Advertisement
Oleh: Aulia Rizky Febriana*
Di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung, tradisi tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadi ruang untuk mengingat, merefleksikan kehidupan, dan membangun kembali hubungan masyarakat dengan identitas budayanya. Tradisi memiliki makna ketika tidak hanya disimpan sebagai warisan, melainkan dihadirkan kembali melalui pengalaman, keterlibatan, dan kebersamaan masyarakat, inilah yang tercermin dalam Festival Grebeg Subali 2026. Sebuah perayaan budaya masyarakat Kelurahan Krapyak, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, yang kembali diselenggarakan setelah mengalami masa vakum.
Grebeg Subali pertama kali diselenggarakan pada tahun 2012. Setelah tidak dilaksanakan selama kurang lebih tujuh tahun, festival ini kembali digelar pada tanggal 25–27 September 2026 dengan mengusung tema “Ngeling, Ngilo, Nginguk”. Tema tersebut tidak sekadar menjadi rangkaian kata, melainkan sebuah gagasan yang mengajak masyarakat untuk mengingat jejak masa lalu, bercermin terhadap kehidupan masa kini, dan menatap masa depan kebudayaan kampung.
Festival Grebeg Subali 2026 menghadirkan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat, seniman, komunitas budaya, generasi muda, serta tokoh dan sesepuh kampung. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat Krapyak untuk mengenal kembali sejarah, budaya, dan kehidupan sosial di lingkungan mereka.
Pada Jumat, 25 September 2026, kegiatan diawali dengan prosesi budaya Kalangwan Ibu Pertiwi, panggung teater, dan diskusi budaya. Acara dilanjutkan pada Sabtu, 26 September 2026, dengan workshop Wayang Suket dan berbagai pertunjukan seni. Sementara itu, pada Minggu, 27 September 2026, kegiatan diisi dengan workshop Lampu Teng-Teng, Sendratari “Cupu Manik Astagina”, dan Kirab Budaya sebagai penutup festival.
Kirab yang berlangsung pada pukul 14.00–17.30 WIB mengambil rute dari Jalan Subali Raya hingga Jalan Hanoman Raya. Dalam kirab tersebut, masyarakat dapat menyaksikan Pataka Grebeg Subali, tokoh-tokoh wayang wanara, kesenian rakyat, gunungan, serta berbagai simbol yang menggambarkan sejarah dan cerita dari Kampung Krapyak.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa Grebeg Subali bukan sekadar festival pertunjukan. Di dalamnya terdapat upaya untuk mempertemukan masyarakat dengan kebudayaan yang tumbuh di lingkungan mereka. Festival menjadi ruang bagi warga untuk mengingat kembali budayanya sekaligus melibatkan generasi muda untuk terlibat didalamnya. Di antara seluruh rangkaian tersebut, Sendratari Cupu Manik Astagina yang diselenggarakan pada puncak acara menjadi sebuah pertunjukan yang menarik untuk dicermati, karena menghadirkan perjumpaan antara ruang, cerita, dan identitas.
Salah satu hal yang menarik dalam Grebeg Subali 2026 adalah keterkaitan antara nama festival, tempat pelaksanaan, dan cerita yang ditampilkan melalui Sendratari Cupu Manik Astagina. Nama Subali berkaitan erat dengan Jalan Subali, sebuah ruang yang lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Krapyak dan menjadi lokasi berlangsungnya festival.
Seperti disampaikan oleh Tri Subekso, Ketua RW IV Krapyak, bahwa Sendratari Cupu Manik Astagina dipilih untuk menonjolkan tokoh Subali, dan cerita tersebut dinilai semakin relevan karena festival diselenggarakan di Jalan Subali (Wawancara Tri Subekso, 27 September 2026). Di jalan Subali masyarakat menjalani berbagai aktivitas, bertemu, dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi ini sejalan dengan pemikiran Henri Lefebvre yang mengemukakan bahwa (social) space is a (social) product (Lefebvre, 1991: 26) artinya ruang tidak hanya dipahami sebagai tempat secara fisik, tetapi juga terbentuk melalui aktivitas dan hubungan sosial manusia. Dalam konteks ini, makna Jalan Subali tumbuh dari hubungan antara masyarakat dengan ruang, baik dalam rutinitas harian maupun dalam perayaan festival.
Dari ruang tersebut, lahirlah sebuah cerita yang berkaitan dengat tokoh Subali. Keterkaitan ini membuat Jalan Subali tidak hanya sebagai penanda geografis, tetapi dihidupkan kembali melalui tokoh Subali yang dihadirkan dalam Sendratari Cupu Manik Astagina.
![]() |
| Grebeg Subali 2026 |
Hubungan antara ruang, cerita, dan perayaan festival menunjukkan wujud kebudayaan itu sendiri. Hal ini sejalan dengan pemikiran Koentjaraningrat yang menyatakan bahwa kebudayaan mencakup gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang diperoleh melalui proses belajar (Koentjaraningrat, 2009: 144). Dalam Grebeg Subali, gagasan terlihat dari cara masyarakat menghubungkan nama festival dengan Jalan Subali sebagai ruang, sedangkan tindakan terlihat dari keterlibatan aktif masyarakat dalam merayakan festival.
Dari perpaduan gagasan dan tindakan tersebut, terbentuklah identitas yang tumbuh dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Seperti yang dikemukakan oleh Edi Sedyawati menyatakan bahwa suatu identitas bangsa terungkap melalui kebudayaannya. Kebudayaan di sini dalam arti paling luas, yaitu yang meliputi wujud-wujudnya yang abstrak berupa nilai-nilai dan konsep-konsep, maupun yang bersifat teramati secara nyata, seperti perilaku dan benda-benda budaya yang dihasilkan dan dimiliki oleh entitas sosial pemilik kebudayaan yang bersangkutan (Sedyawati, 2014: 79). Pemikiran ini tercermin melalui hubungan yang saling berkaitan antara gagasan merawat ingatan kampung, aktivitas kebersamaan warga, dan karya seni pertunjukan yang dihadirkan dalam festival.
![]() |
| Grebeg Subali 2026 (Foto: dokumen penulis) |
Hal ini menunjukkan bahwa identitas dalam konteks ini tidak hanya berkaitan dengan nama Grebeg Subali sebagai sebuah perayaan festival, tetapi juga berhubungan dengan masyarakat dan ruang tempat mereka beraktivitas bersama. Jalan Subali menjadi bagian dari keseharian warga, Grebeg Subali menjadi wadah untuk merayakan kebudayaan, sementara Sendratari Cupu Manik Astagina menjadi medium untuk menghadirkan kembali cerita Subali melalui seni pertunjukan. Oleh karena itu Grebeg Subali tidak hanya menjadi sebuah perayaan tahunan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat Krapyak untuk mengenali, membangun, sekaligus menghidupkan identitas budayanya.
*Aulia Rizky Febriana, S.Sn., M.Sn. merupakan penulis dan peneliti seni tari yang lahir dan tumbuh di Kota Semarang. Kecintaannya terhadap seni tari telah tumbuh sejak kecil dan membawanya menempuh pendidikan di bidang seni tari hingga jenjang magister pengkajian tari di Institut Seni Indonesia Surakarta. Selain aktif dalam dunia seni tari, ia memiliki ketertarikan pada penelitian dan penulisan yang berkaitan dengan seni pertunjukan tari serta kebudayaan. Esai ini lahir dari keterlibatannya dalam pementasan Sendratari Cupu Manik Astagina pada Festival Grebeg Subali 2026, yang memberinya kesempatan untuk melihat lebih dekat hubungan antara ruang, cerita, dan identitas yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Krapyak.
Daftar Rujukan
- Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
- Lefebvre, Henri. 1991. The Production of Space. Oxford: Blackwell.
- Sedyawati, Edi. 2014. Kebudayaan di Nusantara: Dari Keris, Tor-tor sampai Industri Budaya. Depok: Komunitas Bambu.
- Subekso, Tri. 2026. Wawancara mengenai Grebeg Subali dan Sendratari Cupu Manik Astagina. Krapyak, 27 September 2026.






