Ketika Nalar Bertanya, Menggugat Luka yang Tak Kunjung Usai -->
close
Pojok Seni
26 August 2026, 8/26/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-08-26T01:00:00Z
Media PatnerteaterUlasan

Ketika Nalar Bertanya, Menggugat Luka yang Tak Kunjung Usai

Advertisement
Pentas "Ketika Nalar Bertanya" oleh Salindia Teater (Doc. Salindia Teater)


Oleh: Hidayat Adhiningrat*


Tahun 2048. Panggung yang gelap perlahan-lahan menyiratkan cahaya, diiringi suara bising gim dari seorang bocah lelaki yang asyik tenggelam dalam dunianya. Di sisi lain panggung, seorang nenek mengenggam sebilah pisau besar, melangkah gontai dengan tatapan kosong. Ia menyusuri setiap ruang, hingga akhirnya sampai di kamar cucunya itu. Tanpa peringatan, ia menyerang. Bocah itu sempat mengantisipasi, sehingga tak terluka, hanya kaget oleh teriakan neneknya yang membentak, "Bajingan!"


Adegan ini membuka pementasan Ketika Nalar Bertanya karya Salindia Teater, yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada 22–23 Agustus 2026. Sosok nenek itu adalah Clara, tokoh dari cerpen Clara atawa Wanita yang Diperkosa karya Seno Gumira Ajidarma. Adapun bocah itu adalah cucunya, Nalar, yang menjadi tokoh sentral dalam lakon ini. Deandra Syarizka dan Muhamad Habib Koesnady mengadaptasi cerpen Seno menjadi naskah teater dengan latar masa tua Clara, yang kala itu sudah terserang demensia.


Melalui Ketika Nalar Bertanya, kita diterbangkan 50 tahun ke depan dari peristiwa Mei 1998, dan lebih dari dua dekade sejak proyek pembaruan narasi sejarah nasional digulirkan. Dalam dunia fiksi ini, Nalar tumbuh sebagai cucu yang mewarisi sesuatu yang tak pernah diceritakan kepadanya. Ia mewakili generasi yang terputus dari sejarah. Satu-satunya pintu menuju masa lalu adalah neneknya sendiri, yang justru kerap kali menyerangnya tanpa sebab jelas. Di atas kertas, konflik ini tampak sederhana. Namun di atas panggung, ia menjelma menjadi sesuatu yang rumit, menggugat, dan menusuk.


Nalar tumbuh sebagai bocah yang kepalanya penuh pertanyaan. Di dunia 2048 yang digarap Salindia, Akal Imitasi (AI) telah menjelma menjadi nadi peradaban, menggerakkan hampir seluruh sendi kehidupan. Nalar pun tak luput. Ia bersahabat karib dengan Reka, asisten belajar berbasis AI yang selalu sigap. Ketika ibunya enggan menjawab kegalauan tentang serangan neneknya, Nalar berpaling pada Reka.


Di sinilah ironi pertama bermain. Dalam cerita yang bertema hilangnya ingatan, justru karakter buatan manusialah yang terasa paling hidup, paling tanggap, dan paling berkesan. Reka menjawab nyaris segala hal, kecuali satu: kasus perkosaan massal 1998. Begitu topik itu menyentuh layar, Reka berubah menjadi birokrat ulung yang fasih berkelit. Jawabannya terasa aman, diplomatis, berputar-putar, seakan mengulang pernyataan-pernyataan Pak Menteri yang tak pernah terang-terangan membantah, namun juga tak pernah mengakui. Akibatnya, kebenaran terus terperangkap dalam ruang debat yang tak berujung.


"Apakah bisa disebut 'massal'? Apakah ini benar-benar terjadi?" Reka balik bertanya, membiarkan gugatan itu menggantung di udara, persis seperti nasib pertanyaan yang sama di dunia nyata kita. Penggambaran ini terasa sebagai kritik tajam bahwa AI, yang konon netral, justru dapat melanggengkan pemutihan sejarah. Atau, jika ditilik dari sisi lain, ini adalah peringatan bahwa teknologi, manakala berada dalam genggaman kekuasaan, tak ubahnya juru bicara paling patuh yang pandai merangkai diksi tanpa pernah berani menyentuh luka.


Toh pada akhirnya, kenyataan itu terungkap juga. Dan tentu saja, ia hanya muncul ketika Nalar berhenti mempercayai Reka secara membabi buta. Kepingan-kepingan informasi yang ia kumpulkan, ditimbang dengan daya kritis yang mulai tumbuh, akhirnya membawanya pada kesimpulan yang tak terbantahkan bahwa neneknya adalah salah satu korban pemerkosaan dalam tragedi 1998. Namun, seperti biasa, kebenaran tak pernah datang dengan kemasan yang manis.


Setelah kebenaran ini terungkap dan pertanyaan dalam kepalanya terjawab, Nalar justru dihadapkan pada keheningan yang lebih berat dari teriakan neneknya. Bukan kelegaan yang ia dapat, melainkan beban baru. Fakta yang tak pernah datang sendirian itu kali ini datang bersama duka yang tak terucap, tubuh neneknya yang rapuh dan ingatan yang porak-poranda akibat trauma. Pengetahuannya tentang masa lalu tak serta-merta menyembuhkan luka, justru membuatnya ikut merasakan sakit yang selama lima dekade tersembunyi di balik sosok neneknya itu.


Di sinilah puncak lakon ini dipertunjukkan dengan olah rasa yang menusuk. Pertemuan antara Nalar yang baru saja menembus kegelapan dan Clara yang terus kehilangan sorot masa lalu digarap dalam keheningan yang menggantung. Barangkali ini menjadi semacam pengakuan bahwa sejarah memang tidak selalu harus menjadi teka-teki yang dipecahkan, melainkan luka yang harus dirawat.


Keputusan sutradara Nadine Nadilla untuk membawa pendekatan realisme dalam pementasan ini terbukti tepat. Setiap gerak-gerik Clara yang linglung, setiap raut wajah Nalar yang bingung, hingga setiap jeda hening di antara dialog terasa hidup dan tidak berlebihan. Nadine tidak memilih gaya teater eksperimental yang berisiko mengaburkan pesan. Sebaliknya, ia menggenggam tangan penonton dan menuntun mereka perlahan-lahan masuk ke dalam pusaran trauma antargenerasi. Pertunjukan berdurasi 98 menit ini terasa padat tanpa pernah terburu-buru.


Tata panggung pun layak mendapat perhatian khusus. Salindia Teater menghadirkan panggung yang sederhana namun sarat makna. Dua periode waktu—masa kini Clara yang linglung dan masa lalu yang terus menghantuinya—dipertemukan dalam satu ruang panggung yang bertransformasi melalui pergeseran properti dan blokade pencahayaan. Tidak ada kemewahan yang berlebihan, tetapi justru pada kesederhanaan itulah setiap elemen terasa fungsional dan tidak mengganggu konsentrasi penonton pada narasi.


Pencahayaan memanglah menjadi salah satu karakter paling kuat dalam pertunjukan ini. Lampu-lampu temaram yang menyoroti wajah Clara di momen-momen kebingungannya kontras dengan cahaya dingin dan steril yang menyelimuti Reka, seolah menegaskan jarak antara ingatan manusia yang begitu rapuh dan kecerdasan buatan yang dingin. Transisi antara kedua dunia itu dilakukan dengan halus, kadang tanpa disadari, persis seperti bagaimana ingatan Clara melayang-layang antara realitas dan kilas balik.


Sebagai sebuah pementasan teater realis, akting para pemain menjadi fondasi yang menopang seluruh pertunjukan. Pemeran Clara berhasil menghadirkan demensia dengan cara yang tidak karikatural. Setiap tatapan kosong dan genggaman tangan yang tiba-tiba mengeras terasa otentik dan menusuk. Nalar, sebagai cucu yang terus menggedor pintu masa lalu, diperankan dengan energi yang pas dan tidak terlalu histeris tetapi cukup gigih untuk membuat penonton ikut bertanya-tanya. Dan Reka, sekali lagi, adalah kejutan terbesar dalam pertunjukan ini.


Salindia Teater patut diapresiasi karena berhasil menyajikan Ketika Nalar Bertanya dengan cara yang jernih dan mengalir apik. Adegan demi adegan berjalan runtun, dan pendekatan realisnya membuat pesan tentang pemutihan sejarah, warisan antargenerasi, dan stigma atas kekerasan seksual tersampaikan dengan utuh. Dengan kata lain, pertunjukan ini terasa sangat jelas dan "enak ditonton".


Ketika Nalar Bertanya Salindia Teater
Pertunjukan Ketika Nalar Bertanya oleh Salindia Teater (doc. Salindia Teater)

Namun, justru karena kejernihan itulah saya kemudian bergeming. Saya menoleh ke kiri dan kanan tempat duduk, lalu bertanya dalam hati: apakah pengalaman ini terasa sama bagi semua yang hadir? Pertanyaan yang terasa ringan di mulut itu ternyata menjalar ke perbincangan saya bersama beberapa teman seusai pertunjukan. Sebagian dari kami mengangguk puas; sebagian merasa tidak nyaman. Bagi saya, pertunjukan ini jelas membuka mata. Tetapi bagi beberapa teman Tionghoa yang saya ajak berdiskusi, kejelasan ini justru terasa mengorek luka lama tanpa tawaran resolusi yang setimpal.


Di sinilah perbedaan posisi penonton menjadi faktor yang tak terelakkan. Bagi generasi muda atau mereka yang tidak terdampak langsung, panggung ini berhasil menyajikan pembelajaran sejarah yang menggugah dan membuka pintu menuju empati. Namun, bagi komunitas yang tubuh dan keluarganya menyimpan jejak peristiwa itu, barangkali kehadiran Clara di atas panggung bukan sekadar tontonan, melainkan pengulangan trauma. Kekhawatiran akan eksploitasi trauma memang selalu mengintai karya seni bertema sejarah kelam, dan meskipun Salindia bermain hati-hati dengan tidak menampilkan adegan kekerasan seksual secara eksplisit, bayangan itu tetap hadir di benak saya.


Pertanyaannya kemudian bergeser. Ketika Clara kehilangan ingatan di atas panggung, kita diajak untuk iba. Tetapi apakah rasa iba itu cukup bagi mereka yang ingatannya justru terlalu penuh akan peristiwa itu? Pertunjukan ini memang mengugat, tetapi apakah gugatan itu akan berhenti di tepi panggung? Ataukah ia melangkah ke ranah kebijakan dan pengakuan negara? Di sinilah letak kegelisahan yang tak terselesaikan, yang membuat saya pulang dengan kepala penuh.


Pada akhirnya, Ketika Nalar Bertanya adalah karya yang secara teknis berhasil. Namun, keberhasilan ini justru memunculkan pertanyaan yang lebih besar bagi saya: apakah teater yang "clear dan enak ditonton" sudah menjadi ruang yang tepat untuk menampung luka yang masih perih? Atau justru kita butuh bentuk advokasi lain yang lebih keras dan tidak nyaman?


Saya tidak punya jawabannya, tentu saja. Tapi, setidaknya pertunjukan ini telah lebih maju satu langkah. Salindia telah membuktikan satu hal, bahwa nalar kita memang harus terus bertanya. Karena di sanalah, dalam ketidaknyamanan itu, barangkali kita akan mulai benar-benar mendengar.


*Hidayat Adhiningrat, lahir di Bandung dan kini memutuskan tinggal sambil bekerja di Jakarta. Memiliki minat terhadap kesenian dalam kapasitas sebagai penulis dan penonton. Kadang datang ke pameran, kadang menonton seni pertunjukan, kadang ikut diskusi kesenian, kadang ikut workshop penulisan ulasan kesenian.