pertunjukan berisiko menjadi sekadar rangkaian peristiwa tanpa arah.
Baca juga: Seni Pertunjukan dan Pertunjukan Seni: Pentingnya Sebuah Penegasan Identitas
Perbedaan Dramaturg dan Sutradara
Sering kali dramaturg disamakan dengan sutradara. Padahal keduanya memiliki fokus berbeda.
Sutradara bertanggung jawab atas visi artistik dan realisasi panggung. Dramaturg berfokus pada analisis struktur dan konsistensi makna.
Dalam beberapa kelompok teater, fungsi dramaturgi memang dirangkap oleh sutradara. Namun dalam produksi profesional, keduanya dapat bekerja berdampingan.
Jika sutradara mengatur “bagaimana pertunjukan diwujudkan”, dramaturg mempertanyakan “mengapa dan dengan dasar apa pertunjukan itu disusun”.
Dramaturgi sebagai Cara Berpikir
Lebih jauh lagi, dramaturgi sebenarnya bisa dipahami sebagai cara berpikir tentang peristiwa.
Ia tidak hanya berlaku dalam teater. Dalam kajian sosial, Erving Goffman menggunakan pendekatan dramaturgis untuk menjelaskan bagaimana manusia “memainkan peran” dalam kehidupan sehari-hari.
Artinya, dramaturgi adalah kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki struktur dan konteks.
Dalam teater, kesadaran ini menjadi fondasi. Tanpa struktur, konflik kehilangan arah. Tanpa relasi yang jelas, adegan menjadi lepas satu sama lain.
Dramaturgi membantu menyatukan fragmen menjadi peristiwa yang utuh.
Bukan Sekadar Pembaca Naskah
Secara klasik, dramaturg dikenal sebagai pembaca dan analis teks drama. Ia membedah struktur, karakter, konflik, hingga subteks. Namun pola kerja dramaturg modern jauh melampaui itu. Dramaturg bekerja sejak fase konseptual: mengajukan pertanyaan dasar, mengapa naskah ini dipilih? Untuk siapa pertunjukan ini dibuat? Dalam konteks sosial apa ia hadir?
Gotthold Ephraim Lessing, yang kerap disebut sebagai dramaturg modern pertama melalui Hamburg Dramaturgy, mencontohkan bagaimana kritik dan analisis pertunjukan menjadi bagian dari proses kreatif itu sendiri. Dramaturgi baginya bukan sekadar kerja teknis, melainkan kerja pemikiran.
Di titik ini, dramaturg menjadi peneliti. Ia menggali latar sejarah, politik, budaya, bahkan psikologis dari materi yang akan dipentaskan. Jika sebuah kelompok mengangkat naskah tentang konflik agraria, misalnya, dramaturg akan menelusuri data, kasus nyata, hingga wacana hukum yang relevan. Hasil riset itu kemudian diolah menjadi fondasi pemahaman bagi sutradara dan aktor.
Konstantin Stanislavski pernah mengingatkan, “Love the art in yourself, not yourself in the art.” Kerja dramaturgi menjaga agar proses kreatif tetap setia pada gagasan dan kedalaman karya, bukan pada ego para pelakunya.
Mitra Kritis Sutradara
Dalam proses latihan, dramaturg berperan sebagai mitra dialog. Ia bukan hakim tafsir, melainkan penguji konsistensi gagasan. Ketika sutradara memilih pendekatan visual tertentu, dramaturg mengajukan pertanyaan: apakah pilihan ini selaras dengan ide dasar? Apakah simbol yang dipakai memiliki relevansi, atau sekadar estetika kosong?
Peter Brook dalam The Empty Space menulis bahwa panggung kosong bisa menjadi ruang apa saja, selama ada intensi yang jelas dan hubungan hidup antara aktor dan penonton. Dramaturg membantu menjaga kejernihan intensi itu, agar ruang kosong tidak berubah menjadi kekosongan makna.
Ia juga menjadi cermin bagi aktor. Dramaturg membantu aktor memahami lapisan karakter, bukan hanya motivasi personal, tetapi juga posisi sosial dan historis tokoh. Seorang tokoh buruh, misalnya, tidak cukup dimainkan dengan gestur lelah; ia harus dipahami dalam struktur relasi kuasa yang melingkupinya.
Perspektif Teater Nasional dan Akademik
Dalam konteks Indonesia, kerja dramaturgi sesungguhnya telah lama hadir, meski tak selalu disebut dengan istilah itu. W.S. Rendra pernah menyatakan, “Teater adalah alat untuk menyadarkan manusia.” Kesadaran itulah yang dirawat oleh kerja dramaturg: memastikan pertunjukan tidak kehilangan daya kritisnya.
Putu Wijaya dengan konsep “teror mental”-nya menunjukkan bahwa teks dan panggung dapat mengguncang persepsi penonton. Nano Riantiarno berulang kali menekankan pentingnya riset dan kedalaman tafsir sebelum pementasan dilakukan. Semua itu merupakan wilayah kerja dramaturgi, baik disadari maupun tidak.
Dr. Autar Abdillah, dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dalam sejumlah forum teater menyebut dramaturgi sebagai “cara berpikir kritis dalam membaca peristiwa panggung.” Ia menegaskan bahwa dramaturg adalah elemen konseptual yang menjaga pertunjukan tetap memiliki landasan argumentatif yang kuat. Tanpa dramaturgi, menurutnya, teater berisiko terjebak pada spontanitas yang tidak terarah dan kehilangan konteks sosialnya.
Pandangan tersebut mempertegas bahwa dramaturgi bukan sekadar fungsi teknis, melainkan disiplin intelektual dalam kerja teater.
Menjembatani Panggung dan Publik
Augusto Boal melalui Theatre of the Oppressed menekankan bahwa teater harus membuka ruang dialog, bukan hanya presentasi. Dramaturg membantu merancang struktur pertunjukan yang memungkinkan percakapan, baik secara literal maupun simbolik.
Dalam konteks hari ini, dramaturg juga bekerja di ruang wacana: menulis esai program, membuka diskusi publik, hingga mengartikulasikan posisi estetik kelompok. Dramaturgi bukan hanya kerja internal produksi, tetapi juga kerja naratif di ruang publik.
Penjaga Kesadaran Artistik
Teater tidak pernah lahir di ruang hampa. Ia selalu bersentuhan dengan realitas sosial, politik, dan kebudayaan. Karena itu, pola kerja dramaturg juga menyentuh dimensi etis. Ketika pertunjukan mengangkat isu sensitif, agama, kekerasan, identitas, dramaturg bertugas memastikan bahwa representasi yang dihadirkan tidak simplistik atau eksploitatif.
Di tengah arus festivalisme dan industri kreatif, dramaturg menjadi penjaga kedalaman. Ia mengingatkan bahwa teater bukan hanya tontonan, tetapi juga pernyataan.
Pada akhirnya, dramaturg adalah penjaga kesadaran dalam proses kreatif. Ia bekerja dalam sunyi, namun pengaruhnya terasa di setiap detail pertunjukan. Jika teater adalah tubuh, maka dramaturgi adalah sistem sarafnya, menghubungkan gagasan, emosi, dan makna agar bergerak selaras.
Sudah saatnya kerja-kerja sunyi itu tidak lagi berada di pinggir panggung, melainkan diakui sebagai jantung intelektual dari setiap peristiwa teater.





