24 March 2020

author photo

Baca Juga

Socrates yang tidak menyukai demokrasi
pojokseni.com - Meski demokrasi diciptakan dan diberlakukan pertama kali di Yunani di abad ke-5 SM, namun sistem politik ala Athena tersebut ternyata tidak disukai oleh Socrates. Sebelumnya, demokrasi sempat menjadi sistem favorit di negeri para dewa itu.

Ada beberapa yang menyebut bahwa Socrates membenci sistem demokrasi tersebut. meski tidak begitu tepat mengatakan bahwa Socrates "membenci" sistem tersebut, namun fakta bahwa Socrates tidak menyukainya sudah begitu gamblang.

Demokrasi di Athena berjalan sepenuhnya ketika Cleisthenes (508 - 507 SM) berkuasa. Hal itulah yang menyebabkan, Cleisthenes disebut sebagai bapak demokrasi.

Demokrasi kemudian digunakan di banyak tempat dan negara. Aristoteles, salah satu dari tiga filsuf terbesar Yunani, mendukung dan merumuskan demokrasi ini. Tapi sayangnya, salah satu dari tiga filsuf terbesar Yunani lainnya, Socrates justru tidak begitu menyukai sistem tersebut.

Apa Penyebab Socrates Tidak Menyukai Demokrasi?



Socrates menyalahkan sistem tersebut terlalu simpel, dan terlalu banyak dampak negatifnya. Ia memberikan sebuah analogi yang membuatnya tidak menyukai sistem tersebut.

Masyarakat dalam satu negara, atau daerah, seperti sekelompok orang yang berada di atas kapal. Dan kapal tersebut berada di atas laut yang kadang badai, kadang angin kencang, meski ada beberapa bagian laut tenang.

Seorang warga bernama Adeimantus, bertanya apa alasan kenapa dia tidak menyukai sistem tersebut. Ia menceritakan analogi tersebut pada Adeimantus, lalu bertanya bila ia berada di dalam kapal tersebut, maka siapa yang akan dipilihnya sebagai nahkoda kapal?

"Ada dua pilihan, satu orang yang terlatih sekaligus berpengalaman, sedangkan pilihan kedua, kita memilih satu orang yang menjadi nahkoda kapal tersebut dengan cara mengumpulkan suara dari semua yang berada di kapal."

Tentunya, Adeimantus menjawab akan lebih baik memilih orang yang pertama. Socrates bertanya apa alasannya. Warga itu menjawab, belum tentu semua orang di dalam kapal itu mengetahui siapa sebenarnya yang memiliki kemampuan menjadi nahkoda. Selain itu, memilih orang yang menjadi pemimpin mereka di kapal tersebut tentunya sama dengan berjudi.

Maka Socrates lalu menjawab, "kalau begitu, kenapa kita harus berjudi menentukan pemimpin suatu negara atau daerah berdasarkan suara dari orang-orang yang tidak terdidik?"

Pada akhirnya, Socrates menceritakan bahwa dalam demokrasi kebanyakan orang (khususnya yang dikategorikannya tidak terdidik) itu memilih seorang pemimpin berdasarkan instingnya saja. Tidak jarang ada yang memilih karena wajahnya ganteng, gagah, dan sebagainya. Atau, hal lain yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan kemampuan memimpin.

Maka faktor yang paling penting, cakap dalam memimpin menjadi kabut yang tak terlihat.

Siapa yang paling pintar berbicara di muka umum, maka dia yang akan menjadi pemimpin. Ditambah lagi, suara orang yang benar-benar pakar tata negara, pakar politik, sosial dan sebagainya juga bernilai 1 suara. Sama saja dengan suara orang yang bahkan tidak tamat sekolah dasar, atau tidak mengerti sama sekali terkait politik.

Maka demokrasi, bagi Socrates sama seperti berjudi


Ada satu analogi lagi, dia memberikan contoh dua orang calon pemimpin, terlepas dari kecakapan memimpin di antara keduanya, tapi semua orang mengenal profesinya. Satu adalah tukang permen dan satu lagi adalah seorang dokter.

"Siapa yang memilih saya, maka saya akan memberikan Anda permen yang manis. Ketimbang dokter itu, hanya bisa kasih kamu yang pahit-pahit," kampanye si tukang permen.

"Aku melakukan semuanya untuk kesehatanmu, tidak perlu memberikan Anda yang manis-manis, kalau hanya memberikan penyakit," kata si dokter.

Hasilnya, jawaban dari kedua orang itu berlawanan dan memicu konflik. Salah satu di antaranya akan mendapatkan suara terbanyak ketika menjadi pemimpin, mungkin akan berdamai. Dan sayangnya, para pendukung mereka akan tetap terlibat adu ini-itu dalam waktu yang lama.

"Demokrasi mesti diberlakukan di tempat yang sistem pendidikannya sudah matang, sehingga tidak ada lagi yang bodoh bisa dimanfaatkan seseorang yang ingin mendapatkan keuntungan politis," kata Socrates.
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement

Loading...