Advertisement
Oleh: Adhyra Irianto
Dalam artikel yang ditulis oleh Arung Wardhana (nama panggung dari Dr. Hairul Hafifie, S.Sn., M.Sn.) berjudul "Chaos: Autobiografi, Metode Riset Artistik, Dramaturgi Depresi, dan Estetika Keruwetan & Kesalahan Teknis yang ‘Disembah’", beliau mencoba merujuk pembacanya untuk membaca deteritorialisasi yang diperkenalkan oleh Geleuze & Guattari.
Arung mencoba "mengartikulasikan" chaos bukan sebagai kekacauan atau fenomena acak. Justru, Arung menjelaskan bahwa chaos ini merupakan sesuatu yang dikonsepkan dengan basis deteritorialisasi. Chaos didefinisikan sebagai sebuah ruang di mana segala sesuatu mungkin terjadi, sebelum ia dipaksa menjadi bentuk yang tetap. Maka, "teater chaos" yang dihadirkan bukan sensasi berantakan, tapi sebuah konsep estetika yang "bertanggungjawab".
Saya tidak begitu mempermasalahkan dramaturgi chaos yang coba diperkenalkan Arung, baik lewat disertasinya maupun pertunjukan kelilingnya. Itu kecenderungan dramaturgi beliau. Hanya saja, saya 'tergelitik' ketika Arung menyebut orang-orang mengaitkan pertunjukannya dengan Teater Forum-nya Augusto Boal. Dan, kebetulan sekali di antara orang-orang tersebut, saya adalah salah satu yang dianggap mengaitkan pertunjukannya dengan Augusto Boal. Hehe.
Karena itu, artikel ini saya tuliskan. Yah, bisa dibilang sedang klarifikasi. Lewat artikel berjudul "Dramaturgi Chaos, Dramaturgi Saos, Dramaturgi Piloks dan Kekacauan yang Hafifi" saya menyebut seperti ini:
"....Malah, hal-hal yang lahir dari penonton, menjadi suatu pertunjukan. Dramaturgi chaos yang dipersiapkan Arung, khusus malam itu, berubah menjadi teater imersif ala Boal, dengan "alur cerita" yang ditentukan oleh penonton."
Jadi, saya akan menceritakan sedikit apa yang terjadi di Padang, Sumatera Barat pada bulan Agustus 2025 lalu. Pada gelaran Pekan Nan Tumpah 2025, yang digelar Komunitas Seni Nan Tumpah, Arung Wardhana hadir sebagai penampil pada hari kedua gelaran tersebut. Nah, malam harinya, Arung menceritakan sedikit banyak yang ia akan tampilkan esok harinya. Saya dan banyak orang, termasuk panitia Pekan Nan Tumpah, sampai direktur festivalnya Mahatma Muhammad pun rencananya akan terlibat dalam pementasan itu.
Waktu pementasan dimulai, dan apakah Anda tahu, hanya 35% saja yang berjalan seperti yang direncanakan. Sisanya, semuanya bahkan berjalan seperti apa yang "diinginkan" oleh pertisipan. Karena ada seorang perempuan muda yang tidak mau melihat kekerasan, maka semua aksi kekerasan yang "akan" dilakukan Arung semuanya batal. Berganti menjadi "kegiatan" lain. Maka, saat itu saya tersadar bahwa pertunjukan beliau ini sangat sensitif sekali. Sensitif pada ruang, pada interaksi dengan partisipan, dengan tingkah laku penontonnya, dan sebagainya. Jadi, pertunjukan jenis ini memang tidak bisa diprediksi, tidak bisa direncakan, juga tidak bergerak linear. Saya melihatnya seperti ini, akan selalu hadir pola baru di dalam kekacauan itu.
Karena itu, saya bilang bahwa malam itu, pertunjukannya menjadi teater imersif ala Boal. Saya tidak menyebut teater forum, bukan?
Kenapa saya menyebut teater imersif? Nah, "imersif" di sini adalah sifat yang dilekatkan pada pertunjukan Boal yang "keluar dari rencana". Boal awalnya menyusun sebuah dramaturgi yang sudah kuat dalam "teater of the oppresed" dalam bentuk teater forum. Bentuk teater forum itu punya struktur jelas, ada adegan, kemudian ada intervensi, lalu ada diskusi, lalu ada evaluasi. Ruang diskusinya juga eksplisit, juga ada mediator. Dalam perencanaannya, teater forum itu mesti ditonton oleh para "spec-actor" yang menyadari bahwa apa yang ditonton adalah pertunjukan teater, serta melakukan refleksi secara kolektif.
Namun kemudian, proyek Boal mulai menyusun sebuah pertunjukan yang "tidak disadari sebagai pertunjukan", serta dipertontonkan pada penonton yang tidak tahu dengan teater. Tidak ada diskusi, refleksi kolektif, dan mediator. Intinya, Boal mencoba untuk melakukan infiltrasi dramaturgi ke realitas, bukan melakukan simulasi realitas. Strategi dramaturgi ini yang kemudian disebut invisible teater.
Pada perjalanannya, invisible teater ini terus mencoba menghapus jarak antara penonton dan panggung, serta mengajak penonton masuk ke ruang performatif. Dalam konteks seni pertunjukan kontemporer, ciri ini mengarah pada teater imersif. Karena itu, invisible teater ini juga disebut sebagai teater imersif-nya Boal. Jadi, beda jauh sama teater forum (yang juga didesain oleh Boal) sebenarnya.
Perbedaan ontologis lainnya dari teater forum dengan invisible teater adalah, teater forum masih mempertahankan "ruang/space teater". Sedangkan, invisible teater sudah keluar dari ruang itu. Nah, ini juga yang mirip dengan deteritorialisasi ruang yang kemudian oleh Arung dirujuk untuk menjelaskan teater chaos-nya.
Apa yang saya tonton malam itu di Pekan Nan Tumpah, sejauh yang saya lihat benar-benar mirip dengan penciri invisible teater;
- tidak diumumkan sebagai sebuah pertunjukan teater,
- terjadi di ruang nyata (bukan ruang pertunjukan), dan
- publik juga tidak sadar sedang menjadi penonton sekaligus partisipan.
Nah, teater chaos-nya Arung ini sangat sensitif pada semua intervensi, energi ruang, tubuh, dan semua injeksi dari luar. Apapun yang datang dari luar, akan memengaruhi bentuk pertunjukannya. Sebab, seingat saya, dari hasil ngobrol-ngobrol kami, Arung kurang menyukai pertunjukan dramatik, dan mendeteritorialisasi struktur dramatik serta konvensi panggungnya. Itu artinya, dramaturgi Chaos-nya Arung ini sebenarnya bergerak di ruang "software"; pemaknaan, struktur, kestabilan, kesadaran, dll. Sedangkan "hardware"-nya (bentuk) sangat sensitif dan mudah berubah-ubah, sangat tergantung dengan situasi di saat pertunjukan itu digelar, intervensi dari partisipannya, serta situasi lain yang juga sangat bisa mengintervensi. Setiap intervensi akan mengubah bentuk pertunjukan, karena sensitifnya "chaos" ini.
Malam itu, intervensi dari para partisipan "mengubah" bentuk pertunjukan yang dibawa Arung menjadi teater imersif.
Meski demikian, saya tetap mengatakan bahwa teater chaos ini tidak sama dengan invisible teater/teater imersif-nya Boal. Invisible teater dimulai dengan kesadaran politis, intervensi sosial, dan strategi taktis lainnya. Sedangkan teater chaos tidak punya itu. Tidak ada rencana untuk mengubah sesuatu, dan membawa resolusi tertentu. Arung hanya ingin mengembalikan kesadaran kolektif pada kesadaran subjektif. Kembali merasa "ada", menceritakan apa yang terjadi pada diri pada orang lain di dalam ruang performatif, dan menjadikan tontonan teater sebagai sesuatu yang dialami, bukan dinikmati.





