Sebelum Mengenal Sekolah, Manusia Telah Belajar Melalui Kisah -->
close
Pojok Seni
31 August 2026, 8/31/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-08-31T01:00:00Z
Ulasan

Sebelum Mengenal Sekolah, Manusia Telah Belajar Melalui Kisah

Advertisement


Oleh Titas Suwanda


Sebelum ada buku pelajaran, manusia telah menceritakan pengalaman kepada anak-anaknya. Sebelum ada kurikulum, masyarakat telah memiliki cara untuk menjelaskan dunia kepada generasi berikutnya. Tentang asal-usul suatu tempat. Tentang sungai yang memberi kehidupan. Tentang orang yang berbuat baik dan menerima akibat dari perbuatannya. Tentang keserakahan, keberanian, pengkhianatan, kesetiaan, kehilangan, dan harapan.


Cerita menjadi teknologi kebudayaan paling tua yang dimiliki manusia. Namun, pendidikan modern sering menempatkan cerita pada posisi yang berbeda. Cerita masuk ke sekolah menjadi teks, menjadi materi, menjadi informasi, dan berakhir menjadi butir-butir soal. Pada titik itulah, persoalan sesungguhnya bermula. Bukan karena sekolah mengajarkan cerita, bukan pula karena cerita dianalisis. Persoalannya muncul ketika proses analisis menggantikan pengalaman membaca, ketika pencarian amanat menggantikan penafsiran, dan ketika jawaban yang telah disiapkan guru menutup kemungkinan peserta didik menemukan makna sendiri.


Tulisan ini tidak dimulai dari pertanyaan apa itu folklor? Kita mulai dari pertanyaan yang lebih mendasar, “Mengapa manusia membutuhkan cerita untuk memahami dunia?” 


Jika manusia memang membangun pengalaman dan makna melalui narasi, cerita rakyat tidak dapat diperlakukan sebagai materi pelajaran. Ia merupakan narasi budaya yang menyimpan pengalaman kolektif masyarakat. Apabila pendidikan hendak membangun manusia yang mampu berpikir, menafsirkan, merefleksikan, dan menciptakan makna, cara akademik yang mempertemukan peserta didik dengan cerita perlu ditinjau ulang.


Bayangkan, sebuah kelas Bahasa Indonesia. Seorang guru membawakan cerita rakyat. Peserta didik membaca teks secara bergiliran. Setelah selesai, guru mengajukan beberapa pertanyaan. Siapa tokoh utamanya? Di mana latarnya? Bagaimana alurnya? Apa konflik dalam cerita? Apa amanatnya? Peserta didik menjawab. Pembelajaran seolah berjalan tertib dan runtut. Kompetensinya tampak tercapai. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan. “Apa yang terjadi pada peserta didik setelah mereka membaca selesai cerita itu?”


Apakah siswa memikirkan tokohnya ketika pulang? Apakah mereka memperdebatkan keputusan tokoh dengan temannya? Apakah mereka membandingkan konflik cerita dengan kehidupan yang sedang dijalani? Apakah mereka mempertanyakan nilai yang diwariskan? Apakah mereka melihat kampung, sungai, hutan, keluarga atau masyarakatnya dengan cara yang sedikit berbeda? Atau justru cerita itu berhenti ketika lembar soal dikumpulkan?


Cerita rakyat pada mulanya tidak pernah dirancang untuk menjadi lembar kerja. Cerita hidup dalam percakapan, berpindah dari mulut ke mulut, berubah ketika diceritakan kembali. Cerita memperoleh makna baru ketika didengar oleh generasi yang berbeda. Cerita hidup karena ditafsirkan.


Ada perubahan yang tidak tersadari. Ketika cerita masuk ke dalam sistem pendidikan, cerita mengalami proses pengubahan. Cerita ditranskripsi, diubah ke dalam bentuk teks yang harus dibaca sisiwa. Teks menjadi materi Pelajaran. Materi menyajikan informasi-informasi. Informasi menjadi soal yang diujikan kepada siswa. 


Pada setiap tahap, sesuatu mungkin hilang. Ketika cerita menjadi teks, suara dan situasi penceritaan dapat menghilang. Ketika teks menjadi materi, cerita dipisahkan dari konteks kehidupannya. Ketika materi menjadi informasi, pengalaman manusia di dalam cerita menjadi data. Ketika informasi menjadi soal, kompleksitas cerita dapat direduksi menjadi jawaban benar dan salah.


Sekali lagi, tidak ada satu pun tahap tersebut yang otomatis salah. Tokoh cerita penting dianalisis. Alur cerita penting diketahui. Amanat cerita juga penting dimaknai. Masalahnya, ketika semua itu menjadi tujuan akhir, peserta didik akhirnya belajar tentang cerita. Namun, mereka tidak belajar melalui cerita.


Cara paling umum memperlakukan cerita sebagai wadah. Ada nilai di dalamnya. Guru membuka wadah itu. Nilai dikeluarkan. Kemudian nilai diberikan kepada peserta didik. Cerita A mengandung nilai kejujuran. Cerita B mengandung nilai kerja keras. Cerita C mengandung nilai hormat kepada orang tua. Cara tersebut membuat cerita seolah-olah hanya kendaraan untuk membawa pesan moral. Padahal, cerita bekerja dengan cara yang lebih rumit. Cerita tidak sekadar mengatakan bahwa kejujuran penting, tetapi mampu memperlihatkan tokoh cerita dalam situasi kejujuran. Tokoh harus memilih. Pilihan menimbulkan akibat. Akibat mengubah kehidupan tokoh. Pembaca menyaksikan seluruh proses itu. Dengan demikian, cerita menghadirkan situasi moral, bukan sekadar pernyataan moral. Inilah kekuatan pedagogis narasi.


Ada kebiasaan lain yang perlu diperiksa. Ketika guru terlalu cepat memberikan amanat. Terkadang, guru memberi simpulan sebelum peserta didik sempat melakukan penafsiran. Guru menyampaikan, “amanat cerita ini adalah kita harus jujur.” Peserta didik kemudian menulis, “kita harus jujur.” Jawabannya benar. Pembelajarannya selesai. Jika guru mengubah pertanyaannya, “Tokoh itu berada dalam situasi yang sangat sulit. Apakah menurutmu keputusan yang diambilnya benar?” Pertanyaan tersebut justru membuka ruang. Siswa harus mencari bukti, melihat sudut pandang tokoh, mempertimbangkan keadaan, membandingkan pilihan. Mereka bisa dan boleh saja tidak sepakat dengan pembacaan guru, selama mampu memberikan alasan berdasarkan cerita.


Dengan pertanyaan yang lebih luas, pembelajaran justru bergerak dari mengingat nilai menuju menalar nilai. Cerita menjadi ruang berpikir. Pembelajaran menuntut lebih dari sekadar penguasaan informasi. Siswa perlu memahami, menghubungkan, menerapkan, merefleksikan, dan membangun pengetahuan dalam konteks. Cerita menyediakan lingkungan yang sangat kaya untuk proses tersebut. Cerita menghadirkan persoalan; konflik; pilihan; perspektif yang berbeda; hubungan sebab-akibat; ketidakpastian; konsekuensi; perubahan. Semua itu merupakan bahan bagi penalaran. Dengan demikian, cerita rakyat tidak perlu dipertahankan di sekolah hanya karena alasan pelestarian budaya. Ada alasan pedagogis yang jauh lebih kuat. Cerita dapat menjadi lingkungan untuk berpikir. Inilah perubahan paradigma yang ditawarkan. Dari reading the story, ke thinking with the story. Peserta didik tidak hanya membaca apa yang terjadi. Mereka berpikir bersama cerita.


Mereka bertanya, “Mengapa tokoh melakukan itu? Apa pilihan lain yang mungkin dilakukan? Apa yang akan terjadi jika keputusan tokoh berubah? Siapa yang diuntungkan? Siapa yang dirugikan? Apakah nilai dalam cerita masih relevan dengan kehidupan sekarang? Apa yang berubah ketika cerita dipindahkan ke zaman kita?” Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mengubah cerita menjadi stimulus penalaran.


Sering terdengar keluhan bahwa generasi muda tidak lagi tertarik pada cerita rakyat. Mereka lebih mengenal tokoh gim. Lebih mengenal karakter film. Lebih mengenal superhero. Lebih mengenal tokoh anime. Kemudian muncul kesimpulan anak-anak sekarang sudah tidak peduli budaya. Kesimpulan itu terlalu cepat kita putuskan! 


Anak-anak tetap menyukai cerita bahkan hidup dalam ekosistem cerita yang sangat padat. Mereka mengikuti cerita berseri. Mereka menunggu kelanjutan karakter. Mereka mendiskusikan konflik. Mereka memilih tokoh favorit. Mereka membuat teori tentang akhir cerita. Mereka menciptakan fan art. Mereka memainkan karakter. Mereka bahkan membuat cerita sendiri. Kalau demikian, masalahnya bukan anak-anak kehilangan kebutuhan terhadap cerita. Justru sebaliknya, mereka masih sangat membutuhkan cerita. Yang berubah adalah lingkungan naratif mereka. Cerita rakyat kalah hadir, bukan karena manusia modern berhenti menjadi makhluk naratif, melainkan cerita rakyat belum dipertemukan dengan bentuk pengalaman naratif yang sesuai dengan kehidupan mereka.


Folklor pada awalnya hidup dalam budaya lisan. Ada pencerita. Ada pendengar. Ada ruang. Ada waktu. Ada respons. Cerita tidak sepenuhnya tetap. Setiap penceritaan adalah sebuah peristiwa. Ketika cerita berpindah ke buku, sifatnya berubah. Ketika berpindah ke film, ia berubah lagi. Ketika menjadi komik digital, bentuk hubungan pembaca dengan cerita kembali berubah. Perubahan bentuk bukan otomatis kehilangan budaya. Sebaliknya, perubahan bentuk dapat menjadi syarat keberlanjutan budaya. Yang harus kita pertanyakan bukan, "Mengapa cerita rakyat diubah? Apa yang boleh berubah dan apa yang tidak boleh hilang ketika cerita rakyat diubah?" Pertanyaan inilah yang kelak membawa kita kepada konsep DNA budaya dan transformasi naratif budaya. Namun, sebelum sampai ke sana, kita harus terlebih dahulu memahami manusia sebagai makhluk naratif.


Cerita rakyat tidak sedang mengalami krisis karena anak-anak tidak lagi menyukai cerita. Yang mengalami krisis adalah cara kita menghadirkan cerita. Selama cerita diperlakukan sebagai benda yang harus dilestarikan, cerita akan makin jauh dari kehidupan generasi baru. Ketika cerita diperlakukan sebagai pengalaman yang dapat ditafsirkan, diperdebatkan, dan ditransformasikan, cerita berkemungkinan untuk hidup kembali.


Cerita tidak mati karena berubah. Cerita mati ketika berhenti ditafsirkan.