31 January 2019

author photo

Baca Juga

pojokseni.com - Masih dalam rangkaian artikel bertajuk "Menuju Post Realis", kali ini ada bahasan menarik tentang Teater I La Galigo oleh Robert Wilson dan Teater Interkultural oleh Patrice Palvis. Sebelumnya, simak dulu artikel dengan tajuk "Menuju Post Realis" berikut ini:
  1. Menuju Post Realis: Realisme, Batasan Post Realisme dan Teater Epik ala Brecth
  2. Menuju Post Realis: Teater Absurd dan Teater Kejam
  3. Menuju Post Realis: Meyerhold dan Ekspresionisme Rusia
  4. Menuju Post Realis: Teater Miskin Growtosky dan Teater Ketiga Barba
  5. Menuju Post Realis: Peter Brook dan Mahabrata

Robert Wilson dan I La Galigo


Teater I La Galigo Robert Wilson

Teater I La Galigo ini menyuguhi penonton pentas visual, tari dan puisi yang memanfaatkan mitologi Bugis berusia lebih dari 700 tahun. Dengan mengandalkan naskah panjang dari Sulawesi Selatan, teater I La Galigo tertolong oleh sebuah alur yang relatif kokoh dan utuh yang menceritakan ulang dan menvisualkan mitologi itu diatas pentas.

Robert Wilson menghadirkan kisah generasi pertama manusia didunia,  dan penegasan bahwa menjadi manusia lebih baik daripada menjadi dewa-dewa, bahwa dunia lebih penting dari langit. Adegan asal mula manusia dan dunia itu, dengan tubuh-tubuh gelap yang melangkah pelan dan miring mengingatkan antara lain pada sosok dewa dan manusia di dinding piramida Mesir kuno. Pentas I La Galigo ini tampak magis tapi diisi dengan sebuah eksistensial yang sangat modern yang menghadirkan sebuah tegangan potensial yang punya energik.

Yang berharga dari Robert Wilson adalah bahwa selain menggelar upaya perajutan tambang genesis, proyek ini lebih menonjol ke derita dan kebingungan dari perjalinan tambang, alhasil seperti bisa ditebak, pentas yang tak jarang bikin gaduh oleh kata-kata yang bersahut-sahutan. Pentas seperti ini terlihat sebagai persekongkolan dalam permainan artistik yang tampak tak peduli pada daya cerna penonton.

Penonton yang mengharapkan sebuah teks yang jadi  dan utuh memang tak memperolehnya dari pentas ini, mereka ditantang menyusun sendiri teks tersebut. Dengan kata lain, Robert Wilson memang lebih mirip khaos sebelum kosmos, atau lebih tepat, sebuah transisi dari khaos ke kosmos.

Teater Interkultural dan Patrice Palvis

Teater Interkultural Patrice Palvis

Sejak tahun 70-an, diskursus teater di forum-forum internasional mulai diramaikan dengan diskusi dan perdebatan tentang teater interkultural. Terlibat dalam suatu tedensi yang terus meningkat untuk mengadopsi elemen-elemen dari tradisi-tradisi teater asing ke dalam produksi karya-karya teater.
Pencarian atas pengalaman teater interkultural telah menyibukkan International Centre for Theatre Research.

Merujuk pada Patrice Palvis dalam The Intercultural Performance Reader. Dalam pengertian yang paling ketat (teater interkultural) menciptakan bentuk-bentuk hibrida dari pencampuran yang sedikit banyak secara sadar dan sukarela dari tradisi-tradisi pertunjuan yang dapat dilacak di wilayah-wilayah kultural yang berbeda (Pavis, 1996:8)

Praktik teater interkultural mendapatkan kritik atas proyek-proyek interkultural yang kebanyakan terkait dengan isu relasi kuasa dalam proses adaptasi dan apropriasi yang dilakukan. Dalam konteks ini, seluruh rentang praktik teater interkultural juga memapar proses adaptasi dalam teater dengan bentuknya yang lebih kompleks dan juga memapar suatu kenyataan fundamental lain atas teater. (isi/pojokseni)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement

Loading...