Chaos: Autobiografi, Metode Riset Artistik, Dramaturgi Depresi, dan Estetika Keruwetan & Kesalahan Teknis yang ‘Disembah’ -->
close
Pojok Seni
17 February 2026, 2/17/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-02-17T01:00:00Z
teaterUlasan

Chaos: Autobiografi, Metode Riset Artistik, Dramaturgi Depresi, dan Estetika Keruwetan & Kesalahan Teknis yang ‘Disembah’

Advertisement
Kombinasi antara video dan tindakan dalam “Chaos: Autobiografi, Metode Riset…” (Foto. Adhitia Armitrianto)


Oleh Arung Wardhana Ellhafifie


Dari diskusi performatif “Chaos: Autobiografi, Metode Riset Artistik, Dramaturgi Depresi, dan Estetika Keruwetan & Kesalahan Teknis”, yang diadakan di mini pendopo, Taman Budaya Raden Saleh, Semarang pada Jumat, 13 Februari 2026 atas inisiasi Adhitia Armitrianto, biasa disapa Adhit, selaku ketua Dewan Kesenian Semarang (DKS), berkolaborasi dengan Teding Teater dan Meramu Dapur Pertunjukan, saya pikir pengetahuan yang dianggap unggul atau tersentralisasi di Jawa, mungkin hanya mitos. Sebab apa yang terlihat, dari perjalanan saya di beberapa kota besar di Jawa seperti Jakarta, Surabaya, Malang, Sidoarjo, Kediri, Yogyakarta, Surakarta, Jember, Bandung, dan Semarang, dalam lima tahun terakhir ini, masih ditemukannya ketidakmerataannya pengetahuan yang diterima atau diserap/diresap. Khususnya dalam memahami atau menyikapi perkembangan seni hari ini, terutama teater, seolah-olah Jawa sentral akan berbagai pengetahuan (dalam hal ini seni teater), pada realitasnya juga tidak benar-benar demikian—hal yang dianggap ‘mapan’ juga masih menyimpan persoalan yang ‘tidak mapan’; hal yang dianggap sentralisasi menjadi terdesentralisasi di beberapa kota kecil seperti Pamekasan, Sumenep (mungkin keduanya bukan termasuk Jawa—huahaha), Padang Pariaman, Jayapura, Maumere, dan lainnya (meskipun ini juga sangat disadari sebagai subjektivitas dari pembacaan yang ‘terbatas’)—termasuk dari sejumlah video yang dipresentasikan.


Realitas yang terjadi malam itu telah membentuk deteritorialisasi tersendiri jika kita merujuk pada pemahaman Gilles Deleuze (1925-95) dan Félix Guattari (1930-92)—yang juga terkait dengan tulisan saya sebelumnya.[1] Deteritorialisasi merupakan gerakan meninggalkan teritori atau area yang lama bukan berarti dianggap usang. Melainkan sebagai upaya  memperluas dari teritori yang telah teruji atau dianggap ‘mapan’, dengan bergerak keluar dari zona yang nyaman atas pemahaman bertahun-tahun,[2] di mana mereka mencoba mempertahankan pemahaman mereka tentang deteritorialisasi tanpa sumber yang jelas, tanpa membaca Deleuze dan Guattari, tetapi bersikeras membawa pemahaman mereka tentang deteritorialisasi dari para pengamat diskusi performatif yang didominasi oleh Generasi X (Gen X) ini juga berkelindan dengan teori chaos Deleuze dan Guattari—sebutlah salah satunya dalam hal ini Kelana, yang mendominasi berlangsungnya diskusi performatif ini sebagai partisipator aktif.


Sementara itu, menurut Deleuze dan Guattari, chaos didefinisikan sebagai upaya percepatan kemunculan ‘yang lain’ dan ‘penghilangan’ yang ‘tak terbatas’, mengaktivasi untuk terlibat dalam struktur disipatif; sebuah proses perubahan yang terus menerus  bersifat resistor dan cenderung beroperasi jauh, mengalami ketidakstabilan pola, ketidakstabilan fisik maupun psikis,  relativisme epistemologis yang menyatakan bahwa kebenaran bergantung pada perspektif pengamat parsial; sebagian, tidak lengkap, atau tidak menyeluruh, dan dunia nyata itu kompleks sehingga membutuhkan pergeseran dari epistemologi reduksionis ke epistemologi rasional [3]. Chaos pada malam itu, disebabkan oleh dorongan Gen X (yang disebutkan oleh Deleuze & Guattari hanya pengamat parsial bukanlah holistik—dikarenakan pengakuan mereka tidak pernah membaca Deleuze & Guattari dan lainnya). Chaos bagi mereka secara harfiah adalah chaos yang tampak di depan mata, bukan chaos seperti yang disiratkan teori dalam realitas yang sedang berlangsung—justru mereka sedang memainkan estetika chaos yang dimaksud (tentu ini keberhasilan bukan “kekandasan” yang diharapkan untuk terus ‘disembah’, tetapi ‘mengerikan’ buat masa depan teater (kata saya dalam hati sembari manggut-manggut sembari memegang kepala dalam diskusi performatif tersebut)), bukan sebagai chaos total atau tidak adanya keteraturan, melainkan sebagai landasan yang dinamis, kreatif, dan penuh potensi. 


Bagan autobiografi terkait dengan dramaturgi biografi/autobiografi (Foto. Hoirul Hafifi)



Justru diskusi performatif yang berlangsung bagi saya merupakan deteritorialisasi pada rujukan teori chaos Deleuze dan Guattari. Saya sangat sadar mengalami ketidakstabilan fisik maupun psikis kalau dirujuk pada bagan autobiografi di atas. Gangguan psikologis terus keluar masuk menghadapi Gen X yang bersikeras masuk kepada produknya sebagai karya, bukanlah sebagai perluasan produksi wacananya sehingga menyebabkan ledakan-ledakan yang berpotensi pada ‘kerentanan’, baik secara fisik maupun psikis. 


Mereka secara umum mengabaikan teori chaos yang banyak dituliskan sejumlah teoretikus, di antaranya chaos yang dirujuk dari kedua tokoh filsuf Prancis ini, sebagai chaos yang kasat mata, yang mengandung teka-teki atas keberaturan di balik ketidakteraturan, “frekuensi” yang selalu berubah, di mana perbedaan dan intensitas mendahului bentuk dan identitas yang stabil untuk ‘diganggu’ menujuk pada ketidakstabilan. Pembacaan parsial selalu muncul dan sering ditemukan dalam beberapa momen tindakan tanpa mengacu pada sumber yang jelas, sehingga cukup mengusik jiwa saya antara emosi, konflik (dengan mengeluarkan umpatan layaknya sehari-hari merupakan sebagian kausalitas “kekandasan” dalam autbiografi/biografi saya), dan berupaya mempertajam konflik untuk mencari kesimpulan. Seolah-olah akhir dari segalanya tidak dapat ditentukan dalam sebuah chaos yang dimaksud saya, karena bagaimanapun juga dalam seminar Deleuze dan Guattari sama-sama berhasrat ‘mengakhiri’ jika terjadi hal-hal yang tidak memungkinkan untuk terus berproduksi.


Diskusi peformatif ini kemudian dibawa mereka kepada pemahaman teater chaos sejak pertunjukan belum berlangsung, hingga diskusi performatif pun, tetap saja mereka memandang sebagai teater (bukanlah sesuatu kesalahan justru di balik label yang disematkan kemudian ‘direbok’ ulang membuat deteritorialisasi bergerak pada reteritorialisasi—bagi saya menyenangkan saja). Sejujurnya, saya kurang terlalu memahami teater yang dimaksud para pengamat ini. Hampir sebagian Gen X pada malam itu, di antara pengamat terus masih terus asyik dengan pemahaman teater—sementara sudah dibawa ke beragam cara, bahkan dirujuk pada Putu Wijaya, dengan teror mentalnya, [4] (dan bisa jadi juga belum membaca literatur yang dilampirkan ini) yang belum mampu saya capai, dan potensi kreatif seolah ‘dipaksakan’ oleh estetika chaos yang dipahami secara realitas dari sebuah chaos.


Video tanggapan para pemegang kekuasaan di beberapa negara saat Covid-19 (Foto: Adhitia Armitrianto)

Saya pun hanya tetap mengacu pada Deleuze dan Guattari yang merujuk pada Nietzsche; chaos (sebagaimana saya menghadirkan video sejumlah berita-berita pada saat peristiwa chaos Covid-19 yang ditumpangtindih dengan tindakan saya dalam ruang persembunyian di sebuah kampus dengan kencing di pojok ruang setiap waktu dengan botol air mineral ukuran sedang, memukul-mukul tubuh sendiri, dan memainkan jepitan jemuran ke objek yang ada dalam ruang persembunyian kala itu—tanpa dibebani oleh makna pun juga bagian dari deteritorialisasi) yang terjadi tentang sebuah proses negosiasi bersama sebagai sumber potensi dan kreativitas untuk terus dijelajahi dan ditelusuri secara holistik. Selain video tersebut, sekumpulan berita demonstrasi di Pati maupun di Jakarta, yang dikombinasikan dengan ujaran dari nelayan Tangerang, Banten, [5] mengenai pagar laut dilakukan secara berulang-ulang sebagai transisi. Video ini dalam penyuntingannya juga dikerjakan ‘terbatas’ dengan menggunakan teknik perekaman jeda dari layar laptop, yang kemudian salah satu pengamat membayangkan chaos sebagai estetika yang mengacu pada pemahamannya yang diambil dari berbagai kejadian di beberapa kota di negara ini (yang mungkin saya pertimbangkan atau abaikan mengingat pemahaman tentang chaos tanpa referensi yang jelas—itu pun dilakukan setelah saya menutup diskusi peformatif, setelah saya menguraikan pemahaman deteritorialisasi yang ditawarkan Deleuze dan Guattari tanpa ada keinginan untuk mengecek ulang referensi ini seolah ingin mengatakan kebenaran ‘tunggal’ merupakan miliknya), yang saya khawatir tidak terlalu mampu untuk memasuki pemahamannya, mungkin begitu sebaliknya.


Titis menguraikan sebuah cerita dari sebuah rumah sakit terkait sebuah keganjilan (Foto: Adhitia Armitrianto)

Di sisi lain, dalam konteks “di sini dan kini” [6], saya juga lupa menyertakan video yang dialami oleh masyarakat Semarang, meskipun ada video demonstrasi di Pati, di mana Sudewo, bupati kini menjadi tersangka korupsi. Jarak antara Pati dan Semarang sekitar dua jam lebih, meskipun saya tidak dapat mengatakan representasi dari Semarang. Ketika itu ditayangkan mungkin saya memperoleh pengetahuan tentang pembacaan dari demonstrasi tersebut, meskipun pada malam itu, ada Gen Z, yang juga datang dari Pati, biasa disapa Niar dan Titis, yang merupakan dua inisiator agenda diskusi performatif ini dengan Adit, yang kemudian dipertanyakan tentang posisinya sebagai perempuan oleh Kelana; bahkan juga secara tegas dipertanyakan bagaimana Niar cara bekerja selanjutnya sebagai perempuan Pati atas sejumlah kebijakan yang diambil oleh Sudewo, yang kini dijabat oleh Risma Ardhi Chandra.[8]


Saya kira Kelana sedang menerapkan deteritorialisasi Deleuze dan Guattari, yang menjadi dominan dalam pertunjukan ini sebagai partisipan; di satu sisi, itu berisi apa yang saya tuju dari pantulan sejumlah video dan tindakan yang dipresentasikan—‘keluar’ dari pemahaman estetika pada umumnya apa yang tampak dalam pertunjukan. Bagaimana sekiranya Niar dan Titis membahas “suaranya” sebagai warga Pati terhadap masyarakatnya dan bagaimana cara ‘melakukan sesuatu’ terhadap problem ini. Apa yang sudah berlangsung di Pati dari perspektif perempuan selama ini yang bisa dipresentasikan kepada saya sebagai pengetahuan untuk melihat sejumlah ‘ketidakberesan’ ini; sayangnya metode Kelana yang juga ambigu antara ‘menyerang’ pemahaman chaos yang saya maksud, merujuk pada Deleuze dan Guattari, menjadi ‘berantakan’ menurut pemahamannya tanpa rujukan atas keparsialitasannya (berpotensi untuk dirinya diberikan “suara”, sehingga juga menjadi bagian dari tanda chaos lainnya).


Menurut Deleuze dan Guattari dari bukunya yang sudah dilampirkan di atas, chaos dapat dipahami sebagai “ruang” di mana segala sesuatu mungkin terjadi sebelum dipaksa menjadi bentuk yang tetap. Ini baginya dapat difungsikan menjadi ruang intensitas (sebagaimana saya melakukannya dengan metode riset artistik, practice as research pada malam itu)[9], bukan sekadar chaos empiris. Sedangkan pengamat lainnya, selain Kelana, mempresentasikan chaos menurut realitas yang terjadi untuk terus didorong kepada saya dengan segala macam makna yang ‘tunggal’ di kepalanya.


Bagan pemahaman assemblage tentang sebuah kota ke kota; bagian autobiografi (Foto: Hoirul Hafifi)


Tanpa mereka lihat lebih jauh, tentang filsafat, ilmu pengetahuan, dan seni merupakan cara kita dan semesta melalui ruang itu dalam menghadapi chaos dengan menciptakan konsep, fungsi atau sensasi yang memantapkannya untuk sementara. Di mana perbedaan ini juga memahami bagaimana keteraturan muncul dari chaos tanpa menghilangkannya, yang mana mereka sendiri telah merasakan bahwa ini juga keteraturan. Sejalan dengan pemahaman Mahendra (sutradara Language Theatre, Sumenep), estetika chaos yang ditawarkan dalam beberapa karya saya sebagai perspektif ‘kompleks’ tentang realitas yang dibangun oleh chaos teratur.[10]


Dalam tulisan lainnya, Mahendra menuliskan: Tujuan dari chaos ini sangat dekat dengan autobiografi/biografi diri saya, untuk menemukan tatanan umum dari sistem sosial yang dibangun di atas ‘ketidakpastian’ dalam sistem tersebut, yang kemudian direpresentasikan sebagai perilaku keseluruhan, yang memberikan prediktabilitas tertentu, bahkan ketika pertunjukan tidak stabil. Justru dalam ketidakstabilan pertunjukan itulah sedang merumuskan diri saya sendiri. Estetika chaos bukanlah sistem (pertunjukan) acak; justru dari chaos ini penciptaan memiliki semacam keteraturan; dengan menemukan persamaan tindakan yang menentukan tubuh, gerak tubuh, dialog, komunikasi, sebagai hasil dari perilaku keseluruhan [11], dari perjalanan riset di kota ke kota (seperti yang tertera dalam gambar di atas) melalui sebuah pertunjukan yang disadari sebagai practice as research


Deleuze dan Guattari dalam melihat choas sebagai energi mentah kehidupan dan pemikiran, yang selalu mengancam untuk meruntuhkan struktur-struktur yang kaku namun juga merupakan sumber inspirasi yang tiada habisnya. [12] Saya pikir di tingkat “akar rumput” di sebuah kota besar pun, beberapa pengetahuan masih belum sepenuhnya terserap dan teresap; lagi-lagi disibukkan untuk tujuan apa, untuk siapa, seolah-olah datang untuk kebutuhan tertentu, seperti di Semarang diduga oleh pengamat lainnya—seorang kandidat doctoral, menduganya diinformasikan oleh Adhit bahwa Semarang sedang membutuhkan jenis pengetahuan ini dan itu, dan seterusnya; itu lagi-lagi menjengkelkan dan ‘mengganggu’ sebagai kenikmatan untuk dituliskan. Seolah-olah saya datang dengan agenda adilihung (itu hanya omong kosong karena saya tidak ‘menyembah’ keadiluhungan, dengan menawarkannya ke Adhit beralasan ingin memperoleh pengetahuan; itu pun mungkin juga omong kosong)—dan kemustahilan dugaan itu terjadi, dikarenakan saya datang bukan atas dasar undangan yang kemudian Adhit menarasikan pertunjukan Semarang butuh ini butuh itu, tentu saja hal ini mustahil, mengingat Adhit tanpa banyak bicara, hanya menjawab ya melalui WhatsApp dan berkomunikasi dengan saya jika diperlukan; yang akan diuraikan lebih merinci pada satu bagian berikut ini.


Kelana (kanan) partisipator aktif dalam diskusi performatif (Sumber: screenshot video Adhitia Armitrianto)

Saya ingin memastikan datang ke beberapa kota—khususnya di Semarang ini, mungkin kalau dianggap transenden berhasrat sebagai agen sosial (anjay), mengurus sepiring nasi untuk hidup itu saja rumit, lantas kenapa memikirkan hal-hal besar seperti yang diduga pengamat di atas. Pada dasarnya berkeliling kota, kadang-kadang hanya berteman dengan orang yang baru saya temui, seperti Adhit, setidaknya saya sebagai seseorang yang tidak memiliki jaringan luas—pertemanan sering dicancel dan meng-cancel, block mem-block WhatsApp dan Instagram (huahaha), untuk membuka peruntungan baru. Masalahnya adalah orang-orang yang berkomentar seperti itu juga datang di tengah pertemanan bersama Adhit dengan pertanyaan di kepalanya, kita terlalu sibuk membawa pemahaman sendiri tanpa berhenti pada pemahaman yang dipahami meskipun pemahaman itu belum tentu memiliki sumber yang jelas; justru itulah yang disebut datang dengan agenda yang ‘besar’ tapi ‘remeh’.


Sejak awal, saya berfirasat (tanpa dipikirkan serius) bahwa dramaturgi [13] depresi tidak disebabkan oleh data yang telah disiapkan, atau oleh dua buku saya yang akan dibahas dalam diskusi performatif. Saya sudah membayangkan bahwa Adhit atau lainnya tidak akan membaca kedua buku dalam format PDF, yang mungkin rumit atau sekadar malas untuk dibaca. Jadi saya mencoba menggeser waktu yang semula dijadwalkan ke bulan berikutnya, dan saya sengaja tidak menghubungi Adhit, karena buku-buku itu kemungkinan besar tidak akan pernah dibaca, dan bahkan jika dibaca, orang-orang tersebut tidak akan hadir; dan jika didistribusikan, kemungkinan besar tidak akan dilakukan secara menyeluruh, bahkan untuk mereka yang diasumsikan akan membacanya—juga tidak hadir pada malam itu. 


Dan pada realitasnya (berdasar pengakuan), Niar, sebagai inisiator, hanya dikirimi satu buku, dan bahkan buku itu pun belum selesai dibaca. Demikian pula, Adhit juga tidak membacanya sama sekali, karena dirinya lebih peduli dengan pertunjukan, karena dalam pikirannya masih dikelilingi oleh teritori tentang pertunjukan, sementara kedua buku yang dibedah melalui metode pertunjukan, yang mencoba merujuk pada deteritorialisasi Deleuze dan Guattari, tidak lebih dari itu. Narasi tersebut kemudian digambarkan sebagai teater chaos, yang menyebabkan para pengamat sampai pada sejumlah pemahaman di kepala mereka sendiri, tanpa mengacu pada teori apa pun (yang tidak masuk dalam kurasi Adhit untuk mendapatkan dua buku yang dimaksud). 


Salah satu tindakan yang tidak karuan saya; sebagiannya dari depresi (Sumber: screenshot video Adhitia Armitrianto)

Tanpa referensi spesifik para pengamat ini datang dengan pemahaman yang kemungkinan ‘tunggal’, dengan masalahnya hanya parsial atas pemahamannya, bukan holistik, dengan menciptakan chaos tersendiri. Selanjutnya ini memicu dramaturgi depresi; di tengah-tengah pertunjukan mengingat ‘serangan’ bertubi-tubi tanpa literatur yang memadai membuat kepala saya terasa sakit sepanjang diskusi performatif. Depresi yang dirujuk dari Word Health Organization (WHO) dan Retno et al. pada konteks saya; [14] merupakan gangguan mental yang umumnya ditandai dengan perasaan yang serba hilang; kehilangan minat atau kesenangan, penurunan energi, perasaan bersalah atau ‘rendah diri’, kesulitan untuk berkomunikasi, cenderung emosional yang tidak beraturan, kehendak untuk segera ‘mengasingkan’ diri, perasaan lelah, dan konsentrasi yang sudah mulai memburuk—seakan mengulang perasaan-perasaan sebelumnya yang menyebabkan kala itu keinginan untuk bunuh diri.


Kelana saat pertama kali muncul sebelum diskusi performatif berlangsung; mengajukan pertanyaan kepada saya, apa perbedaannya dengan teater forum yang ditawarkan oleh Augusto Boal (1931-2009) dengan teater chaos (bukan saya yang menyebutnya demikian)? Saya menjawabnya bahwa semangat yang dimaksud Boal merupakan niat artistik dan estetik yang ditawarkan oleh upaya purifikasi yang mendorong tindakan; dengan membocorkan nasib atau potret dunia yang berada dalam chaos; mencoba melihat premis “gelap”, ketidakharmonisan, bencana, di tengah ketidaksetaraan pengetahuan, pemahaman yang membeku, sistem lingkungan yang secara bersama-sama memahami kebenaran absolut; sehingga yang muncul adalah realitas sosial yang saling mengintimidasi [15] yang masih belum disetujui oleh pengamat ini, yang pada kenyataannya saya merasa sebagai orang tertindas tersebut. Jujur saja, saya mulai merasa kehilangan kepercayaan diri dan takut saat memasuki mini pendopo yang dipenuhi Gen X dan Baby Boomers ini, merujuk pada pernyataan Maramis dan Nathasya et al. tentang depresi dalam konteks saya. [16]


Sepanjang diskusi performatif, saya kesulitan menahan sakit kepala, pikiran saya chaos atau lambat, saya kesulitan berpikir taktis, mengingat bahwa ‘serangan’ tanpa referensi adalah yang paling berbahaya bagi kesehatan mental saya, dan saya merasa seperti tidak merasakan apa pun. Kelana datang dengan pemahaman yang berbeda tentang Boal tanpa menguraikan apa pun, meskipun saya mencoba menjelaskan purifikasi yang disebutkan oleh Boal, untuk menunjukkan masyarakat yang dibela atau diberi akses yang diberdayakan sambil menekankan bahwa gerakan ini memiliki kecenderungan politik, atau semacam aktivitas politik melalui sistem apa pun yang ada. Atau itu memberikan kesempatan untuk teks-teks kritis tentang gerakan aksi, dengan mengaktifkan kelas-kelas “pinggiran” secara lebih terbuka,[17] yang telah disebutkan Kelana dalam diskusi performatif. 


Kelana memainkan peran ganda, menuduh saya mengapa saya sama sekali membuat dramatik daripada membuat postdramatik, [18] tetapi masih punya kecenderungan dramatik, membuat saya merasa sedih, menarik diri, dan mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam menjawab segala pertanyaan, dan disertai kehilangan nafsu berlama-lama di area tersebut, serta mengalami kelelahan seketika—jika dirujuk pada pemahaman depresi oleh Desi. [19] Saya merasa mudah mudah tersinggung, stres, takut, dan kurang antusias—berusaha bergegas pulang (yang awalnya saya ingin pulang di pagi hari, akibatnya, saya mempercepat kepulangan saya ke kota lain), dengan kesedihan yang semakin mendalam hingga hasrat menutup diskusi performatif, yang lagi-lagi ‘diserang.’ Dramaturgi depresi sudah ditentukan oleh partisipator dalam mengacaukan konsentrasi, ketidakpercayaan diri, memancing emosional, keputusasaan tentang keberlanjutan dari diskusi performatif ini, dan pikiran untuk segera menyudahi—jika tidak, kemungkinan konflik fisik akan berlangsung. 


Saya baru menyadarinya di awal diskusi performatif—baru tiga menit berjalan Kelana langsung mengintervensi dengan berorasi layaknya sifat atau ciri dari diskusi performatif, pada dasarnya orang ini sedang membawa agendanya tersendiri. Sembari mendengarkan orasinya; saya kembali mengingat tentang pertanyaannya tentang keterlibatan penonton dalam diskusi ini yang dibandingkan dengan konsepnya Boal; sebagaimana saya menjelaskan bahwa ada kesempatan penuh bagi para masyarakat yang merasa “terpinggirkan” untuk berpartisipasi, menciptakan teater forum dengan metode dan sistem latihan yang ketat. Melalui tubuh mereka, apa yang mungkin dirasakan tubuh dengan diagnostik dan indikasi, Boal memosisikan teater sebagai literasi politik, melalui kesadaran tubuh dari sistem penindasan apa pun, mampu memberi dan menerima argumen antara yang tertindas yang dapat dengan mudah mengubah posisi penonton pun menjadi peserta aktif, [20] yang lagi-lagi untuk kesekian kalinya disangkal tanpa berpikir bahwa Kelana yang membuat dramaturgi depresi ataupun estetika keruwetan dan kesalahan teknis.


Layar yang diproyeksikan pada dinding triplek menjorok ke dalam pada sisinya (Foto: Hoirul Hafifi)

Lalu saya menyatakan berdasarkan sejumlah tulisan maupun video sistem latihan yang pernah saya tonton; Boal menerapkan latihan gerakan hewan dan tubuh Selatan, terkait dengan kesenjangan ekonomi, rasial, sosial-politik yang telah ada di Rio de Janeiro sejak abad ke-18, yang ditanggapi Boal sebagai kecenderungan politiknya; [21] yang kemudian dia abaikan seolah-olah latihan tidak dilakukan oleh Boal. Tanpa mempedulikan dirinya sejenak, saya mengatakan bahwa tidak memiliki sumber daya untuk pergi ke sana (sama seperti yang dilakukan Boal), sekalipun dalam tulisan Irianto sedang menunjuk saya pada estetika yang dirujuk oleh Boal [22]. Jadi bagi saya pengetahuan diri diperlukan untuk menjadi lebih kuat, kalau mau mengadopsi pemikiran Boal, yang mana Boal merujuk langsung pada kediktatoran Brasil pada waktu itu, tahun 1986, yang awalnya dipikirkan Boal di São Paulo, sebelum diimplementasikan di Lapa, Rio,[23] yang kemudian saya berinisiatif memulai di balik ‘kengeyelan’ Kelana tanpa memprediksi agenda yang dipersipkan olehnya untuk menjadi partisipator aktif, seolah menuding saya menyutradarai, padahal saya jarang sekali menggunakan istilah tersebut dalam lima tahun terakhir ini; di balik dirinya sedang menyutradrai saya selama diskusi performatif.


Di akhir bagian ini, dan juga sebagai catatan penutup, saya ingin menyebutkan bahwa, dalam pemilihan terakhir diskusi performatif akibat depresi yang dikhawatirkan akut, saat memutar kompilasi video dari enam karya saya sebelumnya, [24] sekitar tiga menit kemudian melakukan tindakan, Kelana tiba-tiba memeluk saya dan mencium kening saya (yang sama persis hitungan menitnya pada awal diskusi—seakan sedang membuat sebuah penyelesaian di tengah penajaman konflik yang hampir saya ‘bogem’ dengan microphone dalam pertunjukan). Itu ‘geli,’ tetapi cukup untuk memberi saya lebih banyak kepercayaan diri untuk ‘keluar’ dari depresi dan mampu menuliskan ini, untuk ‘keluar’ dari estetika keruwetan dan kesalahan teknis yang telah saya dan Adhit ciptakan. Bukan keruwetan dan kesalahan teknis dalam buku saya, tetapi estetika dari diskusi performatif ini yang diciptakan oleh partisipator aktif. 


Kalau mau merujuk pada tulisan Martin Suryajaya,[25] sebagai dasar saya memahami estetika keruwetan dan kesalahan teknis yang dibuat oleh Kelana et al., dipadu dengan pemahaman teori chaos yang ditulis Nasrullah Mambrol;[26] bagaimana  saya merespons, menciptakan, dan mengapresiasi segala tindakan Kelana et al. pada malam itu, untuk membawa kepada chaos, lebih jauh lagi secara mendalam dengan sistem pengorganisasian diri yang terjadi secara spontan, sedang menuju pada proyeksi sistem lainnya yang lebih luas atau terselubung di balik chaos itu sendiri, secara terus-menerus untuk menuju kesetaraan dalam hal apa pun. Saya pun ingin merujuk pada teori chaos yang dikemukakan oleh Edward Norton Lorens (1917-2008) [27], di luar cakupan teori chaos lainnya, di mana sebelumnya sudah saya input pemahaman teori chaos dari Deleuze dan Guattari, di luar pemahaman semua orang tentang chaos. Sumbernya hanya pada chaos yang terlihat, bukan yang tak terlihat, yang cenderung ada di kepala beberapa orang Jawa yang pernah saya kunjungi. Gen X dan Baby Boomers, cenderung membawa yang terlihat dari beberapa kota yang pernah disinggahi, juga pada umumnya serupa pada tataran masyarakat “akar rumput”.


Lorens mengatakan bahwa chaos pada dasarnya adalah ketika masa kini menentukan masa depan, tetapi perkiraan masa kini tidak secara akurat bisa menentukan masa depan, yang bisa dilihat dalam banyak sistem alam, termasuk aliran fluida, ketidakaturan sistem alam, ketidakaturan cuaca, dan perubahan iklim yang terus menerus—di baliknya juga ada campur tangan yang tak terlihat dalam membuat chaos. Sebagaimana saya membuka diskusi performatif tentang chaos di balik Covid-19, di baliknya kemungkinan juga ada keteraturan yang sedang dibuat oleh para kaum borjuis, dengan harapan pada deteritorialisasi, para partisipan tidak lagi mempermasalahkan apa yang terlihat pada umumnya; kemudian diperbincangkan, bagaimana saya membuat tindakan ‘tanpa makna’ ini sebagai stimulan untuk menguraikan karakteristik utama di balik chaos tersebut, apakah kemungkinan negara ikut andil dalam keteraturan ini sehubungan dengan pengorganisasian diri, prinsip antroposentris, batas chaos, dll—dengan mengabaikan dua buku yang tidak dibacanya. Sekiranya penerapan filosofis dan budaya apa saja, tentang dunia “di sini dan kini” (di Semarang) untuk memasuki gagasan kontinuitas dan stabilitas dari rangsangan tindakan yang dimaksudkan saya. 


Kalau merujuk pada tulisan Coveney dan Highfield,[28] prinsip chaos itu deterministic dengan asumsi keseragaman alam, yang kini terancam, di mana tujuan dari teori ini; dirancang untuk menangani dinamika sistem non-linier. Sistem yang telah terbukti sangat sensitif terhadap kecilnya apa pun dalam kondisi awalnya, yang dapat menyebabkan badai terbentuk; selayaknya Covid-19—dan kalau kita bercuriga bahwa di balik itu, ada keteraturan, sekiranya kita masih begini-begini saja, kita masih sibuk ngomongin estetika yang tampak sebagaimana pada umumnya teritori merupakan hal sulit untuk diprediksi sangat sulit, dan seringkali bisa sangat salah, dan kita masih kesulitan cari nasi sepiring, apa yang sekiranya bisa dilakukan ke depannya dari balik chaos ini. Dengan video ingatan itu, saya yakinkan bahwa tindakan sebelumnya bukan sebuah makna; saya menabur detergen di permukaan lantai, saya menjepit dengan beberapa jepitan ke baju, saya menggunting payung, dan lainnya, di mana selama ini disibukkan dengan simbol; justru pada para pengamat sibuk memberikan makna—seolah-olah saya memikirkan simbol sebelumnya (melainkan itu kebiasaan yang berulang-ulang campur aduk dalam keseharian), dari sini saya mendapatkan makna chaos yang dimaksudkan oleh Deleuze. 


Di antara para pengamat ini sibuk mencari-cari makna dari setiap tindakan, Titis muncul berbagi kesan terhadap Instagram, kemudian dilanjutkan dengan cerita pengalamannya tentang hubungan rumah sakit yang rumit, layanan rumah sakit untuk ibunya, di mana dirinya menceritakan biografinya (tanpa mempedulikan sebutan pertunjukan curhat). Bagi saya di balik chaos ini; ada sistem yang bermasalah, dengan dunia ketidakpastian ini, yang semakin meningkat, saya kira Titis sedang membawa bahwa pertunjukan ini bukanlah tujuan, melainkan caranya yang menyimpan sistem. Di setiap kesempatan ini pun, bagaimana kota menciptakan sistem, kita patut berprasangka tentang bagaimana sistem sehari-hari bekerja sedang digulingkan oleh sekelompok kaum borjuis. 


Titis bagi saya, sebagai Gen Z; sedang mempertanyakan di manakah kemampuan kita untuk mengetahui dunia secara mendalam, dari balik segala tindakan saya yang tidak ada gunanya; untuk memperkuat secara eksponensial dari waktu ke waktu melalui lintasan bidang ilmu non-seni. Kita terlalu asyik memberi tahu bahwa pertunjukan itu merupakan simbol, metafora, dan makna—jadi jikalau hanya mendengar orang sekadar beragumentasi, itu bukan dikatakan pertunjukan; lalu bagaimana kalau saya ingin mengatakan bahwa diskusi itu merupakan sebuah pertunjukan, sebagaimana Wiratmo mengatakan; drama selesai dengan diskusi—kalau dipahami lebih jauh lagi, seakan mengatakan kita mesti keluar dari pola-pola serupa yang berulang tanpa henti dalam bentuk fractal. Dari Titis saya belajar, di balik chaos ini; saya mendapatkan entitas misterius yang dikenal sebagai attractor aneh, yang menentukan apa yang terjadi di dalam setiap sistem; attractor aneh menurut Gleick dalam teori chaos,[29] merupakan semua jalur lain untuk kita saling sistem operasinya tak dapat terhindarkan. 


Kita semua hari ini telah mengalami efeknya tentang ketidaksetaraan pengetahuan sebagai fenomena mendalam yang seolah-olah tidak memiliki akses ke program yang mendasari kita lebih punya kekuatan. Contoh ekstrem dari attractor aneh adalah chaos yang berlangsung dalam diskusi performatif, cenderung ‘dibekukan’ oleh pada yang tampak. Sementara saya memahaminya dari Deleuze dan Guattari, dari yang tidak tampak ini, kita bisa menemukan titik terang atas ketidakpastian sistem yang sedang berlangsung, sekaligus merenungkan pengalaman sehari-hari kita untuk deteritorialisasi, mungkin merenungkan spekulasi yang agak mengkhawatirkan bahwa kita tidak bisa menghidupi diri sendiri dari dunia pertunjukan yang diagung-agungkan, kecuali dengan memperlebar pemahaman tentang dunia. Bukan lagi membicarakan teater masa depan yang kini sudah di tangan orang yang bisa ‘hidup’ dengan kesenian—karena sudah sejak lama Belting dan Danto mengatakan tentang ‘sejarah matinya seni,’ yang perlu direnungkan bersama-sama.[30]


Tindakan Kelana, partisipator aktif yang ‘merebut’ diskusi performatif (Sumber: screenshot video Adhitia Armitrianto)


Kalau saya mau bertanya siapa yang benar-benar ‘hidup’ dengan dunia seni kita di balik pengamat yang ‘membual’ pada malam itu—yang masih disibukkan dengan uang kontrakan, uang jajan anak, uang kuliah anak, popok bayi si kecil, dan lainnya (mungkin—karena saya pun dihadapkan dengan salah satunya)? Kita hanya “akar rumput” yang tidak memiliki akses pengetahuan lebih; semestinya kita lebih melek bahwa sudah ketinggalan jauh tentang dunia. Suatu sistem yang sudah membiarkan diri terjebak pada satu tahap perkembangan yang sudah mengalami pengerasan; oleh karena itu, ambang batas chaos pada malam itu diciptakan oleh Kelana et al.; bagaimana sekiranya ruang itu menjadi tempat untuk saling berevolusi. 


Titis saya kira sebagai Gen Z, yang melibatkan diri terhadap masyarakat; melibatkan tindakan hubungan antara satu dengan lainnya untuk memicu serangkaian perubahan kecil dari kaum yang ‘terbatas’. Terlalu naif rasanya, dengan predikat gelar saya, kemudian seolah-olah saya menasbihkan diri seniman; seni sekali lagi sebagai cara saya ‘bermain-main’, untuk setara dengan mereka yang dianugerahi oleh kecerdasan intelektial dan memiliki segudang pengetahuan lintas disiplin ilmu non-seni, yang ‘hidup’ dengan kesenian. Mereka yang menjadi ujung tombak ‘kesenian’ kita, khususnya teater, dan kita tidak akan pernah bisa mengetahui lebih jauh; kalau hanya melihat yang tampak.


Jikalau yang ‘hidup’ dengan berkesenian melihat yang tampak, mungkin kita jungkirbalikkan pemahaman itu, dimulai dari yang tidak tampak, untuk melihat medan pasca-seni; [31] sebagai gangguan kecil atau ‘chaos’ akan menjadi nasib kita ke depan. Terkadang, dari hal ini saya mendapatkan pengetahuan tiba-tiba, di balik selesainya diskusi performatif, Kelana muncul sebagai sosok ‘nabi palsu’ dengan menanyakan; apa yang saya dapatkan dari ruang malam itu? Pertanyaan yang mengejutkan, dari seorang yang membuat dan menciptakan dramaturgi depresi—yang tidak disadarinya; peristiwa yang tidak terduga; ambang batas chaos bisa sangat potensial, tetapi juga bisa sangat menjengkelkan dan menakutkan, seperti istilah teater atau ‘seni’ yang ‘mengerikan’ bagi saya.


Salah satu dari dua layar laptop di ruang mini pendopo Taman Budaya Raden Saleh (Sumber: screenshot video Adhitia Armitrianto)

Selain dari Titis, saya juga mendapatkan pelajaran dari Niar, juga sebagai Gen Z—dari Gen Z saya belajar, dari Gen X dan Baby boomers (terutama salah seorang yang terdiam mendengarkan) pada malam itu saya ingin merenungkan masa depan saya bukan teater; di mana Niar yang sedikit berbicara tentang Pati, tentang sebuah realitasnya jauh lebih chaos daripada itu (misalnya, tidak ada akses yang sama terhadap sumber daya), tetapi itu tetap merupakan sebuah cita-cita, dengan masyarakat ‘terbatas’, yang disadari olehnya masih terlalu jauh menjangkau dan berupaya menghambat upaya aktualisasi diri. Namun, bagi saya yang merasa telmi bukan sebuah strategi—ini dengan menulis comot sana, comot sini,  hanyalah jalur tempat sistem, seperti seni atau diskusi performatif, beroperasi: di baliknya justru yang diinginkan untuk berbicara, bukan apa yang tampak. Saya sudah tidak mampu lagi mengejar mereka yang ‘hidup’ di dunia kesenian dengan akses yang luas dan kecerdasan emosional dan intelektual memadai, kecuali dengan ‘mengangkut’ bersama-sama orang yang telmi ini;  sekalipun saya sadar ini ruang rentan berkonflik (juga rentan cancel meng-cancel, dan block mem-block WhatsApp dan Instagram) dengan norma-norma sosial, dan di mana keinginan berusaha menemukan ekspresi.


Saya kira Niar punya kesadaran tentang ‘ketertindasan’, begitu juga dengan saya, yang menyadari ada kekuatan ‘dominan’ dari hal yang mainstream yang juga belum ‘hidup’ dari kesenian yang diagungkannya, di sisi lain; Adhit yang lebih memilih mendokumentasikan ketimbang berbicara jauh atas alasannya menampung saya, juga diam-diam menjunjung artinya pluralitas kita; kemampuan kita; untuk membentuk politik kita sendiri seiring berjalannya waktu (dalam arti kecil—yang bukan dimaksudkan Boal—juga memungkinkan ke sana). Saya pembaca postmodernisme, tentu tidak mau didikte oleh ‘narasi besar’ (yaitu, ideologi) zaman kita, dengan agenda reaksioner mereka secara umum. Bagi Lyotard, politik dalam hal ini merupakan ‘narasi kecil’ dengan tujuan terbatas daripada pretensi otoriter yang sifatnya besar untuk diperbincangkan bersama-sama.[32]


Dari hal ini pula, saya belajar dari Niar tentang ‘kelenturan’ dalam menghadapi tekanan sosial; suatu kondisi di mana kita dapat beralih dari satu peran ke peran lain sesuai tuntutan keadaan dengan memilih bergabung dengan pengamat yang berada di luar mini pendopo. Saya kira Niar lebih tenang menghadapi tekanan sosial daripada saya, yang memiliki kepribadian atau peran sosial yang cenderung kaku; dan saya kira Niar sebagai perempuan memiliki perilaku yang tidak dapat diprediksi, sebagaimana Kelana, yang mana ini menjadi modal agar kita tidak mudah ditundukkan pada kontrol institusional. Sederhananya adalah metode practice as research,  kalau mau dipahami sebagai metode riset artistik (dari diskusi performatif) secara tersembunyi mengembangkan identitas ganda di antara riset dan karya itu sendiri dengan beragam lapisan; dalam konteks chaos, studi eksperimen tanpa makna pun, dengan sendirinya dapat membuat prediksi tertentu.


Practice as research ini; keruwetan dan kesalahan teknis yang tercipta pun secara tidak terduga dari partisipator dapat dipahami, merupakan metode yang mengutamakan praktik tanpa mempertimbangkan makna terlebih dahulu—sebab makna muncul bersama diskusi performatif berlangsung atas pola teritori yang sudah dipastikan dimiliki oleh semua orang. Dengan dalih pertunjukan buku—yang sudah diriset sebelumnya, kemungkinan besar ‘malas’ untuk membaca, yang kemungkinan kita memperoleh perkiraan di luar dugaan. Melalui metode yang tidak diukur sebagaimana mestinya, bisa memungkinkan terciptanya dramaturgi dan estetika yang tidak diinginkan, atau berbeda dari yang diharapkan. 


Dalam praktik ini; saya hanya menyiapkan secara teratur data-data yang hendak dipresentasikan berdasarkan urutan abjad untuk mengidentifikasi segala macam tindakan. Saya hanya memegang bahwa dunia kita selalu kabur, dan hanya probabilitas, bukan kepastian, yang tidak dapat diprediksi. Tindakan yang dilakukan lebih kepada mengumpulkan segenap keseharian dalam juktaposisi; untuk mengubah probabilitas menjadi kepastian di masa depan dengan memproyeksikan atau memilih hasil tertentu dari berbagai kemungkinan. Proyeksi lainnya; tidak lagi, sebuah kota besar berdasarkan pengamatan sebelumnya, juga memiliki segenap ‘keterbatasannya’ yang kemungkinan menyebabkan perubahan mendadak pada situasi yang berlangsung.


Jadi urutan abjad yang tersedia pada desktop; pada realitasnya disadari akan dikerjakan secara acak, yang bisa disebut sebagai ‘keruntuhan,’ yang secara drastis memengaruhi evolusi selanjutnya. Kata evolusi masih terus dipercayai oleh saya untuk memasuki sistem yang mampu berubah dari waktu ke waktu. Kata kunci lainnya dalam praktik ini, saya ‘menyembah’ paradoks, yang pada kenyataannya sering dilontarkan oleh pengamat, di mana hal ini juga dilakukan, disebabkan kita dihadapkan pada paradoks suatu sistem yang memiliki identitas yang tidak pasti, atau ganda, yang menentang pemahaman normal kita tentang konsep apa pun yang berlangsung dari segala macam aspek. 


Hal lainnya, bahwa metode riset artistik, bukanlah riset sebuah karya, melainkan diskusi performatif ini pun; juga bagian dari riset artistik, di mana di dalamnya dapat menyelesaikan atau tidak menyelesaikan sebuah keadaan. Saya juga cenderung mengambil sikap menentang totalitarianisme—yang ditunjukkan dengan pemahaman yang beku; sehingga tidak dapat lagi menghilangkan perbedaan dari lingkup operasinya. Maksud saya adalah ‘lawan’ saya atau kita bukanlah Kelana et al., melainkan mereka yang ‘hidup’ dengan keseniannya yang berjejaring pada koloninya masing-masing. Chaos pada malam itu, membuat saya depresi dikarenakan tidak bisa menyediakan latar belakang ilmiah dan non-ilmiah bertemu, malah yang terjadi saling “gontok-gontokan,” sementara kita semua belum dibekali filsafat, sastra, antropologi, psikolog, psikoanalisis, dan humaniora, serta lainnya,  sehingga praktik saya yang bersemangat untuk memperjuangkan perbedaan atas pengetahuan yang timpang dengan mereka menjadi sia-sia.


Sesama proletar keparat,  saya kira mesti membuat chaos, secara filosofis berdasarkan literatur memadai, yang masih belum terselesaikan adalah menentukan sejauh mana peristiwa di dunia yang ‘sempit’ ini; untuk menjangkau hal yang besar dan menghegemoni, dengan jejaring yang besar, dalam menjalani kehidupan sehari-hari, untuk terus menyuarakan ketidakadilan, ketimpangan, dan kesenjangan, bukan hanya berhenti di estetika pada umumnya. Sekali lagi saya hanya proletar keparat yang tidak punya alat produksi, masih ‘hidup’ dengan segenap pengajuan, yang serba tidak pasti; di sekeliling kita masih banyak merasa senang dan bangga jadi ‘budak’ dari ‘tuan’ yang mapan, atau populer, atau ‘hidup’ di dunia keseniannya. Saya ingin mengatakan bahwa diskusi performatif ini; untuk menggugah pikiran bersama-sama, kalau kita tidak mampu membuat hal yang spektakuler, kenapa kita tidak bisa memulai dari yang remeh temeh untuk diperluas pemahamannya pada disiplin ilmu non-seni, kenapa kita tidak jungkirbalikkan yang ‘mapan’ ini bersama-sama secara serius dan mendalam bersama masyarakat yang punya nasib serupa tanpa intimidasi dan diskriminasi, di mana kita hanya menjadi pendengar yang baik dan pencari ruang yang luas untuk bersama-sama (Ruwet lo Kelana!)


Catatan Kaki:


  1. https://www.pojokseni.com/2025/12/catatan-samping-deteritorialisasi-ala.html, https://www.pojokseni.com/2026/01/nasi-liwet-rasa-keju-ruang-perjumpaan.html, diakses terakhir kali pada tanggal 15 Februari 2026
  2. Haryatmoko, 2016. Membongkar Rezim Kepastian; Pemikiran Kritis Post-Strukturalis. Yogyakarta: PT Kanisius.
  3. Deleuze, Gilles, & Guattari, Félix. 1994. What is Philosophy? (terjemahan Inggris). Columbia University Press
  4. https://www.tribunnews.com/nasional/2025/01/23/sosok-2-nelayan-banten-vokal-bongkar-kasus-pagar-laut-tangerang-kompak-singgung-soal-agung-sedayu, diakses terakhir kali pada tanggal 15 Februari 2026.
  5. Soekito, Wiratmo. 2020. Drama Berakhir dengan Diskusi: 63 Esai Wiratmo Soekito. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta & Institut Kesenian Jakarta.
  6. https://www.kompas.id/artikel/rekam-jejak-bupati-pati-sudewo-didemo-warga-hingga-jadi-tersangka-korupsi, diakses terakhir kali pada tanggal 15 Februari 2026.
  7. https://jatim.tribunnews.com/news/530642/sosok-pengganti-bupati-pati-sudewo-setelah-kena-ott-kpk-langsung-dapat-perintah-dari-wagub-jateng, diakses terakhir kali pada tanggal 15 Februari 2026.
  8. Hafifi, Hoirul. 2025. Chaos: Autobiografi dan Metode Riset Arstistik dalam Performa yang Terus Menerus “Kandas”. Sidoarjo: Delima; Hafifi, Hoirul. 2024. “Diskusi Performatif: Minum Kopi Sembari Tengok ke Belakang (Dramaturgi ke Dramaturg).” Institut Seni Indonesia Surakarta. Disertasi karya seni. Guntur. 2023. Metode Penelitian Artistik. Surakarta: ISI Press; Barrett, Estelle, dan Barbara Bolt, ed. 2007. Practice as Research Approaches to Creative Arts Enquiry.  London dan New York: I.B. Tauris & Co Ltd.
  9. https://www.pojokseni.com/2023/03/kekerasan-metaforik-dalam-presentasi.html, diakses terakhir kali pada tanggal 15 Februari 2026.
  10. Mahendra. 2021. “Dramaturgi Chaos atau Jurnal Kegagalan Dramaturgi Kegagalan Catatan Performance-Lecture: Jek Nebenne Arung Wardhana Ellhafifi.” Radar Madura, 14 Maret.
  11. Deleuze, Gilles, dan Félix Guattari. 1987. A Thousand Plateaus: Capitalism and Schizophrenia. Minneapolis: University of Minnesota Press.
  12. Harymawan, RM. A. 1988. Dramaturgi. Bandung: CV. Rosda; Abdillah, Autar. 2008. Dramaturgi 1. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya Press; Suhariyadi. 2014. Dramaturgi. Lamongan: CV. Pustaka Ilalang Group; Pramayoza, Dede. 2013. Dramaturgi Sandiwara: Potret Teater Populer dalam Masyarakat Poskolonial. Yogyakarta: Penerbit Ombak (Anggota Ikapi); Ansari, Isa. 2017. Paradigma Dramaturgi Seni Pertunjukan. Surakarta: ISI Surakarta Press. Kerkhoven, Marianne Van. 1994. “Introduction. Theaterschrift On Dramaturgy 5-6.”; Lehmann, Hans-Thies. 2006. Postdramatic Theatre. Translated by Karen Jurs-Munby, London and New York; Malna, Afrizal. 2010. Perjalanan Teater Antologi Tubuh dan Kata. Yogyakarta; Malna, Afrizal. 2019. Teater Kedua Antologi Tubuh dan Kata. Edisi revisi. Yogyakarta: Kalabuku. Capeto, Carla. 2010.
  13. WHO. .2012. Depression: A global public health concern. http://www.who.int/mental_health/management/depression/who_paper_depression_wfmh_2012.pdf; Endriyani, Sri, Retno Dwi Lestari, Evi Lestari,  dan Ilun Chairunisyah Napitu. 2022. “Gangguan Mental Emosional dan Depresi pada Remaja.” Healthcare Nursing Journal - vol. 4 no. 2. Hlm. 429-434
  14. https://www.pojokseni.com/2026/01/kala-tiada-teater-asa-dalam-menatap.html, diakses terakhir kali pada tanggal 15 Februari 2025.
  15. Maramis, M. M. (n.d.). “Depresi pada Lanjut Usia.” https://www.researchgate.net/publication/336603865; Nathasya, Hervina Nathasya, Putri Nuraini, Siti Zahara At Thohiroh, Tiara Salma, Fadhlina Rozzaqyah. 
  16. Boal, Augusto. 2003. Teater bagi yang Tertindas (Judul Asli: Theatre of the Oppressed). Terjemahan: Yudiaryani. Yogyakarta: ISI Yogyakarta (Departemen Pendidikan Nasional); Hutabarat, Ari Pahala (ed.). 2021. Estetika Kaum Tertindas (Kumpulan esai). Lampung: Lampung Literature.
  17. Lehmann, Hans-Thies. 2006. Postdramatic Theatre. Translated by Karen Jurs-Munby, London and New York; Tuchmann, Kai (ed.) 2025. Dramaturgi Pascadramatik: Resonansi antara Asia dan Eropa. Penerjemah: Teguh Hari. Yogyakarta: Kalabuku.
  18. Desi, Felita, A. dan Kinasih, A. 2020. “Gejala Depresi Pada Remaja Di Sekolah Menengah Atas.” Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol .8, No.1, 2020, hal 30-38 https://jurnal.unitri.ac.id/index.php/care
  19. https://revolutionary-socialism.com/wp-content/uploads/2015/05/Augusto-Boal-Theatre-of-the-Oppressed-20081.pdf.
  20. https://www.deepfun.com/wp-content/uploads/2010/06/Games-for-actors-and-non-actors...Augusto-Boal.pdf.
  21. https://www.pojokseni.com/2025/09/dramaturgi-chaos-dramaturgi-saos.html, diakses terakhir kali pada tanggal 15 Januari 2026.
  22. https://theatroedu.gr/Portals/0/main/images/stories/files/Arthra/BOAL%20The_Aesthetics_of_the_Oppressed.pdf?ver=PR9_CjLFQMnEZUjeKzZv4g%3D%3D
  23. https://www.youtube.com/watch?si=VcZJJJn4FODZyl2I&v=GfM17v8mLZM&feature=youtu.be; https://www.youtube.com/watch?si=gvUU0yqMWijrPqyu&v=YO3epC3unjg&feature=youtu.be; https://www.youtube.com/watch?v=V9H-G9lL2uw; https://www.youtube.com/watch?si=oHgq47y4dqK6mZ_U&v=BsLUpWc12NQ&feature=youtu.be; https://www.youtube.com/live/xlCItE1KxRA?si=Emd7ynjTcgpAZ5iO; https://www.youtube.com/live/-yNfFWjU1x8, diakses terakhir kali pada tanggal 15 Februari 2026.
  24. Suryajaya, Martin. 2016. Sejarah Estetika: Era Klasik Sampai Kontemporer. Jakarta: Gang Kabel dan Indie Book Corner.
  25. https://literariness-org.translate.goog/2017/06/23/chaos-theory-complexity-theory-and-literary-criticism/?_x_tr_sl=auto&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc, diakses terakhir kali pada tanggal 15 Februari 2026.
  26. Lorenz, Edward Norton. 1993. The Essence of Chaos. Washington: University of Washington Press. 
  27. Coveney, Peter, and Roger Highfield. 1995. Frontiers of Complexity. Faber and Faber (UK); Fawcett Columbine (US).
  28. Gans, Joshua. 1989. Chaos: Making a New Science by James Gleick. London: Cardinal.
  29. Belting, Hans. 1987. The End of the History of Art? (K. Sturgeon, Trans.). Chicago: University of Chicago Press; Danto, Arthur C. 1997. After the End of Art: Contemporary Art and the Pale of History. Princeton, NJ: Princeton University Press.
  30. Malna, Afrizal. 2023. Performance Art (dan medan pasca-seni). Yogyakarta: DIVA Press.
  31. Lyotard, J. F. 1984. The Postmodern Condition: A Report on Knowledge. Manchester: Manchester University Press; Jencks, Charles. 1986. What is Post-Modernism? New York: St. Martin's Press. Sugiharto, I. Bambang, 1996. Postmodernisme. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.