Advertisement
Oleh: Adhyra Irianto
Secara umum, artikel ini membahas kaitan antara proses berpikir dengan nilai karya seni. Pembahasan ini dilihat dari perspektif kreativitas dan penciptaan artistik.
Pendidikan, katanya, ditujukan untuk menciptakan manusia-manusia yang berpikir kritis, juga kreatif. Pertanyaannya, apakah dengan berpikir lebih kritis dan mendalam misalnya, maka nilai artistik dari suatu karya seni akan "meningkat"? Apakah proses berpikir yang lebih dalam benar-benar bisa meningkatkan nilai sebuah karya seni?
Jawaban simpelnya, iya benar.
Tapi, bukan karena "lebih lama berpikir" atau membuat karya jadi lebih rumit yang menjadikan kualitas karya seni jadi meningkat. Ada banyak hal, seperti proses mental, pertimbangan konteks dan gagasan, referensi, emosi, dan kemungkinan makna sebelum akhirnya karya dieksekusi.
Sebab karya seni itu bukan cuma hasil keterampilan teknis. Karya seni itu justru adalah hasil dari proses pengambilan keputusan. Semakin sadar dan terarah karya seni tersebut, maka semakin besar peluang karya tersebut memiliki kedalaman, kompleksitas, dan daya tafsir yang lebih kaya.
Apa kaitan antara "tingkatan berpikir" dengan nilai suatu karya? Sebelum menjawabnya, Anda perlu melihat tingkatan berpikir menurut Anderson dan Kathwoll berikut ini:
- Mengingat (remembering)
- Memahami (understanding)
- Mengaplikasikan (apllying)
- Menganalisis (analyzing)
- Mengevaluasi (evaluating)
- Menciptakan (creating)
Tingkatan 1 hingga 3 adalah low-order thinking atau berpikir tingkat rendah. Sedangkan tingkatan 4 hingga 6 adalah berpikir tingkat tinggi atau high-order thinking. Bisa dilihat bahwa "menciptakan" termasuk di dalamnya menciptakan suatu karya seni, adalah tingkatan berpikir paling tinggi. Tapi, menciptakan seperti apa yang masuk kategori berpikir tingkat paling tinggi ini?
Sebelumnya, secara tidak sengaja saya "terbaca" artikel berjudul "How to Build a Student for the 21st Century" yang terbit di majalah Times edisi Desember tahun 2006, ditulis oleh Claudia Wallis dan Sonia Steptoe. Diperkuat lagi oleh artikel berjudul Preparing Students for the 21st Century ditulis oleh Vivien Stewart. Inti dari kedua artikel itu menyebutkan tentang tingkatan berpikir seorang manusia. Dan, siswa harus disiapkan untuk melakukan higher-order thinking alias berpikir tingkat tinggi untuk menjadikan mereka sebagai individu yang siap menghadapi kemajuan zaman.
Bagi seorang pengkarya, mesin seperti AI, dan setipenya akan langsung "menghancurkan" para pengkarya yang masih berada di tingkatan 1 hingga 3. Untuk "mengalahkan" karya yang dibuat mesin, maka diperlukan tingkatan yang jauh lebih tinggi. Maka, kreativitas manusia tetap jauh lebih unggul ketimbang mesin.
Proses Kreatif dan Kaitannya dengan Proses Berpikir
Saya akan menggunakan istilah "layer 1" untuk menggambarkan proses berpikir dan menghasilkan ide lewat asosiasi bebas, tanpa evaluasi logis tertentu. Maksudnya, seseorang yang langsung menghasilkan ide atau menciptakan sesuatu berdasarkan apa yang terpikir pertama, tanpa proses filter atau evaluasi dan sebagainya.
Kita anggap ada dua orang, bernama Fulan dan Fulanah. Keduanya diminta oleh guru mereka untuk menggambar sesuatu dengan tema "jangan membuang sampah sembarangan untuk menjaga bumi".
Gambar yang diciptakan Fulan adalah sebagai berikut:
Gambar di atas inilah yang saya sebut sebagai "layer 1". Si Fulan menggambar ide yang paling pertama muncul di kepalanya. Jangan membuang sampah sembarangan, langsung dimuat secara tersurat dalam gambarnya. Gambar yang dihasilkan langsung ia kumpulkan.
Sedangkan Fulanah, juga mendapatkan instruksi yang sama dengan Fulan. Tapi, ia melakukan proses berpikir dengan lebih dalam, difilter, dievaluasi, sampai akhirnya mendapatkan ide yang lebih orisinal. Misalnya, gambar yang ia buat adalah seperti ini.
Dari dua gambar di atas, keduanya menggunakan teknik yang sama, kualitas gambar hampir sama, dan pilihan warna dan tekstur yang hampir sama. Sekarang, seandainya Anda adalah juri, dari dua gambar itu mana yang Anda menangkan?
Sangat besar kemungkinan Anda memenangkan gambar kedua. Kenapa? Ini bukan tentang subjektivitas juri saja, sebab ada ide yang lebih dalam dan berbeda dari dua gambar tersebut. Maka, nilai kreativitas gambar kedua akan mendapatkan poin lebih tinggi. Untuk membahas itu, mari kita bahas teori kreativitas dalam penciptaan karya.
Teori Kreativitas dalam Penciptaan Karya
Komponen kreativitas menurut Teresa Amabile dalam makalahnya berjudul Componential Theory of Creativity yang terbit di Harvard Business School Working Paper nomor 12-096, bulan April 2012 lalu antara lain keterampilan khusus di bidang tertentu, proses yang relevan dengan kreativitas di bidang tersebut, motivasi interinsik, dan lingkungan sosialnya. Amabile menyebutkan bahwa kreativitas yang tinggi adalah kaitan atau kombinasi dari keempatnya.
Katakanlah Fulan dan Fulanah sama-sama punya keterampilan menggambar yang sama baiknya. Motivasi untuk membuat karya juga sama, yakni sama-sama ingin memenangkan kompetisi yang dibuat oleh gurunya. Lingkungan sosial, dalam konteks ini adalah sekolah, juga menjadi sama karena Fulan dan Fulanah berada di satu kelas dan guru yang sama. Apa yang membedakan hasil karya mereka? Ada di komponen kedua, yakni proses yang relevan dengan kreativitas tersebut. Proses yang dimaksud berarti ada proses berpikir, belajar, mencari bahan, mencari ide, berdiskusi, mendapatkan pengalaman artistik, pengalaman estetik, dan sebagainya. Dalam pembicaraan di artikel ini, akan kita pertebal tentang proses berpikirnya.
Sekarang, mari kita bantu Fulan untuk bisa menaikkan nilai dari karyanya. Pertama, kita bisa menggunakan konsep berpikir divergen.
1. Konsep Berpikir Divergen
JP Guilford pada tahun 1956 menawarkan konsep berpikir divergen dalam teori kreativitas ini. Konsep dari cara berpikir yang satu ini adalah ada satu titik atau tema, dipikirkan dengan berbagai ide, solusi, dan lebih banyak kemungkinan jawaban. Bisa jadi hasil pemikiran ini masuk kategori berpikir "layer 1" tapi ada banyak ide "layer 1" dan bisa dikombinasikan untuk ide yang orisinal.
Dalam konsep berpikir Guilford, kreativitas diartikan kemampuan menggabungkan konsep atau ide yang berbeda. Maka, pemikiran "layer 1" dalam jumlah banyak, dikombinasikan dan digabungkan, tentunya akan menjadi pemikiran "layer 2".
Mari kita coba dengan ilustrasi. Fulan, setelah mendapatkan gambar yang sudah ia gambar tadi, ia mencoba beberapa ide yang juga langsung ia eksekusi menjadi sebuah gambar. Hasilnya ia mendapatkan dua gambar lagi.
Dari dua gambar di atas, ditambah dengan gambar sebelumnya, ia coba padukan dan kombinasikan. Tentu ia perlu proses berpikir yang mendalam, bukan?
Setelah memikirkan dengan keras, ia akhirnya menemukan sebuah ide yang menjadi gabungan dari tiga ide tersebut.
Coba lihat, meski digabungkan secara kasar, tapi setidaknya ide gambar di atas jauh lebih kompleks dan menarik dibandingkan gambar si Fulan paling pertama, bukan?
Ini contoh sederhana bagaimana konsep berpikir divergen digunakan untuk menaikkan "nilai" suatu karya seni. Sebuah kombinasi konseptual, proses penggabungan ide, tentu saja salah satu cara yang bisa digunakan untuk menciptakan sebuah ide yang menarik.
Sekarang mari kita coba Fulan dengan berpikir menciptakan ide dalam empat tahapan, yang disebut oleh Wallas sebagai teori proses.
2. Teori Proses
Teori kreativitas yang ditawarkan oleh Graham Wallas dalam bukunya Art of Thought (1926) membagi tahapan berpikir kreatif dalam empat tahapan. Empat tahapan ini antara lain persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi.
Tahapan pertama, persiapan, kita bantu Fulan untuk memahami dulu temanya. Dari tema yang diberikan gurunya yakni "Jangan membuang sampah sembarangan", sekarang kita membantu Fulan untuk mendapatkan data, masalah, dan hal lain terkait tema tersebut.
Hasilnya, kita mendapatkan data bahwa Indonesia merupakan penyumbang sampah laut terbesar di dunia. Sebagian besar adalah sampah plastik yang tidak bisa terurai hingga ratusan tahun. Ini masalah yang kita temukan.
Pengelolaan sampah di Indonesia masih kurang baik. Sedangkan produksi sampah adalah 70 juta ton per tahun. Ini masalah berikutnya.
Atmosfer kita akan rusak karena efek rumah kaca yang dihasilkan metana. Metana dihasilkan di tempat pembuangan sampah, berasal dari sampah organik. Tidak hanya itu, tanah juga tercemar zat kimia yang terurai dari sampah.
Sedangkan di air, mikroplastik sudah dimakan oleh ikan-ikan di laut. Sialnya, ikan-ikan itu ditangkap nelayan dan dimakan kembali oleh manusia. Selain merusak laut, sungai kita juga meluap dan membuat banjir.
Ada banyak data yang hadir, dan sekarang Fulan masuk ke tahap kedua, yakni inkubasi.
Inkubasi adalah saat kita mengendapkan semua yang sudah didapatkan di dalam otak. Berarti, informasi tadi ditimbun dulu di dalam otak, dan biarkan saja dulu mengendap. Lakukan hal lain, atau istirahatlah dulu.
Sampai pada akhirnya, Fulan menjadi terpikir untuk menggambar sesuatu yang berdasar dari ide-ide yang sudah bertumpuk di kepalanya. Ini adalah tahapan yang disebut iluminasi atau pencerahan. Ketika mendapatkan suatu ide dari semua tumpukan data tadi, Fulan segera eksekusi. Gambar yang dibuat Fulan adalah berikut ini:
Bisa dilihat digambar di atas, karena dibuat oleh Fulan berdasarkan data-data yang ia kumpulkan (berbasis riset), maka kualitas dan nilai karyanya juga menjadi lebih menarik, bukan?
Seni Sebagai Proses Epistemik
Kenapa nilai dan kualitas artistik suatu karya seni bisa meningkat dengan proses berpikir? Jawabannya, karena seni merupakan proses epistemik alias "mengetahui lewat membuat". Pengalaman membuat karya seni, mesti membuat seorang seniman menjadi mengetahui sesuatu, mendapatkan dan memproses pengalaman dan realitas melalui penciptaan seni.
Untuk lebih jelas terkait pengalaman dan perasaan adalah sebentuk pengetahuan, Anda bisa membaca artikel berjudul: Apakah Perasaan Juga Sebentuk Pengetahuan?
Konsep transformative arts misalnya, memandang karya seni akan berpengaruh pada perubahan kognitif dan afektif seorang seniman.
Meski demikian, tidak semerta-merta kita bisa menyebut proses dan kompleksitas berpikir bisa membuat nilai suatu karya seni bisa menjadi tinggi. Karena, banyak hal lain yang memengaruhi suatu karya seni seperti konteks kekaryaan, tujuan karyanya, dampak estetis, interpretasi penonton, dan tentunya hal-hal lain.
Tapi, dari ilustrasi (tentang Fulan & Fulanah) di atas tadi, bisa kita ambil kesimpulan bahwa proses berpikir bisa meningkatkan nilai dan kualitas suatu karya seni. Apalagi, bila Anda adalah seniman pemula.
Bahasan kita di artikel ini sebenarnya ditujukan untuk pendidikan, utamanya pendidikan seni. Untuk membuat karya seni, ternyata perlu melakukan proses berpikir yang berada di high-order thinking. Semakin Anda melibatkan berpikir dalam berkarya, maka Anda akan menambah nilai artistik pada karya seni Anda.



.png)
.png)
.png)
.png)
.png)



