Menemukan Simurgh di Dalam Diri: Catatan Atas Musyawarah Burung -->
close
Pojok Seni
25 September 2026, 9/25/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-09-25T01:00:00Z
teaterUlasan

Menemukan Simurgh di Dalam Diri: Catatan Atas Musyawarah Burung

Advertisement
Pementasan "Musyawarah Burung" oleh Teater Satu

Oleh: Hidayat Adhiningrat


Empat belas orang berbaris di atas panggung Black Box Salihara. Satu aktor berdiri di depan sebagai pemimpin mereka. Musik bernuansa Timur Tengah mengalun mengiringi. Lantunan doa atau seruan "ilayya rabbi" terdengar mengiris dan menimbulkan suasana sakral. Di awal pertunjukan ini saja, “kehadiran” Mantiq ut-Thayr karya Fariduddin Attar sudah langsung terasa. Kita tahu, Attar selalu memulai karya-karyanya dengan invokasi atau pujian pembuka kepada Sang Pencipta. Pelantunan pujian ini menguatkan suasana penghormatan terhadap esensi perjalanan para tokoh burung selama 2,5 jam ke depan sebagai perjalanan rohani menuju Tuhan.


Malam itu, 19-20 September 2026, Teater Satu dari Lampung di bawah arahan Iswadi Pratama, mementaskan lakon Musyawarah Burung yang kisah aslinya ditulis oleh Attar. Iswadi mengadaptasi karya sufi abad ke-12 ini setelah lebih dari 10 tahun mendalaminya. Ia mengarahkan fokus pada tafsir kontekstual tentang manusia modern yang kehilangan pusat gravitasi nilai dirinya. Setiap burung adalah representasi sifat manusia, seperti ambisi, trauma, skeptisisme, pencitraan, hingga kehilangan nilai diri. Simurgh, si raja burung, hadir sebagai simbol perjalanan menemukan kesadaran dan hakikat diri. Dengan pilihan itu, kita dibawa menonton alegori. Kita diajak membaca setiap gerak dan setiap lantunan sebagai cermin bagi pengalaman batin kita sendiri.


Adegan dibuka dengan perkenalan dan rapat para burung. Burung Hudhud mengundang burung-burung lain untuk melakukan perjalanan mencari Simurgh. Adegan ini adalah fondasi bagi keseluruhan bangunan pertunjukan. Masing-masing burung memperkenalkan dirinya dengan dialog dan gerak-gerak yang dikodifikasi. Iswadi dan Teater Satu diketahui telah membuat kodifikasi gerak dari huruf hijaiah sebanyak 30 huruf dan 30 gerak. Setiap burung bergerak mengikuti kodifikasi setiap huruf.


Pilihan untuk membuat dan menampilkan kodifikasi ini mengandung lapisan makna yang dalam. Huruf hijaiah adalah bahan dasar bahasa Arab, bahasa Al-Qur'an, bahasa yang bagi tradisi sufi menyimpan dimensi zahir dan batin. Dengan menjadikan huruf sebagai sumber gerak, Iswadi seakan menyatakan bahwa tubuh para pemain adalah teks yang bisa dibaca. Setiap burung adalah sebuah huruf. Kumpulan burung adalah sebuah kalimat. Perjalanan mereka adalah sebuah bacaan yang perlu ditafsirkan.


Angka 30 juga muncul dalam puncak Mantiq al-Tayr, ketika hanya ada 30 burung yang berhasil mencapai Simurgh. Dalam bahasa Persia, "si" berarti tiga puluh dan "murgh" berarti burung. Simurgh adalah cermin dari tiga puluh burung yang telah tersucikan. Dengan memilih 30 huruf dan 30 gerak, Iswadi menyatukan dua lapisan alegori Attar, yaitu lapisan huruf sebagai bahan dasar makna dan lapisan burung sebagai penempuh perjalanan. Setiap gerak burung adalah huruf yang sedang diucapkan oleh tubuh. Perjalanan mereka adalah proses merangkai huruf-huruf itu menjadi sebuah kata yang utuh. Kata itu adalah Simurgh, hakikat diri yang ditemukan ketika semua huruf telah tersusun dengan benar.


Pementasan Musyawarah Burung oleh Teater Satu


Adegan perkenalan para burung ini pun memperlihatkan siapa saja yang akan ikut dalam perjalanan. Lebih dari itu, perkenalan ini memperlihatkan sifat dan karakter para burung yang hadir dalam jiwa manusia zaman kiwari. Ada yang sombong, ada yang merasa bukan tokoh penting, ada yang merasa menawan, ada yang bijak, ada yang pemberani. Setiap penonton bisa menemukan dirinya dalam salah satu burung. Di titik ini, alegori Attar bekerja dengan sangat efektif. Burung-burung itu adalah kita, dengan segala keraguan, ambisi, dan kepalsuan yang kita bawa setiap hari.


Salah satu momen paling kuat di bagian awal adalah ketika salah satu tokoh mengucapkan kalimat tentang burung-burung yang tidak datang memenuhi undangan. Kalimat itu berbunyi, "Tidak semua burung datang memenuhi undangan. Bukan karena tak ingin, tapi tak mampu lagi terbang di alam raya. Ada yang sayapnya lelah, ada yang patah. Tapi sebagian besar terlalu lama bergantung pada buah manis dari para raja. Kebebasan memang menyakitkan, itulah mengapa banyak yang tak berani lagi terbang."


Kalimat ini, disadari ataupun tidak, juga berbicara tentang manusia yang kehilangan keberanian untuk bebas. Ada yang sayapnya lelah karena hidup yang menguras tenaga. Ada yang sayapnya patah karena luka yang tidak pernah sembuh. Yang paling menyayat adalah mereka yang terlalu lama bergantung pada buah manis dari para raja. Kemapanan yang diberikan oleh kekuasaan membuat mereka lupa bahwa mereka memiliki sayap. Kebebasan terasa menyakitkan karena ia menuntut tanggung jawab, ketidakpastian, dan keberanian untuk terbang tanpa jaminan. Ketergantungan pada kekuasaan terasa lebih nyaman karena ia menawarkan kepastian, meskipun kepastian itu adalah bentuk lain dari penjara.


Pilihan untuk menempatkan kalimat ini di awal pertunjukan adalah keputusan dramaturgi yang menarik. Ia menanam benih pertanyaan yang akan dipanen di adegan "Pengadilan Batin" nanti. Di awal, kita mendengar mengapa banyak yang tidak berani terbang. Di tengah, kita melihat apa yang terjadi ketika mereka yang berani terbang harus berhadapan dengan ego dan ketakutan mereka sendiri. Di akhir, kita menyaksikan apa yang tersisa ketika perjalanan itu selesai. Kalimat itu jadi semacam peta yang diletakkan di tangan penonton sebelum perjalanan dimulai. Mereka yang memperhatikannya akan membaca seluruh pertunjukan dengan kesadaran bahwa yang sedang mereka tonton adalah drama tentang keberanian dan ketergantungan.


Soal pemaknaan, kodifikasi 30 huruf hijaiah menjadi 30 gerak hadir di panggung tanpa pengumuman. Penonton yang tidak mencari informasi lebih lanjut akan menikmati gerak-gerak itu sebagai keindahan visual semata. Ada dua kemungkinan cara membaca pilihan ini. Pertama, Iswadi ingin penonton merasakan makna gerak tanpa perlu tahu kodenya. Kedua, Iswadi ingin penonton yang tekun mencari tahu akan menemukan lapisan makna yang tersembunyi. Pengetahuan tentang kodifikasi itu menjadi hadiah bagi mereka yang mau menggali.


Pementasan Teater Satu Lampung, Musyawarah Burung yang merupakan tafsir dari Mantiq al-Tayr


Kedua kemungkinan ini bisa hidup berdampingan. Pertunjukan ini menawarkan keindahan bagi semua penonton dan kedalaman bagi mereka yang mau melangkah lebih jauh. Dalam tradisi sufi, pengetahuan memang hadir berlapis-lapis. Ada yang bisa diakses semua orang, ada yang hanya terbuka bagi penempuh jalan yang tekun. Kodifikasi gerak itu adalah salah satu lapisan batin yang ditawarkan oleh pertunjukan ini.


Dari sini kita bisa melihat bahwa Iswadi Pratama membangun dunia dengan aturannya sendiri di atas panggung tafsirnya. Dunia itu memiliki bahasa, yaitu gerak yang lahir dari huruf. Dunia itu memiliki penduduk, yaitu burung-burung yang mewakili sifat manusia. Dunia itu memiliki konflik, yaitu antara keinginan untuk terbang dan ketergantungan pada buah manis kekuasaan. Dunia itu pun memiliki tujuan, yaitu Simurgh yang ternyata adalah cermin dari diri sendiri.


Pengadilan Batin dan Assalamualaikum yang Terlupakan


Salah satu adegan dalam Musyawarah Burung

Adegan Pengadilan Batin adalah jantung pertunjukan ini. Di sini, para burung berhadapan langsung dengan ego, ketakutan, motif, dan kebenaran yang selama ini mereka sembunyikan. Bambu-bambu yang sebelumnya hadir sebagai elemen ruang berubah fungsi menjadi penjara yang memenjarakan mereka. Setiap burung diadili oleh teman-temannya sendiri. Pengadilan ini tidak berlangsung sebagai konflik antar-tokoh yang sederhana. Yang terjadi adalah pembongkaran identitas. Setiap tokoh dipaksa mengucapkan hal-hal yang selama ini ia tutupi. Pengucapan itu sendiri menjadi bentuk hukuman.


Pengadilan Batin menjadi momen ketika alegori sufi abad ke-12 bertemu dengan kegelisahan manusia Indonesia di tahun 2026. Persoalan kekuasaan, pencitraan, trauma, dan skeptisisme yang melekat pada tokoh-tokoh burung terasa sangat kontemporer. Kita mengenali pola-pola itu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam cara orang membangun citra di media sosial. Dalam cara kekuasaan dipertahankan melalui narasi. Dalam cara trauma diwariskan tanpa disadari dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Yang menarik, pengadilan ini tidak menghadirkan hakim yang berada di luar diri para burung. Tidak ada figur otoritas yang memberi vonis. Yang ada adalah teman-teman sendiri. Ini adalah pilihan dramaturgi yang mengandung makna mendalam. Dalam tradisi sufi, perjalanan menuju Tuhan selalu melewati tahap muhasabah, yaitu introspeksi diri. Namun introspeksi itu tidak selalu bisa dilakukan sendiri. Kadang kita membutuhkan cermin dari orang lain untuk melihat apa yang tidak mampu kita lihat pada diri sendiri. Burung-burung dalam pengadilan ini saling menjadi cermin. Mereka saling mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi. Setiap tuduhan yang dilontarkan adalah pengakuan yang belum sempat diucapkan. Setiap pertanyaan yang diajukan adalah luka yang belum sembuh.


Bambu sebagai properti pengadilan membawa lapisan makna tersendiri. Bambu dalam tradisi Nusantara sering hadir sebagai simbol kesederhanaan, ketangguhan, dan kelenturan. Namun di adegan ini, bambu berubah menjadi batang-batang yang memenjarakan. Ia menjadi simbol dari struktur yang mengekang, aturan yang membelenggu, dan norma yang memaksa. Para burung yang seharusnya terbang bebas justru terkurung di antara batang-batang bambu. Mereka yang seharusnya memiliki sayap justru kehilangan ruang gerak. Di titik ini, alegori Attar tentang burung-burung yang mencari Simurgh berubah menjadi potret manusia modern yang terpenjara oleh konstruksi sosialnya sendiri.


Setelah Pengadilan Batin, perjalanan belum selesai. Para burung masih harus melanjutkan langkah mereka melewati lembah-lembah berikutnya. Lembah pencarian, lembah cinta, lembah pengetahuan, lembah peleburan diri. Setiap lembah membawa ujiannya sendiri. Setiap lembah menuntut penyerahan yang lebih dalam. Di sinilah pertunjukan ini menuntut kesabaran penontonnya. Ia tidak buru-buru menuju penyelesaian. Ia membiarkan perjalanan itu berlangsung dengan ritmenya sendiri. Ada saat-saat ketika pertunjukan terasa lambat. Ada saat-saat ketika penonton mungkin bertanya-tanya ke mana arah perjalanan ini. Namun justru di situlah pertunjukan ini setia pada tradisi sufi. Perjalanan spiritual tidak pernah berjalan lurus. Ia berkelok-kelok. Ia kadang terasa membosankan. Ia kadang terasa menyakitkan. Namun ia selalu bergerak menuju sesuatu.


Apakah sesuatu itu? Sesuatu itu baru muncul di ujung sekali. Di akhir pertunjukan. Ketika semua lembah telah dilalui. Ketika semua ujian telah dijalani. Ketika semua burung telah mencapai tujuan mereka. Di titik itu, yang tersisa adalah keheningan. Dan dari keheningan itu, muncul sebuah ucapan yang sederhana. Assalamualaikum.


Ucapan itu adalah salam perdamaian. Dalam tradisi Islam, assalamualaikum berarti semoga keselamatan dan kedamaian atasmu. Salam ini biasa diucapkan ketika seseorang bertemu dengan orang lain. Salam ini juga diucapkan ketika seseorang memasuki rumah. Salam ini mengandaikan adanya hubungan, pengakuan dan penerimaan. Dalam konteks pertunjukan ini, ucapan assalamualaikum yang hadir di ujung sekali menjadi momen rekonsiliasi.


Pementasan Musyawarah Burung oleh Teater Satu Lampung


Assalamualaikum menjadi inti dari semua perjalanan. Perjalanan mencari Simurgh yang selama ini dipahami sebagai perjalanan menuju Tuhan ternyata berujung pada satu kesadaran. Bahwa Tuhan tidak berada di luar sana dan Simurgh bukanlah raja mitologis yang duduk di singgasana jauh. Bahwa yang dicari selama ini ada di dalam diri sendiri. Ketika semua burung menyadari bahwa Simurgh adalah cermin dari diri mereka sendiri, mereka tidak menemukan sosok yang terpisah. Mereka menemukan hakikat terdalam dari jiwa mereka yang telah tersucikan. Dan hakikat itu adalah kedamaian yang membuat mereka bisa mengucapkan assalamualaikum kepada diri sendiri dan kepada orang lain.


Ucapan assalamualaikum juga menjadi jawaban atas pertanyaan yang diajukan Iswadi Pratama tentang manusia modern yang kehilangan pusat gravitasi nilai. Pertunjukan ini tidak menawarkan jawaban yang muluk-muluk. Ia tidak menawarkan solusi instan, hanya satu langkah sederhana. Berdamai. Berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan masa lalu yang tidak bisa diubah. Berdamai dengan ketidakpastian masa depan. Assalamualaikum adalah pengakuan bahwa perjalanan belum selesai. Assalamualaikum adalah kesediaan untuk terus berjalan dengan hati yang lebih ringan.


Dalam konteks pertunjukan, momen assalamualaikum ini hadir sebagai puncak dari semua yang telah dibangun sejak awal. Ia tidak hadir sebagai penutup yang manis melainkan pembuka bagi kesadaran baru dan perjalanan yang sesungguhnya. Assalamualaikum yang diucapkan di ujung pertunjukan adalah bekal untuk perjalanan itu. Sebuah salam yang mengingatkan bahwa kedamaian bukanlah tujuan akhir. Kedamaian adalah cara untuk berjalan. Assalamualaikum adalah salam perpisahan yang sekaligus menjadi salam pertemuan. Salam perpisahan dengan ego yang selama ini mengikat dan salam pertemuan dengan diri yang lebih utuh.


Hidayat Adhiningrat, lahir di Bandung dan kini memutuskan tinggal sambil bekerja di Jakarta. Memiliki minat terhadap kesenian dalam kapasitas sebagai penulis dan penonton. Kadang datang ke pameran, kadang menonton seni pertunjukan, kadang ikut diskusi kesenian, kadang ikut workshop penulisan ulasan kesenian.