Apa Itu Performance Art? Apakah Sama dengan Seni Pertunjukan? -->

Ads

Pojok Seni
10 February 2021, 2/10/2021 02:27:00 AM WIB
Terbaru 2021-02-09T19:27:42Z
ArtikelUlasan

Apa Itu Performance Art? Apakah Sama dengan Seni Pertunjukan?

Advertisement
Salah satu pertunjukan dalam Performance Art Festival International tahun 2010 (sumber foto: Wikipedia)


pojokseni.com - Ketika istilah performance art ditranslasi ke Bahasa Indonesia maka akan muncul arti Seni Pertunjukan (Performing art). Bicara tentang seni pertunjukan, maka berarti kita akan membicarakan tentang karya seni yang melibatkan satu atau lebih orang dengan berbagai unsur, seperti ruang, waktu, tubuh dan penonton. Hal itulah yang menyebabkan ada bias perpektif antara performance art dengan disiplin seni lainnya, semacam teater, sastra, musik, tari hingga seni rupa. 


Performing art (seni pertunjukan) berarti membicarakan seni teater, film, musik (dalam hal ini pentas musik), opera, sulap, seni kebahasaan (dalam hal ini adalah pentasnya seperti pidato, ceramah, baca puisi dan sebagainya), komedi atau lawakan, akrobat sampai pengamen di pinggir jalan pun masuk dalam kategori seni pertunjukan. 


Tapi performing art (seni pertunjukan) bukan sesuatu yang sama dengan performance art (pertunjukan seni). Maka dari sini bisa kita tarik jelas perbedaan antara seni pertunjukan (performing art) dengan pertunjukan seni (performance art).


Paling sering, performance art itu dimasukkan (paksa) ke dalam seni teater. Nyatanya, keduanya bukan hal yang sama dan aturannya pun berbeda. Kali ini, kita akan coba telusuri lagi apa itu performance art untuk membedakannya dengan seni pertunjukan.


Sejarah Performance Art


Istilah performance art memang baru dikenal (secara global) pada era tahun 1970-an. Saat itu, performance art hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap seni yang saat itu sudah mapan. Orang-orang Amerika mengunjungi pentas musik, pentas teater, pemutaran film dan membeli buku puisi untuk bisa disebut sebagai orang-orang yang "berbudaya". Maka, kaum-kaum pinggiran yang mungkin tak bisa datang ke gedung teater, pameran lukisan atau konser musik klasik didiskriminasi sebagai "tidak berbudaya".


Seperti itu garis besarnya, sampai akhirnya para seniman menghadirkan seni ke ruang publik. Mulai dari pinggir jalan, sampai di tengah keramaian. Awalnya, bentuknya berupa baca puisi, meshed puisi, orasi, body painting dan sebagainya. Namun selanjutnya, mulai berkembang dengan menghadirkan lagu, tari sampai dialog. 


Namun, sebetulnya performance art tidak "lahir" di tahun 1970-an (dan di Amerika). Performance art sudah mulai muncul pada puluhan tahun sebelumnya. Berdirinya Bauhaus di Jerman pada tahun 1919 misalnya, membuat satu grup teater yang mencoba bereksplorasi dengan banyak hal. Mulai dari hubungan tubuh dengan ruang, tubuh dengan cahaya, serta tubuh dengan bunyi yang awalnya ditujukan untuk proses latihan. Namun justru memunculkan sebuah pertunjukan seni yang baru tapi bukan pertunjukan teater.


Saat itu, meski belum disebut dengan istilah "performance art" namun eksperimen dari Bauhaus itu disebut pula sebagai titik awal lahirnya performance art. Sedangkan di Amerika tahun 1950-an, istilah performance art digunakan untuk menampilkan peristiwa artistik seorang seniman di luar karya seninya. Yah, bahkan termasuk "tampilan" seniman itu sendiri (yang biasanya tampak eksentrik) dianggap performance art.


Mundur lagi ke belakang ketika sekelompok futuris yang berisikan seniman lintas disiplin di Paris membuat semacam manifesto pada tahun 1909. Mereka menghadirkan berbagai bentuk seni baru yang kemudian ditampilkan dalam bentuk video. Video ini menjadi satu istilah baru yakni video performance yang sekarang lebih sering disebut sebagai "dokumentasi pertunjukan".


Namun, teknologi dan perkembangan zaman mengubah semuanya, termasuk performance art. Semua yang awalnya sosial, berubah menjadi komersial. Begitu juga performance art yang awalnya berupa perlawanan terhadap "komersialisasi seni" justru sekarang hadir dalam bentuk yang jauh lebih komersial. Bahkan, performance art yang dulunya hadir dengan tujuan utama dekonstruksi realita, sekarang didekonstruksi menjadi kepentingan pasar.


"Performer" dan "Aktor" 


Performance art hadir sebagai seni yang "hidup" karena tidak ada proses mimesis di dalamnya. Tidak ada aturan pemanggungan, pedoman-pedoman tertentu, juga batasan-batasan. Meski demikian, performance art tetap termasuk dalam seni. 


Tentunya bukan karena semata-mata ada kata "art" di dalamnya, tapi juga karena sifat dari performance yang dimaksud. Performance (pertunjukan) juga bisa mengarah ke hal-hal yang bukan seni, misalnya performa dari mobil, motor, handphone dan sebagainya. Untuk itu, performer di dalam performance art tetap disebut "seniman" atau "artis".


Performance art yang kekinian sudah mengikut sertakan unsur-unsur seni yang lain. Termasuk di dalamnya memasukkan dialog, tarian, nyanyian dan musik. Karena "kemiripan" dengan opera atau teater musikal maka performance art terkadang sering dikaitkan dengan teater.


Meski demikian, performance art jelas bukan teater. Para penampil dalam performance art juga bukan "aktor" sebagaimana penampil dalam teater. Karena itu, untuk membedakannya para penampil dalam performance art disebut sebagai "performer".


Perbedaan lainnya adalah tiadanya "cosmos" di dalam performance art, yang akan ditemukan dalam teater. Juga ketiadaan ruang dan waktu yang menjadi ciri khas teater. Tentunya hal itu disebabkan oleh ketiadaan batasan dalam performance art yang justru ada di dalam teater.


Meski demikian, performance art menjadi pilihan yang paling sering ditampilkan oleh seniman (pun seniman teater) karena lebih cepat proses kerjanya dan bisa ditampilkan di mana saja, termasuk pinggir jalan sampai kedai atau cafe sekalipun.