Cara Membangun Ekosistem Teater di Daerah untuk Eksistensi Grup -->
close
Pojok Seni
29 March 2019, 3/29/2019 12:28:00 AM WIB
Terbaru 2019-03-28T17:28:59Z
Artikelteater

Cara Membangun Ekosistem Teater di Daerah untuk Eksistensi Grup

Advertisement
Ilustrasi Pertunjukan Teater


pojokseni.com - Beberapa daerah, kecuali di tempat-tempat yang sudah ada sekolah tinggi seni, membangun grup kesenian seperti grup teater bisa dikatakan pekerjaan yang sangat sulit. Tidak jarang, beberapa grup justru terjungkal dan tidak mampu berkembang dengan baik. Beberapa penyebab, namun tiga faktor utamanya antara lain kekurangan penonton, kekurangan anggota, grup teater tak kunjung berkembang dan terakhir produksi selalu merugi.

Faktor-faktor tersebut sebenarnya disebabkan oleh ekosistem teater yang tidak terbangun dengan baik. Kekurangan penonton berarti kurangnya promosi, sehingga orang-orang yang (mungkin) tertarik untuk menonton sebuah pertunjukan teater menjadi kurang mengetahui ada sebuah pementasan. Kekurangan anggota disebabkan oleh grup yang tidak berkembang dan bertumbuh dengan baik, sehingga progres grup cenderung berjalan di tempat. Alhasil, anggota lama memilih hengkang dan anggota baru tak kunjung datang. Ini juga berarti ada masalah dalam regenerasi pemain.

Tips membangun grup teater di daerah yang masih belum mengenal teater, baca artikel ini: Tips Membangun Grup Teater di Daerah yang Belum Akrab dengan Teater

Grup teater tak kunjung berkembang disebabkan beberapa faktor. Pertama, grup tersebut tidak dihuni oleh dua atau tiga orang visioner yang mendedikasikan hidupnya untuk perkembangan grupnya. Kita anggap separuh dari anggota teater hanya menjadikan grup tersebut sebagai tempat refreshing, atau mungkin sekedar tempat kumpul.

Ilustrasi Pertunjukan teater
Apabila separuh laginya menganggap teater sebagai tempat untuk mengasah kemampuan, memperkaya ilmu, dan menyajikan ide, maka grup itu bisa saja berkembang. Apa jadinya, bila seluruh anggota grup justru menganggap grup tersebut adalah sekedar tempat kumpul, sekedar tempat refreshing dan sebagainya?

Grup tidak terus melakukan upgrade, tidak mengikuti perkembangan terbaru dan berujung ke grup tersebut tak kunjung berkembang. Hasilnya, apabila grup itu tidak bubar atau mati, kemungkinannya hanya menjadi grup yang stagnan.

Terakhir, produksi selalu merugi yang lama-lama menggerus kas grup tersebut. Sampai akhirnya, anggota-anggota mulai menyisihkan uang pribadi hingga uang dapur untuk sebuah produksi, namun masih tetap merugi. Hasilnya, grup tersebut lama-lama akan ditinggalkan oleh anggotanya sendiri. Apalagi, untuk pementasan di luar kota, maka perlu pertimbangan dengan baik agar tidak merugi.

Baca tips pentas di luar kota di artikel berikut:  Mempersiapkan Pementasan Mandiri di Luar Kota? Perhatikan Hal-Hal Ini

Sebenarnya, masalah tersebut bisa diantisipasi dengan cara membangun ekosistem teater dengan baik. Beberapa daerah seperti Sumatera Barat, Riau, Lampung, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan sebagainya, ekosistem teater sudah terbangun dengan baik. Tapi di daerah lain, ekosistem teater masih belum terbentuk, yang hasilnya menjadikan kinerja grup-grup teater terus tersendat dan terdesak.

Ekosistem Teater: Grup Teater Lebih Butuh Kritikus Ketimbang "Uluran" Pemerintah

Ilustrasi pertunjukan teater

Dengan kiasan yang kasar, grup teater masih jauh lebih membutuhkan kritikus, akademisi, dan pengamat, ketimbang bantuan atau uluran tangan pemerintah. Bukan tidak butuh itu, tapi kritikus masih jauh lebih dibutuhkan, karena pengaruh yang diberikannya sangat signifikan.

Tentang ekosistem, akan ada simbiosis mutualisme dari antar individu dan grup. Pertama, grup teater akan memulai proses, mengumumkan pementasannya, sampai akhirnya mementaskannya. Saat itu, grup juga akan mengundang media massa, baik advertisement berbayar, ataupun liputan biasa. Tergantung dari kekuatan finansial yang dimiliki grup tersebut.

Dengan demikian, hubungan kerjasama antara grup dengan media massa akan menjadikan daya siar terhadap pementasan tersebut akan jauh lebih luas. Bayangkan saja bagaimana sebuah pementasan di Jakarta yang menggelontorkan puluhan juta untuk mempromosikan pementasannya.

Grup Lebih Berani Promosi


Grup-grup awal mungkin akan sulit untuk mengeluarkan dana tambahan demi keperluan promosi. Untuk itu, sebenarnya media bisa menggandengnya untuk promosi dengan dana yang cukup minimal di awal, sampai akhirnya mampu melambungkan nama grup tersebut. Grup yang masih beranggapan tidak perlu media, atau cukup di media sosial saja, maka ia bisa memastikan sendiri tidak pernah ada wajah baru yang tak dikenalnya datang untuk membeli tiket pertunjukannya.

Agar proses publikasi dan promosi lebih berhasil, maka grup tersebut juga mempersiapkan maket pertunjukannya dengan baik juga. Banner, spanduk, poster dan apapun yang diperlukan lainnya untuk promosi pertunjukan sangat penting untuk dipersiapkan dengan baik. Bila perlu, grup tersebut siap untuk menyewa atau memakai jasa desain grafis berpengalaman untuk menjadikan banner, desain dan sebagainya menjadi jauh lebih profesional.

Baca juga Manajemen Produksi dan Ruang Kesekretariatan dan Sekilas Tentang Fungsi dan Struktur Manajemen Produksi Pementasan Teater

Perlu Kritikus, Pengamat dan Akademisi sebagai Pengawas 


Setelah itu, terjadilah peristiwa kesenian yang kita sebut dengan pementasan. Apabila persiapan dan latihan dilakukan dengan baik, menggunakan metode yang tepat, serta mengemasnya menjadi sebuah pertunjukan yang memukau baik secara visual maupun teoritis, maka grup teater tersebut masuk waktu bersantai dan menunggu hasil kritikan dari kritikus, atau pandangan dari seorang pengamat hingga review pertunjukan dari seorang akademisi.

Sosok yang bisa menjadi kritikus, adalah seseorang yang memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang seni teater, juga memiliki pengalaman yang cukup untuk urusan panggung, namun ketika menulis kritikan, ia menempatkan dirinya sebagai seorang penonton.

Dengan kacamata penonton, namun penuh muatan teoritis, tentunya seseorang bisa menilai apakah kritikannya bersifat subyektif, atau objektif. Kritikannya yang akan ditunggu oleh grup teater, karena dengan kritikan tersebut sebuah grup dapat mengerti bagian mana yang perlu diperbaiki dari "produk"nya sebelum kembali dipasarkan.

Tidak sembarangan orang yang bisa menjadi kritikus. Bahkan, untuk menulis resensi pertunjukan teater, ada 5 Syarat Menjadi Penulis Resensi Pertunjukan Teater yang harus dipenuhi.

Peran Penting Media Massa

Ilustrasi pertunjukan teater 

Media yang sudah bekerjasama dengan grup, setidaknya menyiapkan satu ruang tulisan untuk kritikus. Apalagi, apabila media tersebut juga mempersiapkan honor untuk tulisan tersebut. Maka kritikus yang menuliskan kritiknya terhadap satu pertunjukan juga akan mendapatkan keuntungan, dengan catatan kritikan tersebut bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Keesokan harinya, ketika surat kabar tersebut terbit misalnya, maka grup-grup teater yang pentas, maupun yang datang ke pementasan tersebut untuk menonton juga akan memborong surat kabar ini dan melihat hasil kritikan dari sang kritikus. Di akhir, kritikus akan memberikan rating untuk pertunjukan tersebut, misalnya dalam skala 1 sampai 10.

Secara tidak langsung, grup-grup yang ingin terus survive akan menjaga agar pertunjukan grupnya tidak mendapatkan nilai buruk dari kritikus. Karena pandangan penonton awam akan mengikuti pula pandangan kritikus, pengamat dan akademisi tersebut. Bisa jadi, seorang penonton terhibur dengan pertunjukan tersebut, namun ketika membaca kritikan terhadap pertunjukan tersebut, baru menyadari ada kekurangannya.

Baca juga: Pengertian, Penerapan dan Tujuan Manajemen Pertunjukan Seni
Pertunjukan teater

Kritikan, pandangan dan sebagainya, bisa juga pujian, terhadap sebuah pementasan teater di media massa secara tidak langsung juga akan meningkatkan reputasi dari grup yang bersangkutan. Hasilnya, apabila grup tersebut mampu meningkatkan konsistensi, persistensi dan kemampuannya, maka pertunjukan selanjutnya akan ramai penonton. Rating yang tinggi dari seorang kritikus akan menjadikan penonton satu grup teater akan bertambah, sedangkan rating yang rendah akan menjadikan grup teater tersebut lebih berbenah.

Bagaimana bila ada seniman, atau grup yang antikritik? Bila benar ada hal yang luput dari pandangan seorang kritikus, sehingga perlu diluruskan menurut keilmuan yang dimiliki seniman, maka ia juga akan membuat sebuah tulisan. Pertanggungjawaban yang tepat secara akademik adalah, tulisan dibalas dengan tulisan. Namun, apabila ternyata kritikus melakukan hal yang tepat, dan penilainnya benar-benar pas dengan yang tersaji di atas panggung, maka seniman tentu harus menerima. Seniman dalam hal ini adalah produsen kita anggap saja untuk analogi, produsen makanan, apabila penonton adalah konsumen, maka kritikus adalah "BPOM". Apa hal yang menurut kritikus kurang tepat untuk dilakukan lagi, maka sebaiknya seniman menghindarinya.

Ilustrasi pertunjukan teater

Namun, perlu diingat, sanggar atau grup teater tentunya harus legal, berbadan hukum dan memenuhi syarat. Baca artikelnya di sini: Ingin Mendirikan Usaha Sanggar Seni? Simak Standar dan Persyaratannya Berikut Ini

Kritikus juga akan mencerdaskan penonton, sekaligus grup yang pentas. Penonton yang kurang mengenal dengan drama postrealis misalnya, akan mulai mengenalinya lewat ulasan kritikus. Penonton yang selama 2 jam menonton dapat menikmati pertunjukan namun tak menangkap maknanya, akan terarah dengan ulasan kritikus.

Setelah tulisan kritikus turun sehari setelah pementasan, grup akan berbenah untuk produksi berikutnya. Hasilnya, penonton bisa dijangkau dengan kekuatan media, grup akan terus berbenah dan semakin meningkat kemampuannya, sedangkan kritikus dapat terus menjadi penghubung keduanya.

Jadi ekosistem yang dimaksud adalah: Seniman/Grup teater - Media - Kritikus - Penonton - Keuntungan Grup 

Uluran Bantuan Pemerintah Daerah, Perlukah?

Ilustrasi Pertunjukan teater

Secara tidak langsung, apabila ekosistem sudah terbangun dengan baik, maka selanjutnya akan ada Event Organizer (EO) yang bergerak khusus untuk sebuah pementasan teater di daerah tersebut. Nama besar, reputasi dari seorang seniman dan grupnya tentu bisa menjadi produk yang mampu dipasarkan oleh EO untuk mendapatkan keuntungan. Dengan EO, maka sponsor-sponsor yang potensial juga bisa terjaring untuk menjadikan pementasan teater dapat menghidupi grupnya secara finansial.

Selanjutnya, akan ada perusahaan yang bergerak di bidang properti, mampu "menyewakan" properti yang dimilikinya untuk grup teater yang akan pentas. Apabila perusahaan tersebut mampu semakin profesional, maka apapun yang dibutuhkan grup teater, seperti menyajikan suasana tahun 80-an, 60-an, sampai sebelum masehi bisa mereka hadirkan, baik kostum maupun dekorasi dan properti panggung lainnya.

Bagi penonton, beberapa akan menjadikan pertunjukan teater sebagai sarana refreshing. Sebab, nonton teater akan jauh lebih baik ketimbang nonton film, karena ada interaksi manusia secara alamiah yang akan lebih menyentuh rasa. Pengalaman dan sensasi yang ditawarkan tentu berbeda dengan film, dan beberapa penonton akan lebih menyukai itu. Sedangkan beberapa lainnya, memilih menjadikan pertunjukan teater sebagai pembelajaran.

Mulai dari anak SMA untuk menjadi percontohan bagi mereka yang mengambil nilai drama, atau mahasiswa yang menjadikan pertunjukan teater dengan naskah tertentu sebagai bahan penelitian. Tentunya, andil seorang akademisi akan sangat berpengaruh di sini. Seorang guru kesenian dan Bahasa Indonesia misalnya, seringkali menjadikan drama sebagai bahan untuk ujian, nilai dan sebagainya, tentunya butuh barometer yang pas untuk sebuah pertunjukan teater yang profesional.

Grup Memberikan Pemasukan Bagi Daerah

Ilustrasi pertunjukan teater

Ekosistem yang berkembang dengan baik, menjadikan grup tersebut akan memberikan Penghasilan Asli Daerah (PAD) bagi daerah yang bersangkutan. Mulai dari sewa gedung, pajak hiburan dan sebagainya. Tentunya, apabila ada sekitar 4-5 grup yang aktif dengan rata-rata 2 pertunjukan per tahun, maka pendapatan PAD dari teater juga dengan mudah bisa dihitung berapa nominalnya.

Tidak hanya itu, dengan ekosistem teater yang berkembang dengan baik di satu daerah, tentunya daerah tersebut memiliki banyak sarana pembibitan seniman baru, yang dimulai dengan prestasi di event-event seperti FLS2N, Peksiminas, lomba teater remaja dan sebagainya. Berikutnya, akan melahirkan seniman-seniman baru untuk melanjutkan tongkat estafet yang telah dibangun pendahulunya.

Dengan demikian, tentunya pemerintah daerah tidak akan segan-segan untuk mengucurkan bantuan agar kegiatan seni teater dapat terus berkembang, karena mengingat keuntungan akan kembali juga pada daerah. Grup-grup teater yang hidup di tempat yang ekosistemnya terjaga, tentunya dapat berkembang dengan baik. Apalagi, kalau pemerintah daerahnya juga mengucurkan bantuan, tentu grup akan tetap dapat menjaga konsistensi dan eksistensi, maka ekosistem juga akan tetap terjaga.

Tapi, lain halnya kalau ekosistem belum terbangun, namun grup-grup sudah menuntut uluran bantuan pemerintah melulu. Karena pada dasarnya, grup teater akan lebih membutuhkan kritikus dan penonton, ketimbang uluran bantuan pemerintah. Justru, kalau sejak awal pemerintah harus ikut campur dalam pembangunan ekosistem yang dimaksud tersebut, malah senimannya yang akan susah bergerak, karena pembatasan dan pengawasan dari "sponsor".

Bagaimana dengan Dewan Kesenian

Ilustrasi pertunjukan teater

Dewan Kesenian bisa mengambil fungsi sebagai pengawas (termasuk di dalamnya kritikus, pengamat dan akademisi) dan juga pihak yang menjaga stabilnya ekosistem tersebut. Dengan dana yang dimiliki Dewan Kesenian bisa meningkatkan kemampuan dari grup-grup dengan cara event, lomba, workshop, pelatihan hingga parade teater.

Dewan Kesenian mengambil peran yang pas dengan positioning yang pas pula. Dewan Kesenian juga bisa memastikan apabila grup mendapatkan bantuan dari pemerintah (bukan swasta), akan didapatkan secara adil dan merata ke seluruh grup di daerah tersebut.

Dewan Kesenian juga memiliki tanggung jawab terhadap ekosistem yang dibangun oleh para seniman tersebut. Dewan Kesenian memastikan setiap pertunjukan harus memenuhi standar tertentu, agar kualitas dari grup semakin membaik, dan tentunya kualitas tontonan yang didapatkan penonton juga terus "bergizi". (ai/pojokseni) 

Ads