Perbedaan dan Batasan Antara Performance Art dan Teater -->
close
Pojok Seni
07 March 2026, 3/07/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-03-07T01:00:00Z
Materi Teater

Perbedaan dan Batasan Antara Performance Art dan Teater

Advertisement
Perbedaan Antara Performance Art dan Teater
Pertunjukan bertajuk The O Zone 2017 oleh Clark Beaumont

Oleh: Adhyra Irianto


Dalam bentuk yang paling eksperimental sekalipun, teater tetap sebuah pertunjukan yang dipersiapkan sepenuhnya. Semua detailnya direncanakan, termasuk emosi dan reaksi dari penontonnya. Sedangkan performance art akan mengandalkan reaksi yang sifatnya spontanitas dari penontonnya. 


Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa teater didasarkan pada struktur dramatik yang direncanakan sebelumnya. Sedangkan performance art mengandalkan interaksi manusiawi yang mentah antara performer dengan penontonnya. Itu berarti, teater mempersiapkan antisipasi atas apa yang akan terjadi. Jika terjadi sesuatu di luar rencana, aktor dengan kemampuan improvisasinya akan berusaha mengembalikan situasi ke arah yang sudah direncanakan. Tidak hanya itu, para aktor dan juga penonton juga tahu bahwa semua yang mereka lihat bukan hal yang nyata. Karena itu, kemungkinan buruk seperti cedera, rasa sakit fisik, hingga kematian, itu dihindari dengan perencanaan yang matang. 


Bagaimana dengan seni pertunjukan? Karena semuanya memiliki ketidakpastian konsekuensi, maka kemungkinan-kemungkinan seperti rasa sakit fisik, luka, cedera, bahkan kematian, itu benar-benar tidak bisa begitu terkontrol oleh performer. Mari kita mengingat bagaimana performer terkenal dunia bernama Marina Abramovic yang mempertaruhkan nyawa untuk pementasannya berjudul Rhythm 0 di tahun 1974.


Pertunjukan Rhtyhm 0 oleh Marina Abramovic
Pertunjukan Rhythm 0 oleh Marina Abramovic


Pertunjukan ini dilakukan di Naples, Italia. Marina berdiri diam selama enam jam, sedangkan di sekitarnya ada sekitar 72 objek mulai dari objek tidak berbahaya seperti bunga, sampai objek yang sangat berbahaya seperti pisau, korek, hingga pistol. Marina mempersilahkan penonton untuk melakukan apa saja terhadap tubuhnya selama 6 jam tersebut. Apa yang terjadi?


Dari penonton yang baik hati, memberikan bunga dan sebagainya, berubah menjadi penonton yang "antagonis". Ada yang merobek bajunya, menggunting pakaiannya, melukainya, sampai menodongkan pistol berisi peluru ke kepalanya. Pertunjukan ini menjadi sebuah eksperimen yang membuktikan bahwa manusia akan berperilaku seperti hewan buas ketika batasan-batasan dihilangkan.


Terkait ini, Anda bisa membaca artikel berjudul Plonco Alias Ospek, Lucifer Effect yang Ubah Orang Baik Jadi Keji.


Terlepas dari hasil "eksperimen" tersebut, bisa dilihat bahwa ada bahaya yang mengintai Marina lewat pertunjukannya. Perlu security yang sangat berlapis untuk memastikan Marina tidak mengalami hal-hal yang buruk. Ketika diwawancari media The Guardian, Marina justru bilang bahwa teater itu berisi kepalsuan. Pisau palsu, darah palsu, dan emosi yang tidak nyata. Sedangkan performance art berisi hal-hal nyata dengan konsekuensi yang nyata juga. Pisau yang nyata, emosi yang nyata, darah yang asli, dan kesenangan serta rasa sakit yang juga asli.


Apakah Teater dan Performance Art Bisa Dibedakan?


Perbedaan Antara Performance Art dan Teater
Pertunjukan oleh Uta Sander dan Sarah Schuhmacher

Saya membuka artikel ini dengan penjabaran yang tegas, seakan menjadi garis pembatas antara teater dan performance art. Hanya saja, tentu saja penjabaran saya di awal terlalu simpel untuk problem ontologis yang kompleks ini.


Seharusnya, di artikel-artikel umumnya, saya semestinya membuka dengan apa itu teater, dilanjutkan dengan pembahasan apa itu performance art, baru membedakan keduanya. Definisi teater, setidaknya sudah banyak dipaparkan di Pojok Seni. Setidaknya dalam kumpulan artikel dengan kata kunci apa itu teater, atau definisi teater. Sedangkan definisi performance art juga sudah cukup banyak dipaparkan di Pojok Seni, khususnya pada artikel berjudul Apa Itu Performance Art? Apakah Sama dengan Seni Pertunjukan?


Sekarang, setelah cukup banyak artikel yang mendefinisikan, saya juga sudah pernah membahas perbedaan dasar antara teater dengan performance art berdasar makalah Jacob Watts di Coastal Carolina University berjudul One Art with Two Sides: Theatre and Performance Art (Satu  Seni dengan Dua Sisi: Teater dan Performance Art). Artikel ini bisa Anda baca di: Performance Art Bukan Teater! Pembacaan Ulang One Art with Two Sides Karya Jacob Watts


Jacob Watts mengutip pendapat Paul David Young, bahwa teater adalah seni yang ketat dan kaku. Ada perencanaan di awal, dan eksekusi rencana tersebut se-setia mungkin. Performance art jauh lebih luwes, mengandalkan spontanitas, juga tanpa aturan yang ketat.


Teater adalah seni representasi. Performance art mengandalkan kehadiran performer. Dengan kata lain, dalam teater, seniman hadir sebagai seorang karakter atau tokoh. Dalam performance art, seniman hadir sebagai dirinya sendiri. Teater memiliki alur dramatik, performance art lebih bersifat konseptual. Teater memiliki struktur atau sistem produksi yang kompleks, performance art menghindari sistem produksi tersebut.


Terpenting, tujuan utama dari keduanya itu sangat jauh berbeda. Teater bertujuan menghadirkan pengalaman dramatik. Sedangkan performance art hadir dengan tujuan sebagai media eksplorasi ide. Inti utama teater ada di cerita, sedangkan performance art justru ada di gagasannya.


Namun, ketika bertemu dengan teater imersif atau partisipatif, maka garis pembeda antara keduanya (teater dan performance art) menjadi tidak simpel lagi. Definisi keduanya menjadi sangat cair dan pengkategoriannya menjadi sangat sulit. Antonin Artaud menjadikan teater kejam sebagai penghancur batas antara penonton dan aktornya. Sedangkan Marina Abramovic jelas tidak punya batas antara dirinya dengan penontonnya. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana menarik batasnya?


Pertunjukan Teater kejam oleh Antonin Artaud
Pertunjukan Teater bertajuk The Spurt of Blood oleh Antonin Artaud (1925)

Di titik mana seniman disebut aktor (sebagai penampil dalam seni teater), atau justru disebut performer (sebagai penampil dalam performance art)?


Mari kita melihat empat tindakan teater menurut Eugenio Barba dalam Teater Antropologi-nya. Pembahasannya bisa Anda baca di artikel berjudul: Empat Tindakan Teater, Berdasar Gagasan Teater Antropologi Barba. Dalam artikel ini, disebutkan bahwa tindakan aktor dalam teater selalu berada dalam jaringan dramaturgi yang saling berkaitan, bukan tindakan tunggal yang berdiri sendiri.


Intinya, tindakan seorang aktor didasarkan dari empat hal: apa yang melekat pada diri aktor, apa yang terjadi berkat perubahan alur atau adegan, apa yang dilakukan sebagai respon terhadap properti yang berada di ruang pentas, dan apa yang dilakukan sebagai hubungan antara pertunjukan (spektakel) dengan penonton (spektator) Hal-hal yang menjadi tindakan aktor tersebut, tidak ditemukan pada performance art. Kalaupun ditemukan, tentu tidak lengkap keempatnya.


Tindakan-tindakan tersebut yang kemudian dirajut menjadi jejaring yang kemudian disebut tekstur teater. Tekstur ini juga tidak ditemukan dalam performance art.


Bagaimana dengan teater eksperimental? Pengantar dan definisi teater eksperimental juga sudah dibahas di Pojok Seni lewat artikel berjudul Definisi Drama Eksperimental. Intinya adalah ada eksperimen dari seorang sutradara, menyusun sebuah pertunjukan yang tidak konvensional (konvensional di sini diartikan sebagai teater realisme) tapi lagi-lagi semuanya terencana dengan baik (well made play). 


Dari sini, kita bisa menarik garis batas antara teater (se-eksperimental apapun pertunjukannya) dengan performance art. Pembeda ini yang setidaknya bisa digunakan untuk batasan dalam konteks akademik, atau mungkin lomba. 


Ini juga yang menjadi alasan, kenapa pembeda ini harus dibahas. Sebab, kalau tidak, maka bisa jadi akan ada performance art yang dipentaskan dalam lomba teater, atau sebaliknya. Tentu, itu berarti sama dengan ada yang bernyanyi di lomba stand up comedy. Atau, berpidato dalam lomba story telling