AMORart #1: Empat Koreografer Mengajak Menyelami Tubuh, Kesadaran, dan Cinta -->
close
Pojok Seni
03 September 2026, 9/03/2026 02:18:00 PM WIB
Terbaru 2026-09-03T07:18:49Z
eventSeni

AMORart #1: Empat Koreografer Mengajak Menyelami Tubuh, Kesadaran, dan Cinta

Advertisement


Pojokseni/Surakarta -  Panggung seni pertunjukan di Kota Bengawan kembali menghadirkan sebuah perjumpaan artistik. Selasa, 8 September 2026, mendatang, Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, akan menjadi saksi lahirnya empat karya tari dari empat koreografer dengan latar belakang dan cara pandang yang jauh berbeda, namun bertemu pada satu titik yang sama: tubuh manusia dan segala pergulatannya.


Pertunjukan bertajuk AMORart #1 ini digagas oleh Studio TaKsu bersama sejumlah komunitas seni, dan akan dimulai pukul 20.00 WIB.


Nama "AMOR", dalam bahasa Latin maupun Jawa, dimaknai sebagai cinta. Namun bagi para penggagasnya, cinta di sini bukan sekadar rasa yang berhenti di dada. Ia diwujudkan menjadi kasih, kepedulian, pengabdian, kesadaran, dan keharmonisan. Ini adalah sebuah gagasan yang kemudian diterjemahkan lewat gerak, musik, cahaya, dan tata ruang panggung.


Melalui bahasa tubuh, AMORart #1 mengajak penonton menengok kembali persoalan-persoalan yang dekat dengan keseharian manusia: kesadaran, lingkungan, identitas, kebebasan, hingga tubuh yang perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


Empat Karya, Empat Cara Bercerita


"False Awakening": Darsono Djarot (Solo)


Karya pembuka ini berbicara tentang manusia yang merasa telah terjaga dan sadar, tetapi barangkali masih terperangkap dalam rutinitas dan ruang mimpinya sendiri. Tubuh dijadikan medium untuk mempertanyakan kembali makna kesadaran, apakah kita benar-benar telah terbangun, atau hanya merasa sudah sadar?


Darsono Djarot menggarap karya ini bersama Supriyadi (lighting), Iwan Karak (musik), dan Dwi "Duwek" (artistik), dengan penari Darsono, Widodo, dan Yuda Rena.


"Ngunjal Ambekan": Aprysca Rima (Kendal)


Napas adalah hal sederhana yang justru sering luput dari kesadaran kita. Lewat "Ngunjal Ambekan", Aprysca Rima mengangkat napas sebagai metafora hubungan manusia dengan alam. Ketika lingkungan rusak dan udara bersih menjadi barang langka, bernapas pun berubah menjadi sebuah kemewahan.


Tubuh bergerak dalam kesesakan, menghadirkan kegelisahan sekaligus kesadaran bahwa setiap tarikan napas adalah anugerah yang tak boleh dianggap remeh. Karya ini digarap bersama komposer Wahyu Thoyyib P.


"I Am Here" : Kadek Puspasari (Indonesia–Prancis)


Datang dari lintas benua, koreografer Kadek Puspasari membawa persoalan tubuh, identitas, migrasi, batas, dan keberadaan perempuan ke atas panggung. Di antara dua negara, dua politik, dan dua ruang budaya, tubuh menjadi arena negosiasi.


"I Am Here" bukan sekadar bicara politik, melainkan politik tubuh, tentang ruang yang harus diperjuangkan dan keberanian untuk menolak menjadi sekadar angka statistik. Semuanya bermuara pada satu pernyataan sederhana namun tegas: aku ada di sini. Komposisi musik karya ini digarap oleh Christophe Moure.


"1518" : Imin/Muslimin Bagus Pranomo (Solo)


Karya penutup ini terinspirasi dari peristiwa "wabah menari" yang tercatat pada tahun 1518, ketika tubuh manusia bergerak dan menari seolah bukan lagi atas kehendaknya sendiri. Imin mengajak penonton menyelami batas tipis antara kebebasan dan keterpaksaan, seni dan penderitaan, harapan dan keputusasaan.


Dalam karya ini, tubuh menjadi pusat cerita: tubuh yang terus bergerak bukan karena ingin menari, tetapi karena tak lagi mampu berhenti. "1518" digarap bersama Derisukaik (asisten koreografer), Sigit Tunes (komposer), Castol (lighting), serta penari Dhevani, Ayuni, Bilqis, Widya, dan Karin.


Empat Karya, Empat Gagasan


Meski berangkat dari gagasan yang berbeda-beda, keempat karya dalam AMORart #1 bertemu pada satu titik: manusia dan tubuhnya. Tubuh bisa menjadi ruang kesadaran, ruang perlawanan, ruang penderitaan, sekaligus ruang untuk mencintai dan merawat kehidupan.


Karena itu, AMORart #1 menawarkan tontonan yang menjadi pengalaman untuk dirasakan dan direnungkan. Penonton diajak memasuki empat dunia artistik berbeda lewat gerak, musik, cahaya, dan tata ruang panggung, tanpa perlu menjadi ahli tari untuk bisa menikmatinya. Cukup datang dengan pikiran terbuka, duduk, menyaksikan tubuh-tubuh bergerak, dan membiarkan setiap gerakan berbicara.


Sebab bisa jadi, setelah pertunjukan usai, yang dibawa pulang bukan hanya jawaban atas "apa yang saya lihat?", melainkan pertanyaan yang lebih dalam: apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri, tubuh, lingkungan, dan dunia di sekitar kita.


AMORart #1 Selasa, 8 September 2026 | 20.00 WIB Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Jl. Ir. Sutami No. 57, Kentingan, Jebres, Surakarta.


AMORart #1 didukung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Studio TaKsu, IMIN, Association Pancha Indra, dan Universitas Ngudi Waluyo.