05 February 2013

author photo

Baca Juga


Oleh : Diah Irawati S.S M.Pd & Adhyra Irianto

Drama eksperimental memang lebih ditujukan dalam konsep tontonan, atau mau nonton silahkan, nggak ya sudah. Meski begitu, bukan berarti tidak mengindahkan kaidah dramaturgi. Sebagai catatan awal, dari berbagai sumber dapat disimpulkan bawah drama eksperimental lebih merupakan eksperiment seorang sutradara. Sampai diwilayah Bengkulu, yang saat ini sedang getol dengan aliran ini, dikatakan bahwa aktor-aktor hanya berupa "kelinci percobaan" dari sang sutradara.

Konsep lain menyatakan bahwa, dikatakan oleh Putu Wijaya, drama ini berbentuk teror mental. Konsep drama yang terkadang lebih menonjolkan gesturikal dipadu dengan kekuatan musik dan properti. Penonton dapat dimanjakan dengan pertunjukan yang lebih menyerang hati daripada matanya.

Drama Eksperimental, memang secara kasar kita sebut adalah hasil dari eksperimen satu orang atau lebih. Dengan menekankan pada konsep pertunjukan, kadang drama eksperimental berisikan tari, gerakan gesturikal hingga pantomime. Drama absurd buatan Samuel Beckett misalnya, diawali dengan eksperimen hingga muncullah aliran absurdisme tersebut. 

Saat ini, sudah banyak teater yang berhasil menunjukkan drama eksperimental. Berbagai jenis drama model baru sudah menjadi tontonan publik, sebagaimana drama realisme pada umumnya. Teater Garasi, Teater Satu Lampung dan beberapa teater lainnya, tercatat sebagai beberapa teater yang kerap menampilkan Drama Eksperimental ini.

your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement

Loading...