Sering Salah Kaprah, Apa Sebenarnya Pengertian Estetik? -->
close
Pojok Seni
09 October 2021, 10/09/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-10-09T00:00:00Z
ArtikelBerita

Sering Salah Kaprah, Apa Sebenarnya Pengertian Estetik?

Advertisement
pengertian estetik

pojokseni.com - Warganet Indonesia hari ini kerap menggunakan istilah "estetik", "estetis", dan "estetika", namun kebanyakan justru salah kaprah. Tidak hanya warganet, bahkan media massa juga sering salah kaprah menggunakan istilah tersebut. Judul berita di media besar nasional untuk berita entertainment juga kerap menggunakan kata "estetika", "estetis", hingga "estetik" dengan salah kaprah.


Misalnya contoh berita ini:


  • "Fotonya Terlalu Estetik, Ayu Anjani Disangka sedang Diving di Akuarium" (dimuat oleh Indosport, tanggal 8 Oktober 2021)
  • "Cara membuat foto hanging yang unik dan estetik" (dimuat oleh Kompas tanggal 16 Juni 2021)
  • "7 Realita di balik foto estetik nan intagramable, bisa jadi inspirasi" (dimuat oleh Liputan6, tanggal 14 Juni 2021)
  • "9 Faktor terpenting foto instagram yang estetik ala selebgram" (dimuat oleh Idntimes tanggal 22 April 2020)
  • "20 Cara unik bikin foto jadi estetik ini endingnya malah kocak" (dimuat oleh Brilio, tanggal 1 April 2021)  
  • Dan lain-lain.


Intinya adalah, di berita tersebut kata "estetik" diartikan sebagai bagus, bernilai seni, dan menarik. Padahal, kata yang tepat untuk itu adalah "artistik". 


Pengertian estetik (estetis) merujuk ke KBBI adalah "mengenai keindahan/menyangkut apresiasi keindahan". Pengertian kedua adalah "penilaian terhadap keindahan".


Sedangkan pengertian artistik, merujuk ke KBBI adalah "memiliki nilai seni atau bersifat seni". Arti lainnya ialah "memiliki bakat dalam kesenian". 


Tidak hanya itu, secara etimologis, estetik berasal dari Bahasa Yunani "aisthetikos" yang artinya "berkenaan dengan persepsi seseorang terhadap seni".  Perlu dicatat bahwa estetik adalah kata sifat, sedangkan kata bendanya adalah "estetika". Kata estetika juga berasal dari Bahasa Yunani yakni Aisthesis yang artinya "persepsi indrawi". Sedangkan kata kerjanya adalah "aisthanomai" yang artinya mempersepsikan.


Persepsi indrawi, kemudian di era berikutnya, disebutkan sebagai persepsi pada semuanya, baik itu keindahan alam, seni, sastra, termasuk juga pada hal lain. Maka, untuk merujuk ke seni dan estetika, istilah yang lebih sering digunakan adalah persepsi estetis. Hal itu ditujukan agar persepsi estetis berbeda dengan persepsi pikiran, persepsi konseptual, dan sebagainya yang juga berasal dari persepsi indrawi.


Bayangkan bila kalimat yang menjadi judul berita tadi coba Anda artikan sesuai definisinya. Kita coba satu:


"Fotonya Terlalu Estetik, Ayu Anjani Disangka sedang Diving di Akuarium"


Artinya, foto dari Ayu Anjani tersebut terlalu "mempersepsikan sesuatu yang bersifat seni/artistik". Itu berarti, fotonya yang melakukan tindak persepsi. Tapi, bukankah seharusnya definisi yang diinginkan oleh penulis tersebut adalah seperti ini:


"Fotonya terlalu 'indah dan bernilai seni', Ayu Anjani disangka sedang diving di akuarium"


Bila benar seperti definisi di atas, maka kata yang digunakan seharusnya adalah "artistik". Karena, merujuk ke manapun, artistik tetap memiliki definisi yang sama, yakni "bernilai seni atau bersifat seni".


Pengertian Estetika


Lebih lanjut, di buku Sejarah Estetika yang ditulis Martin Suryajaya, ditulis lagi bahwa estetika sudah menjadi disiplin kajian (filsafat seni) sejak abad ke-18. Ditulis oleh Alexandre Gottlieb Baumgarten, bahwa estetika adalah kajian filosofis terhadap keindahan perseptual. Berasal dari distingsi di era Yunani (membedakan persepsi estetis dengan persepsi lainnya), dilanjutkan dengan pemisahan oleh Alexandre Gottlieb Baumgarten, sehingga seterusnya Estetika berdiri sebagai ilmu pengetahuan sendiri, yakni ilmu yang membahas dan mengkaji tentang keindahan. Estetika menjadi pendekatan yang otonom terhadap kesenian dan pengkajian kesenian.


Bila seniman mempertanyakan tentang alam, lingkungan, filosofi hidup dan sebagainya, lalu diresponnya menjadi sebuah karya. Maka, estetikawan mempertanyakan apa yang membuat karya seniman tersebut menjadi indah.


Hal tersebut berbeda dengan sejarawan seni, kurator, dan penonton/pemirsa. Sejarawan seni akan mengkaji bagaimana sejarah, perbedaaan antara karya seorang seniman dengan seniman lainnya, seperti perbedaan mendasar karya Mozart dengan Bethoven misalnya. Kurator akan mempertanyakan makna, penjelasan karya dalam konteks tertentu, signifikansi karya, dan sebagainya. Sedangkan pemirsa akan mempertanyakan, apakah karya tersebut berguna bagi kita, apakah karya itu menyentuh kita, dan sebagainya.


Estetikawan akan menjadikan pertanyaannya lebih menjurus ke keindahan karya itu sendiri secara otonom. Apa yang membuat lukisan Monalisa menjadi indah? Apakah seandainya, lukisan monalisa dibawa ke Mars, apakah di situ tetap sama indahnya? Apakah kuda kepang yang indah di Jawa, akan tetap sama indahnya ketika dibawa ke China?


Seperti itu kurang lebih penjelasan tentang estetika, estetik, estetis, dan estetikawan. Tentunya, estetika ini berkait dengan persepsi pemirsa dari karya tersebut. Sebuah benda yang artistik akan menimbulkan persepsi estetis bagi pemirsanya. Foto Ayu Anjani yang artistik, juga akan menimbulkan persepsi estetis bagi yang melihatnya. Begitu penggunaan kata estetis yang tepat.