20 January 2020

author photo

Baca Juga



pojokseni.com - Bekerja yang sesuai dengan passion tentu sangat menyenangkan, begitulah harapan banyak orang.

Ada yang melihat gamers profesional menghasilkan jutaan dollar dengan bermain game, lalu berharap mendapatkan hal yang sama.

Begitu juga dengan yang memiliki passion sebagai penulis, maka berharap hidup sebagai penulis dibayangkan sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Faktanya, toko buku nyaris didominasi oleh penulis yang itu-itu saja.

Sangat sulit bagi penulis baru, terutama yang tidak menawarkan kebaruan dan inovasi tertentu, juga tidak diliputi keberuntungan, dapat menembus jagad para penulis ternama itu.

Royalti untuk satu buku, hanya sekitar 10 - 15 %, yang berarti hanya Rp5000 per buku seharga Rp50.000.

Itu berarti, Anda baru dapat royalti sebesar Rp5.000.000 ketika berhasil menjual 1000 buku.

Apakah itu sulit? Menjual 1000 buku?

Untuk penulis pemula, tidak populer dan bukunya juga tidak menawarkan kebaruan, serta tidak begitu diliputi keberuntungan, menjual 1000 buku menjadi seperti mission impossible.

Itu kalau buku tersebut berhasil pula diterima oleh penerbit, sedangkan banyak penulis mesti gigit jari karena naskahnya ditolak penerbit.

Lalu, ada pula yang membuat tulisan (mungkin fiksi, mungkin juga non-fiksi) lalu mengirimnya ke media massa.

Di tengah antrean tulisan yang begitu menyemut, mungkin di antara ribuan tulisan yang masuk, bisa jadi tulisan Anda beruntung (bila bukan yang terbaik) bisa tembus dan dimuat di media massa nasional.

Hasilnya, setelah naik, mendapatkan royalti atau fee.

Itu juga tidak begitu besar, paling besar sekitar Rp1.500.000, ada juga yang hanya Rp150.000.

Anggap saja Anda beruntung, dan tulisan Anda bisa dimuat di berbagai media massa, misalnya 1 bulan ada 2 tulisan dengan honor Rp300.000 yang naik di media massa.

Maka Anda baru dapat Rp600.000.

Dengan demikian, sudah mulai banyak yang memilih mengurungkan niatnya menjadi penulis, meski selama ini terus mengasah kemampuan kepenulisannya.

Tangan Idealis dan Tangan Bisnis



Sebenarnya, ada banyak cara untuk hidup sebagai penulis.

Coba lihat di sekitar Anda, ada berapa juta website yang ada di muka bumi ini?

Dan semuanya membutuhkan penulis.

Misalnya, satu brand sepatu mengeluarkan produk terbaru.

Maka untuk mempopulerkan produk terbaru tersebut, mereka membutuhkan promosi, yang biasanya terdiri dari tiga bentuk; banner online, video dan tulisan.

Untuk banner online, mereka membutuhkan desainer, untuk video mereka butuh videografer dan sebagainya.

Nah, untuk tulisan, mereka butuh penulis.

Biasanya, penulis ini dibutuhkan untuk membuat pers rilis yang kemudian dimuat di berbagai platform, bisa portal berita, blog dan sebagainya.

Belum lagi ada reviewer, influencer dan blogger yang juga dibutuhkan oleh brand untuk promosi.

Dalam kasus ini, tenaga seorang penulis sangat dibutuhkan.

Anda bisa searching saja di internet, atau menawarkan diri untuk jasa penulis, maka akan ada tawaran yang datang pada Anda.

Bisa jadi hanya Rp10.000 per tulisan 300 kata, untuk pemula, sampai Rp 100 ribu per tulisan 300 kata untuk penulis tingkat menengah.

Sedangkan untuk tingkatan yang lebih tinggi, penulis profesional, maka honornya di atas itu.

Ditambah lagi, ada banyak yang membutuhkan ghost writer untuk menuliskan buku dengan judul dan nama penulis buku itu adalah orang lain.

Biasanya, satu buku setebal 150 halaman, dihargai Rp1.500.000 hingga Rp3.000.000.

Bagi Anda yang blogger, maka Anda bisa memanfaatkan sejumlah peluang lain seperti iklan google ads, iklan mandiri, content placement dan afliasi untuk mendapatkan keuntungan dari blog Anda.

Maka saat itu, ada dua tangan, pertama tangan idealis dan yang kedua adalah tangan bisnis.

Tangan idealis ditujukan untuk membuat karya idealis, mengikuti kata hati, menyampaikan makna, melakukan perlawanan, dan tentunya dilandasi dengan ilmu pengetahuan yang mumpuni.

Sedangkan tangan bisnis, ditujukan untuk membuat tulisan yang memang bertujuan bisnis, bisa iklan, promosi, review atau apapun itu yang berbayar.

Sebagaimana pepatah; "tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu," sebenarnya bertujuan untuk membuat kita tidak riya' dan lebih ikhlas ketika bersedekah.

Namun, pepatah ini juga bisa digunakan untuk para penulis yang memang ingin bertahan hidup dengan menulis.

Tangan kanan gunakan untuk membuat karya idealis, dan tangan kiri gunakan untuk membuat tulisan bisnis.

Maka Anda bisa hidup nyaman dan menulis dengan senang.

Terpenting, jangan sampai berhenti belajar, membaca dan meningkatkan kemampuan Anda.

Tulisan bisnis, tak perlu harus dipublikasikan, atau tak perlu juga semua orang mesti tahu.

Kalau diperlukan, jadikan saja untuk portofolio ketika mengajukan tawaran pada klien Anda.

Tapi tulisan idealis mesti terus dipublikasikan.

Ini diperlukan untuk terus menunjukkan eksistensi Anda sebagai seorang penulis dan membiarkan banyak kritik, review, saran dan masukan datang ke karya Anda.

Karya idealis mesti terus ditingkatkan hingga mencapai kesempurnaan, sedangkan tulisan bisnis mesti ditingkatkan demi kepuasan klien Anda.

Sekarang, sudah siap untuk mulai hidup menjadi seorang penulis?

Bila Anda seorang blogger, atau ingin mulai menjadi seorang blogger, Anda bisa baca ulasan kami di artikel ini: Suka Menulis Blog, Yuk Tambah Penghasilan Anda

baca juga: Ini Alasan Kenapa Anda Harus Bangga Menjadi Narablog di Era Milenial

Tentunya, kemampuan kepenulisan dan berbahasa mesti menjadi perhatian utama Anda yang ingin hidup dari menulis.

Anda juga mesti mempelajari siapa target penjualan, siapa klien dan tulisan seperti apa yang dibutuhkan.

Selanjutnya, mari menikmati hidup dengan berani dan jangan ragu untuk melangkah. (ai/pojokseni.com)


* artikel ini terinspirasi dari status Facebook seorang penulis, Sidik Nugroho
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement

Loading...