Pingin Jadi Seniman "Pintar" dan "Imajinatif", Mulailah Menulis Tangan -->
close
Pojok Seni
16 July 2026, 7/16/2026 07:13:00 AM WIB
Terbaru 2026-07-16T00:13:42Z
Artikel

Pingin Jadi Seniman "Pintar" dan "Imajinatif", Mulailah Menulis Tangan

Advertisement
Pingin pinter dan imajinatif, menulis tangan!

PojokSeni.com - Ada satu hal yang musti mulai kamu kerjakan dan biasakan agar bisa semakin cerdas dan kreatif. Apa itu? Menulis tangan. Yah, ini serius. Tadinya, saya sempat berpikir kalau menulis tangan akan membantu atau berpengaruh sedikit. Ternyata saya salah. Pengaruhnya, sangat besar bagi otak kita untuk mampu terus memproduksi ide-ide segar.


Jadi awalnya, saya tidak sengaja membaca artikel yang ditulis oleh F.R (Ruud) Van der Well dan Audry Van der Meer dari Norwegian University of Science and Technology (NTNU) berjudul "Handwriting but not typewriting leads to widespread brain connectivity: a high-density EEG study with implications for the classroom" (diterbitkan di Frontiers Psychology tahun 2023).


Dua ilmuwan neuroscientist ini melakukan penelitian pada 36 orang mahasiswa dengan cara melakukan perekaman pada aktivitas listrik di otak. Ada proses perekaman dengan susunan sensor berisi ratusan saluran untuk melihat "pola konektivitas" di otaknya saat menulis dengan tangan, dan dengan gadget.


Intinya, dalam bahasa yang lebih sederhana, ketika kita menulis dengan tangan maka terjadi semacam pola konektivitas di otak yang jauh lebih rumit dan luas (di sebut dalam frekuensei theta 3.5 - 7.5 Hz dan alpha 8-12.5 Hz), dan tentunya sangat jauh dibandingkan dengan menulis hal yang sama tapi diketik di gadget (baik smartphone maupun laptop).


Dua peneliti itu menekankan kata "JAUH LEBIH TINGGI" untuk memberi tahu bahwa proses pembentukan memori, pembelajaran, pengkodean informasi baru, dan membangun jaringan saraf di kepala itu jauh lebih baik dengan menulis tangan.


Waktu melihat daftar pustaka di artikel jurnal itu, nah, nggak sengaja diantarkan ke sejumlah hasil penelitian lain yang meneliti hasil dari menulis tangan, dibandingkan dengan mengetik. Intinya, kelebihan mengetik dibandingkan menulis tangan itu cuma dua: "lebih cepat" dan "lebih rapi".


Penelitian lainnya menunjukkan bahwa anak-anak yang terbiasa menulis tangan, punya kinerja akademik jauh lebih bagus di kemudian hari, termasuk punya kemampuan kognitif lebih baik. 


Pam Mueler dan Daniel Oppenheimer dalam penelitiannya yang diterbitkan di Psychological Science mengklaim mahasiswa yang menulis dengan tangan menulis tangan terpaksa memproses informasi, merangkum, dan merefleksikannya dengan kata-kata mereka sendiri karena kecepatan menulis lebih lambat.


Sampai akhirnya, ulik mengulik tersebut mengantarkan saya ke penelitian yang dilakukan oleh Dr. Virginia Berninger. Tidak hanya satu, tapi ada banyak penelitian dan buku, tentang "menulis dengan tangan ini".


Kalau kamu sedang tertarik membaca research lengkapnya, bisa cek judul-judul ini:


  1. Comparison of Pen and Keyboard Transcription Modes in Children with and without Learning Disabilities (Berninger, V. W., Abbott, R. D., Augsburger, A., & Garcia, N. (2009). Learning Disability Quarterly, 32(3), 123–141.)
  2. Language by Hand: A Synthesis of a Decade of Research on Handwriting in the Digital Age (Berninger, V. W. (2012). Dalam Writing: A Mosaic of New Perspectives (bab dalam buku).
  3. Functional Brain Activation Differences in School-Age Children with and without Handwriting Problems During Idea Generation (Richards, T. L., Berninger, V. W., Stock, P., Altemeier, L., Trivedi, P., & Maravilla, K. R. (2011). Human Brain Mapping, 32(12), 2298–2310.)


Dari Virginia Berninger ini, temuannya adalah orang yang mencari ide dengan melalui tulisan tangan, akan mengaktifkan jaringan otak yang berbeda, dan jauh lebih kaya, serta imajinatif, dibandingkan dengan menulis di gadget. Penelitian nomor (1) ditujukan pada anak-anak, temuannya di nomor (2) adalah pada usia remaja dan dewasa muda. Sedangkan di nomor (3) adalah pada manusia dewasa.


Jadi, mau anak-anak, remaja, dewasa awal, maupun dewasa akhir, akan sangat terbantu untuk menjadi lebih kreatif dan mengeluarkan lebih banyak ide, saat menulis dengan tangan. Intinya, aktivasi otak selama proses menulis ide menjadi jauh lebih baik dan aktif ketika menulisnya dengan tangan.


Ide-ide Brilian yang lahir dari tulis tangan


Di salah satu podcast, penemu OpenAI yakni Sam Altman menyebutkan metodenya untuk "berpikir dengan jernih" adalah dengan menggunakan pulpen dan kertas. Kamu bisa cari di Youtube dengan judul "Sam Altman's Method for Clear Thinking"...


Dan tahu nggak, Harry Potter yang super tebal itu, tadinya draft chapter pertama ditulis PAKAI TULISAN TANGAN. JK Rowling menulis dengan pulpen di salah satu kafe di Edinburgh. Ia menulis garis besar cerita keseluruhan dengan pulpen, menciptakan setiap tokoh, dan menyusun rangkaian ceritanya dengan menulis tangan.


Bastian Tito, yang menulis cerita Wiro Sableng, menyusun setiap karakter dalam ceritanya dengan menulis tangan. Dan ada banyak lagi seniman, penulis, sastrawan, yang memulai semuanya dengan menulis tangan.


Ini bisa jadi detox, karena hari ini hampir semua proses berpikir kita serahkan ke gadget, bahkan ke AI. Apa yang paling menyedihkan? Bahkan sekedar membalas chat atau komentar pun, juga diserahin ke AI. 


Padahal, semakin kita jarang menggunakan otak kita. Maka akan semakin "dungu" kita jadinya. 


Menulis di kertas dengan pulpen merangsang bagian otak yang terkait dengan pembelajaran dan ingatan. Untuk pemikiran yang lebih dalam, memang ide-ide butuh diproses dengan lebih pelan dan kalem. Karena mengetik itu lebih cepat, maka otak kita juga ikut "cepat" mengolah informasi yang ada.


Hasilnya, cuma sedikit yang bisa dicerna dan diolah. Cuma sedikit juga yang masuk ke memori otak kita. Ini hasil penelitian, yah... bukan klaim saya.


Ditambah lagi, seperti penelitiannya Virginia Bernigner, otak kita menangkap setiap karakter huruf dengan unik dan berbeda. Sedangkan ketika diketik, semuanya ditangkap sebagai simbol yang sama. Baik huruf, angka, maupun tanda-tanda.


Jadi, yah pena dan kertas memang benda yang murah, dan dianggap ketinggalan zaman. Tapi, kecanggihan komputer dan AI tidak bisa menggantikan sensasi fisik yang didapat lewat pulpen dan kertas.


Menulis dengan kertas juga akan membuat meja kamu berantakan, kertas yang penuh coretan, dan segala macam hal random seperti menggambar di bagian bawahnya. Bandingkan dengan menulis laptop, yang bisa tinggal undo, ctrl+c dan ctrl+v, juga bisa di-delete, dan sebagainya. Nah, keberantakan ini yang ternyata langsung terkait dengan kreativitas. Kreativitas ini terpicu dengan ketidakteraturan.


Bukankah bisa diganti pakai tablet? Kan bisa nulis juga di tablet. Benar, sensasi fisik bisa juga disubsitusi dengan tablet. Cuma... yah itu tadi, pakai tablet juga menjadikan meja kamu masih terlalu rapi. Tablet juga masih memungkinkan untuk semua hal yang bisa dilakukan di laptop.


Intinya, kalau butuh cepat, gunakan gadget. Tapi, kalau butuhnya pemikiran mendalam, pengolahan informasi yang butuh proses, maka gunakanlah pena dan pulpen. Menulislah dengan tangan, dan membacalah buku fisik. 


Ditulis oleh: Adhyra Irianto