30 January 2019

author photo

Baca Juga

Teater Miskin 
pojokseni.com - Masih rangkaian artikel teater bertema utama "Menuju Post Realis". Kali ini, yang akan dibahas adalah Teater Miskin yang diperkenalkan oleh Grotowsky dan Teater Ketiga yang dikenalkan oleh Barba. Sebelumnya, Anda bisa menyimak artikel bertema "Menuju Post Realis" yang sudah ditulis sebelumnya, antara lain:


  1. Menuju Post Realis: Realisme, Batasan Post Realisme dan Teater Epik ala Brecth
  2. Menuju Post Realis: Teater Absurd dan Teater Kejam
  3. Menuju Post Realis: Meyerhold dan Ekspresionisme Rusia


Jerzy Growtosky dan Teater Miskin

Jerzy Grotowski

Semboyan dari Jerzy Grotowski yang terkenal ialah "Inti teater adalah Aktor, perbuatan-perbuatannya dan apa yang dia dapati". Jerzy Growtosky “hanya membutuhkan aktor” karena itu teater ini disebut teater miskin. Jerzy Growtosky menganggap setting panggung, kostum dan lain-lain tidak dibutuhkan karena akan mampu mempertunjukkan teater yang baik dengan keterampilannya dalam seni peran.

Satu hal yang dapat ditangkap dari Grotowski ialah teater itu aktor. Oleh sebab itu, untuk membangun suatu pertunjukan yang baik, sebenarnya hubungan antara aktor dengan penonton benar-benar harus diperhatikan. Namun, seperti biasa, ada "sekat" yang membatasi antara penonton dan aktor. Aktor benar-benar merefleksikan diri dalam peran, agar dapat dinikmati oleh penonton sehingga menimbulkan stimultan untuk ditonton kembali oleh penonton.

Beberapa teknik latihan Teater versi Jerzy Grotowski banyak yang memaksa aktor harus mengeluarkan seluruh ekpresi yang bisa dilakukan. Teknik latihannya malah seperti permainan. Persiapan diri pelaku menurut Jerzy Grotowski merupakan cara dan media pengungkapan jati diri pelaku demi mempengaruhi katarsis penonton. Dinamika ini yang disebut dengan skoring, yaitu pertemuan antara tubuh pelaku dengan gerak dan vokal yang ditujukan untuk berkomunikasi dengan penonton.

Konsep yang diusung oleh Grotowski ini dikenal sebagai “Teater Miskin” (Poor Theatre). Grotowski lebih mengembalikan “segalanya” pada kekuatan seorang aktor, ketimbang "kekuatan" sutradara. Dalam hal ini di anggap sebagai sebuah lecutan. Agar tidak "manja" untuk membuat sebuah pertunjukan "mewah" dengan balutan lighting, tata panggung dan lain-lain. Teater itu aktor. Tentu untuk mengalahkan kemewahan itu, Teater miskin harus mengandalkan kekuatan dari aktor-aktornya. Hal ini dianggap dapat terus berkembang seiring waktu berjalan, hal yang dinamakan proses.

Menuju Teater Miskin mengupas pemikiran tokoh teater terkemuka dunia Jerzey Growtosky mengenai konsep teater eksperimentalnya yang secara kreatif dinamainya “Teater Miskin” (Poor Theater). Dengan menghilangkan “bumbu-bumbu” berlebihan dalam proses penyatuan tersebut, Growtosky sampai pada konsep tentang “Teater Miskin”.

Teater miskin meninggalkan make up, hidung palsu, perut bunting dengan ganjalan bantal, pokoknya segala sesuatu yang dipakai oleh aktor dikamar rias sebelum pertunjukan. Teater miskin menemukan bahwa adalah sempurna secara teaterikal bagi pemeran bila ia mengubah tipe yang satu ke tipe yang lain, watak yang satu satu ke watak yang lain, siluet yang satu ke siluet yang lain sementara penonton memperhatikan dalam kondisi yang miskin, dengan mempergunakan hanya tubuh dan keahliannya.

Teater miskin mengurangi unsur-unsur plastis yang mempunyai arti sendiri dan mencoba memaparkan sesuatu yang berdiri sendiri untuk setiap aktivitas sang aktor yang semuanya menumbuhkan kreativitas aktor untuk obyek-obyek yang paling elementer dan nyata. Dengan mengontrol penggunaan geraknya, aktor dapat “mengubah” lantai menjadi laut, sebuah meja menjadi sebuah kursi pengakuan dosa, sepotong besi menjadi teman atau lawan bermain, dan lain-lain.

Teater miskin tidak menjanjikan kepada para aktor kemungkinan sukses dalam satu malam. Teater ini menolak konsepsi borjuis tentang suatu standar hidup. Tetapi mengusulkan penggantian kekayaan material menjadi kekayaan moral sebagai tujuan utama hidup ini. Namun rasa puas terhadap cara-cara kerja seperti itu memang besar. Sang aktor yang berada dalam proses disiplin khusus dan pengorbanan diri, penetrasi diri dan pembentukan diri, tanpa takut dan ragu berjalan melewati batas-batas normal yang dapat diterima akan mencapai semacam keharmonisan batiniah dan ketenangan pikiran. Ia akan menjadi sehat raga dan piiran dan jalan hidupnya akan lebih normal dibandingkan aktor-aktor pada teater Kaya.

Jika seseorang dapat menerima kemiskinan ke dalam teater dan membuang segala sesuatu yang tidak pokok bagi teater maka akan tampak bagi kita apa yang menjadi tulang punggung daripadanya, juga kekayaan-kekayaan terpendam yang terletak dalam sifat yang paling alamiah dari bentuk seni.

Teater Ketiga dan Eugenio Barba


Euginio Barba

Teater ketiga yang direkomendasikan Eugenio Barba, mencoba untuk bereksperimen dengan penonton, di mana Barba membuat jaringan aktor dan grup. Setiap grup bergantian menonton pertunjukan lain atau yang diistilahkannya sebagai “barter artistik”.

Dengan cara itu, sebuah grup dapat mengatasi soal artistik, semisal kekurangan aktor dan sebagainya, selain itu juga dapat mengatasi biaya produksi, karena dimasa itu teater masih belum bisa dijual di gedung-gedung pertunjukan berkelas dengan fasilitas pentas yang memang tidak ada.  Maka grup teater ini menjadi syarat utama bagi Barba.

Oleh karena itu, teater Barba ini lebih memilih datang ke suatu pemukiman untuk menjadi tuan rumah sekaligus membentuk grup teater yang akan membuat sebuah pertunjukkan dengan maksud agar masyarakat menyadari dan mendapatkan kesempatan atau pengalaman untuk berperan sebagai orang lain. (isi/pojokseni)

your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement

Loading...