Estetika Kemiskinan: Terlihat Miskin itu Keren, Syaratnya Anda Kaya -->
close
Pojok Seni
24 August 2026, 8/24/2026 08:34:00 PM WIB
Terbaru 2026-08-24T13:48:13Z
ArtikelUlasan

Estetika Kemiskinan: Terlihat Miskin itu Keren, Syaratnya Anda Kaya

Advertisement

estetika kemiskinan


Oleh: Adhyra Irianto


Ingatkah Anda beberapa tahun lalu, brand pakaian mewah tiba-tiba mengeluarkan sepatu rombeng, celana jeans robek-robek, tas butut, dan sweater "tak selesai dijahit" menjadi barang-barang mewah dengan harga rata-rata di atas $1.000 atau di atas Rp17 jutaan? Sebut saja Balenciaga Paris Sneaker yang sengaja dibuat lusuh dan dijual sekitar 1.850 dolar AS atau sekitar 29 juta rupiah. Ada juga tas kulit Balenciaga yang menyerupai kantong sampah, sepatu Golden Goose yang sengaja dibuat kotor, dan sneaker Gucci yang lecet artifisial. Dan perlu dicatat bahwa "benda-benda" itu laku di pasaran. Bintang-bintang besar dunia menggunakannya di atas panggung, diikuti kaum elit dan para pemengaruh mode tingkat atas.


estetika kemiskinan
Sepatu "kusem" Balenciaga


Inilah yang kemudian disebut sebagai "estetika kemiskinan". Kemiskinan, penderitaan, pakaian yang kusam dan robek, menjadi komoditas budaya yang digunakan oleh kaum atas. Ada yang mengaku menggunakan style tersebut dalam konsep pastiche, atau meniru gaya tanpa membawa muatan kritik ideologis. Ada yang cuma ikut-ikutan style orang ramai. Ada juga yang dengan sengaja ingin "tamasya" lintas kelas sosial, alias ingin mencoba terlihat miskin.


Estetika kemiskinan secara umum diartikan sebagai style yang "meniru" alias cosplay style orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Tapi, syarat utamanya adalah, yah Anda kaya atau berasal dari kaum elit. Konsep yang sering disebut poverty chic ini sering disebut lahir pada tahun 1980-an. Nama Wayne Hemingway, pendiri brand Red or Dead, mendesain sepatu "vintage" yang kemudian menjadi tren mode. Sepatu yang biasa dikenakan oleh "kaum sulit" dan mirip-mirip dengan sepatu yang dijual di toko sepatu bekas menjadi pilihan para kaum elit untuk tampil keren. Hemingway pun kerap dianggap sebagai salah satu perintis komersialisasi gaya "bekas" dalam mode elite. Ironis bukan? Bapak dari estetika kemiskinan, tapi produknya ditujukan untuk kalangan elit.


Estetika Kemiskinan



Tapi akar estetikanya jauh lebih tua dari berdirinya Red or Dead. Pada 1926, rumah mode mewah Chanel memperkenalkan Little Black Dress dan "mengubah sejarah mode dunia". Potongannya yang sederhana serta warnanya hitam selama ini lekat dengan pakaian pelayan dan pakaian berkabung. Media mode saat itu menyebutnya "luxurious poverty"


Little Black Dress diperkenalkan Channel tahun 1926


Ditarik lebih jauh ke belakang, Marie Antoinette membangun Hameau de la Reine, rumah pedesaan di Petit Trianon, Yvelines. Tempat ini dirancang arsitek terbaik Richard Mique dan pelukis Hubert Robert sebagai tempat peristirahatan sang ratu. Tempat ini kemudian disebut "fantasi pastoral" alias elite menikmati ilusi kesederhanaan pedesaan tanpa kehilangan kenyamanan khas kaum elit. Pola yang sama tetap hidup dalam tren "villa" yang didesain sangat "pedesaan" tapi lengkap untuk memanjakan kaum elit.


Kembali ke era saat ini. Ditulis oleh Karen Bettez Halnon dalam Poor Chic: The Rational Consumption of Poverty, ada beberapa hal yang dulunya "hanya" menjadi "simbol" bagi orang miskin, sekarang diserap dan dilakukan pula oleh kaum elit. Beberapa hal misalnya penyakit mental, kelaparan, kecanduan narkoba, tunawisma, geng dan kekerasan, pakaian compang-camping, pakaian yang tidak terlalu pas, sepatu bot kerja pabrik, toko barang bekas, pasar loak, dan pakaian bekas. Awalnya hal-hal itu adalah penanda penderitaan, lalu dijadikan komoditas, disembunyikan esensinya, dan dilabeli harga.


Hameau de la Reine

Pierre Bourdieu menyebutkan bahwa selera kelas atas adalah selera yang bebas dari kebutuhan. Maka, orang kaya yang "ingin" terlihat miskin justru karena ia tidak akan pernah terjebak di dalam kemiskinan itu. Jean Baudrillard mungkin akan menyebut keausan artifisial pada sneakers Balenciaga sebagai simulakra: tanda tanpa asli, keausan tanpa pemakaian. Inilah "kemiskinan terkontrol" yang dijual sebagai gaya.


Normalisasi ini juga membuat kemiskinan tampak tidak terlalu menakutkan untuk dikonsumsi, bahkan oleh orang miskin itu sendiri. Aspek kemiskinan sudah menjadi taktik pemasaran. Film, sinetron, sampai konten di media sosial juga mengeksplorasi dan mengeksploitasi kemiskinan sebaik mungkin untuk menjadi tontonan yang memicu rasa haru. Kemudian ditanamkan ilusi bahwa "kerja keras" akan mengangkat seseorang naik kelas. Maka masalah ketimpangan strukturalnya sudah tidak dibahas lagi. Sistem yang memiskinkan juga sudah tidak akan dibahas lagi.


Penelitian terhadap film Pourris gâtés yang dilakukan Felisya Dara Safitri dan Azkiya Nisa dari Program Studi Prancis, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, berjudul "Ilusi Kemiskinan dan Hiperrealitas dalam Film Pourris gâtés (2021)" pada 2025 menunjukkan hal itu. Film tersebut menceritakan seorang ayah yang "tajir melintir" tapi berpura-pura bangkrut dan kehilangan seluruh kekayaan, dengan tujuan menciptakan pengalaman hidup sederhana dan "keras" bagi anak-anaknya. Tapi yang dihadirkan adalah "kemiskinan terkontrol" dalam sudut pandang borjuis. Semua elemen penderitaan kemiskinan bersifat sementara, aman, dan tetap berada dalam cakupan privilese sang bapak. Bukannya membongkar dominasi kelas, film itu justru memperhalusnya.


Hal serupa juga terlihat di Indonesia. Thrifting yang awalnya cara kelas bawah bertahan hidup kini naik kelas menjadi tren gaya. Konten "miskin aesthetic" di media sosial menampilkan dinding kusam, warung kopi sederhana, atau kamar kos sempit sebagai latar yang estetik. Wisata kampung dan kawasan kumuh kadang dikemas sebagai destinasi "autentik" bagi yang bosan dengan mall. Tapi, coba diingat-ingat, dalam "simulasi kemiskinan" ini ada kaum elit yang diuntungkan. Tapi, dalam "kemiskinan asli"  ada yang tetap tinggal di dalam simbol-simbol itu tanpa bisa keluar.


Karena itu, estetika kemiskinan adalah wahana wisata kelas. Seorang elit bisa "berlibur" dalam gaya hidup orang miskin hanya dengan mengadopsi simbol-simbolnya, sementara semuanya tetap terkontrol dan mahal. Konsumen yang membeli sepatu lusuh Balenciaga tahu bahwa keausan itu dibuat dengan bahan kimia tertentu, bukan karena aus dipakai bertahun-tahun. Kemungkinan sepatunya jebol di jalan bisa dikontrol. Berbeda dengan sepatu aus asli yang dipakai gelandangan.


Seorang tunawisma yang memakai sepatu aus, sweater robek, jeans robek, dan kaos robek akan ditahan ketika hendak masuk hotel berbintang atau restoran berbintang. Tapi bila yang memakainya selebriti atau orang dari kaum elite, dengan sweater robek dan sepatu aus Balenciaga, jeans robek Alexander McQueen, dan kaos robek Amiri, apakah ia mendapat perlakuan serupa? Tentu tidak. Ia akan disambut, difoto, dan disebut fashion-forward. Ini juga yang disebut kekerasan simbolik, nilai tidak lagi ditentukan oleh fungsi, tetapi oleh label dan siapa yang memakainya.


Justin Bieber menggunakan pakaian dan celana jeans robek dengan harga selangit

Estetika kemiskinan hanya akan berhenti menjadi ironi ketika kita berhenti mengagungkan penderitaan sebagai aksesori, dan mulai serius membicarakan ketimpangannya.