Advertisement
![]() |
| Pementasan Monolog, Sore di Balai-balai, sebagai bagian dari program Lika-Liku Menjadi Ibu dan Anak |
Tulisan oleh Audia Irfan
Seuntai jemuran menggantung daster, baju tidur, pakaian anak, dan jaring ikan di ujungnya. Nikmah, karakter utama, muncul dengan menyanyikan "Lu Kenal Veronika Ko?" Seperti pertanda cerita dari seorang perempuan akan dimulai.
Balai-balai adalah properti utama dalam pertunjukan monolog “Sore di Balai-Balai” yang merupakan bagian dari program Lika-Liku Menjadi Ibu dan Anak, diadakan di Gedung Serbaguna Pulau Lae-Lae pada Senin, 24 Agustus 2026. Naskah monolog ini ditulis oleh Nurul Inayah, disutradarai oleh Dwi Lestari Johan, dan dimainkan oleh aktor Emma Hamza.
Setiap rumah di Pulau Lae-Lae memiliki balai-balainya sendiri, baik yang terbuat dari kayu maupun semen untuk menjadi tempat duduk lesehan. Di balai-balai, ibu-ibu biasa membuat rujak, makan gorengan, minum teh, cerita-cerita, bahkan baring santai di pagi hari atau tidur siang. Di balai-balai itulah, arus informasi bertukar secara cepat. "Eh ko tau itu ibu anu (menyebut nama)", seperti itu intro ibu-ibu saat memulai cerita.
Dalam monolog itu, Nikmah dulu adalah siswa SMP yang takut dijodohkan atau dinikahkan oleh ibunya. Adegan ini berangkat dari realita kawin paksa dan pernikahan dini yang diceritakan oleh ibu-ibu di Pulau Lae-Lae.
Nikmah memberontak seperti remaja baru puber pada umumnya, seperti menghentakkan kaki saat mengeluh ke ibunya. "Mau ka sekolah mak, mau ka sekolah!", cetusnya ke ibunya.
Ibu Nikmah pun menanggapi balik, khas seperti ibu-ibu yang merespons anaknya yang menurutnya melawan orang tua. "Banyaknya bicaramu, cita-citamu tinggi sekali, Nikmah" tegas ibunya saat memetik daun sayur kelor untuk dimasak.
Bapaknya juga menyuruh Nikmah menikah karena keinginan lamaran oleh keluarga. Peran kepala keluarga tambah membebani pikiran anak gadis itu.
Setelah masa atau fase kekhawatiran itu, Nikmah akhirnya bisa melanjutkan sekolahnya hingga perguruan tinggi. Ia menjadi lulusan kebidanan. Pada saat dirinya mengumumkan pencapaian itu, para penonton tepuk tangan. Sebuah selebrasi yang tak terduga untuk aktor.
"Ibu melahirkan kehidupan baru di samping rasa takut yang tidak berakhir," tutup Nikmah yang kini menjadi ibu yang mengenang ibunya dulu meninggal akibat kanker serviks di akhir monolog.
Beberapa ambiens antara lain ada penonton ibu muda hamil dan anak kecilnya, suami istri dan anaknya batita, ibu-ibu dan anak-anak, anak perempuan, anak laki-laki, anak SD dan SMP, guru, beberapa variasi penonton saat pertunjukan. Ada juga teriakan kecil anak batita dan cekikikan anak lima tahun yang ikut asyik karena keramaian saat pertunjukan. Tampak penonton menikmati pertunjukan, apalagi saat lagu timur diputar.
Monolog "Sore di Balai-Balai" adalah kumpulan realita sosial yang ada di sekitar kita. Perempuan di wilayah pesisir Lae-Lae mengalami pernikahan dini, perjodohan, kawin paksa; menghadapi stigma sosial "perempuan hanya kerja di dapur" atau "perempuan harus cepat menikah", akses pendidikan yang dibatasi, pola asuh orang tua yang strict atau permisif, tantangan menjadi ibu menghadapi anak kecanduan handphone, hubungan interpersonal ibu dan anak yang dekat atau renggang, kerja dan beban domestik, transisi dari anak perempuan menjadi ibu, dinamika pernikahan akibat tekanan ekonomi, manajemen posisi antara istri atau ibu, dan sebagainya.
Cerita Anak dan Ibu tentang Pilihan, Tekanan, dan Bertahan
![]() |
| Pementasan Monolog, Sore di Balai-balai |
Lika-Liku Menjadi Ibu dan Anak dilanjutkan melalui diskusi setelah monolog. Pada kesempatan ini, dua narasumber riset program ini hadir, yakni Azizah dan Marawiya.
Azizah adalah seorang anak perempuan berumur 20 tahun yang menyukai berinteraksi dengan anak kecil (fond of children). "Ku suka main-main sama anak kecil dan adek-adekku," katanya sambil menggoyangkan ayunan keponakannya berumur enam bulan saat riset program pada Juni lalu.
Rasa sayang itu merupakan intro cerita Azizah sebelum dirinya mengingat cerita sulitnya saat SMA. Ia menghadapi persoalan ekonomi saat sekolah. Akibat itu, ia tidak sempat menjadi mahasiswa karena permintaan bapaknya tentang merawat keponakannya yang masih bayi dan yang masih SD.
Membahas tentang kesulitan, Marawiya, perempuan asli Lae-Lae, ibu rumah tangga dengan enam anak, dulu pernah melewati rasanya kawin paksa dengan diam. "Sakit rasanya dijodohkan. Takut ki toh, diancam ki," katanya saat mengingat peristiwa itu.
Setelah pernikahan itu, ia kemudian baru belajar memasak. Seperti transisi gadis menjadi istri dan ibu, baginya.
Ia menceritakan ibunya seorang wanita pekerja, tulang punggung keluarga sehingga ia mengalami kurangnya interaksi (bonding) dengan ibu sendiri. "Jarang ka curhat," jawabnya saat ditanyai "Biasa ki cerita-cerita ke mama ta dulu?".
Dari Riset Menjadi Naskah Monolog
Ada sekitar 32 ibu-ibu yang diwawancarai tentang pengalaman menjadi ibu, anak perempuan, dan istri. Sekitar 18 persen, ibu-ibu mengalami kawin paksa dan sekitar 20 persen, ibu-ibu mengalami pernikahan dini (menikah di bawah 17 tahun).
Soal menolak kawin paksa berangkat dari cerita Ibu Ida (53 tahun). Ibu Ida diketahui mengalami kawin paksa oleh orang tuanya pada umur 13 tahun. Seperti berita anak perempuan di Kab. Takalar yang menikah dini dengan pasangannya yang berumur 15 tahun pada 15 Agustus lalu.
Kemudian, soal anak perempuan yang menghadapi ibu yang strict, berangkat dari cerita Ibu Hapsa (49 tahun), Ibu Nurhaedah (32 tahun), Ibu Haji Tati (53 tahun), dan Ibu Salma (40 tahun). Soal anak perempuan yang dibatasi akses pendidikannya berangkat dari cerita Azizah.
Dialog soal anak perempuan yang baru dua kali menstruasi langsung dikawinkan adalah cerita dari Ibu Haji Hasna (51 tahun). Lalu, penampilan karakter yang menghanduki rambutnya setelah keramas mandi pagi adalah referensi visual dari Ibu Risma (40 tahun).
Adegan penting, memetik daun sayur kelor untuk dimasak adalah referensi dari Ibu Rukhaya (49 tahun). Adegan ibu-ibu nongkrong di balai-balai adalah referensi dari Ibu Ati (48 tahun) dan teman-temannya pada sore hari.
Tema besar monolog ini adalah perempuan. Soal pilihan yang dibatasi, tekanan yang diwariskan, dan daya bertahan yang diadakan oleh para ibu dan anak perempuan.





