Intermedialitas Sebagai Wacana Seni Media Baru -->
close
Adhyra Irianto
21 June 2022, 6/21/2022 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2022-06-21T01:00:00Z
ArtikelSeni

Intermedialitas Sebagai Wacana Seni Media Baru

Advertisement
Intermedialitas adalah




Pembacaan Ulang Terhadap Artikel Intermediality in Theatre and Performance, Definitions, Perceptions, and Medial Relationship oleh Chiel Kattenbelt


pojokseni.com - Hubungan antara seni dan medianya (dalam pembicaraan wacana teoritis seni dan media) disebut oleh Chiel Kattenbelt dari Universitas Utrecht sebagai pembicaraan dalam konteks yang lebih luas dari perbedaan dan hubungan keduanya, alih-alih mempelajari perkembangan sejarah, aturan dan spesifikasi keduanya.

Setiap terjadi perubahan paradigma dalam disiplin ilmu teater, maka faktor yang akan mempengaruhinya adalah budaya media dan fitur performatif yang menyertainya. Sedangkan di praktik seni rupa kontemporer, adalah munculnya praktik interdisipliner. Saat itu, sejumlah seniman dari berbeda disiplin akan bekerja dalam satu karya kreatif yang sama, saling menemukan ikatan antar satu sama lain, juga saling mempengaruhi antara satu seni dengan seni lainnya, maka terjadi sebuah proses teatrikalisasi.

Bukan berarti teater adalah satu-satunya seni yang mampu menggabungkan semua bentuk seni, tapi teater adalah dasar untuk menyatukan lebih dari satu jenis seni. Kattenbelt juga mengatakan bahwa teater bisa dikatakan sebagai pola dasar dari semua seni. Memang terkesan Kattenbelt menyederhanakan bahwa setiap karya seni yang lebih dari satu, lalu digabungkan dalam konsep intermedialitas, maka yang akan terjadi adalah proses teatrikalisasi.

Sedangkan untuk proses "perkawinan" antara seni dengan media, konsepnya adalah medialitas atau "masuk ke dalam/masuk ke tengah-tengah". Media bukan sesuatu yang berdiri dan memandang dari tepi pertunjukan, tapi ia masuk menjadi unsur yang melebur di dalamnya. Menurut Kattenbelt, ada tiga jenis peleburan tersebut, antara lain multimedialitas, transmedialitas, dan intermedialitas.

Sebagai seorang dari seni pertunjukan, Kattenbelt juga memandang setiap seni lain (selain seni pertunjukan) sebagai "media". Maka, batasan "media" dari artikel ini adalah "apa saja yang bukan seni pertunjukan, tapi ikut masuk ke seni pertunjukan". Dengan titik awal tersebut, Kattenbelt tidak perlu berpanjang lebar menjelaskan apa itu "seni" dan apa itu "media" dalam keterangannya. Setidaknya, asumsi tersebut didasari pada asumsi yang sudah muncul berulang kali sebelumnya. Misalnya: 

1. Korelasi dan perubahan media menjadi tendensi penting pada perkembangan seni rupa sejak awal abad ke-20. Degan demikian, muncul pengaburan dan penyeberangan antar media, hibridisasi ujaran media, hubungan intertekstual antar media, hubungan perantara antar media; dan dengan semakin meningkatnya referensi diri dan refleksi diri terhadap seni sebagai media.

2. Perubahan media dan korelasi antar media telah melahirkan bentuk-bentuk representasi baru; strategi dramaturgi baru; prinsip-prinsip baru penataan dan pementasan kata, gambar dan suara; cara-cara baru memposisikan tubuh pertunjukan dalam ruang dan waktu; menciptakan hubungan ruang-waktu; mengembangkan mode persepsi baru; dan menghasilkan budaya, sosial dan makna psikologis.

3. Inovasi teknologi telah dan masih memainkan peran penting dalam perkembangan seni dan media dan dalam interaksi antara semua media modern dan postmodern.

4. Avant-garde historis menciptakan kondisi yang diperlukan di mana perubahan media dan hubungan timbal balik antara media dapat berkembang sebagai fitur penting seni modern dan post-modern, khususnya sejauh terkait dengan pertukaran sarana ekspresif dan estetika. konvensi antara media, dan ke pementasan tanda-tanda yang menyenangkan dari mana seni modern dan pasca-modern memperoleh aspek performatif (tidak untuk mengatakan teatrikal) dan kritik diri yang unggul.


Sekarang, kita masuk ke pembahasan tentang apa itu seni media baru dalam tiga bentuk utama: multimedialitas, transmedialitas, intermedialitas.


Multimedialitas



Konsep multimedialitas disebut memiliki dua tingkatan berbeda. Pertama, pada tingkatan sign system, seperti kata, gambar, suara, dan sebagainya. Sedangkan kedua adalah pada tingkatan disiplin ilmu yang berbeda dan dilembagakan. Misalnya, sastra, musik, teater, film, dan sebagainya.

Multimedialitas di tingkatan sistem tanda (sign system) berarti kombinasi antara suatu gambar (baik gambar diam, foto, video, dan sebagainya), dengan suara, dan kata-kata. Paduan tersebut adalah multimedialitas di tingkat sistem tanda. Misalnya, seperti kita melihat suatu website, ketika ada tulisan (kata-kata), video/gambar, sekaligus suara yang muncul dalam satu kesempatan. Karena itu, objek-objek digital tersebut disebut dengan nama "multimedia".

Multimedialitas di tingkatan berikutnya adalah kombinasi antara lebih dari dua disiplin ilmu (yang terlembagakan) berbeda. Konsepnya mengacau ke "kombinasi". Karena itu, sejauh ini teater dianggap sebagai suatu seni yang mampu menggabungkan/mengkombinasikan semua media lain tanpa harus merusak kekhususan dari media tersebut. (Kandisky, 1912/1923).

Karena itu, teater disebut sebagai hypermedium, atau media yang mampu menampung media lainnya.

Transmedialitas


Dalam wacana teoritis seni, maka transmedialitas merujuk pada transformasi atau transposisi dari satu media ke media lainnya. Sebelumnya, di Indonesia sudah dikenal beberapa istilah yang merujuk ke transmedialitas, antara lain ekranasi, alih wahana, dan sebagainya. Pada tataran konten, ada perubahan dari media tertentu yang kemudian menghilang ciri-ciri khususnya, dalam proses transposisi.

Seperti musikalisasi puisi misalnya, yang menjadi contoh paling sering dilakukan dalam wacana transmedialitas. Maka, puisi (karya sastra) sudah kehilangan ciri-ciri khususnya sebagai karya sastra (teks) dan berubah menjadi lagu (musik). Seperti itu juga proses ekranasi, dari novel menjadi film. Sebagian besar film yang didasarkan pada novel juga tidak mempertimbangkan lagi fitur sastra dari narasi aslinya. Semuanya dibuat berdasarkan kebutuhan dari karya sasaran (film).

Transmedialitas sudah menjadi satu contoh ketika satu media mengambil prinsip representasi dengan media lain. Vsevolod Meyerhold pernah memaparkan ide tentang sinematifikasi teater. Sedangkan di masa tahun 1970-an misalnya, film masih hadir dalam metode representasi teater. Namun berikutnya, untuk menghadirkan totalitas spasial, invariabilitas perspektif, dan jarak, akhirnya film mulai mengembangkan metodenya sendiri, cara penyampaiannya sendiri. Akhirnya, film mulai lepas dari metode representasi teatrikal, yang didasarkan pada kebutuhan film itu sendiri.

Intermedialitas


Intermedialitas diartikan berbeda dari setiap orang yang menggunakannya. Setiap yang menggunakan konsep intermedialitas diwajibkan untuk mendefinisikannya, untuk memberi tanda bahwa konsep yang digunakan adalah berbeda dengan konsep medialitas lainnya, seperti multimedialitas dan transmedialitas.

Chiel Kattenbelt, secara pribadi, mengartikan konsep intermedialitas sebagai sebuah hubungan timbal balik dari media yang berbeda, yang menimbulkan redefinisi media. Media-media yang digunakan tersebut saling memengaruhi, hingga hadir sebuah persepsi yang baru.

Maka, bisa dikatakan bahwa Kattenbelt mengamsusikan bahwa intermedialitas ialah "saling mempengaruhi" antar setiap media-media di dalamnya. Hasilnya, muncul sebuah karya yang baru, yang diredefinisikan dari hubungan antar media di dalamnya. Konvensi khusus dari suatu media sebelumnya diubah, untuk membuka kemungkinan eksplorasi dimensi persepsi dan pengalaman yang berbeda dalam proses pembuatan karya, maupun proses menikmatinya.

Bolter dan Grusin memberi pendapat bahwa aspek operatif dari intermedialitas ialah keragaman gagasan, perbedaan, dan hypermediacy. Bukan sebuah "gotong royong", atau harmoni. Sebab, intermedialitas mengasumsikan ruang di antara (di mana ada pengaruh timbal balik terjadi di dalamnya).

Sejarah intermedialitas hari ini dimulai dari komposisi panggung Wassily Kandinsky yang disebut Bühnenkompositionen. Bühnenkompositionen hadir dengan komposisi panggung untuk sebuah teater bisa berfungsi kembali, dan seni yang berada di dalamnya (musik, gambar, tari) bisa saling mempengaruhi. Setiap seni berdiri sebagai individu berbeda, hal tersebut ditujukan untuk mengembangkan kemurnian ekspresi yang merdeka di setiap seni tersebut. Tujuannya, menurut Kandinsky, adalah untuk memberikan ekspresi pengalaman batin, alih-alih menghadirkan sebuah ilusi.

Ads