Interseksionalitas “Malam Tanpa Akhir”, dalam Jalinan Ilusi Kebebasan -->
close
Pojok Seni
08 March 2026, 3/08/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-03-08T01:00:00Z
Ulasan

Interseksionalitas “Malam Tanpa Akhir”, dalam Jalinan Ilusi Kebebasan

Advertisement
Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) 2025, Lab Teater Ciputat (LTC)
Dyah Ayu Setyorini dalam pertunjukan “Malam Tanpa Akhir” (Foto: AWE)

Oleh: Arung Wardhana Ellhafifie


Seperti yang disebutkan oleh pengarah mini festival ini, Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) 2025, Lab Teater Ciputat (LTC) bersama dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Kementerian Kebudayaan Indonesia, yang berlangsung pada 8-11 Desember 2025, di Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas), dalam pengantar kuratorial, Dyah Ayu Setyorini (Surabaya), yang biasa disapa Ading, dalam kelas ‘bongkar muat’, secara bebas menyadur “Sotoba Komachi” karya Yukio Mishima, menawarkan isu feminis dalam pusaran “male gaze[1], yang membawa saya pada pemahaman tentang interseksionalitas, yang dicetuskan oleh Kimberlé Crenshaw. Saya merasa Ading menciptakan kerangka analitis melalui “Malam Tanpa Akhir” mengeksplorasi berbagai aspek identitas sosial dan biologis seperti ras, gender, kelas sosial, seksualitas, kemampuan, dan agama yang saling tumpang tindih satu sama lainnya. Kemunculannya dari luar ruangan sambil membawa peralatan latihan sebelum pertunjukan; membuka peluang tentang bagaimana mempresentasikan dirinya sebagai Ading—layaknya orang-orang mengenalnya. 


Menurut Crenshaw, interseksionalitas menyoroti bahwa diskriminasi tidak terjadi berdasarkan satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari faktor-faktor yang mengalami silang sengkarut satu sama lainnya.[2] Silang sengkarut inilah yang dibawa ke dalam kemungkinan lain untuk bisa ‘dipertebal’ dalam representasi aktor/kreator (lainnya di luar Ading) atau Ading sendiri dalam memperbincangkan ketidakadilan—yang saling terkait. Maksud saya adalah; bagaimana saya memperoleh pengetahuan tambahan di luar gender itu, berkaitan dengan dermatologi atau fisiologi, kalau lebih spesifik lagi merujuk pada warna kulit seolah menjelaskan bahwa penindasan tidak tunggal—bahwa bukan karena dirinya perempuan, melainkan juga hal tersebut telah menciptakan sistem diskriminasi atau hak lainnya dan berlapis.


Saya mencoba memahami pilihan ini; Ading yang merepresentasi aktor/kreator lainnya—atau saya cukup meleset dalam impresinya, seolah-olah itu adalah pelarian darinya. Sejauh yang saya tahu, setelah mengenalnya cukup lama, sekitar enam tahun, dan meskipun kami tidak berkomunikasi secara intens, tetapi hanya sesekali berdialog pada saat momen tertentu, sangat mungkin bahwa “male gaze,” telah menghindar, itulah sebabnya sering kali dalam representasi aktor/kreator belum membangkitkan banyak emosi terkait “suara” yang dibahas. Antara cantik dan kurang cantik, dengan Ading yang berkulit kuning langsat, perilaku kita tentu akan berbeda jika dia lebih bernuansa dalam presentasi tubuhnya yang bisa disebut ‘selebor gak karuan’; sebab perempuan tidak dapat sepenuhnya dianggap rentan hanya karena mereka perempuan, justru lapisan dermatologi atau fisiologi—atau berkaitan dengan estetika, membuat saya akan terus mendapatkan data tambahan lain sebagai isu pengetahuan feminis.


Ading, seperti yang dirasakan oleh saya, sedang merepresentasi aktor/kreator non-kulit berwarna, identitasnya sebagai seorang seniman juga membawa peluang yang lebih cair dan performatif; seperti dilihat saya, jika Ading berada dalam keadaan sehari-harinya. Termasuk bagaimana dia memprovokasi saya di luar pertunjukan, jika saya adalah sesama masyarakat Surabaya, yang  dianggap selalu sentimental tentangnya, dan cenderung untuk mengeksplorasi banyak kekurangannya, jika didorong ke dalam pertunjukan layaknya storytelling-performative,[3] kemungkinan lain yang dimaksud saya bisa berlangsung.  “Male gaze”  yang disebutkan oleh direktur mini festival ini, sebagai masyarakat urban, memungkinkan Ading untuk menyuarakan pengalamannya sendiri dan mempertahankan perspektif yang lebih terbuka.


Meskipun bagi Ading, “Komachi” bersifat ironis, sebagai deskripsi diri, ini juga berfungsi untuk menciptakan ruang pemberdayaan dan pengakuan bagi beragam perspektif. Seniman seperti dirinya, yang berasal dari daerah perkotaan, atau bukan minoritas ras atau lainnya, bagaimana sekiranya Ading berinteraksi dengan seniman/non-seniman kulit berwarna di Surabaya? Bagaimana hak-hak dasar mereka diperlakukan? 


Saya mencoba memahami bagaimana, berasal dari ras yang memiliki hak istimewa, bagaimana rasanya bagi seorang seniman yang tidak memiliki wajah cantik seperti Ading—yang dipilihnya ke dalam sebuah festival (sebutlah demikian) karena kecantikannya, jika ia membawa seseorang dari kelompok minoritas untuk mempresentasikan karyanya, atau yang berkelebihan berat badan—dalam ruang struktural, tanpa menyadarinya, perempuan seperti Ading sering kali menemukan diri mereka dalam posisi yang, menurut pendapat saya, lebih mudah dianalisis berdasarkan gender, tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lain seperti etnis, kelas sosial, dan akses geografis. Kota dalam hal ini juga penting, jadi bagaimana dengan beberapa daerah yang masih memperlakukan mereka secara tidak adil? Mungkin representasi “Komachi”, yang bentuk-bentuk diskriminasinya leih diseret untuk saling terkait dan menciptakan hambatan struktural yang lebih besar, adalah faktor kunci. 


Jika terjadi demikian, saya melihat bahwa Jakarta dan Surabaya sedang mendiskusikan bagaimana mengatasi hal ini, atau bagaimana menggunakan “Komachi” sebagai model untuk memahami penindasan yang kompleks dan menciptakan kebijakan inklusif. Kesenjangan yang relevan antara Ading dan “Komachi” menghadirkan peluang untuk batasan kreatif dan peminjaman budaya dalam melihat ilusi kebebasan; keadaan intelektual dan artistik pun bisa berubah secara radikal pada masa-masa ke depan. Dalam konteks performances studies, yang disebut saya gampangnya “angkutan akar rumput” dalam BUDAmFEST ini, peluang interseksional ini bukan hanya kebutuhan untuk mengatasi perubahan keadaan “glocal”—melainkan bagaimana kita mengkombinasikan secara kuat hubungan antara lokal dan global dalam “Malam Tanpa Akhir” untuk memperluas tentang kesetaraan dan keadilan.


Disintegrasi, Segregasi, dan Kemunduran dalam “Distrik Terakhir”


Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) 2025, Lab Teater Ciputat (LTC)
Salah satu adegan dalam “Distrik Terakhir” oleh Riky Arief Rahman (Foto: AWE)

Kerangka analitis yang saya kembangkan untuk Ading pada dasarnya adalah bahwa performance studies lebih interaktif, hipertekstual, dan cair—dalam hal “kelas” di “luar kelas” daripada akademisi di dalam “kelas,” merangkul semua tindakan sebagai potensi estetika, semua peristiwa dari set builder hingga konsumsi, sebagai potensi teater, dan semua penonton, di luar yang berlatar belakang seni, justru memiliki kesempatan lebih aktif dapat memperluas pengalaman seni dengan non-seni yang ditekuninya—dengan mengabaikan kesenjangan atau ketidaksetaraan yang dituduhkan Ading kepada saya. Mungkin jika saya tidak merujuk pada performance studies, kesenjangan atau ketidaksetaraan itu yang terus didorong tidak akan terjadi karena bukan tugas saya untuk berpikir dan bertindak atas apa yang terjadi dalam pertunjukan. Sebaliknya, posisi saya lebih langsung dalam membandingkan selera artistik dengan selera orang lain, katakanlah lebih ‘usil,’ di mana dalam hal pertunjukan “Distrik Terakhir” oleh Riky Arief Rahman aktor/kreator, secara tidak langsung saya pahami merujuk pada disintegrasi, segregasi, dan kemunduran, jika yang dimaksud adalah penghancuran sistem sosial oleh Riky—merujuk pada pemikiran Marx tentang konflik kelas.[4]


Pertanyaan yang ingin saya ajukan dan jawab untuk diri saya sendiri adalah: apakah bagian penutup pertunjukan, yang mempresentasikan kolaborasi dengan musik post-rock, seni instalasi, dan kawan difabel, cukup menunjukkan hal tersebut? Referensi Riky terhadap “Endgame” karya Samuel Beckett sebagai titik awal analisis ini mengacu pada konteks “di sini dan kini” [5] juga dalam kaitannya dengan kita sebagai masyarakat dan perjuangan rakyat miskin untuk keadilan sosial—yang mungkin merupakan tujuan Riky. Jika tokoh-tokoh dalam debat tersebut merupakan penggerak utama dalam perubahan sosial, yang mungkin saya bisa memetakan kelas dominan dan non-dominan, sehingga sepanjang pertunjukan disuguhkan denagn saling bertentangan dan menuduh, di mana kawan difabel; semacam proletariat yang diciptakan untuk membongkar struktur sosial lama menuju masyarakat tanpa kelas, untuk membangun misi yang khas atas tujuan kesetaraan (melalui proses dan bentuk artistik); pengetahuan yang diperoleh dari melakukan, pemahaman partisipatif akan hal ini, kesadaran praktis, pertunjukan sebagai cara untuk mengetahui).


Sementara segregasi yang dimaksud dalam hal ini—saya impresikan dari diskusi tokoh-tokoh tersebut yang menciptakan jurang pemisah yang tajam antara siapa yang dominan dengan siapa yang non-dominan, seolah-olah sedang menunjuk pada siapa yang tuan, dan siapa yang budak, bagaimana kekuasaan yang kuat menindas yang lemah;[6] bagaimana mereka berpikir tentang kehancuran sosial melalui pertunjukan; pertunjukan sebagai optik, metafora, atau model teoretis untuk memahami budaya dalam performance studies; pengetahuan yang diperoleh dari kontemplasi dan perbandingan dari realitas “di sini dan kini.” Bagi saya, sejumlah tokoh tersebut digunakan sebagai cara mengetahui (praksis), agenda kolaboratif yang implisit untuk menolak dan mengganti pembagian kerja dalam struktur sosial yang mengakar kuat, apartheid pengetahuan, yang terjadi di dunia kita sebagai perbedaan antara berpikir dan melakukan, menafsirkan dan membuat, konseptualisasi dan kreativitas—yang masih bergantung pada pihak-pihak dominan tanpa memerdekakan ilusi kebebasan secara otonom.


Regresi pun diimpresikan saya, bagaimana menyoroti nasib regresif yang dialami, khususnya oleh kawan difabel dalam pertunjukan, seolah-olah mereka terus-menerus ditindas, seolah-olah mereka ditolak dari struktur sosial di balik wacana inklusivitas.[7] Konflik ini juga menyebabkan keterasingan bagi para buruh, di mana masih banyak ditemukan para pekerja terus merasa terasing dari hasil kerja mereka sendiri,[8] proses produksi, sesama manusia, sesama buruh, dan potensi mereka sendiri. Regresi ini bersifat sistemik, di mana kapitalisme berupaya mempertahankan dominasi melalui penindasan terhadap kita semua sebagai masyaraat proletar. 


Dari “Distrik Terakhir” realitas masyarakat proletar mengalami ketimpangan ekstrem; teori dan praktik, abstraksi dan perwujudan, merupakan pilihan yang terus sewenang-wenang dan artifisial, dan seperti semua binerisme, penuh dengan jebakan ke depannya. Kalau kita tidak menyepakati ilusi kebebasan;  kita tidak akan pernah memutus diri kita sendiri dari lahan subur pengalaman ini. Namun banyak juga di antara kita tetap mengambil jalan satu arah praktik, akan terjebak di jalan buntu yang terisolasi, bengkel praktisi atau koloni seniman.


“Made in China” Membawa pada Hiperrealitas dan Simulakra


Salah satu adegan dalam “Made in China” oleh Ngaos Art(Foto: AWE)
Salah satu adegan dalam “Made in China” oleh Ngaos Art(Foto: AWE)

Pendekatan multifaset ini, yang mungkin kita lihat di BUDAmFEST, dengan memilih aktor/kreator yang juga belum ‘mapan’ di bidangnya, menurut saya patut diapresiasi, itulah sebabnya saya menganggapnya sebagai “sekolah liar”; pergeseran radikal dalam berpikir dari “akar rumput,” untuk terus membahas beberapa isu yang dihadapi dunia, seperti ancaman lingkungan, penindasan dan eksploitasi manusia, kelebihan penduduk, dan ancaman Perang Dunia III, serta bagaimana kita menanggapi budaya konsumerisme—produk abadi kapitalisme. Seperti “Made in China” karya & sutradara AB Asmarandana, oleh Ngaos Art (Tasikmalaya) ini dapat dianggap sebagai bagian dari kelas ‘bongkar muat’—yang ditemukan pengarah mini festival ini di Lanjong Art Festival, yang mengeksplorasi drama bahaya abstrak melalui dialog yang menyentuh antara seorang ibu dan anaknya. Bagi saya, ini menjadi bidang pengetahuan yang berbeda yang membawa saya ke hiperrealitas dan simulakra, yang dipelopori oleh Jean Baudrillard.


Dialog awal tentang “Made in China” kemudian berubah menjadi tantangan filosofis mengenai pendidikan, agama, sejarah, globalisasi, dan identitas nasional, serta menyoroti konsumerisme, mengenai hilangnya kemampuan untuk membedakan antara realitas yang berlangsung dari apa yang dipikirkan tokoh dan representasi dari produk yang beredar. Dalam konteks budaya dan teknologi yang semakin maju, tumpang tindih ini juga meningkat. Semangat konsumerisme dari perbincangan filosofis ini tentu saja terkait erat dengan nilai yang ditawarkan oleh teknologi digital pada segala macam bidang, yang diibaratkan sebagai agen yang mampu membuat keputusan dan menghasilkan ide, di mana segala sesuatu yang dilihat dapat menarik seseorang—mengikuti, mengecek, membeli, menjual, dan seterusnya—yang kemudian ditransfer melalui berbagai media untuk menciptakan batas hibrida antara simulasi dan realitas dari produk-produk yang dipresentasikan, sehingga menciptakan hiperrealitas.[9]


Dialog antara ibu dan anak, yang kemudian berganti posisi tokoh, menciptakan dunia fantasi dan ilusi kebebasan dari realitas data yang diperoleh dari setiap objek perbincangan. Model produksi semacam ini bagi saya untuk mengembangkan pengalaman yang berbeda dari apa yang tampak sebagai hiperrealitas mengakibatkan budaya kosumerisme dapat kehilangan makna yang dimaksudkan. Demikian pula, tanda dan realitas, yang diambil alih oleh permainan bebas penanda, juga bersifat konsumeris di bawah rezim pengawasan panoptik, di mana pun hari ini.[10]


Subjek performatif dari konsumerisme mengakibatkan hiperrealitas dan simulakra dibangun sebagai sesuatu yang terfragmentasi, tidak stabil dan bukan tetap, disimulasikan dan bukan nyata. Menurut Baudrillard, simulakra merupakan objek yang diciptakan dalam kerangka kerja yang memadukan realitas dengan fantasi, fiksi, halusinasi, dan nostalgia, sehingga sulit untuk membedakannya. [11] Unsur-unsur inilah yang melintasi dalam pertunjukan tersebut, sehingga dengan sendirinya seketika berpikir; apa mesti saya lakukan setelah ini, apa yang mesti saya lakukan tentang sesuatu sesuai dengan standar, atau apa yang mesti saya lakukan tentang arah konsumerisme ini, agar lepas dari jebakan hiprerrealitas dan simulakra.


Jebakan itu pun ibarat jalan buntu yang disinggung di atas dapat dianggap sebuah malapetaka ataupun komedi gelap dari dialog-dialog yang ringan antara ibu dan anak, semakin menunjukkan kepada saya kepada simulakra. Sebab dari titik tolak “Made In China”, nukilan-nukilan problematika secara tidak langsung mengarah pada simulakra; objek nyata yang dihadapi oleh saya sepanjang rezim ini telah menyatu dengan imajinasi [12],selama pertunjukan berlangsung, sehingga sulit untuk membedakan antara realitas dan imajinasi. Bagi saya pun, dua tokoh dalam karya ini, cukup bermanifestasi dalam kembalinya keterasingan dan dampak yang sebelumnya dirasakan sebelum masuk ke Aula STOVIA. 


Dalam kehidupan sehari-hari pada konteks konsumerisme, “berakting” berarti pamer, dengan melakukan hal-hal di luar realitasnya dengan bantuan teknologi digital. “Berakting” dalam karya ini juga dapat dipahami dalam kaitannya dengan: menjadi, bertindak, mendemonstrasikan, menjelaskan, dan “pamer” atas kemampuan dan keterampilannya dengan hubungan dialogis antara ibu dan anak yang menggetirkan. Meskipun kegetiran antara apa yang saat ini diharapkan oleh saya atas perbincangan kedua tokoh tersebut yang terlihat rileks, bercampur lebur dengan imajinasi sejumlah realitas yang dibayangkan tidak selalu sepenuhnya merupakan bagian dari validasi dengan sejumlah data ini [13], melainkan upaya untuk memosisikan diri sebagai seseorang yang selamanya bebas.


Menurut Baudrillard, imajinasi juga menyimpan keinginan sejati seseorang, yang mungkin memang merupakan kebenaran. Dengan demikian, dalam hal ini, simulakrum berfungsi untuk memvalidasi apa yang tersembunyi di dalam diri kita masing-masing [14], seolah-olah apa yang diperbincangkan secara gelap tersebut melalui ibu dan anak telah memvalidasi bahwa segala macam realitas yang berlangsung telah menyebabkan matinya ilusi kebesan dalam rezim ini. Realitas ini juga dapat memuat sistem tanda yang menjelaskan hubungan antara penanda dan yang ditandai, atau antara tanda dan titik dalam realitas tersebut, menghasilkan makna yang eksplisit, langsung, dan pasti, dari dialog tokoh dan imajinasi saya sendiri. Simulakra pun terus berlangsung, yang diperbincangkan, dengan apa ditempel dan ditumpuk ke dalam otak saya, sama halnya dengan menyalin menempel sejumlah data tersebut, mungkin sedang mewujudkan ilusi kebebasan kita sebagai “akar rumput.”


Ilusi Kebebasan dalam ‘Penjara’ “Malin Kundang Lirih


Fajar Eka Putra (kanan) dalam “Malin Kundang Lirih” (Foto: AWE)
Fajar Eka Putra (kanan) dalam “Malin Kundang Lirih” (Foto: AWE)

Ilusi kebebasan dalam pertunjukan “Malin Kundang Lirih” karya Pandu Birowo,  saya memiliki begitu banyak harapan sebagai hubungan realitas yang hidup antara karya dan penonton secara langsung, terkait realitas kehidupan dan problematika sosial yang dihadapi bersama-sama. Seperti yang disebutkan sebelumnya, kelas ‘napak tilas’ ini juga terkait dengan kelas ‘bongkar muat’, di mana Fajar Eka Putra (ActorIdea_CreativeSpace), selaku aktor/kreator yang berasal dari Padangpanjang, juga tampak memiliki simulakra. Pendekatan Fajar terhadap “Malin Kundang Lirih” tetap bertujuan, yang berakar pada legenda, melalui impresi dari Malin yang lirih, getir, dan manusiawi atas kutukan yang dibebaninya selama ini. Ketika saya mengatakan simulakra, maksud saya, tanpa merujuk secara jelas dan tegas—sekalipun tetap punya rujukan, dengan ‘membatalkan’ semua kelembutan dan mengutuk ketidaktaatan untuk mewujudkan ilusi kebebasan. 


Meskipun ini mungkin dianggap ekstrem, maksud saya simulakra dapat berupa keinginan untuk deteritorialisasi [15]. Jadi, ketika saya mengatakan “Malin Kundang Lirih” menciptakan ‘penjara’, kekuatan yang dimaksud adalah ilusi kebebasan kita untuk menjelajahi pengetahuan yang lain tanpa mempermasalahkan hal yang bias, yang sering kali dipersoalkan. Ini dapat dipahami sebagai refleksi yang harus segera dipenuhi untuk melayani atau mengoptimalkan kemampuan kognitif bahwa legenda Malin jauh lebih populer daripada lainnya, untuk sesaat melarikan diri dari Minangkabau, Sumatra Barat—mungkin seperti di Riau, Kalimatan Barat, Jawa Barat, Sulawesi Tengah, dan Yunan [16], atau untuk menemukan sesuatu yang serupa/beririsan ceritanya untuk diperbincangkan langsung dengan penonton sebagai pengetahuan. 


Kita semua mengetahui bahwa teater bukanlah film, di mana film menawarkan kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh realitas, seperti transferensi atau ilusi kebebasan, sementara teater juga berinteraksi langsung dengan penontonnya—dan kita masih bisa bilang: permisi, ketika melewati penonton lainnya di saat aktor perform, dalam kondisi pertunjukan tertentu (bahkan juga performer berhenti sejenak menunggu penonton yang baru saja datang). Dari sini, saya juga merasakan terjadinya tindakan “kelas” di “luar kelas” ini yang menciptakan keterasingan. Seluruh rangkaian festival ini, sebagai sebuah cerita, tetap terjalin dengan emosi saya sepanjang mini festival, yang juga menjadi terasing—memang, terasing oleh pilihan Fajar. 


Jika, misalnya, Fajar melepaskan beban Minangkabau untuk mengeksplorasi Malin yang lain, atau Malin universal, atau, misalnya, Malin yang diinterpretasikan dari Joko Widodo dengan Megawati[17], itu bukanlah kecaman, tetapi bisa jadi permusuhan terselubung[18], keterasingan, di balik politik mereka.[19] Sebagai penonton, kita melihat teater, seperti yang dilakukan Maman Suherman [20], sebagai presentasi narasi yang kompleks dan rumit. Mengapa tidak mempertimbangkan keterikatan teater dalam pandangan rawa politik sebagai ilusi kebebasan?


Namun, ini hanyalah luapan emosi tentang keterasingan dari tempat duduk (bersilanya) penonton, yang mencerminkan situasi dan kondisi saat ini [21]. Bahkan menelusuri ulang atau menjelaskan realitas situasi dapat membebaskan kita dari legenda, atau mungkin menyebutnya Malin kontemporer [22]. Mungkin Malin, sebagai legenda, sedang diasingkan, seperti yang saya sebutkan di atas, atau, seperti yang telah dilakukan Maman dalam istilah teater, ke dalam rawa politik yang gelap. Atau, ‘penjara’ itu harus didobrak [23], memungkinkan penonton untuk merenungkan ulang atas isu-isu yang diperbincangkan, sebagai hubungan dialogis yang selalu terbuka—bukanlah sebuah cerita yang berakhir bahagia ataupun tragis, itu hanya omong kosong ke depannya.


Ingatan #kaburajadulu Terpanggil Ulang melalui Audio Performatif


Salah satu ruang di MUSKITNAS, yang menjadi bagian sejarah  STOVIA (Foto: AWE)
Salah satu ruang di MUSKITNAS, yang menjadi bagian sejarah  STOVIA (Foto: AWE)

Akhirnya, sampai pada bagian penutup tulisan ngalor ngidur ini, dari BUDAmFEST, yang saya pahami sebagai “angkutan akar rumput” pengetahuan yang terakumulasi melalui “kelas” di “luar kelas” yang disebutkan sebelumnya, dan melalui audio performatif ini (yang hanya diputar pada hari pertama, yang kemudian tidak diputar pada hari-hari berikutnya tanpa mengetahui alasannya (mungkin dianggap tidak indah dan melengking atau monoton)), justru dari sini ingatan tentang #kaburajadulu bermunculan di kepala[24], bahwa ‘penarikan’ adalah semacam sistem yang terus-menerus dihadapi dalam kehidupan sehari-hari dan juga berlangsung dalam sistem mereka. Ketika dianggap bahwa sesuatu tidak ‘mengasyikkan’, yang bebas dari panoptikon, pihak yang dominan memberikan instruksi untuk ‘menariknya’, seolah-olah tidak memberi penonton cara untuk berpikir tentang diri mereka sendiri dan kondisi yang membosankan juga bagian dari keindahan. Audio performatif, jika dipahami sebagai ‘kebosanan’, karena dibuat bukan dari yang ‘mapan’, sementara mereka yang hadir mungkin merupakan bagian dari yang ‘mapan’, tetapi sebagai suara/bunyi, ia juga memiliki nilai keterasingan. 


Sama seperti keterasingan yang dirasakan dari #kaburajadulu pada saat itu[25], dengan suara/bunyi yang ‘membosankan,’ mungkin saya juga ‘menderita’ sepanjang pertunjukan. Mungkin Gen Z merasakan penderitaan, yang ditanggapi Noel [26], yang kini tertimpa kasus korupsi,[27] bagian dari cara mengasingkan diri. Mungkin Noel juga merasakan penderitaan akibat tindakan hukum, melanjutkan aksi dramatisnya tetapi tetap memperhatikan ornamen atau kostum warna orange-nya. 


Tagar seperti ini adalah contoh ornamen yang terjadi dalam realitas, yang memberikan perasaan serupa kepada penonton untuk mini festival ini. Saya mungkin lebih setuju, jika audio performatif yang tidak ‘mengasyikkan’ terus diputar, itu dapat menjadi elemen penting dari pertunjukan festival, memungkinkan perkembangan emosional atau memasuki realisme yang mendalam. Audio performatif yang tidak ‘mengasyikkan’ seperti itu dapat menghancurkan atau mencegah kita sebagai penonton untuk memasuki keadaan emosional, juga sekaligus berfungsi untuk ‘mengutuk’ atau ‘mempertanyakan sesuatu,’ jika kita entah bagaimana terombang-ambing oleh ilusi kebebasan otonom sejati. 


Meskipun kita tidak memiliki otonomi penuh, bahkan jika itu hanya bisikan, pengarah mini festival mini telah memberi kita kebebasan untuk mengelolanya. Ketika itu tidak sesuai dengan selera kita, seni, dengan caranya sendiri, ‘menarik’ suara/bunyi itu dari ruang-ruang STOVIA. Saya ingin memasukkan ini sebagai pengetahuan, bagian integral yang mengekspresikan kepekaan kita. Semakin lama saya melanjutkan ada di sana, semakin tampak bagi saya bahwa pembentukan wacana dan genealogi pengetahuan perlu dianalisis, bukan dalam hal jenis kesadaran, persepsi, dan ideologi, tetapi dalam hal taktik dan strategi kekuasaan. 


Apakah ini masih memiliki peran untuk dimainkan, termasuk bagaimana kita harus mengadopsi sikap ‘melarikan diri,’ sebagai pilihan yang paling layak, singkatnya, pertunjukan—menginformasikan dan mendorong operasi yang tak terhitung. Kita dalam BUDAmFEST, menjadi situs utama pengetahuan dan kekuasaan. Mengingat situasi rezim yang relatif baru ini—tetapi juga belum bisa dibilang baru, banyak pertanyaan etika tetap terbuka lebar. Yang utama di antaranya adalah “intervensi”—biologis, militer, dan budaya yang sedang berlangsung belakangan ini;  Mengapa rezim ini mau bergabung dengan Perdamaian  Dewan Perdamaian Bentukan Trump[28], sekalipun sudah dijelaskan, lalu apa yang kita bisa kita perbincangkan dalam festival berikutnya mengenai ini [29], dalam menjangkau lebih luas; intervensi genetik, eugenika, kloning, Warren Buffett; AI sama berbahayanya dengan senjata nuklir,[30] bagaimana abad kita ke depan setelah Trump menargetkan beberapa negara sebelumnya setelah Venezuela; akahkah Greenland, Kolombia, Kuba, Meksiko,[31] dan Iran yang kini tengah berlangsung perang,[32] menjadi kenyataan, mengikuti serangan ganas sepanjang 2025 (Nigeria, Somalia, Suriah, Irak, dan Yaman) hingga kini oleh Trump?[33]


Daftar Pustaka


  1. https://findanexpert.unimelb.edu.au/news/63207-apa-yang-dimaksud-dengan-'male-gaze'-dan-'female-gaze'%3F; https://www.studiobinder.com/blog/what-is-the-male-gaze-definition/; https://www.newyorker.com/books/second-read/the-invention-of-the-male-gaze, diakses terakhir kali pada tanggal 2 Februari 2026
  2. Crenshaw, Kimberlé. 2017. On Intersectionality: Essential Writings of Kimberlé Crenshaw. New York: The New Press.
  3. https://www.pojokseni.com/2024/11/storytelling-performative-metode.html, di diakses terakhir kali pada tanggal 2 Februari 2026.
  4. Marx, Karl, and Engels, Friedrich. 2002. The Communist Manifesto. (G. Stedman Jones, Ed.). London: Penguin Books.
  5. Saya memahaminya dari tulisan Wiratmo; Apakah pertunjukan Egmont di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tahun 1970-an, belum tentu sama dengan apa yang terjadi pada para martir Belanda pada abad ke-16 di Kekaisaran Spanyol—yang dapat dilakukan dengan kelas ‘bongkar muat’. Karena menurutnya, penonton yang menyaksikan Egmont pada waktu itu jauh lebih berharga. Wiratmo telah memberi kita penjelasan bahwa naskah Barat mesti disesuaikan dengan situasi kita; Karena drama, menurutnya, tidak sama dengan retorika, yang dapat menceritakan tentang masa lalu tanpa hit et nunc (di sini dan kini). Wiratmo juga mempertanyakan bahwa waktu yang terjadi pada abad lalu di Barat, tidak boleh disamakan dengan abad lalu di zaman kita pada konteks pertunjukan, sangat mungkin bahwa apa yang terjadi pada abad lalu, bagaimana konteks saat ini; yang menurutnya telah menjauhkan waktu. Sementara itu, baginya, pertunjukan modern berpegang pada prinsip hic et nunc Soekito, yang tidak hanya harus mendekatkan tempat, tetapi juga mendekatkan waktu kepada penonton, yang tidak hanya harus mendekatkan tempat, tetapi juga mendekatkan waktu kepada penonton. Wiratmo. 2020. Drama Berakhir dengan Diskusi: 63 Esai Wiratmo Soekito. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta & Institut Kesenian Jakarta .
  6. https://www.bbc.com/indonesia/articles/ceve1g0wndmo, Menelusuri jejak feodalisme di Indonesia – Dari zaman Kerajaan Mataram hingga era pemerintahan Prabowo; https://getradius.id/news/06991-indonesia-dengan-sindrom-feodal-pejabat-masih-merasa-raja-rakyat-tetap-jadi-kawula; https://kumparan.com/agung-rifna-ajie/refleksi-budaya-feodal-kenapa-hanya-husein-yang-protes-20OL8S18rm7, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  7. https://projectmultatuli.org/difabel-diaibkan-keluarga-masih-diabaikan-negara/; diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  8. https://fspbi.or.id/perjuangan-dan-realitas-kesadaran-kelas-buruh-di-zaman-modern/; https://www.idntimes.com/life/career/5-keterasingan-buruh-di-dunia-kerja-menurut-teori-alienasi-kerja-01-9r32v-h8r2gs; https://www.kompas.id/artikel/menelisik-janji-prabowo-gibran-untuk-kesejahteraan-buruh, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  9. Piliang, Amir Yasraf. 1999. Hiper-realitas Kebudayaan: Semiotika, Estetika, Posmodernisme. Bandung:LKIS.
  10. https://antikorupsi.org/id/baru-setahun-sudah-represif-otoriter; https://projectmultatuli.org/serial/rezimperangprabowo/; https://www.lbhbandung.or.id/satu-tahun-rezim-prabowo-gibran-kembalinya-wajah-otoritarian-dan-runtuhnya-supremasi-sipil/, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  11. Baudrillard, Jean. 1994. Simulacra and Simulation. Sheila Faria Glazer. Penerjemah. Michigan: The University of Michigan Press.
  12. Aziz, Imam. 2001. Galaksi Simulacra. Yogyakarta: LKiS
  13. https://www.balairungpress.com/2025/02/rezim-prabowo-gibran-sisihkan-pendidikan-rakyat-yogyakarta-gaungkan-perlawanan/; https://antikorupsi.org/id/makan-gratis-pakai-anggaran-pendidikan-tipu-tipu-pemenuhan-20-apbn-untuk-pendidikan; https://www.kompas.id/artikel/rapuhnya-politik-kebijakan-pendidikan; https://www.bbc.com/indonesia/articles/cd0v8g47glvo; https://www.kompas.id/artikel/setahun-pemerintah-kebijakan-agama-dinilai-mengalami-kemunduran; https://kbr.id/articles/ragam/prabowo-absen-bahas-ham-dan-toleransi-saat-pidato-tandanya-; https://theconversation.com/rezim-prabowo-politik-maskulin-paternalistik-kesetaraan-gender-hanya-omon-omon-269280; https://theconversation.com/fadli-zon-menyangkal-pemerkosaan-massal-1998-revisi-sejarah-picu-kemarahan-publik-259082;  https://rmol.id/publika/read/2026/01/26/695184/pidato-prabowo-di-davos-dan-kontra-skema-global; https://nasional.sindonews.com/read/1635371/15/akademisi-identitas-nasional-lewat-pendekatan-budaya-makin-kuat-di-era-prabowo-1761102613/5, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  14. Ramadhan, Aditya. 2025. “Terapi Imajinasi Orang-orang Pilihan.” Institut Seni Indonesia Surakarta. Disertasi karya seni.
  15. https://www.pojokseni.com/2025/12/catatan-samping-deteritorialisasi-ala.html, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  16. https://regional.kompas.com/read/2022/07/07/063000778/legenda-si-lancang-kisah-anak-yang-durhaka-kepada-ibunya?page=all; https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/cerita-rakyat-kalimantan-barat-legenda-batu-menangis/; https://thepatriots.asia/nakhoda-manis-si-tanggang-dari-brunei/; https://www.detik.com/jabar/budaya/d-6275885/legenda-situ-bagendit-cerita-rakyat-jawa-barat-dari-garut; https://tekno.sindonews.com/read/1234223/766/mirip-kisah-malin-kundang-fenomena-alam-hutan-batu-naiad-yang-menakjubkan-1698149403, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  17. https://rmol.id/politik/read/2023/10/22/594171/jokowi-bak-malin-kundang-politik-bagi-pdip, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  18. https://nasional.kompas.com/read/2022/06/10/08035851/jokowi-dan-megawati-dramaturgi-yang-paradoks?page=all, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  19. https://www.rmolaceh.id/perseteruan-megawati-jokowi-dinilai-pura-pura; https://www.dw.com/id/blak-blakan-mega-bilang-baik-baik-saja-dengan-jokowi/a-69864494, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  20. https://www.youtube.com/watch?v=TGdn5Bx7VOg, Rocky Gerung vs Sabrang MDP vs Kang Maman Suherman Roasting Hendri Satrio,  diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026
  21. https://nasional.kompas.com/read/2014/09/20/17503641/Politik.Malin.Kundang?page=all; https://thecolumnist.id/artikel/republik-bapakisme-versus-suara-malin-kundang-798; https://eseinosa.com/2025/12/06/ibu-kita-lonte-malin-kundang-pangku/5/; https://jamaldrahman.wordpress.com/2008/09/20/malin-kundang-bernama-indonesia-puisi-dan-kesadaran-berbangsa/; https://rmol.id/amp/2020/04/24/431870/malin-kundang-milenial; https://pskp.kemendikdasmen.go.id/gagasan/detail/merdeka-belajar-sebagai-malin-kundang, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026
  22. https://www.pojokseni.com/2024/01/malin-kundang-dan-politik-kontemporer.html, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  23. https://news.harianjogja.com/read/2019/06/26/500/1001202/penjara-di-indonesia-diduga-masih-menjadi-tempat-penyiksaan-dan-perlakuan-kejam; https://www.youtube.com/watch?v=HsfPE62LP_A, ADA "SUSTER"AN S3X1 DI PENJARA⁉️MAU TAU ISI PENJARA SEBENARNYA⁉️TIO PAKUSADEWO – Podcast; https://integritasnews.com/luncurkan-novel-bui-tio-pakusadewo-ungkap-kisah-kelamnya-di-balik-jeruji-besi/, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  24. https://www.kompas.id/artikel/ada-apa-di-balik-seruan-tagar-kaburajadulu, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  25. https://www.kompasiana.com/maulidialathifah0363/681b773fed64155fc5534e12/fenomena-sosial-kaburajadulu-ekspresi-kekecewaan-dan-pencarian-harapan-generasi-muda-indonesia; https://www.voaindonesia.com/a/kaburajadulu-viral-di-tengah-kemarahan-masyarakat-soal-kualitas-hidup/8005045.html, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  26. https://wartakota.tribunnews.com/2025/02/19/soal-tanggapi-kaburajadulu-jangan-balik-lagi-noel-saya-tidak-tahu-yang-tanya-wartawan-apa-bukan, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  27. https://www.tempo.co/hukum/immanuel-ebenezer-sebut-bakal-ada-ott-bupati-hingga-menteri-2112163, diakses pada tanggal 3 Februari 2026.
  28. https://www.hukumonline.com/berita/a/menlu-ungkap-alasan-indonesia-gabung-dewan-perdamaian-bentukan-trump-lt69753af228437/, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  29. https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/97642/menakar-untung-rugi-indonesia-gabung-board-of-peace-trump, diakses terakhir kali pada tanggal 3 Februari 2026.
  30. ibid.
  31. https://www.cnbcindonesia.com/news/20260106072206-4-699868/5-negara-dan-wilayah-yang-jadi-target-trump-setelah-venezuela, diakses terakhir kali tanggal 7 Maret 2026
  32. https://www.kompas.id/artikel/sebesar-apa-dukungan-domestik-trump-dalam-perang-iran, diakses pada tanggal 7 Maret 2026.
  33. https://www.beritasatu.com/internasional/2972927/jejak-serangan-ganas-donald-trump-7-negara-dibom-sejak-2025, diakses terakhir kali pada tanggal 7 Maret 2026.