Estetika Feminis: Nilai Estetis dari Masalah Gender -->
close
Pojok Seni
25 October 2024, 10/25/2024 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-08-27T19:20:55Z
Artikel

Estetika Feminis: Nilai Estetis dari Masalah Gender

Advertisement
Hélène Cixous, dramawan dan filsuf Prancis yang getol membicarakan estetika feminis

Oleh: Adhyra Irianto


Sekali lagi saya memantik pembicaraan tentang feminisme, yang akan saya tutup dengan pandangan subjektif saya terhadap gelombang pemikiran yang satu ini. Harus diakui bahwa gerakan feminisme dalam konteks sosial-politik, begitu berpengaruh dengan kuat. Medan dialektis dari feminisme merebak ke setiap sendi kehidupan yang menjadikannya sangat luas. Mari kita persempit dulu pembicaraan ini pada konteks estetika. Saya juga tidak begitu dalam menyelami pemikiran feminisme ini karena ada kecenderungan untuk bias perspektif, sebagai lelaki, dengan seperangkat pemikiran yang "khas" lelaki.


Pembicaraan tentang estetika, dari zaman prasejarah sampai pascamodern, nyaris semuanya dibicarakan oleh laki-laki. Kita (termasuk saya) sebenarnya menyadari satu hal, bahwa pembicaraan tersebut sebenarnya tidak membawa-bawa unsur gender di dalamnya. Korsmeyer (2004) berpendapat bahwa keindahan dalam perspektif seseorang akan mengarah pada detail, lengkungan, kelembutan, kontur yang lembut, warna yang lembut, dan indah dalam konteks "cantik". Misalnya bunga, tubuh manusia, hingga bentuk-bentuk abstrak. Masalahnya, dalam estetika, kita tidak hanya bicara "keindahan" tapi juga "kesubliman". Kesubliman ini akan mengarah ke sifat kasar, keras, lucu, eksploitasi, kekuatan, kegelapan, kejelekan, dan sebagainya. 


Misalnya: 


  • Ketika Anda menonton Waiting for Godot, apakah Anda akan bertemu warna yang indah, lembut, cantik, bercahaya, dan detail yang indah? Berbeda ketika Anda menonton drama musikal Cinderella misalnya. 
  • Beberapa waktu kemarin ada dua film yang berbarengan muncul di bioskop dan keduanya memancing animo yang tinggi dari masyarakat; Oppenheimer dan Barbie. Keduanya sama-sama bagus, Oppenheimer mengarah ke "kesubliman", sedangkan Barbie mengarah ke "keindahan". 


Dari ilustrasi di atas, bisa kita arahkan bahwa keindahan itu mengarah pada "kelembutan", "imut/mungil", "cantik", dan setipenya. Sedangkan, kesubliman itu mengarah pada "keseruan", "kerumitan", "kengerian", "ketakutan", dan setipenya. Bukankah bisa disimpulkan bahwa "keindahan" itu adalah "perempuan", sedangkan "kesubliman" adalah "laki-laki"? 


Ini premis awalnya sehingga memunculkan pendapat bahwa laki-laki membicarakan estetika, seperti mereka membicarakan perempuan; entah itu keindahan bentuk tubuh, maupun kecantikan wajah. Sampai ke titik ini, bisa dibilang bahwa pembicaraan panjang tentang estetika seakan-akan "hanya" pembicaraan antar sekelompok pemuda galau yang membandingkan mana yang lebih cantik antara Chelsea Islan dan Pevita Pearce.


Berdasarkan simpulan dari penjabaran di atas, maka muncullah para perempuan yang berbicara tentang estetika. Martin Suryajaya (2016) menyebut nama Laura Mulvey, seorang kritikus film, pertama kali yang menyebutkan tentang Male Gaze sebagai titik pandang melihat keindahan dalam tulisannya berjudul Visual Pleasure and Narrative Cinema (bisa Anda unduh di Perpustakaan Pojok Seni). Dengan kata lain, Mulvey menyebut bahwa pembicaraan estetika adalah tentang objektifikasi perempuan. Hal itu juga yang dianggap menjadi faktor utama penyebab pembicaraan wacana estetika dikuasai oleh lelaki.


Kelahiran Estetika Feminis


Estetika feminis lahir karena merasa perempuan direpresi oleh estetika, seni, dan sosial-politik. Perempuan dalam estetika dianggap hanya hadir sebagai objek dalam karya seni. Yah, karena dalam hal ini karya seni adalah "objek estetis", maka perempuan menjadi "objek di dalam objek". Ini yang memancing perlawanan dari para estetikawan feminis dunia. Nama Hélène Cixous, seorang dramawan asal Prancis, menjadi salah seorang yang paling berpengaruh gagasannya tentang feminis. Ia yang mengungkap betapa sedikitnya perempuan yang berbicara di panggung teater dan sastra dalam sejarah estetika dan budaya dunia. Perempuan lebih banyak dibicarakan alih-alih berbicara. 


Cixous mengkritisi tiga hal yang lahir sebagai respon dari "tatanan patriarkis"; tulisan sastrawi sangat feminin, tulisan sastrawi hanyalah "masturbasi" maskulin, dan usulan bahwa tulisan sastrawi seharusnya tidak memiliki gender, alias netral, atau setidaknya mengandung dua gender sekaligus. Menurut Cixous, dua pandangan pertama sama sekali tidak berdasar. Pandangan pertama (tulisan sastrawi sangat feminin) hanyalah pandangan peyoratif terhadap sastra. Lalu, pandangan bahwa tulisan sastra harus mengandung dua gender sekaligus, menurut Cixous, adalah imajinasi patriarkis yang ingin mengarahkan manusia yang utuh atau sosok yang utuh (total being) adalah sosok laki-laki. 


Perempuan menurut Cixous, memiliki keunikan berbeda-beda. Tidak bisa di-general-kan. Karena itu, ia menganggap tulisan feminin akan selalu khas dan mengakomodir kekhasan dari setiap individu perempuan. Maka, Cixous menyimpulkan bahwa laki-laki akan berbicara secara general seperti "umat manusia". Sedangkan perempuan akan berbicara lebih individual, sebagai pengejawantahan dari pengalaman kebertubuhannya yang berbeda satu sama lainnya.


Feminin atau Maskulin: "Materi" Masuk dalam Sistem (Proposisi Naskah Pelukis & Wanita)


Sekarang, saya mencoba memberikan pendapat subjektif saya tentang distingsi seni feminin dan seni maskulin. Saya berpendapat bahwa ada "materi" yang masuk ke dalam sistem. Hal ini sebenarnya saya bicarakan dalam karya saya berjudul Pelukis & Wanita. Sangat menarik karena karya ini ditafsirkan sebagai manifesto feminisme (baca di artikel jurnal berjudul Representasi Feminisme dalam Naskah Drama Pelukis & Wanita Karya Adhyra Pratama Irianto Melalui Pendekatan Semiotik, ditulis oleh Ira Atikah Suci dan Wika Soviana Devi).


Saya sebenarnya membebaskan apapun tafsir terhadap karya saya, namun saya ingin sedikit memberikan apa yang saya yakini sebagai pengkarya. Saya selalu percaya bahwa peradaban kita dibangun dari sebuah skema yang polanya sangat mudah dikenali dan familiar bagi kita: "siapa yang kuat, dia yang menang". Maka, selanjutnya "siapa yang menang, dia yang berkuasa". 


Hanya saja, kekuatan yang dimaksud adalah "materi". Materi tidak hanya berarti harta, tapi merupakan komulasi dari gender, pengetahuan, kekayaan, pengaruh, keluarga, kasta, dan akses pada sumber daya. Maka dalam kerangka ini, patriarki itu menjadi salah satu gejala dalam sistem dominasi berbasis materi ini.


Ketika laki-laki menjadi pihak yang lebih kuat secara material di banyak peradaban, maka yang muncul adalah budaya patriarki. Sebaliknya, jika perempuan yang menguasai materi, maka perempuan juga biasa berkuasa atas laki-laki. Misalnya di India, perempuan yang kastanya lebih tinggi akan dapat mendominasi laki-laki yang kastanya lebih rendah. Atau, di Indonesia, istri Kapolri akan lebih berkuasa dari pada perwira laki-laki berpangkat rendah.


Ini yang menurut saya titik krusial yang sering terlewat. Gender itu bukan sekadar akibat dari distribusi materi, tapi faktor yang ikut mengatur distribusi itu. Sistem patriarki tidak hanya lahir dari ketimpangan material, tapi dari cara memproduksi wacana dan malanggengkan ketimpangan itu. Caranya adalah, dengan menempatkan perempuan sebagai pihak yang "tidak seharusnya" menguasai materi.


Perempuan "didesain" oleh sistem sosial untuk melakukan kerja domestik dan "pengasuhan", dengan fondasi tersembunyi untuk memungkinkan laki-laki keluar rumah dan mengumpulkan "kekuatan": mengumpulkan kekayaan, membangun jaringan, menumpuk pengetahuan, hingga tampil sebagai pemimpin. Dengan kerangka demikian, saya berpendapat bahwa patriarki adalah ideologi yang menyamarkan eksploitasi material sebagai "kodrat", bahkan yang lebih "puitis" yakni "takdir mulia".


Agama, budaya, dan sistem sosial lainnya, juga menjadi "medan pertarungan" yang memenangkan "laki-laki". Saya ambil dua "jargon" yang paling familiar:


  1. Setinggi-tingginya pendidikan seorang wanita, tugas paling mulia adalah menjadi guru/sekolah bagi anak-anaknya di rumah.
  2. Di belakang seorang pria hebat, selalu ada seorang wanita hebat pula.


Kita mengamini jargon itu, bahkan banyak perempuan juga mengamininya. 


Jargon pertama, menjadi penguat untuk wanita melakukan tugas pengasuhan dan domestik di rumah. Sedangkan laki-laki bisa memperkuat dirinya dengan materi (hasil komulasi berbagai faktor) sehingga menjadi semakin kuat posisinya dalam sistem.


Jargon kedua, mungkin sekilas terdengar seperti penghormatan, tapi justru ini salah satu alat ideologis untuk menormalkan posisi subordinat perempuan. Wanita atau perempuan, tidak diminta berdiri di samping, apalagi di depan. Tapi, seakan "normalnya" memang berada di belakang sebagai penopang. Sementara akses keluar (ruang publik, kekuasaan, jaringan, hingga penghasilan) lagi-lagi dikuasai oleh laki-laki. 


Perempuan yang berani tampil di depan, justru mendapat cap "melawan kodrat". Ironisnya, justru sesama perempuan juga ikut mengamini "cap" tersebut. Jadi, ini bukan masalah "siapa yang berhak menguasai materi" tapi "siapa yang dikondisikan untuk menguasai materi".


Tentang "objektifikasi wanita" saya justru berpendapat bahwa ini lagi-lagi didesain oleh pemegang kuasa. Rezim "representasi" ini adalah orang-orang yang punya "materi"; baik modal budaya, maupun modal ekonomi. Siapa yang sejak awal didesain untuk dilihat sebagai "objek", maka akan menjadi target objektifikasi.


Sebagai contoh, Najwa Shihab adalah seorang wanita. Tapi, Najwa tidak "didesain" sebagai wanita cantik, atau bertubuh proporsional, trend setter dan seterusnya. Najwa sejak awal didesain sebagai produsen wacana, cerdas, kritis, dan tegas. Itu persona Najwa. Maka, ketika Najwa berpidato, baik laki-laki maupun perempuan, akan fokus pada esensi pidatonya. Persis ketika persona intelektual lainnya berbicara, misalnya Rocky Gerung. Maka, tubuhnya dinetralkan, gagasannya yang menjadi pusat perhatian.


Sedangkan BTS, boyband asal Korea Selatan, sejak awal dirancang untuk "dikonsumsi" secara visual. Maka, ketika mereka datang untuk berpidato di PBB, siapa fansnya yang tidak tahu bahwa mereka pidato di PBB? Tapi, sekarang, berapa persen dari para fansnya itu yang tahu apa esensi dari pidatonya di PBB? Industri sudah melatih audiensnya untuk melihat mereka secara visual, ketimbang mendengarkan gagasan mereka. Itu efek dari "pelatihan" kapitalisme pop yang menempatkan "tubuh" idola sebagai komoditas utama.


Sementara objektifikasi terhadap perempuan dalam seni selama berabad-abad terjadi dalam kondisi di mana perempuan tidak punya akses setara untuk menjadi seniman, kritikus, atau pemilik galeri. Tubuh perempuan dilukis dan dipajang oleh laki-laki, untuk konsumsi laki-laki, sementara suara perempuan sebagai subjek nyaris tak terdengar. Maka, dua objektifikasi ini tidak simetris: yang satu terjadi dalam ruang konsumsi yang aman dan menguntungkan pihak yang diobjektifikasi; yang lain terjadi dalam struktur yang merampas agensi dan mengunci perempuan dalam posisi objek.


Maka, kesimpulan dari argumen saya adalah, akar masalah dari "penindasan perempuan" itu sebenarnya hal yang sama dengan "penindasan kaum lemah", yakni "materi". Gender menjadi salah satu di dalam materi tersebut yang justru saling mengunci dengan instrumen dalam "materi" lainnya (seperti yang sudah saya sebutkan di atas). Patriarki adalah hasil dari dominasi material, sekaligus memproduksi wacana untuk melanggengkan dominasi tersebut.


Karena itu, perjuangan feminis tidak boleh hanya berhenti pada "tuntutan kesetaraan di permukaan". Tapi, perlu membongkar lagi di awal akses pada "materi" tersebut. Sejak awal, desainnya memang lebih "menguntungkan" laki-laki, dan sistem itu dikunci gembok oleh sistem sosial, lewat jargon-jargon yang seakan memuliakan perempuan.


Pembongkaran ini termasuk juga pada cara kita memberi makna pada tubuh, kerja, kasih sayang, kekuatan, dan keindahan. Seperti warna pink yang dulunya maskulin, berubah jadi feminin, lalu jadi netral, lalu jadi feminin lagi, hingga akhirnya kembali netral. Itu artinya, makna absolut memang tidak pernah ada, sistem sosial yang mengarahkan makna untuk kepentingan sekelompok orang.


Dalam seni, sebaiknya pertanyaan tentang "apa itu feminin dan maskulin dalam seni" sudah seharusnya diganti dengan "siapa yang berkuasa menentukan bahwa feminin itu lebih rendah, dan siapa yang diuntungkan dari hierarki itu?"


Maka seni (dalam hal ini, saya memilih teater) menjadi medan pertarungan wacana, sekaligus objek permenungan estetis. Dalam Pelukis & Wanita, ada sejumlah pertanyaan yang diajukan; siapa yang melukis, siapa yang dilukis, siapa yang menonton, dan siapa yang punya kuasa untuk mendefinisikan keindahan? 


Selama pertanyaan-pertanyaan itu terus diajukan, di situlah seni menjalankan fungsinya yang paling membebaskan: mengguncang cara pandang yang telah dibentuk oleh materi dan kuasa, lalu membuka ruang bagi makna-makna baru yang tidak tunduk pada hierarki lama.