19 December 2019

author photo

pojokseni.com - Di sebuah wahana bermain, seorang lelaki bertangan satu berbadan besar (entah sengaja atau tidak) masuk ke dalam sebuah gedung cermin. Disebut gedung cermin, karena memang separuh dari gedung tersebut adalah kaca, yang menjadikan kita bisa melihat ke dalamnya, begitu pula dari dalam.

Gedung tersebut adalah arena bermain semacam labirin. Masuk ke dalam, mencari sesuatu, setelah mendapatkan kemudian mencari jalan keluar. Sesederhana itu saja. Tapi tidak begitu sederhana bagi lelaki tersebut. Ia kebingungan mencari jalan keluar, di antara kisi-kisi kaca tersebut. Kemanapun ia melangkah, ia tidak menemukan jalan keluar, dan yang ia temui hanyalah bayangan dirinya sendiri yang terpantul di setiap cermin, kaca dan kisi-kisi kaca di seluruh bagian gedung cermin itu.

Semua orang melihat lelaki itu kebingungan, putus asa, mengumpat kesana kemari, mencarut, marah pada dirinya, bolak-balik, hingga akhirnya terduduk di posisinya, memilih diam. Semua orang yang melihat menertawakannya. Kejadian itu menjadi semacam lelucon bagi setiap orang yang melihat.

Artikel berkaitan: The Blacks oleh Jean Genet, Ritual Kemarahan Aneh Kaum Kulit Gelap

Tapi bagi lelaki itu, ini bukan lelucon. Ini penyiksaan dan semacam hukuman. Tak ada seorang pun yang mencoba masuk ke dalam gedung itu untuk menyelamatkan lelaki malang itu. Karena, mungkin alasannya sederhana, mereka tidak ingin ikut tersesat bersama lelaki itu dan menjadi tontonan berikutnya.

Lelaki malang itu, bernama Stilitano. Dikenal sebagai seorang pencuri dan bandar narkotika asal Serbia. Badannya besar, wajahnya cukup tampan, tinggi dan tentu saja seperti yang sudah diceritakan di awal, ia bertangan satu.

Alam semesta seakan tak mendukung Stilitano. Tadinya, ia tidak masuk ke gedung itu sendirian. Semua orang satu persatu keluar dari gedung cermin itu. Sedangkan Stilitano, seakan-akan alam menutup setiap jalan keluarnya. Membiarkannya tetap menjadi tontonan yang lucu bagi setiap orang yang berada di luar gedung.


Stilitano mengeluarkan sumpah serapah bagi setiap orang yang menertawakannya. Tapi apa daya, dari balik gedung itu, suaranya tak terdengar. Hanya ekspresi wajahnya yang mengerikan, sekaligus lucu.

Cerita yang tak tahu dikategorikan cerita sedih, tragis, atau malah cerita lucu ini tertulis di buku otobiografi Jean Genet, seorang dramawan asal Prancis yang lahir di akhir tahun 1910.

Gedung Cermin Dalam Kehidupan Manusia


Sedikit melenceng dari cerita unik Genet tentang Gedung Cermin, teringat kata-kata musuh bebuyutan Batman, Joker yang berkata bahwa Tuhan tak pernah menyanyanginya, Tuhan selalu menyayangi Batman. Jadinya, alam semesta seakan tak pernah berpihak baginya. Dari kecil, meski mencoba menjadi orang baik, namun kemalangan terus melandanya. Sampai akhirnya, ia tiba pada keputusan bahwa "jalan keluar telah ditutup" dan ia terkurung dalam gedung cermin, sebuah lembah yang dianggap limbah.

Seorang pelacur, dianggap rendah dan hina, dan ia tak pernah benar-benar bisa berlari dari "gedung cermin" itu. Selamanya ia hanya bisa terkungkung di dunia gemerlapan tengah malam, yang selalu dipandang hina bahkan sampah oleh siapapun juga. Tak pernah ia memimpikan, mencita-citakan dirinya untuk menjadi seorang pelacur. Namun, jalan takdirnya menuntun ke arah itu, kearah gedung cermin yang membuat ia menjadi tertawaan siapapun yang melihatnya dari luar. Lalu, ia terkurung di dalamnya, hanya mampu berputar-putar dan tak mampu keluar. Sumpah serapahnya tak terdengar, nyaris sama seperti nasib Stilitano.

Artikel Berkaitan: Naskah The Maids Jean Genet, Fantasi Pemberontakan dan Kerendahan Diri

Salah satu dari orang yang menertawakannya, adalah pekerja rendahan di sebuah gudang logistik. Gajinya kecil, hingga ia banyak berhutang untuk membayar keperluan sehari-hari. Tubuhnya sudah tak tahan untuk mengulang pekerjaan yang berat itu setiap hari, tapi ia juga tak mampu (atau lebih tepatnya tidak berani) untuk berlari ke luar. Ia menertawakan "seseorang di dalam gedung cermin" yang menurutnya lucu dan memilukan. Padahal, ia berada dalam "gedung cermin" yang lain dan ada pula orang lain yang menertawakannya.

Seorang wanita, sosialita baru, sejak kecil bermimpi ingin jadi orang kaya. Menggunakan gawai yang mahal, tas yang mahal (atau mungkin terlihat mahal), dan berteman dengan orang-orang di tingkat tinggi. Untuk membiayai tampilannya yang cukup mahal itu, maka ia bekerja banting tulang. Bekerja terlalu berat, sampai sesekali tubuhnya ingin berkata bahwa ia sudah tak sanggup lagi. Namun ia juga tak bisa keluar.

Di sisi lain, sepasang suami istri muda terus beradu mulut perkara remeh temeh. Berebutan saluran televisi, kasur yang berantakan, piring kotor dan sebagainya. Sesekali mereka ribut perkara uang keluarga yang tak cukup untuk biaya mereka perbulan. Keduanya tak mampu berlari dari rumah yang mereka bangun berdua, terkurung dalam gedung cermin yang lain.

Masih terlalu banyak gedung-gedung cermin yang lain. Manusia saling menertawakan, saling memikirkan, saling iba antar sesama mereka. Seakan-akan melihat orang lain berada dalam gedung cermin. Namun, tatkala ia menyadari, bahwa ia sebenarnya juga berada dalam gedung cerminnya sendiri.

Begitulah cara Jean Genet menyampaikan keadaan manusia. Memiliki harapan yang indah tentang hidupnya, lalu terjebak dalam labirin yang terbangun sendiri. Kehidupannya berisi dengan rangkaian rutinitas yang absurd - sebagian besar berisi menunggu-. Ketidakberdayaan, kesunyian, merasa sendiri, putus asa, adalah teman baik bagi setiap manusia.

Kebohongan dan fantasi adalah teman baik bagi harapan. Sesuatu yang kemudian menjadi belenggu dan mengurung manusia dengan sebuah mimpi, mimpi indah yang diselimuti mimpi buruk.

Jean Genet, disebut Sartre sebagai seorang anak yang saleh dan taat. Sampai kemudian ia dituduh mencuri dan berakhir di tempat rehabilitasi. Ia berhasil kabur dan bergabung dengan gerombolan kriminal, hingga akhirnya ia terlibat dengan pencurian, prostitusi dan sebagainya.

Jean Genet kemudian dibuang oleh keluarganya sendiri. Kemudian, sebagai balasannya, Jean Genet mengingkari kehidupan, sebagaimana kehidupan mengingkarinya. Dalam periode itulah, karya-karya monumentalnya lahir. (ai/pojokseni)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Loading...

Advertisement