10 December 2018

author photo

Baca Juga


pojokseni.com - Kejadian nyata terjadi di Taiwan, tepatnya di daerah Taichung, ada sebuah desa yang sekarang disebut Desa Pelangi (Rainbow Village). Desa ini sejak 2008, atau sekitar 10 tahun yang lalu sudah dinyatakan Pemerintah Taiwan akan segera digusur.

Sebelumnya, ada 1.200 rumah di desa ini, dan sejak 2008, satu persatu mulai digusur dan warga desa setempat mulai meninggalkan desa itu. Setelah satu persatu meninggalkan tempat itu, tersisa 11 rumah lagi. 10 dari 11 rumah tersebut sudah kosong, hanya ada satu rumah lagi yang masih berisi, dan hanya satu orang yang tinggal di rumah itu. Namanya Huang Yuang Fu.


Alasan pemerintah setempat menggusur desa itu adalah karena tidak bisa dipertahankan lagi, dan sudah sangat tidak terawat. Tapi, bagi Huang Yuang Fu yang merupakan seorang veteran sudah berumur tua, desa itu memiliki banyak kenangan. Ia berniat mempertahankan desa tersebut dengan cara mengecatnya menjadi berwarna-warni.

Baca juga:
- Paradigma Estetik Seniman Dalam Perspektif Jalanan : Antara Vandalistis dan Kreativitas
- Lahirnya Seni Di Tengah Gemuruh Abad Pertengahan

Hasilnya, setiap hari ia mulai mengecat rumah-rumah yang tersisa, juga jalan-jalan di desanya, bahkan batu-batuan yang bertumpuk di jalanan. Hasilnya, meski desa tersebut hanya berisi satu orang, namun desa itu menjadi begitu indah dan penuh warna.

Tahun 2010, seorang mahasiswa dari Universitas Ling Tung berkunjung ke desa tersebut dan melihat bagaimana usaha sang kakek mengecat satu desa seorang diri. Ia memotretnya, lalu mengunggah foto tersebut ke dunia maya.


Hasilnya, ribuan dukungan datang ke desa Pelangi. Kisah perjuangan Huang Yuang Fu mempertahankan desanya melalui seni menjadi kisah yang viral di negara tersebut, juga tersebar ke daratan Tiongkok dan negara-negara di sekitarnya.

Artikel terkait: 
- Tahukah Anda Aliran Seni Rupa Ini Berasal Dari Indonesia ?
- Ardikana Sastradiredja : Perempuan Adalah Sumber Inspirasi

Walikota Taichung mendapatkan email hingga 70.000 lebih yang berisi penolakan terhadap penggusuran tersebut, juga desakan untuk melestarikan desa itu.


Bermula dari kunjungan wisatawan yang tertarik untuk mendatangi Desa Pelangi tersebut, serta desakan-desakan yang datang melalui surat elektronik, hasilnya Pemerintah Kota setempat membatalkan rencana penggusuran itu.

Meski sudah dikunjungi oleh banyak wisatawan setiap tahunnya, namun ternyata si kakek "Pelangi" tercatat sebagai satu-satunya warga desa tersebut hingga hari ini. Ditambah lagi, rencana penggusuran dari Pemerintah Kota Taichung juga bisa saja datang suatu waktu nanti. (ai/pojokseni)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

RajaBackLink.com

Advertisement

Loading...