Jalan Langit: Antara Tahu dan Cinta -->
close
Pojok Seni
11 October 2021, 10/11/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-10-11T00:00:00Z
ArtikelBeritaNarasi

Jalan Langit: Antara Tahu dan Cinta

Advertisement
Jalan cinta Jalaludin Rumi


Oleh: Prof. Yusmar Yusuf


Pengetahuan dan cinta adalah dua anasir yang dirindu oleh peradaban. Dua elemen ini bisa pula membangun ‘berhala’ bagi dirinya sendiri dan ‘memberhala’ orang di luar dirinya. Seorang yang berpengetahuan disapa dengan emblem “arif”. Bagi seorang pencinta dilekatkan pula predikat “muhibb” kepadanya. Michel Chodkiewicz seorang filsuf spiritual yang amat progresif mengalamatkan kepada Ibn Arabi selaku ‘Sultan al Arifin’ (Penguasa kaum berpengetahuan); sementara ‘Sultan al Muhibbin’ dijatuhkannya kepada Jalaluddin Rumi (Penguasa orang-orang yang mencinta). Pengetahuan dan cinta saling bergenggam erat. Keunggulan satu di atas yang lainnya, merupakan satu di antara sekian banyak kriteria yang menentukan tipologi para wali. 


Dua anasir ini (pengetahuan dan cinta), sejatinya bisa menyesatkan dan membuat seseorang menyasar dalam perjalanan spiritual. Hal ini disebabkan oleh nafsu ke atas pengetahuan dan cinta yang tak terkendali. Betapa banyak kisah penyesatan dalam ruang-ruang tariqat yang berujung pada penyembahan ‘berhala’ yang disebabkan oleh pengetahuan dan cinta. “Ada kisah pemberhalaan diri sendiri yang diperoleh melalui pengetahuan (irfan/ burhani) tentang Yang Esa, ketika si pencari berhenti sejenak di tengah jalan dan percaya bahwa Yang Esa berada di dalam jiwanya sendiri. Sebaliknya, ada pula pemberhalaan terhadap orang lain melalui cinta, karena muhibb dapat melupakan bahwa orang lain tersebut hanyalah satu aspek dari Yang Esa”. 


Kisah jalan pengetahuan dan cinta, bisa diurut menjulur belakang, dalam lorong pencerahan spiritual. Salah satu referensi kitab klasik yang berbincang tentang spiritualitas adalah Weda (Veda, Widya). Secara harfiah, Weda bermakna “mengetahui ilmu agama tentang sesuatu yang tak diketahui”. Catatan berserak dari para sejarawan mengenai korpus Weda, sejatinya dia bukan lah murni pemikiran India (Hindi). Weda bagian dari kekuatan pemikiran Arya. Sebab, bahasa yang digunakan untuk kitab ini adalah bahasa Sansekerta. Dia merupakan referensi yang paling tua tentang pencarian akidah dan agama di muka bumi. Para penganutnya, benar-benar ketat dalam mengamal dan menyerap segala ajaran Weda ke dalam lubuk sanubari. Dari kitab ini, terpancar sederet perilaku yang merujuk pada kehalusan budi, praktik pemurnian jiwa, pengosongan pemikiran, sehingga menyatu (wahda al-wujud), emanasi, theofani dan reinkarnasi. Bayangkan! Ketika Islam masuk ke tanah India, sama lah halnya Islam memasuki rumah ibadah, bersua dengan kitab suci tua dan betemu  dengan para tokoh agama itu sendiri. Maka, tak dapat disangkal, terjadi perdebatan panjang antara pendakwah Islam dengan tokoh agama di India kala itu. 


Dalam perjalanan nan berliku, bergelombang itu, islamisasi tak bisa mengelak untuk menyerap kebudayaan mereka yang sudah demikian lama (pengetahuan dan cinta) ke dalam pemikiran Islam, sebagaimana tergambar dalam “Kalilah wa Dimnah, Sindhind, begitu pula terjemahan Fawazi. Praktik-praktik penyucian jiwa, kontemplasi (via furgativa dan via contemplativa) dalam sejumlah tariqat sejak dulu, amat bekelindan dengan pemikiran di anak benua ini. Bergemuruh (mungkin) hingga hari ini. 


De Boor memberi catatan mengenai kedalaman akar tunggang perenungan orang India dari kitab suci ini, sekaligus memberi sumbangan pengaruh terhadap sufisme di Persia dan Islam. Sebagaimana catatan dari Paul Krimer tentang pengaruh nyata dalam pemikiran al Muhasibi dan Dzun Nun al-Mishri. Khusus Dzun Nun, yang menguasai bahasa Mesir kuno, juga memiliki jangkauan pemikiran Mesir kuno dalam kontemplativa spiritual yang dihormati oleh sebagian penghayat jalan Irfan itu.  Semua jalan ini melekat dalam “nyala api” irfan dan cinta. Selanjutnya, para filsuf besar dalam tradisi Helenik (Yunani), telah melakukan perjalanan ke Timur dan ikut terpengaruh atas eksotika “jalan mendaki langit” dalam kaidah Timur. Mereka yang melakukan perjalanan ke Timur itu antara lain; Thales, Pithagoras, Democritos, Anaximenes dan Plato. Figur dan tokoh-tokoh filsuf ini, suka tak suka amat terpengaruh oleh tradisi “jalan langit Timur” yang amat eksotis itu. 


Mereka dibesarkan dalam tradisi spekulasi rasional-akal, sehingga kehidupan mereka dihiasi oleh serangkaian riset dan analisis. Hal yang sama, mereka lakukan pula terhadap nalar, ruh, jiwa, termasuk emanasi (penyingkapan Tuhan dalam wujud-wujud ciptaan-Nya). Mereka melakukan analisis dan riset ke atas ihwal-ihwal ini. Tak dapat disangkal, iklim pemikiran dan spiritualitas orang Yunani pun ikut tumbuh subur dan kian merecup dalam media yang dibuahi oleh tradisi paganisme yang teramat kuat, yang kemudian dibungkus dalam serangkaian legenda para dewa yang lugu innocent itu; maka muncullah sejumlah lakon dan lelakon yang disesuaikan dengan watak manusia dalam sejumlah sifat dan fi’il-nya seperti; sedih, marah, melankolik, perasa, perajuk, cinta juga perang. Ihwal ini tak dapat dilepaskan dari pengaruh atas perjalanan mereka ke Timur dan perisa yang dihidang oleh tuhan-tuhan Timur, terutama tuhan orang Mesir.


Perjalanan pengetahuan (irfani) dan cinta (hubb) dalam sejarah peradaban manusia, khususnya yang teraut dalam kisah jalan spiritualitas, saling berkait dan memperkukuh (kalau tak hendak mengatakan saling mempengaruhi) sejak dari gelombang peradaban awal, hingga perjalanan pencerahan spiritualitas modern. Jalan irfan dan cinta adalah (menjadi isi) batinnya agama. Ketika agama disandarkan pada kekuatan syar’ie, maka dia bersandar pada sandaran fisikal sebuah agama. Namun, kala dia diisi dengan irfan dan cinta, agama mengalami proses pengisian batin. Dan inilah wilayah batinnya agama. Namun, semuanya harus bertindak serba hati-hati untuk menghindari peristiwa “pemberhalaan” dan “penyesatan” ketika dia terhenti di tengah jalan, lalu terkagum-kagum akan keindahan pantai spiritualitas yang panjang dan memukau itu, lalu dia melupakan yang esensi dari perjalanan itu sendiri. 


Peristiwa terhenti di tengah jalan inilah yang sedapat mungkin harus dielak, untuk menghindari keterpukauan, ketakjuban yang serba menyasar dan mengecoh ketajamanan irfani dan kelembutan cinta. Mencari melalui jalan irfani dan cinta adalah sebuah pengayaan dalam ihwal mencari ‘al-Alim’ (Yang Maha Mengetahui) dalam cara yang lunak nan lembut, namun penuh tebing berbahaya dan terjal. Begitu banyak makhluk yang dicipta, sebanyak itu pula jalan menuju Dia. Jalan irfani dan cinta, mungkin salah satu dari jalan itu? Haiii... entahlah. Ini hanya setakat perenungan seorang dhaif.