Invator Teater Akan Pentaskan Kritik Kehidupan Urban dalam The Zoo Story karya Edward Albee -->
close
Pojok Seni
21 July 2026, 7/21/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-07-21T07:03:29Z
eventMedia Patnerteater

Invator Teater Akan Pentaskan Kritik Kehidupan Urban dalam The Zoo Story karya Edward Albee

Advertisement
Ilustrasi pentas "The Zoo Story" oleh Invator Teater


Oleh: Adhyra Irianto

Artikel ini ditulis berdasarkan proposisi karya dan penyutradaraan yang disusun oleh Ahmad Rifqi Fakhruzzaman


Ketika mengkodifikasi teater absurd, Marin Esslin menyebutkan deretan nama sutradara asal Eropa; mulai dari Beckett, Ionesco, Genet, sampai Adamov. Tapi, "versi Amerika" dari sutradara yang dianggap "satu gaya estetika" (oleh Esslin) ini merujuk ke satu nama, Edward Albee. Karya Albee yang paling sering disebut mungkin Who Afraid of Virginia Wolf. Namun, karya Albee yang mencuri perhatian Esslin hingga memasukkannya ke deretan sutradara "absurd" ini justru The Zoo Story.


Naskah ini juga yang rencananya akan dipentaskan oleh Invator Teater asal Jakarta, disutradarai oleh Ahmad Rifqi Fakhruzzaman. Pentas ini rencananya akan digelar di Gedung Kesenian Miss Tjitjih pada 6 Agustus 2026 mendatang, pukul 14.00 WIB.


Lewat proposisi karya yang dikirimkan ke Pojok Seni, sutradara Ahmad Rifqi Fakhruzzaman memilih naskah yang ditulis tahun 1958 ini, sebagai responnya pada kehidupan urban hari ini. Manusia hidup berdampingan, tetapi tidak selalu saling mengenal. Kota-kota dipenuhi suara, kendaraan, gedung tinggi, percakapan dan keramaian, namun di dalamnya banyak manusia justru hidup dalam kesunyian. Mereka berbicara setiap hari, tetapi tidak benar-benar mendengar satu sama lain. Mereka hidup bersama, namun tetap merasa sendiri.


Naskah The Zoo Story karya Edward Albee menceritakan pertemuan sederhana antara dua orang asing di sebuah taman kota: Peter dan Jerry. Pertemuan itu perlahan berubah menjadi percakapan yang penuh tekanan, membuka lebih banyak layer; kesepian, kebutuhan eksistensialis, komunikasi yang bias. Bagi sutradara, The Zoo Story menjadi cerminan tentang manusia yang kehilangan kedekatan emosional di tengah kehidupan yang terus bergerak cepat. Peter hidup nyaman dalam rutinitasnya, sementara Jerry hadir seperti ledakan yang mengganggu ketenangan tersebut. Jerry selalu berbicara terus-menerus, hanya karena ia takut tidak didengar.


Dalam rancangan pertunjukan, sutradara menghadirkan panggung yang simbolik. Sebuah bangku taman ditempatkan di tengah ruang kosong, dikelilingi pohon-pohon yang menggantung dari atas panggung. Pohon-pohon tersebut tidak dibuat realistis, melainkan seperti bayangan kehidupan yang melayang rapuh. Ruang pertunjukan dibangun seperti ruang ingatan dan ruang batin, bukan taman kota yang nyata.


Di beberapa bagian, suara-suara binatang seperti anjing, burung, serangga dan hewan liar muncul sebagai lapisan bunyi emosional. Bunyi tersebut menjadi gambaran naluri manusia yang tersembunyi di balik kehidupan sosial yang tertata.


Alur percakapan antara Peter dan Jerry yang perlahan berubah menjadi konflik diterjemahkan melalui perubahan ritme permainan, tata cahaya, dan komposisi visual. Sedangkan penokohan diwujudkan melalui pengolahan tubuh, vokal, serta relasi emosional antartokoh.


Hal yang diharapkan lewat naskah ini, bagi Invator Teater, adalah menjadi ruang refleksi tentang manusia modern yang hidup di tengah keramaian namun tetap diliputi kesepian. Dengan perpaduan tubuh dan teks aktor, ruang simbolik, multimedia, tata bunyi dan tata cahaya, pertunjukan ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman emosional yang dekat dengan kehidupan penonton, sekaligus membuka kesadaran tentang pentingnya hubungan antarmanusia dan kebutuhan untuk saling mendengar serta memahami.


Penasaran bagaimana Invator Teater mewujudkan The Zoo Story ini di atas panggung pertunjukan? Silahkan datang dan saksikan pentasnya. Untuk reservasi, silahkan kontak narahubung di nomor WA 0878-7480-2464.