30 January 2019

author photo

Baca Juga


pojokseni.com - Setelah membahas Teater Miskin Grotowsky dan Teater Ketiga oleh Barba, bahasan berikutnya yang akan dibahas oleh PojokSeni dalam rangkaian artikel dalam tema "Menuju Post Realis" adalah Peter Brook dan Mahabrata.

Sebelumnya, Anda juga bisa menyimak artikel bertema menuju post realis, antara lain:


  1. Menuju Post Realis: Realisme, Batasan Post Realisme dan Teater Epik ala Brecth
  2. Menuju Post Realis: Teater Absurd dan Teater Kejam
  3. Menuju Post Realis: Meyerhold dan Ekspresionisme Rusia
  4. Menuju Post Realis: Teater Miskin Growtosky dan Teater Ketiga Barba

Peter Brook dan Mahabrata


Brook seorang seniman dan intelektual kelahiran inggris dengan reputasi International menguraikan penjajahannya atas kesemestaan nilai kemanusiaan yang melampui batas-batas kebudayaan serta perbedaan bangsa dan bahasa. Sebagai seorang kreator dan pemikir, belasan lakon teater (sebagian besar dari karya Shakespeare), 4 film fenomenal (termasuk diantaranya The Mahabrata yang banyak dibicarakan itu) dan pentas opera yang disutradarainya mengukuhkan otoritas Brook atas dunia yang digelutinya.

Lewat perspektif teater, film dan opera, dengan cerdas dan imajinatif Brook berbicara tentang saling pengertian antara Timur dan Barat yang dibungkusnya dengan perbincangan mengenai konsep dharma, nilai-nilai filosofis Mahabrata, makna dibalik topeng Bali, tentang pementasan Afrika, tentang orang-orang Aborigin, hikayat sufi klasik hingga gagasan mengenai perlunya sebuah culture of link.

Peter Brook mengatakan bahwa pengalaman berteater sebenarnya adalah menghubungkan dua bentuk kenyataan yaitu dunia imajiner dan dunia keseharian penonton (Mitter, 2002: xx). Konsep ini melahirkan teori `dua dunia` yang dipahami bahwa aktivitas pemain secara fisik yang aktif dan konvensi penonton yang pasif bertemu dalam sebuah permainan, dan permainan ini mampu memberi pengalaman khusus bagi keduanya. Permainan ini oleh Peter Brook disebut sebagai The Shifting Point. The Shifting Point (perpindahan titik tekan), sebuah permainan menghasilkan pengertian adanya ragam kebenaran. Kebenaran selalu bergerak, satu kebenaran akan mengungkap adanya kebenaran yang lain. Kebenaran yang beragam menyebabkan seseorang mampu melihat berbagai perspektif dalam sudut pandangnya. (Yudiaryani, 2005: 309)

Aktor Brook diharapkan merasakan orisinalitas emosi dramatik dan dengan demikian mereka mampu memantapkan diri bahwa mereka adalah tokoh yang mereka mainkan. Namun gaya yang dimainkan Brook untuk menemukan titik temu antara aktor dan tokoh sangat berbeda dalam dua produksi tersebut. Brook menyatakan pada grupnya bahwa “pelatihan adalah mencari makna dan kemudian membuatnya bermakna.

Mahabrata merupakan karya terbesar kemanusiaan dan seperti semua karya besar maka Mahabrata berisi ekspresi pemikiran Hindu yang paling dalam dan selama lebih dari dua ribu tahun Mahabrata telah memasuki dengan akrab kehidupan India sehari-hari dan bagi jutaan manusia watak-watak yang ada dalam cerita itu begitu hidup abadi begitu nyata seperti anggota keluarganya sendiri, dengan siapa mereka berbagi pertengkaran dan persoalan serta pertanyaan-pertanyaan dalam hidup ini.
Kisah Mahabrata dikenal dari segi karya sastra adalah tampil sebagai tontonan.

Namun Mahabrata yang berasal dari India yang berumur lebih dari 20 tahun ini telah mengguncang dunia lewat tangan Peter Brook.  Sutradara teater kenamaan dengan reputasi international asal Inggris ini menggunakannya sebagai sumber karya.

Mahabrata memotong dan mencabik-cabik semua yang lama. Konsep-konsep tradisional Barat yang didasarkan pada hal-hal yang tidak penting dan kemerosotan akhlak Kristiani dimana yang baik dan dosa diasumsikan sebagai bentuk-bentuk yang paling primitif. Dan hal itu mengembalikan lagi problem yang luas, penuh kekuasaan dan penuh cahaya, ide konflik yang tak putus-putus didalam diri setiap orang, setiap kelompok, setiap pernyataan dunia.

Dalam sejumlah wawancara, Brook menyatakan ia punya obsesi dengan epos besar, Brook terpesona pada nilai-nilai Timur Mahabrata  katanya adalah cerita India.

“Tetapi lewat kebesarannya ini adalah juga cerita tentang umat manusia”. Peter Brook 

Mahabrata yang terdiri dari 90 ribu kuplet, disebut-sebut merupakan karya Bhagawan Wijasa. Kisah keluarga Bharata ini punya batang pokok berupa permusuhan abadi eluarga Pandawa melawan keluarga Kurawa. Epos besar ini mempunyai unsur dongeng, legenda, kepahlawanan dan ajaran moral. Pendeknya mencoba memuat segala sifat dan perbuatan manusia.

Sutradara kenamaan Peter Brook melakukan penyulingan esensi kisah besar di India merupakan realitas yang hidup sementara bagi sebagian masyarakat kita menjadi pandangan hidup. Dalam hal ini kekomplekan masalah, moral cerita yang tidak hitam putih, pertanyaan, renungan, tidak hadir sepenuhnya. Padahal epos Mahabrata lebih menghadirkan sejumlah pertanyaan daripada jawaban gambalang.

Suatu kajian tentang pengaruh Brecht pun tidak membantu: Le Mahabharata tidak hanya menggunakan seperangkat besar gaya lebih dari yang digunakan Brecht, namun menanam setiap gaya dengan integritas otonom seperti yang tak mampu dilakukan Brecht. Hubungan linier antara emosi dengan alienansi dalam Brecht, berbeda dengan sekumpulan gaya yang menjadi ciri khas kerja Brook Le Mahabharata. Mengingat bahwa kerja Brecht adalah menghasilkan dua titik pertentangan, Le Mahabharata menyenangi penggunaan konvensi dan teknik yang berlimpah. Maka fleksibelitas gaya Brecht pun tidak mampu menjelaskan ensiklopedia Brook. (isi/pojokseni)
your advertise here

This post have 2 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

  1. mantap upload terus,terutama bagian pemebahasan teater

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap, ikuti terus artikel terbaru dari PojokSeni, yah...

      Delete
Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement

Loading...