Membedah Akar Penindasan Perempuan dan Semua yang Dilemahkan Sistem -->
close
Pojok Seni
28 August 2026, 8/28/2026 07:27:00 AM WIB
Terbaru 2026-08-28T00:27:22Z
teaterUlasan

Membedah Akar Penindasan Perempuan dan Semua yang Dilemahkan Sistem

Advertisement


 

Ditulis sebagai proposisi naskah teater Pelukis & Wanita

Oleh: Adhyra Irianto


Peradaban kita dibangun dari sebuah skema yang polanya sangat mudah dikenali dan familiar bagi kita: "siapa yang kuat, dia yang menang". Maka, selanjutnya "siapa yang menang, dia yang berkuasa". 


Hanya saja, kekuatan yang dimaksud adalah "materi". Materi tidak hanya berarti harta, tapi merupakan komulasi dari gender, pengetahuan, kekayaan, pengaruh, keluarga, kasta, dan akses pada sumber daya. Maka dalam kerangka ini, patriarki itu menjadi salah satu gejala dalam sistem dominasi berbasis materi ini.


Ketika laki-laki menjadi pihak yang lebih kuat secara material di banyak peradaban, maka yang muncul adalah budaya patriarki. Sebaliknya, jika perempuan yang menguasai materi, maka perempuan juga biasa berkuasa atas laki-laki. Misalnya di India, perempuan yang kastanya lebih tinggi akan dapat mendominasi laki-laki yang kastanya lebih rendah. Atau, di Indonesia, istri Kapolri akan lebih berkuasa dari pada perwira laki-laki berpangkat rendah.


Ini yang menurut saya titik krusial yang sering terlewat. Gender itu bukan sekadar akibat dari distribusi materi, tapi faktor yang ikut mengatur distribusi itu. Sistem patriarki tidak hanya lahir dari ketimpangan material, tapi dari cara memproduksi wacana dan malanggengkan ketimpangan itu. Caranya adalah, dengan menempatkan perempuan sebagai pihak yang "tidak seharusnya" menguasai materi.


Perempuan "didesain" oleh sistem sosial untuk melakukan kerja domestik dan "pengasuhan", dengan fondasi tersembunyi untuk memungkinkan laki-laki keluar rumah dan mengumpulkan "kekuatan": mengumpulkan kekayaan, membangun jaringan, menumpuk pengetahuan, hingga tampil sebagai pemimpin. Dengan kerangka demikian, saya berpendapat bahwa patriarki adalah ideologi yang menyamarkan eksploitasi material sebagai "kodrat", bahkan yang lebih "puitis" yakni "takdir mulia".


Agama, budaya, dan sistem sosial lainnya, juga menjadi "medan pertarungan" yang memenangkan "laki-laki". Saya ambil dua "jargon" yang paling familiar:


1. Setinggi-tingginya pendidikan seorang wanita, tugas paling mulia adalah menjadi guru/sekolah bagi anak-anaknya di rumah.

2. Di belakang seorang pria hebat, selalu ada seorang wanita hebat pula.


Kita mengamini jargon itu, bahkan banyak perempuan juga mengamininya. 


Jargon pertama, menjadi penguat untuk wanita melakukan tugas pengasuhan dan domestik di rumah. Sedangkan laki-laki bisa memperkuat dirinya dengan materi (hasil komulasi berbagai faktor) sehingga menjadi semakin kuat posisinya dalam sistem.


Jargon kedua, mungkin sekilas terdengar seperti penghormatan, tapi justru ini salah satu alat ideologis untuk menormalkan posisi subordinat perempuan. Wanita atau perempuan, tidak diminta berdiri di samping, apalagi di depan. Tapi, seakan "normalnya" memang berada di belakang sebagai penopang. Sementara akses keluar (ruang publik, kekuasaan, jaringan, hingga penghasilan) lagi-lagi dikuasai oleh laki-laki. 


Perempuan yang berani tampil di depan, justru mendapat cap "melawan kodrat". Ironisnya, justru sesama perempuan juga ikut mengamini "cap" tersebut. Jadi, ini bukan masalah "siapa yang berhak menguasai materi" tapi "siapa yang dikondisikan untuk menguasai materi".


Tentang "objektifikasi wanita" saya justru berpendapat bahwa ini lagi-lagi didesain oleh pemegang kuasa. Rezim "representasi" ini adalah orang-orang yang punya "materi"; baik modal budaya, maupun modal ekonomi. Siapa yang sejak awal didesain untuk dilihat sebagai "objek", maka akan menjadi target objektifikasi.


Sebagai contoh, Najwa Shihab adalah seorang wanita. Tapi, Najwa tidak "didesain" sebagai wanita cantik, atau bertubuh proporsional, trend setter dan seterusnya. Najwa sejak awal didesain sebagai produsen wacana, cerdas, kritis, dan tegas. Itu persona Najwa. Maka, ketika Najwa berpidato, baik laki-laki maupun perempuan, akan fokus pada esensi pidatonya. Persis ketika persona intelektual lainnya berbicara, misalnya Rocky Gerung. Maka, tubuhnya dinetralkan, gagasannya yang menjadi pusat perhatian.


Sedangkan BTS, boyband asal Korea Selatan, sejak awal dirancang untuk "dikonsumsi" secara visual. Maka, ketika mereka datang untuk berpidato di PBB, siapa fansnya yang tidak tahu bahwa mereka pidato di PBB? Tapi, sekarang, berapa persen dari para fansnya itu yang tahu apa esensi dari pidatonya di PBB? Industri sudah melatih audiensnya untuk melihat mereka secara visual, ketimbang mendengarkan gagasan mereka. Itu efek dari "pelatihan" kapitalisme pop yang menempatkan "tubuh" idola sebagai komoditas utama.


Sementara objektifikasi terhadap perempuan dalam seni selama berabad-abad terjadi dalam kondisi di mana perempuan tidak punya akses setara untuk menjadi seniman, kritikus, atau pemilik galeri. Tubuh perempuan dilukis dan dipajang oleh laki-laki, untuk konsumsi laki-laki, sementara suara perempuan sebagai subjek nyaris tak terdengar. Maka, dua objektifikasi ini tidak simetris: yang satu terjadi dalam ruang konsumsi yang aman dan menguntungkan pihak yang diobjektifikasi; yang lain terjadi dalam struktur yang merampas agensi dan mengunci perempuan dalam posisi objek.


Maka, kesimpulan dari argumen saya adalah, akar masalah dari "penindasan perempuan" itu sebenarnya hal yang sama dengan "penindasan kaum lemah", yakni "materi". Gender menjadi salah satu di dalam materi tersebut yang justru saling mengunci dengan instrumen dalam "materi" lainnya (seperti yang sudah saya sebutkan di atas). Patriarki adalah hasil dari dominasi material, sekaligus memproduksi wacana untuk melanggengkan dominasi tersebut.


Karena itu, perjuangan feminis tidak boleh hanya berhenti pada "tuntutan kesetaraan di permukaan". Tapi, perlu membongkar lagi di awal akses pada "materi" tersebut. Sejak awal, desainnya memang lebih "menguntungkan" laki-laki, dan sistem itu dikunci gembok oleh sistem sosial, lewat jargon-jargon yang seakan memuliakan perempuan.


Pembongkaran ini termasuk juga pada cara kita memberi makna pada tubuh, kerja, kasih sayang, kekuatan, dan keindahan. Seperti warna pink yang dulunya maskulin, berubah jadi feminin, lalu jadi netral, lalu jadi feminin lagi, hingga akhirnya kembali netral. Itu artinya, makna absolut memang tidak pernah ada, sistem sosial yang mengarahkan makna untuk kepentingan sekelompok orang.


Dalam seni, sebaiknya pertanyaan tentang "apa itu feminin dan maskulin dalam seni" sudah seharusnya diganti dengan "siapa yang berkuasa menentukan bahwa feminin itu lebih rendah, dan siapa yang diuntungkan dari hierarki itu?"


Maka seni (dalam hal ini, saya memilih teater) menjadi medan pertarungan wacana, sekaligus objek permenungan estetis. Dalam Pelukis & Wanita, ada sejumlah pertanyaan yang diajukan; siapa yang melukis, siapa yang dilukis, siapa yang menonton, dan siapa yang punya kuasa untuk mendefinisikan keindahan? 


Selama pertanyaan-pertanyaan itu terus diajukan, di situlah seni menjalankan fungsinya yang paling membebaskan: mengguncang cara pandang yang telah dibentuk oleh materi dan kuasa, lalu membuka ruang bagi makna-makna baru yang tidak tunduk pada hierarki lama.


(Artikel ini sudah ditulis sebelumnya menjadi bagian dari artikel yang lebih panjang, berjudul Estetika Feminis: Nilai Estetis dari Masalah Gender. Proposisi "baru" ini ditulis untuk menanggapi penelitian Ira Atikah Suci dan Wika Soviana Devi, yang menyebut karya Pelukis & Wanita 'beraroma' feminisme dalam artikel jurnal "Representasi Feminisme dalam Naskah Drama Pelukis & Wanita Karya Adhyra Pratama Irianto Melalui Pendekatan Semiotik".)