03 September 2019

author photo
Livi Zheng
pojokseni.com - Laman PojokSeni pada tahun 2017 silam mengangkat sebuah artikel berjudul "Sutradara Hollywood Asal Blitar, Livi Zheng Dapat Penghargaan dari Bupati Blitar", kemudian ditarik lebih lama lagi, PojokSeni juga mengunggah artikel yang lebih bersinar, "Pertama Kali, Film Karya Sineas Indonesia Masuk Nominasi Oscar Film Hollywood".
 

Di artikel tersebut, PojokSeni mengambil beberapa sumber media mainstream negeri ini dan memakan mentah-mentah kisah membanggakan, sekaligus menyilaukan dari seorang perempuan muda kelahiran Blitar tersebut. Filmnya berjudul "Brush with Danger" yang disutradarainya, sekaligus menjadi aktor bersama adiknya, disebut-sebut lolos seleksi nominasi Academy Award di tahun 2015. Kemudian, di tahun 2017, hal yang membuat PojokSeni mengangkat kisahnya adalah, kebanggaan warga Blitar, bahkan bupatinya yang akhirnya memberikan penghargaan pada Livi Notohardjo Zheng ini.

Bermain di film Hollywood macam Iko Uwais dan Joe Taslim saja sudah begitu memukau. Apalagi kalau tembus seleksi Academy Award? Termasuk menjadi salah satu fim yang menembus kokoh dan rapatnya tembok "perfileman" Hollywood? Tentu berkilauan, bukan?

Di tengah Indonesia yang lesu, gagal melulu juara AFF, apalagi tembus Piala Dunia, pemain bulutangkis penuh prestasi tapi PB Djarum disemprit KPI, serta pegawai negeri yang menjadi cita-cita mayoritas anak bangsa. Tiba-tiba muncul sebuah berita tentang anak bangsa yang merantau ke Amerika, membuat film sekaligus bermain di filmnya, lalu menembus Hollywood. Tentu kisah yang mendebarkan.

Lantas, kabar tentang "pencitraan omong kosong" dari prestasi Livi Zheng mulai bermunculan. Bermula dari kecurigaan-kecurigaan, akhirnya media-media mulai mencari kebenaran dari kisah perempuan asal Blitar ini. Hasilnya? Jauh lebih mengejutkan.

Fakta Di Balik Pencitraan Livi Zheng


Pertama, faktanya adalah film berjudul Brush with Danger adalah film yang diproduksi oleh Sun and Moon Films, yang kebetulan berbasis di Amerika Serikat. Tapi, siapa pemiliknya? Namanya adalah Lilik Juliati (Lili The Hok Bing). Dan dia adalah ibu kandung Livi Zheng.

Kedua, Livi Zheng beralamat di 4715 Los Feliz Boulevard Lost Angeles, USA. Setelah melihat alamat tersebut dan memastikannya, maka Anda akan mendapatkan bahwa alamat itu berada di kawasan "super" elite di kawasan LA. Kawasan super elite di Indonesia saja, bukan ditujukan lagi untuk menengah ke atas, tapi untuk para konglomerat. Apalagi kawasan super elite di LA? Tentu, hal itu kurang sesuai dengan pernyataan Livi di salah satu stasiun TV swasta ketika wawancara yang menyebut ia bekerja sejak sekolah menengah atas, dan tidak dibantu keluarganya. Hal tersebut diulanginya ketika mengisi kuliah umum di berbagai kampus. Apa yang dikerjakannya? lalu tanpa bantuan keluarga, bagaimana dengan filmnya yang notabene diproduksi oleh rumah produksi ibunya?

Ketiga, tentang film Brush with Danger, sebenarnya adalah film yang "didaftarkan" Livi Zheng ke Oscar. Hasilnya, film itu "lolos seleksi administratif" dengan 315 film lainnya. Masalahnya, "lolos seleksi administratif" itu bisa dikatakan akan dengan mudah bisa dipenuhi oleh semua film. Seleksi selanjutnya, tentu akan lebih fokus pada kualitas, dan seperti yang diketahui, hanya ada 5 film yang dinominasikan. Film Livi Zheng tidak pernah mencapai itu. Lalu, bagaimana ceritanya "film yang lolos seleksi administratif Oscar" atau "film yang memenuhi prasyarat submisi Oscar" bisa berubah menjadi "film nominasi Oscar"?

Keempat, film Livi Zheng yang berjudul The Legend of The East mendapat penghargaan Madrid International Film Festival kategori bahasa asing tahun 2014. Faktanya, silahkan cari sendiri festival tersebut dan cek kebenarannya. Bila mencari dengan teliti, Anda akan mendapatkan fakta bahwa festival itu adalah festival "palsu".

Kelima, film teranyarnya berjudul Bali: Beats of Paradise mengutip sedikit ulasan dari media anyar LA, Los Angeles Times. Kutipan tersebut bahkan muncul di poster film, yakni "It's entertaining..." (Ini menghibur...). Faktanya, di Los Angeles Times, kalimat lengkapnya adalah (seperti dimuat di Tirto.id) It’s entertaining but slight, particularly as it bulks up with the post-credits inclusion the video. (“Film ini sesungguhnya punya sedikit sisi hiburan. Tapi, hal itu pun tidak jadi maksimal karena sutradara memutuskan mengakhiri film dengan menayangkan video klip garapannya.”)

Keenam, sebuah artikel dari Zimbabwe News mengulas dan memuji film Livi Zheng. Faktanya, Zimbabwe News memang bukan portal berita asli.


Ketujuh, Livi Zheng menyebut dalam Bali: Beats of Paradise, bahwa mereka bekerjasama dengan Judith Hill, penyanyi asal Hollywood yang merupakan salah satu pemenang Grammy Award. Sutradara "nominasi Oscar" bekerjasama dengan penyanyi "pemenang Grammy" tentu menjadi nilai jual terbaik untuk film. Faktanya, Judith Hill yang bekerjasama dengan Livi Zheng memang menerima Grammy Award, tapi untuk kategori "pembuat musik video". Sebagai penyanyi, mantan penyanyi latar Michael Jackson tersebut tidak pernah (bahkan masuk nominasi) Grammy Award.

Kedelapan, Livi Zheng menyebut film Bali: Beats of Paradise diproduseri Julia Gouw dan didukung pendanaan dari perusahaan AS. Namun, faktanya film tersebut diproduksi oleh PT Negara Agung Film yang merupakan milik ayah Livi Zheng, Gunawan Witjaksono, dan pemimpin PT Negara Agung Film bernama Sinta Kurniati Arifin adalah direktur dari berbagai perusahaan yang juga milik ayah Livi Zheng.

Kesembilan,  banyak artikel terutama yang bernada tajam terhadap karya Livi Zheng tidak bisa diakses di Indonesia. Bila Anda mengaksesnya, maka akan masuk dalam internet positif. Salah satunya ulasan tajam dari kritikus film di Amerika terhadap Brush with Danger, di situs villagevoice.com, tahun 2014. Artikel di situs tersebut sudah tidak bisa diakses lagi.

Kenapa PojokSeni memuat artikel ini? Jawabannya simpel, karena dulu, tahun 2015 dan 2017, PojokSeni ikut mengabarkan "pencitraan" Livi Zheng. Maka setelah terang semuanya, sebuah kebenaran yang jujur mesti diungkapkan. (ai/pojokseni)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Loading...

Advertisement