Apakah Seni Hanya Bernilai Jika Bermanfaat? -->
close
Pojok Seni
24 September 2026, 9/24/2026 10:30:00 AM WIB
Terbaru 2026-09-24T03:30:47Z
ArtikelUlasan

Apakah Seni Hanya Bernilai Jika Bermanfaat?

Advertisement
Ambrosius M Loho


Oleh: Ambrosius M. Loho, M. Fil. (Dosen pada Departemen Studi Humaniora & Interdisipliner Univesitas Ciputra Surabaya - Pegiat Filsafat-Budaya-Seni)


Tulisan sederhana ini berangkat dari sebuah pertanyaan: “Apakah seni hanya bernilai jika bermanfaat?” Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika seni ditempatkan dalam kehidupan modern, yang hampir selalu mengukur segala sesuatu berdasarkan kegunaan, produktivitas, dan hasil yang dapat dirasakan/dinikmati. Sesuatu (karya seni) dianggap bernilai karena mampu memberikan keuntungan, meningkatkan produktivitas, mendidik, membuka lapangan pekerjaan, memperkuat identitas, atau menghasilkan dampak sosial tertentu. Dalam logika semacam ini, seni pun seakan-akan dituntut untuk membuktikan kegunaannya agar keberadaannya dapat dibenarkan. 


Namun demikian, benarkah sesuatu harus berguna terlebih dahulu agar dapat disebut bernilai? Jika sebuah karya seni tidak menghasilkan keuntungan ekonomi, tidak meningkatkan produktivitas, tidak memberikan pendidikan secara langsung, dan bahkan hanya dinikmati oleh segelintir orang, apakah karya tersebut kehilangan nilainya? Ataukah seni justru memiliki nilai yang tidak selalu dapat diukur melalui manfaat, karena seni berhubungan dengan pengalaman, keindahan, ekspresi, imajinasi, dan pencarian makna dalam kehidupan manusia? Pertanyaan inilah yang membuka ruang untuk mempertanyakan kembali hubungan antara seni, nilai, dan manfaat. 


Dalam kerangka memahami beberapa pertanyaan menarik di atas, kita perlu menyadari bahwa saat ini, kita hidup di zaman yang tampaknya semakin sulit menerima sesuatu yang tidak dapat segera menunjukkan kegunaannya. Demikian juga, seni pun tidak luput dari tuntutan tersebut. Seni dipuji karena mampu menghibur, mendidik, membentuk karakter, menjaga kebudayaan, mempererat solidaritas, bahkan menghasilkan keuntungan ekonomi. Bahkan melampaui itu, seolah-olah seni baru layak dipertahankan ketika ia mampu membuktikan bahwa dirinya “berguna”.

 

Namun begitu, di sinilah persoalan filosofis mulai muncul: Apakah sesuatu harus berguna terlebih dahulu agar layak disebut bernilai? Jika sebuah karya seni tidak menghasilkan uang, tidak mengajarkan sesuatu secara langsung, tidak menyelesaikan persoalan sosial, bahkan tidak memberikan manfaat yang dapat diukur, apakah kita berhak mengatakan bahwa karya itu tidak bernilai? Ataukah justru pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa kita telah terlalu terbiasa mengukur segala sesuatu dengan logika manfaat? Seni mungkin berguna, tetapi apakah kegunaan merupakan sumber nilainya? Di sinilah kita berhadapan dengan persoalan mendasar dalam filsafat seni: Apakah seni bernilai karena apa yang dapat dilakukannya bagi manusia, atau karena seni itu sendiri memiliki nilai yang tidak harus tunduk pada ukuran kegunaan? Dengan kata lain, apakah seni hanyalah sarana untuk mencapai sesuatu di luar dirinya, ataukah seni memiliki alasan untuk hadir bahkan ketika ia tidak memberikan “manfaat” apa pun?


Dalam kerangka utilitarianisme, nilai moral suatu tindakan atau aktivitas terutama dipahami melalui konsekuensi yang ditimbulkannya. Filsuf Inggris Jeremy Bentham meletakkan dasar pemikiran ini dengan menghubungkan penilaian moral dengan kemampuan suatu tindakan dalam menghasilkan kesenangan serta mengurangi penderitaan. Utilitarianisme tidak hanya berbicara mengenai seberapa besar kesenangan yang dapat dihasilkan, tetapi juga mengenai jenis pengalaman dan kualitas kehidupan yang lahir dari suatu tindakan, misalnya tindakan mencipta sebuah karya seni. (Bdk. Bentham, 1789).


Demikian juga, jika kerangka ini diterapkan pada seni, maka seni dapat dipandang mempunyai nilai karena mampu menghasilkan manfaat bagi manusia. Musik memberikan kesenangan, sastra memperkaya imajinasi, teater membuka ruang refleksi, tari memperkuat ekspresi tubuh dan kebudayaan, sedangkan seni rupa dapat menghadirkan pengalaman estetis sekaligus memperluas cara manusia melihat dunia.

 

Dalam pemikiran utilitarianisme, seni juga tidak hanya dilihat dari pertanyaan “Apakah karya ini indah?”, tetapi juga dari pertanyaan “Apa manfaat yang diberikan karya ini kepada manusia?” Sebuah pertunjukan musik tradisional, misalnya, tidak hanya memberikan hiburan kepada penonton. Pertunjukan tersebut juga dapat mempertemukan banyak orang, menciptakan pengalaman bersama, memperkuat identitas budaya, serta menjadi ruang bagi seniman untuk berkarya dan mendapatkan penghasilan. Selain itu, kegiatan seni dapat menggerakkan berbagai kegiatan ekonomi di sekitarnya.

  

Dengan demikian, seni tidak hanya memberikan keindahan, tetapi juga dapat memberikan manfaat dalam kehidupan manusia, baik secara pribadi, sosial, budaya, maupun ekonomi. Namun, jika seni hanya dinilai dari manfaatnya, muncul pertanyaan: apakah karya seni yang tidak memberikan manfaat secara langsung berarti tidak memiliki nilai? Pertanyaan ini penting karena pengalaman seni tidak selalu dapat diukur dari manfaat yang terlihat. Seseorang dapat menikmati sebuah lagu tanpa mendapatkan keuntungan ekonomi, pengetahuan baru, atau manfaat sosial. Meskipun demikian, lagu tersebut tetap dapat memberikan pengalaman dan makna bagi dirinya. 


Oleh karena itu, maka utilitarianisme justru membantu kita melihat manfaat yang dapat diberikan oleh seni, tetapi juga mendorong kita untuk berpikir apakah manfaat benar-benar menjadi satu-satunya ukuran nilai sebuah karya seni.


Seni memang dapat memberikan banyak manfaat. Dalam kehidupan masyarakat, seni sering hadir dalam pendidikan, ritual, komunikasi, perayaan, pembentukan identitas, dan kegiatan ekonomi. Namun, persoalan muncul ketika manfaat dijadikan satu-satunya ukuran nilai seni. Bayangkan seorang seniman menciptakan karya tanpa tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Karya tersebut tidak menghasilkan uang, tidak digunakan untuk promosi pariwisata, tidak menjadi media pendidikan, dan mungkin hanya dinikmati oleh sedikit orang. 


Dalam logika utilitarianisme, seni dapat dinilai berdasarkan manfaat dan akibat yang ditimbulkannya bagi kehidupan manusia. Jeremy Bentham menghubungkan penilaian moral dengan kesenangan dan penghindaran penderitaan, sedangkan John Stuart Mill mengembangkan pemikiran tersebut dengan menekankan pentingnya kualitas kesenangan manusia (Bentham, 1789; Mill, 1863). Sejalan dengan itu, dalam filsafat nilai, sesuatu disebut memiliki nilai intrinsik apabila sesuatu tersebut dianggap bernilai pada dirinya sendiri, bukan semata-mata karena dapat digunakan untuk memperoleh sesuatu yang lain. Sebaliknya, nilai instrumental berarti sesuatu dianggap bernilai karena dapat digunakan untuk mencapai tujuan tertentu (Kagan, 2025). 


Akhirnya dalam konteks seni, nilai intrinsik dapat ditemukan dalam pengalaman estetis, keindahan, ekspresi, kreativitas, dan makna yang hadir dalam karya seni. Artinya, sebuah karya tidak harus menghasilkan uang atau manfaat praktis agar dapat dianggap bernilai. Sementara itu, seni juga memiliki nilai instrumental ketika keberadaannya memberikan manfaat bagi tujuan lain, seperti pendidikan, terapi, pariwisata, diplomasi budaya, ekonomi kreatif, promosi daerah, dan penguatan identitas masyarakat. Dengan demikian, seni dapat memiliki nilai pada dirinya sendiri sekaligus memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.