Sering Tertukar, Apa Beda Seni Modern dan Seni Kontemporer? -->
close
Pojok Seni
11 February 2026, 2/11/2026 08:08:00 AM WIB
Terbaru 2026-02-11T16:14:52Z
ArtikelBeritaSeni

Sering Tertukar, Apa Beda Seni Modern dan Seni Kontemporer?

Advertisement
Apa beda seni modern dan seni kontemporer
Karya seni instalasi Circle of Animals/ Zodiac Heads karya Ai Wei Wei tahun 2010 (sumber foto Alisa_Ch/Shutterstock)

Oleh: Adhyra Irianto


Ikhtisar:

Seni modern dan seni kontemporer sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam cara pandang, konteks sejarah, dan tujuan artistik. Seni modern berkembang dari semangat modernisme yang menekankan otonomi medium, sementara seni kontemporer hadir sebagai respons kritis terhadap modernisme itu sendiri.


Ketika Anda mencoba bertanya apa perbedaan seni modern dengan seni kontemporer, Anda akan sulit mendapatkan jawaban konkretnya. Bahkan, sekalipun Anda bertanya pada mahasiswa di jurusan seni atau di kampus seni sekalipun. Sampai akhirnya lahir kesimpulan adalah seni modern itu sama dengan seni kontemporer. 


Bahkan, dua istilah ini sangat sering tertukar!


Padahal, seni modern dan seni kontemporer itu lahir dari cara pandang berbeda pada situasi dan zaman saat itu. Tidak hanya cara pandang, tapi konteks sejarah, relasi antara masyarakat dengan situasi zaman, dan lain-lain, semuanya berbeda. Apa perbedaan antara seni modern dan seni kontemporer? Mari kita coba urai perlahan untuk mendapatkan jawabannya.


Pertama kita luruskan dulu bahwa seni modern itu tidak sama dengan seni kontemporer. Bahkan, seni kontemporer itu juga bukan "lanjutan" dari seni modern. Karena perbedaan keduanya itu sifatnya historis dan konseptual. Bukan berarti seni kontemporer adalah "seni modern yang lebih baru" atau "lebih aneh".


Apa Itu Seni Modern


Simpelnya, seni modern itu adalah praktik seni yang lahir dari semangat modernisme. Apa itu semangat modernisme? Dalam Modern Art and Modernism A Critical Anthology (Frascina & Harrison, 1982) disebutkan bahwa semangat modernisme itu identik dengan kemajuan, rasional, orisinalitas dan otonomi seni.


Praktik seni modern lahir pada akhir abad ke-19, hingga setidaknya abad ke-20. Untuk lebih memahami secara historis, kita akan memulai dari sejarah munculnya seni modern ini. 


Sekitar tahun 1850-1851, sebuah lukisan berjudul A Burial at Ornans (penguburan di Ornans) diperkenalkan dalam pameran bertajuk Paris Salon. Karya tersebut menjadi "viral" atau pada saat itu disebut oleh Gerstle Mack (dalam Gustave Courbet: A Biography hal. 88-93) sebagai reaksi eksplosif yang membawa ketenaran instan bagi pelukisnya, Gustave Courbet. 


Apa beda seni modern dan seni kontemporer
Lukisan A Burial at Ornans, karya Gustave Courbet tahun 1849-1850 (sumber foto: Wikipedia)


Lihat lukisan A Burial at Ornans karya Courbet di atas. Apa yang menarik sehingga karya itu menjadi begitu "viral"? Lukisan itu adalah sebuah gambaran jujur dengan teknik realisme yang menggambarkan apa yang dilihat oleh Courbet pada pemakaman paman buyutnya di Ornans, sebuah kota kecil di Prancis. Dia melukis dengan apa adanya, tidak ada yang dilebihkan, dan Anda tentunya kurang bisa melihat "mata yang sedih" dari lukisan tersebut, bukan? 


Masalahnya adalah, Courbet melukis hal yang "seperti adanya" alias "seadanya" itu di tahun 1849-1850, tepat ketika dunia seni masih setia pada gaya romantisisme. Ketika seseorang bersedih digambarkan, maka matanya akan memancarkan kesedihan yang teramat dalam. Tapi lukisan penguburan Courbet tidak menggambarkan itu. Padahal, lukisan itu ada di kanvas raksasa ukuran 3 meter x 6,6 meter. 


Lukisan itu disukai karena menggambarkan "kejujuran" yang apa adanya, tidak dilebih-lebihkan dan artifisial. Dan, kejujuran ini adalah "semangat modernisme". Itu awalnya. Tapi, bukan "penggambaran secara realistis" yang menjadi semangatnya, tapi "penggambaran secara jujur, sesuai seperti apa yang dirasakan seniman".


Selain jujur dan tidak artifisial, sebelum era modern ini seniman lebih banyak "bertugas" untuk membuat karya seni oleh kaum borjuis, lembaga seperti gereja, dan sebagainya. Karena itu, karya seni pra-modern akan berbicara tentang moral, reliji, mitologi yang bermuatan moral, dan sebagainya. Tapi, dimulai dari Courbet, seniman mulai dengan sebuah karya yang jujur, subjektif, dan menolak nilai-nilai yang sudah mapan di masyarakat.


Terbitnya buku berjudul The Interpretation of Dreams (1899) oleh Sigmund Freud membuka lagi cakrawala pikiran tentang "aliran bawah sadar". Sejak itu, "kejujuran" dan subjektivitas dari seniman mulai bermain di ranah mimpi, simbolis, ikonografi pribadi, dan sebagainya. Tujuannya satu, untuk menggambarkan pengalaman subjektif dari pengkarya. Sejak itu, teknik baru, media baru, warna baru, bahan baru, dan semua yang baru mulai diperkenalkan sebagai "bahan baku seni".


Sejak itu bermunculan nama-nama seperti Pablo Picasso, Vincent van Gogh, dan seniman-seniman besar lainnya. Di panggung teater, bahasan dan tema pertunjukan tidak lagi tentang moral, relijius, dan mitologi. Karya-karya drama sudah fokus pada isu sosial, isu subjektif, dan kompleksitas hidup manusia. Nama Anton Chekov, Henrik Ibsen, sampai Arthur Miller bermunculan dengan warna masing-masing, didasarkan pada persepsi masing-masing. Yah, "-isme" dalam seni itu artinya posisi ideologis seseorang. Dari pijakan itu, bentuk karyanya menjadi khas.


Seni masih berkutat pada eksplorasi bentuk dan gaya. Modernisme percaya bahwa kemajuan yang berkaitan dengan industrialisasi, sains, akan terus bergerak maju. Seni mulai menjadi kritis dan dianggap punya nilai universal. Seniman menjelma menjadi seorang yang cerdas, berdiri di antara "praktisi" dan "akademisi". Dan tentunya, seni berada di wilayah otonom dengan keilmuannya sendiri, itu juga dimulai sejak era modern.


Di Indonesia, dijelaskan oleh Jakob Sumardjo (dalam Asal-Usul Seni Rupa Modern Indonesia, 2009), bahwa seni rupa modern itu sangat terpengaruh dengan kolonialisme. Nama Raden Saleh ditempatkan oleh Sanento Yuliman (dalam Sumardjo) sebagai perintis seni rupa modern Indonesia.


Apa itu Seni Kontemporer


Karena sangat berdekatan (bahkan mungkin nyaris berbarengan), seni kontemporer ini sering disalah artikan sebagai seni modern, begitu juga sebaliknya. Tapi, seni kontemporer ini adalah seni yang lahir ketika publik sudah tidak percaya lagi dengan modernisme!


Di sini kata kuncinya. Bisa dikatakan bahwa seni kontemporer itu lahir karena ketidak percayaan dan skeptis pada seni modern. Istilah seni kontemporer ini lebih sering digunakan dalam konteks seni Barat. Jadi, sangat jarang disematkan dalam pembahasan seni di "Timur". Karena itulah seni kontemporer dan seni modern di era hari ini semakin tumpang tindih definisinya. Padahal, seni modern itu lahir di era 1860-an sampai setidaknya di 1960-an akhir. Sedangkan seni kontemporer itu adalah seni yang ada di "masa kini". Dari definisi kata "kontemporer" itu sendiri yang secara harfiah berarti "pada waktu yang sama". Itu berarti sudah tidak ada pembatasan waktu dan tidak ada tolok ukur lagi, selagi apa yang dibuat itu dengan bertanggung jawab bisa disebutkan sebagai "seni".


Perang Dunia, khususnya Perang Dunia II adalah titik dimulainya kesadaran itu. Apa kaitannya dengan Perang Dunia II? Yah, Perang Dunia II itu bisa menjadi sangat buruk karena modernisme. Ketika perang sudah melibatkan benda-benda pembunuh hasil kemajuan teknologi semacam tank, rudal, bom nuklir, dan sebagainya. Saat itu juga kepercayaan pada modernisme langsung runtuh.


Kemajuan tak selalu berdampak baik, bahkan ada jauh lebih banyak nyawa yang menjadi korban karena kemajuan itu. Hasilnya, publik menjadi skeptis pada kemajuan. 


Apa yang terjadi pada seni? Saat itu seni mulai menjadi plural, cair, dan kontekstual. Tidak lagi terikat dengan isu sosial, politik, identitas, dan sebagainya. Tidak ada lagi satu standar estetika yang bisa mengikat semua orang. Tidak ada "kebenaran absolut" juga tidak ada "kebenaran universal". Kebenaran selalu bersifat subjektif.


Saat itu, seni perlahan menjelma menjadi kritik dan gangguan. Setidaknya, ia menjadi arsip personal. Seni kontemporer lahir dalam berbagai medium, karena medium itu bukan lagi menjadi tujuan, hanya sebagai alat. Entah itu karya instalasi, performance art, video, lintas media, tubuh dan sebagainya. 


Perbandingan Seni Modern dan Seni Kontemporer


Agar lebih mudah, mari kita lihat contoh konkret dari seni modern dan seni kontemporer untuk dibandingkan.  


Seni Rupa Modern vs Kontemporer


Ada dua contoh lukisan yang menurut saya mewakili seni modern, dan sering tumpang tindih dengan seni kontemporer. Pertama, Composition II in Red, Blue, and Yellow yang dilukis oleh Piet Mondrian tahun 1930. Berikut lukisannya:


Apa beda seni modern dan seni kontemporer
Lukisan Composition II in Red, Blue, and Yellow oleh Piet Mondriaan, 1930. (sumber foto: Wikipedia)

Sebagai contoh kedua adalah lukisan berjudul Les Demoiselles d'Avignon tahun 1907 yang dilukis oleh Pablo Picasso. Berikut lukisannya:


Apa beda seni modern dan seni kontemporer
Lukisan berjudul Les Demoiselles d'Avignon tahun 1907 yang dilukis oleh Pablo Picasso (sumber foto: Pinterest).

Sekarang kita beralih ke seni rupa yang dikategorikan seni kontemporer. 


Pertama, ada sebuah "lukisan" berjudul Stevie Smith and the Willow karya Sarah Pickstone. Karya ini mendapatkan penghargaan John Moores Painting Prize di tahun 2012 dan dianggap alih wahana yang berhasil dari puisi berjudul Not Waving But Drowning (1957) karya Stevie Smith.


Apa beda seni modern dan seni kontemporer
Lukisan bertajuk Stevie Smith and the Willow karya Sarah Pickstone, 2012. (Sumber foto: Sarah Pickstone)

Contoh berikutnya, coba lihat "lukisan" berjudul Super Star Fucker -Andy Warhol Text Painting karya Peter Davies berikut ini.

Apa beda seni modern dan seni kontemporer
Karya berjudul Superstar Fucker - Andy Warhol Text Painting karya Peter Davies (sumber foto: Pinterest)

Dari empat lukisan, dua mewakili seni modern dan dua mewakili seni kontemporer, apakah Anda bisa melihat perbedaannya?


Pijakan Modernisme


Coba lihat lagi lukisan seni modern yang diwakili lukisan Pablo Picasso (Les Dmoiselles d'Avignon) dan Piet Mondrian (Composition II in Red, Blue, and Yellow) di atas. Meski sering juga dengan salah kaprah dimasukkan ke kategori "seni kontemporer" namun paham "modernisme" sangat kental di dua karya itu. 


Garis tegas vertikal dan horizontal dengan warna primer dan keseimbangan yang matematis pada karya Piet Mondrian itu adalah cara dia memandang dunia. Dunia dipandang sebagai sesuatu yang rasional, stabil, terencana, dan terstruktur.


Sedangkan karya Picasso, berdiri pada posisi krisis representasi dan menghindari keteraturan seperti Piet Mondrian. Picasso mematahkan, mendistorsi, dan menjadikan tubuh yang dilukisnya menjadi multi perspektif. Apakah itu pertanda Picasso tidak berpijak pada modernisme? 


Sayangnya, meski dengan radikal didistorsi, tapi karya Picasso ini masih menyandarkan eksperimen bentuknya pada medium lukisan. Karena itu, sudut pandang melihat lukisannya masih fokus pada figur yang dilukis (tubuh perempuan), komposisi, dan visual yang inovatif. Picasso mengubah cara kita melihat "dunia", tapi masih percaya bahwa kita harus tetap melihat dunia.


Seni Kontemporer, Gagasan yang Dipertontonkan


Sekarang coba lihat karya Sarah Pickstone, lukisan bertajuk Stevie Smith and the Willow. Karya ini adalah alih wahana dari puisi (teks) ke lukisan (rupa). Dalam hal ini, Sarah Pickstone mencoba memindahkan esensi puisi yang berada di dimensi tekstual, ke lukisan yang berada di dimensi visual. Karya ini sudah membawa "beban" persepsi penonton pada puisinya, termasuk beban sastra dan sejarahnya.


Intinya, gagasan dari puisi itu yang dipertontonkan di karya ini. Pickstone tidak sedang melukis dunia, tidak juga meminta kita untuk mempersoalkan visual (komposisi, figur, dsb). Tapi karyanya justru lahir dari "jaringan" alias "relasi".


Beralih ke karya Peter Davies, yakni Superstar Fucker – Andy Warhol Painting. Karya ini mengejek "mitologi" yang menjadikan Andy Warhol menjadi "superstar". Dia membedah, tapi sekaligus mengejek dan mengekspos "mitos" pengkultusan Andy Warhol yang menjadi "ada" lewat "sistem ketenaran" (semacam algoritma yang membuat viral di media sosial).


Lukisannya penuh dengan kata-kata, mulai dari nama, slogan, istilah, hingga referensi karya Andy Warhol. Tampak seperti informasi yang bertumpuk-tumpuk, tanpa pusat. Overdosis dan bising, seperti budaya populer yang penuh dopamin. Teksnya berserakan seperti limbah, alias sampah visual. Andy Warhol-nya hanya hadir dalam teks juga, bukan figur seperti Picasso.


Gagasannya adalah kritik pada budaya massa (sekarang bisa kita sebut sebagai budaya viral), yang mengandalkan relasi kuasa, konsumsi berulang-ulang, viralitas, dan eksposur.


Ikhtisar:


Contoh Seni Modern:

  • Piet Mondrian – Composition II in Red, Blue, and Yellow (1930)

Karya ini menekankan otonomi medium melalui garis dan warna primer, mencerminkan keyakinan modernisme pada keteraturan dan harmoni universal.

  • Pablo Picasso – Les Demoiselles d’Avignon (1907)

Lukisan ini menandai krisis representasi dalam seni modern, dengan distorsi tubuh dan multiperspektif sebagai eksperimen bentuk visual.


Contoh Seni Kontemporer:

  • Sarah Pickstone – Stevie Smith and the Willow

Karya ini tidak berfokus pada inovasi bentuk, melainkan pada relasi antara lukisan, puisi, memori, dan konteks kultural yang melingkupinya.

  • Peter Davies – Superstar Fucker – Andy Warhol Painting

Sebuah lukisan apropriasi yang mengkritik sistem ketenaran dan mitologi seniman dalam seni kontemporer, dengan menjadikan nama Andy Warhol sebagai medan wacana, bukan objek estetis semata.


Maka, perbedaan kentara dari karya seni modern dengan karya seni kontemporer adalah:


  • Seni modern berpusat pada bentuk dan medium. Berdiri di atas otonomi seni.
  • Seni kontemporer berpusat pada relasi subjek atau pengkarya, dengan dunia sekelilingnya. Seniman menjadi semacam aktivis, kritikus, atau mungkin agen yang berada dalam suatu sistem dan "mencemari" sistem itu dari dalam.

Intinya: Perbedaan seni modern dan seni kontemporer terletak pada orientasinya. Seni modern berfokus pada eksplorasi medium dan bentuk, sedangkan seni kontemporer menekankan konteks, relasi sosial, dan kritik terhadap sistem seni itu sendiri.

Pelurusan Miskonsepsi tentang Seni Modern dan Kontemporer


Sebagai penutup, mari kita coba samakan persepsi. Sebenarnya, ada satu masalah klasik setiap kali seni kontemporer dibicarakan: istilahnya lebih dulu berisik sebelum isinya sempat dipahami. Akibatnya, diskusi berhenti di label, bukan pada cara kerja kesenian itu sendiri. Berikut beberapa kesalahpahaman paling umum, serta kenapa ia perlu diluruskan:


Pertama, anggapan bahwa “kontemporer itu pasti modern


Ini keliru sejak dari titik awal. Modern dan kontemporer bukan penanda tingkat kemajuan, melainkan penanda cara berpikir dan konteks sejarah. Seni modern lahir dari proyek besar modernitas: keyakinan pada kemajuan, rasionalitas, dan otonomi medium. Sementara seni kontemporer muncul justru setelah keyakinan itu retak. 


Ia tidak lagi sibuk mencari “bentuk murni”, melainkan bertanya: dalam dunia seperti sekarang, apa yang masih mungkin disebut seni, dan untuk siapa? Maka, seni kontemporer bisa saja sangat sederhana, bahkan tampak “tradisional”, selama ia sadar sepenuhnya pada konteks zamannya.


Kedua, anggapan bahwa “seni kontemporer harus aneh


Seni kontemporer mungkin saja aneh, tapi itu bukan syarat untuk "membuat seni kontemporer". Keanehan itu justru datang seperti efek samping. Banyak karya kontemporer terlihat janggal karena ia tidak berusaha menyenangkan penonton atau menyesuaikan diri dengan selera mapan. Tapi inti seni kontemporer bukan pada "keanehannya", tapi pada cara ia memproduksi makna: melalui konteks sosial, relasi, arsip, tubuh, atau situasi. Ada seni kontemporer yang sunyi, nyaris tak terlihat, bahkan nyaris tak terasa sebagai “karya” dan justru di situlah letak posisinya sebagai praktik kesadaran zaman.


Ketiga, anggapan bahwa “seni modern itu kuno


Modern memang tidak lagi “kekinian”, tapi bukan berarti usang. Seni modern tetap relevan sebagai fondasi cara kita membaca bentuk, struktur, dan bahasa artistik. Tanpa memahami modernisme, banyak praktik kontemporer justru kehilangan pijakan kritisnya. Yang bermasalah bukan seni modernnya, melainkan kebiasaan memajang modernisme sebagai museum nilai, bukan sebagai medan problem yang masih bisa dibaca ulang.


Dari sini, satu kalimat kunci perlu ditegaskan ulang: seni kontemporer bukan soal gaya, melainkan kesadaran zaman.


Ia tidak ditentukan oleh medium, bentuk, atau tingkat “keterlihatan artistik”, melainkan oleh sejauh mana sebuah praktik seni menyadari posisinya dalam jaringan sosial, sejarah, dan pengetahuan hari ini. Tanpa kesadaran itu, karya paling mutakhir pun bisa jatuh menjadi sekadar gaya kosong, sementara karya paling sederhana justru bisa menjadi sangat kontemporer.