Membicarakan Pawang Hujan dalam Dramaturgi Probabilitas -->
close
Pojok Seni
09 February 2026, 2/09/2026 10:24:00 PM WIB
Terbaru 2026-02-09T15:27:20Z
Ulasan

Membicarakan Pawang Hujan dalam Dramaturgi Probabilitas

Advertisement


Oleh: Adhyra Irianto


Bagaimana cara kerja pawang hujan? Tidak hanya di Indonesia, di belahan dunia lain juga percaya pawang hujan, dan ritual-ritual berkaitan dengan hujan. 


Sehabis latihan teater, kami ngobrol ngalor-ngidul, dan pada akhirnya obrolan 'nyangkut' di sosok pawang hujan. Satu orang benar-benar meyakini, karena pengalaman di nikahan temannya. Satu orang lagi menertawakan, dan menyebut temannya bodoh. Keduanya bersikeras membela keyakinan masing-masing.


Tapi, satu hal yang saya tertarik bukanlah bagaimana mereka habis-habisan mempertahankan keyakinan itu. Saya justru tertarik bagaimana strategi pengelolaan pribabilitas untuk mengubah persepsi dan ekspektasi yang digunakan oleh satu orang "penguasa atmosfer" ini. 


Kalau Anda mengira hanya Indonesia yang sedemikian "lucunya" percaya dengan pawang hujan, Anda salah besar. Tahukah Anda, bahkan untuk acara berkelas yang dibuat oleh brand mahal seperti Louis Vuitton di Prancis pun menggunakan "jasa" pawang hujan.




Bukan cuma itu, di negara yang terletak di Eropa sebelah tenggara seperti negara-negara Albania, Bulgaria, Kroasia, Moldova, Hungaria, Serbia, sampai Yunani sampai sekarang masih ada prosesi ritual meminta hujan yang bernama Dodola-Perperuna. Sedangkan di Rumania disebut Caloian, yakni prosesi penguburan patung tanah liat untuk meminta hujan.


Penduduk asli Amerika Utara, khususnya daerah Pueblo dan Mojave, masih melakukan tarian hujan (Rain Dance) untuk meminta hujan. Dukun di China, Korea dan Jepang juga punya ritual tertentu untuk memancing hujan. Bahkan dalam kepercayaan agama-agama yang masih bertahan hingga era pascamodern inipun, ritual untuk "merayu" tuhannya agar diberikan hujan juga masih tetap ada sampai hari ini.


Intinya, masalah "seseorang yang punya kemampuan mengendalikan cuaca" ini berdiri di tempat yang serba tanggung. Ia ditolak sebagai dongeng karena terlalu banyak yang mengaku telah merasakan mukjizat "nyata". Tapi, ia juga ditolak untuk disebut "mekanisme alam" karena terlalu rapuh untuk dijelaskan secara sains.


Hujan Tidak Bisa Ditahan atau Diminta dengan Doa, Ritual dan Mantra


Premisnya sederhana, tidak ada doa, ritual, dan mantra apapun yang bisa menghentikan atau menurunkan hujan. Presipitasi itu terjadi karena pertemuan faktor-faktor seperti uap air, suhu, tekanan, dan dinamika awan. Terserah manusia di bawahnya mau ngapain, dan bawa simbol apapun. Tapi, hujan tidak turun secara acak, bisa dibilang bahwa hujan itu punya pola yang bisa dipelajari.


Ada jam-jam tertentu yang cukup minim terjadi hujan, ada musim-musim tertentu di mana hujan turun melulu, dan di setiap daerah berbeda maka hujan juga punya pola yang berbeda. Dengan demikian, sebenarnya hujan itu tidak random, ia punya probabilitas. Ini sebenarnya yang terjadi, bahwa pawang hujan adalah mata terlatih yang bisa membaca probabilitas itu.


Karena berbicara tentang probabilitas, berarti kisarannya ada di kata "hampir". Kapan hampir pasti hujan tidak turun, kapan hampir pasti hujan turun. Lah, berarti ini hanya perkara tebak-tebakan, dong?


Pada dasarnya, iya. Bahkan BMKG yang bekerja dengan alat paling canggih dan menerapkan sains paling ketat hasil prediksinya pun bisa saja gagal. Karena, cuaca itu tidak linear, dan sangat sensitif untuk berubah bila terjadi hal-hal lain di alam ini.


Hanya dengan suhu naik atau turun sangat kecil, misalnya hanya 0,1 derajat Celcius saja, maka waktu, lokasi, dan terjadinya hujan bisa langsung berubah. Maka, wajar di ramalan cuaca BMKG pun mereka menyebut "kemungkinan". Kemungkinan hujan 60%, peluang hujan ringan sampai sedang, dan sebagainya.


Tapi, BMKG itu hasil kerjanya terus diuji dan dikoreksi. Sebab, objek dan medan yang mereka teliti yakni cuaca tropis yang penuh dengan awan yang bisa tumbuh dengan cepat, hujan yang tiba-tiba datang dan pergi, laut dan panas lokal sangat berpengaruh, dan konveksi yang kuat, tentunya menjadi medan yang berat untuk diprediksi. Alamnya sangat liar, dan sulit dipastikan. Sebagai hasil kerja sains, maka perkembangan teknologi di BMKG justru berasal dari evaluasi dan kritik.


Itu yang tidak kita temukan dari pawang dan ritual hujan. Mereka kebal evaluasi. Pertanyaannya, kenapa lebih banyak yang percaya ritual ketimbang probabilitas?


Karena manusia memang membenci ketidakpastian. Sialnya, kita hidup di tempat yang penuh ketidakpastian. Daripada mendengar kalimat "70% kemungkinan hari ini akan turun hujan", bukankah lebih menarik mendengar "hari ini hujan" atau "hari ini tidak hujan", bukan? 


Daripada kita hidup dalam ketidakpastian seperti "hari ini mungkin hujan, mungkin juga tidak", maka lebih baik kita mendengarkan "seseorang" berkata "tenang kita sudah melakukan sesuatu, dalam waktu dekat hujan pasti turun". Atau, "tenang, kita sudah melakukan sesuatu, dalam waktu dekat hujan pasti berhenti". Dua kalimat yang disebut terakhir menghentikan "beban psikologis" ketimbang kalimat yang penuh ketidakpastian.


Cuaca, seperti mekanisme alam lainnya, adalah sesuatu yang tanpa jaminan. Absurditas itu menghadang di depan setiap manusia, tapi ditutupi oleh ilusi-ilusi dalam budaya dan agama, yang akhirnya menciptakan satu alat penyangga eksistensial yang diberi nama "ritual" atau "doa" atau "mantra".


Bila ritual adalah pertunjukan, maka dibutuhkan aktor-aktor, dan tentunya aktor utamanya bukan? Di titik itu, kebutuhan pada pawang, shaman, dukun, orang pintar, dan setipenya itu muncul. Ritual itu sifatnya performatif, dan aktor-aktor ini bisa dilihat, diceritakan ulang, dan tentunya diwariskan.


Pawang Hujan Memberi Jaminan Alam Bisa Dinegosiasi


Kita mungkin menyadari bahwa kita bukan apa-apa di hadapan alam semesta ini. Sekali mengamuk, dua hingga tiga provinsi langsung terkapar. Apa artinya manusia-manusia, yang hanya salah satu dari jutaan spesies makhluk hidup di planet bumi ini?


Hanya saja, berkat adanya pawang hujan dan ritual-ritual itu, kita diyakinkan bahwa alam ini sebenarnya bisa diajak bernegosiasi. Bisa diajak bicara dan mungkin bisa peduli dengan manusia.  


Kita selalu meyakini bahwa hasil ada karena ada usaha. Antara usaha dan hasil itu, ada "act" atau laku. Maka, bila kita meyakini hujan atau tidak hujan adalah hasil, maka diperlukan "act" untuk menunjukkan usaha demi melengkapi narasi sebab akibat.


Pawang hujan melengkapi "act" itu, sebagai "actor" sekaligus sutradara. Ia bukan pengendali cuaca, tapi dramaturg probabilitas. Lihat bagaimana pawang hujan tersohor di sirkuit balap beberapa waktu silam. Ia bekerja sebagai dramaturg, mulai dari mengatur ketegangan, menunda kepanikan, sampai akhirnya menuliskan narasi sebelum dan setelah peristiwa. 


Pada akhirnya, hujan tetap akan turun atau tidak berdasar hukum fisika. Tapi, keberhasilan untuk membuat hujan turun atau tidak, itu akan selalu kita sesuaikan dengan siapa yang paling jago membuat narasinya. Siapa yang piawai mengelola probabilitas itu? Siapa lagi kalau bukan pawang hujan dan "aktor" lain yang berkaitan dengan ritual, doa, dan mantra.


Tapi, ada satu sisi menarik yang perlu ditarik dari pawang hujan. Bahwa mereka adalah realisasi dari kearifan lokal, bahwa nusantara sejak dulu telah mampu membaca probabilitas cuaca tropis. Satu warisan kecerdasan lokal yang semestinya bisa dipelajari lebih banyak orang.