Teater Surti + Tiga Sawunggaling: Intermedialitas, Pengalaman Ketubuhan dan Kesia-siaan Perang -->
close
Pojok Seni
30 September 2026, 9/30/2026 08:00:00 PM WIB
Terbaru 2026-09-30T13:00:00Z
teaterUlasan

Teater Surti + Tiga Sawunggaling: Intermedialitas, Pengalaman Ketubuhan dan Kesia-siaan Perang

Advertisement
teater intermedialitas
Teater Surti + Tiga Sawunggaling: Intermedialitas, Pengalaman Ketubuhan dan Kesia-siaan Perang


Oleh: M. Ghaniey Al Rasyid*


"Tubuh adalah sebuah kesadaran amat besar, sebuah kemajemukan pada sebuah makna, satu perang dan damai, satu kawanan ternak dan gembala." (Zarathustra, Nietzsche)


Pertunjukan teater Surti + Tiga Sawunggaling memukau penonton di Taman Budaya Jawa Tengah pada Minggu (27/09) lalu. Teater yang digarap komunitas Tilik Sarira ini mengadaptasi novel Goenawan Mohamad dengan judul yang sama, dan digelar dengan dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation.


Shopiyah K, sutradara sekaligus pendiri Tilik Sarira, merancang pertunjukan ini dengan konsep teater intermedialitas. Desain visual dan pentas teater berpadu menarik, saling menguatkan sepanjang pertunjukan.


Kisahnya bermula dari Niken, anak semata wayang Surti yang telah tiada, tenggelam digulung ombak. Sebuah pertanyaan terus terngiang di benak Surti, bercampur kecewa dan sesal: "Benarkah Sawunggaling itu unggas yang datang di negeri cermin?" Pertanyaan itu meninggalkan kenangan yang dalam bagi seorang ibu.


Kehilangan yang tiada duanya membuat batin Surti berkecamuk setiap kali ia mengingat Niken. Kekecewaan itu ia lampiaskan bersama canting, mori, dan malam. Dari sana muncul imaji yang melayang di alam bawah sadar Surti, mengisahkan seorang perempuan dengan pengalaman ketubuhannya.


Suami Surti adalah Marwoto alias Jen, seorang gerilyawan yang dulu kawan ayahnya. Pernikahan mereka tak memberi anak selain Niken yang kini telah mati. Pertunjukan ini memperlihatkan kepada penonton betapa campur aduknya rumah tangga seorang gerilyawan. Pertikaian dan pergolakan batin kerap meletup, menyisakan tangis dan rasa takut.


teater intermedialitas
Pertunjukan Teater Surti Tiga Sawunggaling


Lakon ini mengingatkan kita pada hubungan perang dan tubuh. Dalam Winner Take Nothing (Penerbit Selasar, 2009), Ernest Hemingway menggambarkan perang sebagai keberanian dan kekejian yang dipaksakan. Para serdadu menenteng bedil dan menyembunyikan ketakutan dengan mendengungkan mars, lalu beralih pada keberanian semu untuk menghantam segala ketidakmungkinan, termasuk kematian yang terus membayangi. Mafhum, keberanian itu memang dipaksakan.


Di atas panggung, kita disuguhi letupan emosi Surti dan Jen. Sebagai serdadu, Jen kerap meninggalkan Surti demi asa "tanah air". Perdebatan pun muncul ketika Surti menampik kekejian yang terang-terangan hadir pada diri Jen dan kawan-kawannya. Para serdadu itu rela menebas, bahkan menembak, lawan politik mereka. Yang paling mengerikan, mereka juga melibas orang-orang yang masih berstatus "dugaan".


Kengerian itu tampak jelas di air muka Surti: kantung mata yang tebal, gerak tubuh yang tergesa, dan goresan pada mori putih yang terbata-bata. Puncaknya, sebutir telur melayang keras menampar Jen. Konon, kekerasan hati itu demi cita merdeka dan tanah air yang dijanjikan setelah kemenangan di medan pertempuran.


Pertunjukan di Taman Budaya Jawa Tengah ini memang lebih menekankan pengalaman ketubuhan Surti. Ia tersayat oleh kengerian akibat perang. Pertautan batin suami istri tak lagi harmonis, mirip kisah dalam Tiada Hari Esok karya Mochtar Lubis.


Nietzsche dalam Zarathustra terjemahan H.B. Jassin mengingatkan kita tentang ketubuhan. Tubuh adalah kesadaran yang amat besar, kemajemukan yang kaya makna, satu perang dan damai, satu kawanan ternak dan gembala.


Surti lebih banyak tampil lewat pengalaman tubuhnya. Ia menggoyangkan canting, mewarnai mori, dan mengigau dalam mimpi hingga berjumpa tiga Sawunggaling: Anjani, Baira, dan Cawir. Ketiganya adalah imaji yang lahir dari dalam diri Surti, perpaduan antara rasa kehilangan atas anak semata wayangnya dan upaya menjemput kisah di balik motif Sawunggaling.


Teater Intermedialitas


teater intermedialitas
teater intermedialitas

Ketika ditemui selepas pentas, Shopiyah menjelaskan bahwa pertunjukan ini memakai konsep teater intermedialitas. Penonton dimanjakan animasi yang memukau. Sehelai mori terbentang vertikal, menangkap visual tiga burung Sawunggaling.


Animasi itu membawa penonton masuk ke alam mimpi Surti. Motif burung Sawunggaling yang semula diukir di atas mori bangkit dalam mimpi Surti yang kesepian. Anjani, Baira, dan Cawir (ABC) bertutur seperti dalam kisah Aesop, berbincang dengan Surti tentang perang, takdir, perselingkuhan, dan ketakutan.


Ketiga burung itu menjadi semacam pesan bagi keterbatasan tubuh Surti. Beraroma realisme magis, mereka memberi petuah dan gambaran tentang hidup Surti yang dililit kehilangan dan ketakutan. Tak pelak, bisikan dari dalam mimpi itu juga meramalkan nasib Jen yang berakhir tragis: kepalanya pecah oleh peluru sebesar biji nangka.


Persepsi dan kesadaran yang lahir dari mimpi itu dipahami Surti sebagai informasi penting untuk memaknai dunia. Soal persepsi, kita teringat Maurice Merleau-Ponty yang mengkritik kesadaran ala René Descartes, cogito ergo sum, karena terlalu menekankan sisi kognitif. Merleau-Ponty menawarkan sudut pandang lain, yaitu kesadaran ragawi (bodily consciousness). Igauan Surti yang berjumpa tiga Sawunggaling adalah representasi ketubuhannya yang "kacau" dan merindukan damai dalam hidup yang hanya seteguk. Tesis Merleau-Ponty menegaskan bahwa kesadaran ragawi sangat penting untuk memahami relasi manusia dengan dunia.


Di akhir pertunjukan, rasa sesak itu benar-benar terjadi. Jen mati tanpa nisan yang menandainya. Tak ada tempat yang menunjukkan di mana jasad sang suami berada, tak ada pekuburan, tabur bunga, atau doa terakhir bagi sang mendiang. Surti memilih melanjutkan hidup di tengah ketidakmungkinan hidup itu sendiri. Ia bergeming menatap mori, jemarinya menguncup memegang canting. Surti ingin Anjani, Baira, dan Cawir tetap terbang di sekelilingnya, tanpa pergi atau menghilang seperti Jen dan Niken. Sekian.


*M. Ghaniey Al Rasyid, Penulis Lepas, Pengkliping, dan Penikmat Sastra, tinggal di Kota Surakarta