Mengenal Bisnis Akting: Detail Kecil yang Menghidupkan Panggung -->
close
Pojok Seni
25 July 2026, 7/25/2026 05:04:00 PM WIB
Terbaru 2026-07-25T10:06:54Z
ArtikelteaterUlasan

Mengenal Bisnis Akting: Detail Kecil yang Menghidupkan Panggung

Advertisement
Apa itu bisnis akting?
Ilustrasi pertunjukan teater. Bayangkan, Anda bermain di pertunjukan tersebut sebagai dua orang yang berada di sisi paling kanan. Apa yang akan Anda lakukan pada adegan tersebut?



Oleh: Adhyra Irianto


Saya mendengar istilah ini pertama kali tahun 2007 dari ketua salah satu komunitas teater independen di Rejang Lebong (sekarang sudah vakum), saat dia sedang memberi masukan pada anak-anak SMA setelah lomba. Karena saat itu saya adalah pemantik dan moderator, juga seorang "senior" (waktu itu udah jadi anak kuliahan, sedangkan yang dapat materi adalah anak-anak SMA) maka saya cuma angguk-angguk, kayak sudah paham. Padahal saat itu saya baru tahu istilah itu, sejak pertama main teater di tahun 2004! 


Saat itu saya masih sedikit bingung. Bukan bingung dengan definisi dan cara kerjanya, tapi kenapa mereka menggunakan istilah "bisnis". Ada hal yang membuat saya semakin bingung adalah asal katanya "stage business" alias bisnis panggung. Di Bahasa Indonesia, diartikan menjadi "bisnis akting". Jelasnya, bisnis ini tidak ada kaitannya dengan jual beli, ekonomi, atau sponsor. Karena saya kuliah di jurusan bahasa dan sastra Inggris, saya mendapatkan jawabannya di tahun 2009 alias 2 tahun kemudian.


Penyerapan "stage business" ke bisnis akting inilah yang menurut saya membuat orang awam, atau orang yang belajar di kelas akting hari pertama, akan sedikit mengerenyitkan kening. Ini cukup membingungkan. Maka, saya terpikir untuk membahas tentang "bisnis akting" ini dari etimologinya, sampai bagaimana bisnis akting ini sangat berpengaruh dengan tangkapan penonton yang menikmati pertunjukan.


Kebingungan saya atas istilah 'bisnis' dalam 'bisnis akting' ini akhirnya membawa saya untuk menelusuri asal-usul katanya.


Kenapa Istilah yang Dipakai adalah "Business/Bisnis"?


Pertama, mari kita mundur cukup jauh melihat asal kata "business" dalam Bahasa Inggris, yang kemudian diterjemahkan secara adaptasi ke Bahasa Indonesia menjadi "bisnis". (Sebelumnya, mungkin Anda tertarik untuk membaca tulisan saya berjudul Empat Cara Bahasa Indonesia 'Menyerap' Bahasa Asing)


Jauh sebelum kata business ditarik ke bahasa Indonesia menjadi bisnis, kata itu sendiri sebenarnya tidak merujuk ke "ekonomi". Asal katanya adalah busy (berasal dari kata bisig) yang berarti sibuk. Kata itu diberi akhiran -ness dengan tujuan menunjukkan "kondisi/keadaan".


Maka secara harfiah business itu berarti "keadaan yang sibuk", kemudian didefinisikan sebagai "kegiatan yang sedang dikerjakan". Di era teater klasik Inggris, untuk merujuk ke "hal yang dilakukan di atas panggung" istilah yang digunakan adalah "stage business". Menurut Oxford English Dictionary, kata ini mulai digunakan di tahun 1764 di Inggris, dalam tulisan seorang dramawan bernama Paul Hiffernan.


Stage business digunakan, jauh sebelum makna "perdagangan/perniagaan" menjadi definisi dari business di era modern. Yah, mungkin karena istilah itu sudah lebih sering digunakan, maka praktisi teater memilih untuk tetap mempertahankan istilah tersebut. Sebagai catatan, dalam bahasa Inggris, business masih bisa diartikan sebagai "urusan", "kegiatan", dan "kesibukan". Tapi di Bahasa Indonesia, hanya ada satu makna untuk "bisnis" yakni "perniagaan/perdagangan/ekonomi".


Apa Sebenarnya Stage Business itu?

apa itu bisnis akting
Ilustrasi pertunjukan teater. Lihat posisi tubuh, cara memegang handprop, dan sebagainya. Semuanya ditujukan untuk mendukung adegan.


Definisi yang disepakati dari stage business atau bisnis akting adalah "tindakan fisik kecil yang dilakukan seorang aktor di atas panggung". Tujuannya menjadikan akting terlihat nyata untuk mewujudkan "ilusi realisme".


Stage business atau bisnis akting ini ditujukan untuk membantu aktor menggunakan benda-benda kecil, seperti tongkat, cangkir, kacamata, dan handprop lainnya. Selain itu, bisnis akting juga membantu menunjukkan apa yang dirasakan/dipikirkan oleh seseorang tanpa menggunakan kata-kata.


Istilah Stage Business biasanya diajarkan dalam kelas akting atau sutradara teater sebagai bagian dari teknik characterization (pembangunan karakter) dan stagecraft.


Bisa jadi stage business itu adalah hasil kreasi dari aktor, bisa juga tertulis di dalam naskah (nebentext). Jadi, bisnis akting adalah gerakan atau aktivitas fisik kecil yang dilakukan aktor di atas panggung, biasanya melibatkan properti atau kebiasaan tertentu, untuk memperkuat karakter dan membuat adegan terasa hidup.


Itu berarti, yang dimaksud stage business itu adalah "gerakan kecil" atau "detail kecil". Bukan gerakan besar seperti berjalan dari satu sisi panggung ke sisi panggung lainnya. Ini yang membedakan stage business dengan blocking.


Blocking = pergerakan besar aktor di panggung (posisi, arah gerak, komposisi dengan aktor lain)

Stage Business = gerakan detail/kecil yang biasanya melibatkan properti atau kebiasaan tokoh


Stage business dengan blocking, keduanya sama-sama berurusan dengan gerakan aktor di panggung, tapi cakupannya berbeda.


Blocking merujuk pada pergerakan besar dan posisi aktor di atas panggung: ke mana seorang aktor berjalan, di mana ia berdiri relatif terhadap aktor lain, bagaimana komposisi visual keseluruhan adegan diatur. Blocking biasanya ditentukan oleh sutradara demi alasan visual, komposisi panggung, dan kejelasan cerita bagi penonton.


Stage business, sebaliknya, adalah detail-detail kecil dan personal yang biasanya melibatkan properti atau kebiasaan spesifik seorang tokoh. Business sering kali dikembangkan oleh aktor sendiri sebagai bagian dari proses membangun karakter, meskipun sutradara juga bisa mengarahkannya.


Analogi sederhananya begini: kalau blocking adalah "denah" pergerakan besar di panggung, maka business adalah "bumbu" detail yang membuat setiap gerakan itu terasa personal dan bermakna.


Bagaimana Istilah Ini Diserap ke Bahasa Indonesia menjadi "Bisnis Akting"


Ketika istilah stage business pertama kali diperkenalkan ke dunia teater Indonesia (kemungkinan besar melalui buku-buku akademis atau pelatihan akting yang merujuk teks-teks Barat), penerjemahnya menerjemahkan kata demi kata secara harfiah:


  • stage → panggung/akting
  • business → bisnis (karena itulah makna "business" yang lazim dipakai)


Hasilnya adalah "bisnis akting" atau "bisnis panggung". Istilah yang secara harfiah benar tapi kehilangan nuansa asli maknanya. Ini adalah contoh klasik dari fenomena yang dalam linguistik disebut false friend: kata yang sama tapi maknanya sudah bergeser jauh di masing-masing bahasa, sehingga terjemahan kata-per-kata justru bergeser. Kata "bisnis" dalam tujuan penggunaan awal di tahun 1764 berarti "kegiatan" atau "gerak-laku". Sedangkan dalam bahasa Indonesia, bisnis tidak diartikan sebagai kata itu, melainkan "usaha komersial dalam dunia perdagangan, bidang usaha, atau usaha dagang".


Kalau mau istilah yang lebih intuitif dalam bahasa Indonesia, sebenarnya "kegiatan panggung" atau "gerak-laku panggung" jauh lebih menggambarkan maknanya yang sesungguhnya. Namun karena "bisnis akting" sudah telanjur dipakai secara luas di lingkungan pendidikan teater Indonesia, istilah ini tetap bertahan hingga sekarang.


Seberapa Penting "Bisnis Akting" ini Dalam Praktik?


bisnis akting adalah
ilustrasi pertunjukan teater.


Dalam praktiknya, stage business tidak selalu ditulis dalam naskah. Banyak business justru lahir dari proses eksplorasi aktor sendiri saat latihan, mencoba berbagai gerakan kecil sampai menemukan yang terasa paling pas dengan karakter yang ia bangun. Sutradara besar seperti Constantin Stanislavski, tokoh penting dalam sejarah teori akting modern, menekankan pentingnya detail-detail fisik semacam ini sebagai cara aktor menghubungkan diri secara psikologis dengan tokoh yang diperankan.


Karena sifatnya yang personal ini, business sering menjadi salah satu elemen yang membuat dua aktor berbeda bisa memainkan tokoh yang sama dengan kesan yang sangat berbeda pula, meskipun dialog dan blocking mereka persis sama. Ini beberapa kegunaan Bisnis Akting dalam praktiknya.


  1. Menunjukkan kepribadian atau emosi tokoh. Seorang tokoh yang gugup mungkin terus meremas sapu tangan, menggigit kuku, atau memainkan ujung bajunya. Seorang tokoh yang berkelas dan tenang mungkin menyeruput teh dengan gerakan yang lambat dan terkontrol.
  2. Mengisi jeda dalam dialog. Ketika seorang tokoh sedang mendengarkan lawan bicaranya, aktor tidak sekadar berdiri kaku. Aktor bisa merapikan buku di rak, menuang minuman, atau mengelap kacamata. Ini membuat momen diam (silent act) di panggung tetap terasa hidup, bukan kosong.
  3. Membangun latar belakang profesi atau kebiasaan tokoh. Seorang sekretaris bisa terus mengetik sambil menjawab telepon dan mencatat pesan secara bersamaan. Seorang penjahit tua bisa terus menjahit sambil bercakap-cakap dengan tamunya. Business semacam ini membantu penonton memahami latar belakang tokoh tanpa perlu dijelaskan lewat dialog.
  4. Menciptakan transisi yang halus. Saat pergantian suasana atau adegan, business bisa dipakai untuk menjembatani perubahan tersebut secara alami. Misalnya seorang tokoh yang perlahan mematikan lampu sambil berpikir, memberi ruang bagi penonton untuk merasakan pergeseran suasana hati.


Ada beberapa alasan mendasar mengapa unsur ini dianggap krusial dalam pelatihan akting maupun penyutradaraan:


  • Pertama, ia memperkuat karakterisasi. Detail kecil seperti cara seseorang memegang cangkir atau melipat tangan bisa mengungkapkan kelas sosial, usia, kondisi emosional, bahkan sejarah hidup tokoh. Hal-hal ini tadinya cukup sulit kalau disampaikan hanya lewat kata-kata.
  • Kedua, ia menciptakan ilusi realisme. Manusia di kehidupan nyata jarang benar-benar diam sepenuhnya saat berbicara atau mendengarkan. Kita menggaruk kepala, memainkan ponsel, merapikan rambut. Stage business meniru kealamian ini di atas panggung, membuat pertunjukan terasa lebih hidup dan tidak kaku.
  • Ketiga, ia mengisi kekosongan dramatik. Tidak semua momen dalam naskah dipenuhi dialog padat. Ada jeda, ada waktu tunggu, ada saat tokoh harus berada di panggung tanpa banyak bicara. Business memberi aktor sesuatu yang bermakna untuk dilakukan pada momen-momen tersebut, alih-alih sekadar berdiri canggung.
  • Keempat, ia membantu ritme dan tempo pertunjukan. Sutradara sering menggunakan business untuk mengatur kapan sebuah adegan terasa cepat atau lambat, tegang atau santai, tanpa harus mengubah naskah itu sendiri.

Contoh "Kreasi" dalam Praktik


Bayangkan adegannya adalah beberapa orang sedang menunggu waktu untuk wawancara kerja. Nebentext-nya adalah beberapa orang itu sedang duduk menunggu dengan cemas.

Nah, di saat ini, kreasi aktor untuk membentuk detail-detail akting menjadi sangat krusial. Level kecemasan setiap orang mungkin sekali berbeda, maka apa yang dilakukannya juga tidak mungkin sama. 

Beberapa bisnis akting yang bisa dilakukan, misalnya melihat smartphone dengan tidak begitu fokus. Ada juga yang berulang kali memeriksa map berkas (membuka, menutup, membuka lagi) meski isinya sudah pasti sama. Ada yang mencoba latihan senyum di pantulan kaca jendela, lalu buru-buru menghentikannya saat merasa ada yang memperhatikan. Ada juga yang terlihat kakinya yang terus bergoyang kecil di bawah kursi, meski tubuh bagian atas berusaha terlihat tenang.

Contoh lainnya, justru bisa menunjukkan karakter yang dimainkan aktor. Misalnya, ada dua orang yang duduk di meja suatu cafe, dan duduk berhadapan. Keduanya sama-sama punya handphone-nya yang nantinya akan digunakan di adegan tersebut. Satu tokoh pemalu dan cukup tertutup, satu lagi adalah seorang yang atraktif, dan friendly. 

Dari gambaran karakter tersebut, bisa dibayangkan bagaimana mereka meletakkan handphonenya. Tokoh pemalu akan meletakkan handphone-nya di atas meja, tapi dalam kondisi terbalik. Handphone di atas meja untuk memastikan bila suasana sudah mulai tidak nyaman lagi, maka ia akan segera mengambil smartphonenya, pura-pura mengecek pesan masuk atau notifikasi. Peletakan handphone dalam posisi terbalik ditujukan untuk menggambarkan pribadinya yang cenderung tertutup.

Sedangkan tokoh satu lagi, fokusnya benar-benar ingin ngobrol santai, atau mungkin pendekatan. Karena itu, handphone-nya diletakkan di dalam saku, atau dalam tas.

Lihat, bagaimana detail kecil seperti peletakan posisi handphone pun bisa sangat berpengaruh pada adegan, bukan?

Itu tadi pembahasan terkait "bisnis akting". Karena ini masih permukaannya (belum terlalu dalam), maka pembahasan terkait bisnis akting akan disambung di artikel lainnya di waktu mendatang.