Advertisement
![]() |
| Ilustrasi pentas Yang Tumbuh dan Yang Tak Pernah Lahir |
PojokSeni.com - Sejak kecil kita diajarkan bahwa tidak ada tempat yang lebih aman di dunia ini dibandingkan "rumah". Tapi bagaimana jika rumah itu, bagi sebagian anak, justru menyimpan luka yang paling dalam? Pertanyaan getir inilah yang diangkat Teater Sakata lewat pementasan terbarunya, Yang Tumbuh dan Yang Tak Pernah Lahir. Pentas ini rencananya akan digelar akhir bulan ini di Riau Creative Hub, dan awal bulan depan di Padang.
Proses kreatif pementasan ini dimulai sejak Januari 2026, diawali dengan penyelarasan visi tentang urgensi isu yang ingin diangkat ke publik. Titik pijaknya sederhana tapi "tragis": rumah dan lingkungan terdekat, yang idealnya menjadi ruang paling aman bagi anak, justru kerap menjadi tempat kekerasan itu terjadi.
Data menjadi saksi yang tak terbantahkan. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) per Juli 2025 mencatat 15.615 kasus kekerasan, dengan kekerasan seksual menempati posisi tertinggi sebanyak 6.999 kasus. Mayoritas korbannya adalah anak usia 13-17 tahun, dan yang lebih memilukan, lingkungan rumah tangga tercatat sebagai lokasi kejadian terbanyak dengan 9.956 kasus.
Angka-angka ini pun diyakini baru permukaan gunung es. Sedangkan jumlah sebenarnya di lapangan diperkirakan jauh lebih tinggi daripada yang terlaporkan.
Dampaknya tidak berhenti pada peristiwa itu sendiri. Trauma kekerasan seksual pada masa kanak-kanak dapat memicu gejala post traumatic stress disorder (PTSD), kecemasan ekstrem, hingga kecenderungan menyalahkan diri sendiri. Sampai dewasa, luka itu terus tumbuh bersama si anak, lalu mengubah cara mereka memandang diri sendiri dan dunia di sekitarnya.
Minami dan "Rumah" yang Runtuh
Melalui rangkaian adegan yang intens, Teater Sakata menghadirkan sosok Minami sebagai cerminan dari peristiwa kelam yang nyata terjadi di sekitar kita.
Bagi Minami, rumah dulunya adalah tempat paling aman di dunia. Namun kenyataan pahit meruntuhkan keyakinan itu. Kekerasan seksual yang ia alami semasa kanak-kanak tidak hanya membekas di tubuhnya, tetapi juga merusak cara pandangnya terhadap masa depan dan perannya sebagai perempuan.
Dari luka itu tumbuh ketakutan yang begitu manusiawi: Minami khawatir tidak akan mampu menjadi pelindung bagi anak-anaknya kelak. Atau lebih buruk lagi, trauma yang ia pendam akan terus diwariskan ke generasi berikutnya.
Di titik inilah pementasan ini menawarkan sudut pandang yang jarang dibicarakan secara terbuka: bagi Minami, keputusan untuk menjadi childfree bukanlah pilihan egois. Itu adalah caranya memutus rantai trauma, mencari jalan kesembuhan, dan menemukan makna keberadaan yang tak lagi bergantung pada peran sebagai seorang ibu.
Jadwal Pementasan
- 25 Juli 2026: Riau Creative Hub, Pekanbaru
- 3 Agustus 2026: Ladang Tari Nan Jombang, Padang (dalam rangkaian Manti Menuik)
Tim Pendukung
Aktor:
Ghea Nabila Athifa, Yudhistino Ardafi, Ragil Muadzin, Zahwa Alya Pitri, Beby Anastasya Putri Efendi, Gadis Safiya Namora
Kru Kreatif:
- Skenografi: Enrico Alamo
- Penata Musik: Julyani Mai Rifa'i
- Pemusik: Jenny Pinta Amanda Hulu
- Lighting: Oky Herliawan
- Dokumentasi: Dimas Rahadian
Pementasan Yang Tumbuh dan Yang Tak Pernah Lahir didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation.
Catatan penting:
Bagi pembaca/calon penonton yang membutuhkan dukungan terkait trauma kekerasan seksual, layanan pengaduan dapat diakses melalui SAPA129 (Kementerian PPPA) atau tenaga profesional kesehatan mental terdekat.







